Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 80


__ADS_3

Indra bukannya tidak mendengar isak Dila sepanjang dia menempelkan es batu ke lukanya, tapi Indra masih sangat emosi, dia sebenarnya butuh menyendiri, tapi Dila bersikeras ingin menemaninya, Indra khawatir tidak bisa mengontrol emosinya yang masih meluap-luap.


" Kamu bisa kan tidak menangis?, aku tidak marah kepadamu, aku juga tidak menyalahkan kamu, jadi berhenti merasa bersalah karena wajahku seperti ini, ini kemauanku dan keputusanku sendiri. Kalau kamu terus menangis lebih baik tinggalkan aku sendiri saja disini, biar aku mengompres wajahku sendiri, aku bisa".


Dila menggeleng sambil mengusap air mata yang terusmengalir dengan begitu lancangnya tanpa permisi. " Aku tidak akan menangis lagi, aku akan tenang dan akan merawat kamu Mas, tolong biarkan aku tetap disini menemani kamu".


Indra menggenggam tangan Dila agar menghentikan acara mengompres luka. Indra Indra lelah dan ingin istirahat, seluruh tubuhnya serasa remuk, mungkin karena dia mendapat banyak pukulan di bagian tubuhnya itu. Indra merasa tenaga kunto cukup kuat, memang usianya lebih muda darinya, tapi sepertinya Kunto juga ahli bela diri.


" Dimana kamu bertemu dengan laki-laki itu?, bukankah dia bukan berasal dari kampung kelahiran mu?, aku tak melihatnya hadir di acara resepsi pernikahan kita kemarin". Indra berdiri dan merebahkan diri di kasur, mungkin Indra sudah lama tidak berolahraga sehingga otot tubuhnya menjadi kaku dan sakit semua setelah memukuli Kunto dengan membabi buta.


" Aku pijit pelan-pelan ya Mas, biar sakitnya berkurang", Dila mengikuti Indra naik ke ranjang dan memijit lengan tangan Indra yang tadi oleh Indra sengaja di gerak-gerakkan lurus dan di tekuk. Dila bisa melihat Indra kesakitan.


Indra membiarkan Dila memijit lengan tangannya.


" Namanya Kunto, dia dulu tetangga kontrakan ku waktu di Cibitung, kamu ingat kan laki-laki yang dulu memelukku saat di minimarket. Saat itu kita belum menikah, aku masih menjadi pengasuh El".


" Waktu itu kamu sangat marah melihat aku berpelukan dengan laki-laki di depan minimarket, padahal kejadiannya sama dengan hari ini, dia memaksaku, apa kamu ingat Mas?, waktu itu kamu sampai memarahiku di teras rumah, menuduhku perempuan gampangan".


Indra nampak mengingat-ingat, tapi otaknya sedang buntu karena terlalu banyak yang dipikirkan, tapi Indra berhasil mengingat waktu Dila dipeluk di depan minimarket, karena waktu itu El menangis mencari Dila saat bangun tidur tak menjumpai Dila.


" Jadi laki-laki itu, yang pamitan sama kamu buat kembali ke kampung untuk kuliah?, bagaimana dia bisa kembali kesini dan bertemu dengan kamu lagi, apa kalian masih sering berhubungan". Indra mulai bisa tenang dan berhasil mengontrol emosinya.


" Semuanya hanya kebetulan Mas, aku sudah tidak pernah menghubunginya lagi sejak aku pergi dari rumahmu dulu".


" Sebenarnya Mas Bram mencari supplier beras dan ayam yang baru untuk produk nasi cup ayam suwir, karena supplier yang lama terus menaikkan harga, setelah selesai masa kontrak selama 6 bulan kami tidak memperpanjang kontrak lagi, dan mencari supplier baru. Mas Bram yang nyari, dan kebetulan kemarin meeting di kafe depan kantor kamu Mas. Kami bertemu disana setelah hampir 4 tahun tidak bertemu". Dila menceritakan dengan sejujur-jujurnya.


" Wah... sungguh kisah yang sangat menarik, seperti di sinetron, atau di cerita novel, bisa orang yang sudah begitu lama tidak bertemu tiba-tiba dipertemukan karena sebuah kebetulan", Indra meringis, karena memang seperti itulah kebenarannya.


" Kamu tidak mencintainya kan?, atau memang dia pernah sempat menetap di hatimu?".


Dila menggeleng dengan cepat, " Dia dulu hanya tetangga kontrakan saja, dia sangat baik dan sering membantuku saat aku kesusahan awal aku merantau, tapi pada suatu ketika aku melihat dirinya menjadi sangat rapuh karena dikhianati oleh wanita yang dicintainya, saat itu dia butuh seseorang untuk menjadi tempat nya bersandar, dan mungkin dia memilihku menjadi tempat bersandarnya, tapi aku hanya menganggapnya teman saja".

__ADS_1


Dulu Dila memang sempat merasa nyaman setiap kali mengobrol berdua dengan Kunto, namun memang sebatas itu saja, nyaman bukan berarti cinta kan?.


Kunto menarik tangan Dila untuk mendekat, Dila menurut dan Indra langsung merengkuh tubuh Dila ke dalam pelukannya.


" Aku tidak tahu berapa banyak lagi laki-laki yang akan tiba-tiba datang ke dalam kehidupan kita kedepannya, karena dari mereka yang datang semuanya hanya kau anggap teman. Namun sayangnya perasaan mereka terhadapmu sangat dalam Dil, mereka menganggap mu menjadi wanita yang spesial di hidup mereka".


" Dari yang sudah ku temui, baik Nino maupun Kunto, keduanya berjuang dan menjadi sukses sekarang karena mereka punya tujuan yang sama, yaitu ingin membahagiakan kamu yang menjadi tujuan hidup mereka".


