Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 67


__ADS_3

" Gimana kabar kalian semua?, sudah lama banget nggak ketemu", Dila duduk di samping Asri seraya mempersilahkan Bima duduk di kursi kosong sebelahnya.


Joko dan Evan masih menatap curiga pada Bima, sedangkan Asri tidak mau ambil pusing, Dila memang supel, jadi pasti kawannya banyak, " Kita baik, baik banget Dil, kabar kamu gimana?", Pelukan Asri langsung mendarat di lengan Dila.


Dila juga mengatakan kabar dirinya yang baik, tapi masih dengan senyum yang kikuk, karena Dila merasa sudah menjadi teman yang tidak baik untuk mereka bertiga.


Asri tahu ketidak nyamanan yang Dila rasakan, karena itu Asri kembali duduk dan menceritakan tentang dirinya pada Dila,


" Sekarang kita sudah diangkat karyawan di PT tempat kami kerja, karena masa kontrak sudah melebihi 3 tahun".


" Setelah setahun di Jakarta, aku kira kamu bakalan balik ke kontrakan dan bekerja di pabrik seperti kami, karena dulu kamu yang kasih tahu aku rencana kamu itu Dil, tapi setahun kami tinggal di kontrakan dulu, kamu nggak juga kembali ke kontrakan kita, bahkan aku, Evan dan Joko sengaja datang ke Jakarta buat ketemu sama kamu, tapi nggak dibolehin masuk sama satpam jaga pintu masuk perumahan elit tempat kamu kerja", terang Asri.


" Karena itu kita nggak bisa ketemu sama kamu. Sekitar enam bulan kemudian, Mas Kun juga main ke kontrakan, dia ngajakin kita bertiga ke Jakarta, buat ketemuan sama kamu, kamu sih pakai ganti nomor ponsel, kan kita jadi bingung bagaimana cara untuk menghubungi kamu. Waktu itu tetap sama, satpam jaga tidak memperbolehkan kami masuk perumahan elit itu, tapi Mas Kun melihat seorang laki-laki ganteng dan keren, yang lewat gerbang itu, Mas Kun menghentikan mobilnya, katanya laki-laki itu adalah ayah dari El, anak yang kamu asuh dulu...".


" Mantan majikan kamu mengatakan kalau kamu sudah berhenti bekerja sekitar 8 bulanan, dan sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Asli waktu itu kita semua sangat kaget sekaligus kecewa karena tidak berhasil menemukan kamu, Mas Kun pun memutuskan kembali ke Pemalang setelah menginap semalam di kontrakan Evan, karena dia datang ke Bekasi hanya sekedar main karena katanya kangen sama kita".


" Sebulan setelah mengetahui kamu sudah nggak di Jakarta, aku, Evan dan Joko memutuskan untuk pindah kontrakan, nyari yang lebih nyaman dari kontrakan yang dulu, dan kontrakan tadi siang itu adalah kontrakan kita sekarang, jadi kamu bisa main kapan pun ke kontrakan kita kalau kamu lagi nggak sibuk", ujar Asri yang terus berbicara panjang lebar.


Dila menyeruput lemon tea yang tadi dipesannya, tak terasa sudah habis setengah gelas karena terus mendengarkan cerita Asri.


" Maafkan aku teman-teman, aku memang pergi dari rumah tempat kerjaku di Jakarta. Tapi aku juga nggak pulang kampung, aku pergi ke Jogja untuk memulai kehidupan baru disana, kuliah sambil membuka usaha kecil-kecilan jualan nasi dan ayam. Alhamdulillah sekarang sudah punya kehidupan yang lebih baik, bisa buka cabang di Jakarta, dan ini aku berada disini karena sedang KKN, aku pindah kuliah ke Jakarta karena beberapa pertimbangan, salah satunya karena usaha nasi ayam suwirku yang harus dikontrol setiap waktu".


" Aku sebenarnya malu untuk bertemu dengan kalian semua, kalian semua teman yang sangat baik, sedangkan aku, pergi saja tidak pamitan dengan kalian".


" Tapi aku senang karena sekarang kalian sudah hidup dengan lebih baik, usaha dan perjuangan kalian sudah menampakkan hasilnya" .


