Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 133


__ADS_3

" Maksud ibu itu apa?, kok ibu ngomong begitu?, apa ada masalah di kampung?". Dila memang bisa membaca raut wajah ibunya yang sedang tidak baik-baik saja.


" Sepertinya begitu Dil, apa kamu tau tentang...", Siti tidak menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba Arsy menangis histeris. Siti yang sudah selesai memandikan Arsy langsung mengangkatnya dari bak mandi dan memeluk Arsy agar terdiam.


" Cucu nenek kenapa ini... kok tiba-tiba saja nangis kejer begini, apa mau mimi ASI lagi?, sudah lapar lagi ya sayang, sebentar pakai baju dulu, baru nanti minum ASI lagi", gumam Siti sambil menggendong Arsy ke dalam pelukannya.


Siti merebahkan Arsy yang masih terus menangis di atas kasur dan memakaikan, minyak telon, dan minyak-minyak lain yang membuat aroma tubuh si kecil Arsy menjadi sangat segar. Aroma khas seorang bayi.


" Cup...cup...cup.... sebentar ya sayang, tinggal pakai baju, biar hangat, nanti lanjut minum ASI, itu lihatlah, ibu sudah siap". Siti terus berusaha membuat Arsy diam sambil tangannya bergerak cepat memakaikan pakaian pada cucunya itu.


Selesai berpakaian Arsy dipangku Dila dan langsung di beri ASI. Alhasil Arsy langsung diam, dan bungkam karena mulutnya sudah penuh kemasukan sumber penghidupannya.


Tangan kanan Dila sebagai bantalan kepala Arsy, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menepuk-nepuk pantat Arsy dengan perlahan. Agar Arsy merasa nyaman dan damai.


" Sebenarnya ibu tadi mau bicara apa?, Dila belum tahu apa-apa, belum ada yang cerita sama Dila Bu, tentang apa?", tanya Dila ulang.


Suasana di kamar kini sunyi, hanya suara kecapan dari bibir mungil Arsy yang sesekali terdengar.


" Tadi habis dari taman sama kamu dan Bu Fatma, tiba-tiba ibu di tarik sama bapak dan diajak masuk kamar. Bapak mu itu nggak tahu kesambet jin mana tiba-tiba marah-marah nggak jelas. Padahal kemarin-kemarin bapakmu itu setuju-setuju saja ibu ijin mau tinggal disini beberapa bulan, tapi tadi tiba-tiba bapakmu melarang ibu tinggal lama disini, kata bapakmu kamu sudah dikelilingi orang baik, jadi nggak perlu khawatir, sudah banyak yang jagain".


" Katanya kamu sudah ada suami, yang bertanggung jawab menjagamu, sedangkan adikmu itu yang sekarang harus di jaga, katanya nggak boleh pilih kasih, dulu kami menjaga kamu dengan sebaik mungkin saat kamu masih gadis, sekarang pun ibu dan bapak punya tanggung jawab yang sama terhadap Dita".


" Apalagi kata bapakmu, ada laki-laki di desa yang mapan dan sudah cukup umur yang menyukai adikmu, karena itulah ibu harus lebih hati-hati dalam menjaga Dita, jangan sampai lengah dan kecolongan, karena Dita masih sekolah".

__ADS_1


" Kamu tahu sendiri kan, Dita itu masih sangat polos, sama seperti kamu waktu SMA, belum pernah pacaran. Tapi bapakmu bilang ada laki-laki yang sudah terang-terangan menyatakan perasaan sukanya sama adikmu, dan mengatakan siap menunggu sampai Dita lulus SMA, kalau memang saat masih sekolah, Dita dilarang berpacaran".


" Apa kamu tahu Dil, siapa laki-laki itu?, siapa tahu Dita pernah bercerita sama kamu tentang seseorang pemuda?, bapakmu tidak memberi tahu ibu sama sekali tentang nama, atau inisial pemuda itu. Hanya mengatakan kalau pemuda itu sudah cukup umur dan sudah mapan".


Dila mengernyitkan keningnya menatap wajah sang ibu, memang Ibunya terlihat serius dan tidak sedang bercanda. Tapi siapa pemuda itu?, selama ini Dita tidak pernah sekalipun menceritakan tentang lawan jenis kepadanya, karena memang Dita sama seperti dirinya dulu, dilarang berpacaran saat masih sekolah.


Karena itulah Dita tidak pernah sekalipun membahas laki-laki, meski mungkin ada beberapa teman laki-laki yang mendekati nya, tapi Dita tidak pernah berprilaku berlebihan, semua sama, hanya dianggap teman.


" Dita nggak pernah cerita tentang laki-laki sama Dila Bu...., kalau bapak berkata demikian, apa mungkin alasan yang membuat Dita semalaman nggak bisa tidur nyenyak karena pernyataan cinta dari laki-laki itu?", Dila mulai menebak-nebak.


" Kan ibu yang tinggal bareng sama Dita dan paham siapa saja nama teman Dita. Apa ibu pernah mendengarkan curhatan Dita tentang cowok?", Kini Dila sudah dibuat semakin penasaran.


Siti menggeleng, seingatnya selama ini Dita tidak pernah membahas tentang teman laki-lakinya, lagian teman Dita tidak sebanyak teman Dila dahulu. Dita lebih suka mengurung diri di rumah, ketimbang bersosialisasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti Dila dahulu.