" Mungkin akan ada teman-teman kamu lainnya yang tiba-tiba datang dan pertemuan seperti tadi akan terjadi lagi. Hanya satu pintaku Dil, bicaralah... terbukalah denganku, seperti apapun keadaanmu. Biar tidak ada salah paham lagi diantara kita berdua".


Indra masih memeluk Dila sambil mengusap rambut Dila yang semakin panjang dengan aroma yang sangat harum.


Tak lama kemudian terdengar pintu kamar yang diketuk, ternyata pramusaji yang mengantarkan makan siang mereka.


Dila berdiri dan menerima troli berisi berbagai makanan dari pramusaji dan membawa troli itu masuk sambil mengucapkan terimakasih.


" Mas makan dulu, kita lanjutkan ngobrolnya nanti, terus mas juga harus meminum obat pereda rasa nyeri yang ada di kotak P3K, biar mas nggak terus kesakitan dan pegal-pegal badannya, nanti aku ambilkan".


Indra memang kurang berselera makan, siang ini, selain rahangnya yang masih sakit dan terasa sulit untuk mengunyah, perutnya juga masih terasa nyeri akibat pukulan dan tendangan Kunto.


***


Di lain tempat, tepatnya di klinik Medika, Kunto sedang menerima perawatan dari seorang perawat yang bekerja di sana, sesuai perintah Dila tadi Kunto tidak langsung kembali ke apartemennya, Kunto lebih memilih pergi ke klinik terlebih dahulu, klinik yang berada tak jauh dari apartemennya.


Ternyata luka Kunto bahkan lebih parah dari Indra, karena giginya sampai lepas satu akibat pukulan Indra yang membabi buta. Untuk seterusnya tepaksa Kunto harus memasang gigi palsu, karena yang lepas adalah gigi bagian depan.


Wajah babak belur, bibir pecah, pelipis mengalir darah, dan gigi terlepas, itu semua disebabkan oleh laki-laki yang sudah mencuri Dila darinya. Hal itu membuat dirinya semakin emosi.


Bahkan Kunto harus melakukan cek kesehatan organ dalamnya, karena badannya juga penuh luka dan memar, akibat pukulan dan tendangan Indra.


Rencananya Kunto ingin menuntut Indra dengan tuntutan penyerangan, namun saat ingat bagaimana Dila tadi menangis dan ketakutan jika masalah ini sampai dibawa ke yang berwenang dan melalui jalur hukum, Kunto akhirnya hanya melempar hasil rekam medisnya ke jok belakang mobil.

__ADS_1


Kunto baru keluar dari klinik setelah sore hari, karena harus menunggu hasil dari cek organ tubuhnya. Selesai menerima perawatan dari klinik, Kunto kembali ke apartemennya yang berada di lantai 7, saat Kunto berjalan masuk ke dalam lift dia melihat gadis yang kemarin bersama dengan Dila di kafe.


" Lita...", Kunto sengaja memanggil namanya saat dirinya dan Lita hanya berdua saja di dalam lift.


Lita menatap Kunto sambil mengernyitkan kening, karena baru sekali melihat Kunto, Lita belum terlalu paham wajah Kunto, apalagi wajah Kunto saat ini sangat berbeda dari tampilannya kemarin. Mata lebam, bibir pecah dan jontor, wajah penuh luka. Lita justru menjauh dari Kunto karena takut jika Kunto adalah orang jahat, wajahnya saja penuh luka.


Kunto menghembuskan nafas kesal melihat sikap Lita yang terus mepet ke pinggir untuk menjaga jarak dengan Kunto.


" Aku Kunto teman Dila, yang kemarin ketemu kamu di kafe, apa kamu nggak ingat?".


Lita langsung menatap Kunto ulang, dan matanya langsung melotot sempurna.


" Oh... jadi kamu Kunto yang kemarin meeting sama mas Bram?, kenapa muka kamu jadi seperti ini?, kamu terjebak tawuran mahasiswa?, atau kamu mengalami kecelakaan?". Kini Lita justru mendekat dan menatap Kunto dengan tatapan iba dan penuh tanya.


" Ck.... panjang ceritanya, dasar suami Dila itu emosional dan temperamen!". Kunto berdecak merasa kesal.


" What....?, jadi kamu di tonjokin sama Mas Indra?", Lita langsung menutup mulutnya, antara kasihan, ingin tertawa dan juga merasa lucu, semuanya bercampur menjadi satu.


Ting.....


Pintu lift terbuka di lantai 6, dimana apartemen Lita berada, Lita memang lebih nyaman tinggal di apartemen dari pada tinggal di rumah orang tuanya yang megah itu, namun saat ini Lita masih sangat penasaran dengan cerita Kunto, bagaimana dia bisa babak belur seperti itu, apalagi Kunto tadi menyebut nama Indra saat mengumpat.


" Mau mampir ke apartemen ku?, aku buatkan kopi deh biar kamu nggak bete terus".


Sebenarnya Lita penasaran dan ingin mendengar cerita selengkapnya dari Kunto yang babak belur akibat ulah Indra.


Kunto nampak berpikir, namun Lita menarik tangannya untuk ikut keluar dari Lift dan mampir ke apartemennya.


" Sudah ayo... nanti aku bantu kompres pakai es batu, biar memar-memar kamu cepat sembuh".


Kunto terpaksa mengikuti Lita dan masuk apartemen teman Dila itu. Kebetulan juga bertemu Lita, jadi ada yang bantu mengompres lukanya, sekalian Kunto ingin mendengar tentang Dila dari sudut pandang Lita yang sudah cukup lama mengenal Dila.

__ADS_1


__ADS_2