Ada beberapa pabrik di daerah, tapi UMK masih terlalu kecil, sehingga para muda-mudi usia produktif kebanyakan berangkat merantau.


Sebagian besar mereka para perantau pulang dengan membawa keberhasilan, sehingga banyak generasi penerus yang berkeinginan untuk meniru jejak pendahulunya. Salah satunya Dila yang sering menjadi contoh bagi para pemuda/ pemudi yang ingin menjadi perantau.


Dila yang sukses setelah bekerja di kota besar, berhasil mencapai cita-citanya, berhasil menjadi pengusaha wanita yang sukses, dan berhasil memperoleh jodoh pria yang kaya. Selain itu santer diberitakan suami Dila yang membelikan sawah dan pekarangan untuk orang tuanya. Membuat banyak gadis desa lulusan SMA/SMK mengikuti jejaknya menjadi seorang perantau.Padahal mereka tidak tahu seperti apa perjuangan Dila di awal .


" Kalau begitu kita tanyakan saja pada Dita nanti saat Dita sudah kembali. Atau biar Dila yang tanya dulu pelan-pelan, ibu sepertinya sedang dalam suasana hati yang tidak baik, karena bapak tidak memberi ijin ibu tinggal disini lebih lama".


" Jadi nanti biar Dila dulu yang ngobrol sama Dita, nanti baru ibu akan Dila kasih tahu", ujar Dila sambil menepuk-nepuk punggung Arsy yang sudah selesai minum ASI, agar segera bersendawa.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu, soalnya si Dita itu kan masih setahun lagi sekolahnya, semoga saja pemuda mapan itu benar-benar mau bersabar menunggu sampai Dita lulus, biar Dita bisa dapat suami yang dekat dari rumah. Ibu tidak mau semua Putri ibu dibawa pergi jauh oleh suaminya. Pasti ibu dan bapak akan sangat kesepian kalau kedua putri ibu dapat suami yang jauh. Kelak siapa yang akan merawat ibu dan bapak di saat usia kami senja, jika semuanya tinggal di tempat yang jauh".


Dila jadi merasa bersalah karena dirinya kini memang berada jauh dari kampung kelahirannya. Benar sekali kata ibunya, semua orang tua pasti menginginkan anak-anak nya berada dan tinggal dekat dengannya, agar mereka tidak kesepian di saat mereka tua nanti.


Tapi mau bagaimana lagi, jodoh Dila di Jakarta, sudah memiliki rumah dan sebagai pemimpin perusahaan, jadi mau tidak mau sebagai istri yang baik, Dila harus mengikuti sang suami tinggal di Jakarta.


" Kamu belum mandi kan Dil?, dari tadi rebahan di samping Arsy terus?, sekarang kamu mandi saja dulu. Biar Arsy sama ibu dulu, mau ibu ajak ke taman samping, kasihan dia kalau di kamar terus".


Siti meraih tubuh mungil Arsy dan membopongnya ke luar kamar. Dila jadi tersadar dari lamunannya.


Dila memang belum mandi sejak pagi, tubuhnya pun terasa lengket karena tadi pagi ikut berjemur bersama Arsy.


" Kalau benar ada pemuda mapan dari desa yang menyukai Dita dan sudah sangat siap untuk menikah, bukankah itu lebih bagus, Dita nggak perlu bekerja keras seperti aku dulu, karena sawah dan ladang bapak sudah cukup luas, dan menghasilkan. Kehidupan bapak dan ibu tentu sudah lebih dari cukup, belum lagi uang bulanan yang aku kirim".


" Jika pemuda itu sungguh sudah mapan, mending Dita disuruh menikah saja setelah lulus SMA, usianya sudah 18 tahun lebih saat lulus nanti, calon suaminya yang mapan tentu akan mampu mencukupi kebutuhannya. Apa lagi yang harus dikhawatirkan?", pikir Dila sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


" Benar..., setidaknya jika seperti itu, Dita tidak perlu merasakan kesulitan dan kesusahan seperti aku dulu, beruntung sekali Dita yang nantinya bisa tetap berada dekat dari bapak dan ibu, seandainya dulu ada pemuda mapan seperti itu yang sudah siap menikahi aku, mungkin saat ini aku tidak berada disini, tidak mengenal Mas Indra apalagi keluarganya. Tidak perlu merasakan susahnya di awal perantauan", batin Dila terus berandai-andai.


" Ish... apaan sih Dil, kamu ini kebanyakan menghayal, bukannya bersyukur sudah dapat suami dan mertua yang sangat baik. Malah berandai-andai seperti orang yang kurang bersyukur", Dila menjitak kepalanya sendiri sambil terkekeh di dalam kamar mandi.


Padahal laki-laki yang menyukai adiknya adalah pemuda yang dulu mencintai nya juga, hanya saja dulu mereka belum menjadi apa-apa, masih sama-sama berjuang untuk mencapai cita-cita. Dan sama-sama berjuang untuk menaikkan derajat keluarga.


Berbeda dengan keadaan saat ini, dimana keduanya sudah sukses, dan berhasil mencapai cita-citanya masing-masing. Hanya sayang takdir tidak menyatukan mereka untuk berjodoh.

__ADS_1


__ADS_2