" Sebenarnya tadi siang aku malu ketemu sama kamu As, takut kamu mau marahin aku yang sudah menjadi teman yang tidak baik ini", Dila menyampaikan alasan mengapa dia saat bertemu Asri terlihat berubah sikapnya.


Asri tersenyum dan menepuk bahu Dila, " marah memang sempat waktu dulu, tapi seiring berjalannya waktu membuat kita bisa berfikir jernih, setiap keputusan seseorang pasti sudah dipertimbangkan baik buruknya, dan sepertinya keputusan kamu pergi juga berdampak baik untuk kehidupan mu sekarang".

__ADS_1


Entah kalimat bijak dari mana yang berhasil Asri ucapkan, tapi sekarang memang mereka semua sudah mulai dewasa, bukan anak umur belasan tahun dengan ego yang masih tinggi.


" Oh iya, aku cuma tinggal seminggu lagi KKN disini, jadi kalau mau ketemuan lagi tetep harus ke Jakarta, karena aku tinggal di Jakarta, ini nomerku yang sekarang, kalian simpan ya".


Dila menunjukkan nomer ponselnya pada yang lain, ketiga teman lamanya langsung menyimpan nomer itu di ponsel mereka.


" Apa Bima ini temen deket kamu, seperti kita?", Joko yang sejak tadi hanya mendengarkan Dila dan Asri bicara sambil mengamati Bima yang terus sibuk main ponselnya di samping Dila cukup kepo dengan status Bima sebenarnya.


" Aku hanya temen kuliah, bukan temen deket juga, Dila kan sudah ada yang punya, mana berani aku deketin cewek yang sudah ada yang punya, gue bukan tipe cowok yang suka mencari masalah ", Bima mematikan ponselnya dan menatap Joko yang sejak tadi terus menatapnya, bukannya Bima tidak sadar atau tidak risih dengan tatapan mata Joko dan Evan yang seperti menelanjanginya, tapi Bima hanya mencoba bersikap masa bodo.


Dila membenarkan ucapan Bima.


" Bima baru kenal aku hampir dua bulan lalu, waktu aku pindah ke Jakarta lagi setelah tinggal di Jogja hampir 3 tahun, kami satu fakultas dan beruntung jadi satu kelompok saat KKN".


Evan dan Joko mengira ucapan Bima yang mengatakan Dila sudah ada yang punya tadi adalah cowok Dila dari kampung, seperti yang dikatakan Dila sebelumnya, karena itulah mereka berdua tidak bertanya panjang lebar dengan ucapan Bima. Padahal yang Bima maksud adalah Indra, lelaki yang sudah menjadi pemilik Dila seutuhnya.


Dila mengangguk setuju, apalagi besok pagi harus sudah di kantor kelurahan pagi-pagi, jadi Dila tidak mau bangun kesiangan.


" Sori aku balik duluan ya, besok-besok kita ketemuan lagi kalau ada waktu senggang", Dila berdiri dan memeluk Asri cukup lama. " Kalau mau ketemu secara pribadi datang saja ke rumah posko KKN", bisik Dila pada Asri.


Asri menganggukkan kepalanya. " Aku salut banget sama perjuangan hidup kamu Dil", bisik Asri sambil melepas pelukan Dila.


Dila dan Bima melangkah pergi meninggalkan kafe ujung jalan dengan langkah santai.


" Kenal dimana dengan mereka Dil?, sepertinya berasal dari kampung, dari logat medok mereka", Bima melenggang santai dan mengambil sebatang rokok dari sakunya, menyalakan dan menghisap rokok itu sambil berjalan di samping Dila.


Dila baru tahu kalau Bima merokok, sejak pertama ketemu dengan Bima, ini kali pertama dirinya mengetahui hal itu.


" Mereka teman masa susahku dulu, sudah hampir 4 tahun yang lalu, saat pertama aku pergi merantau dari kampung ke Bekasi, tepatnya di Cibitung, kontrakan pertama ku dulu di kelurahan sebelah", Dila sengaja menjaga jarak dari Bima yang mengepulkan asap rokok ke atas.

__ADS_1


" Nggak kelihatan", ucap Bima sambil terkekeh menatap Dila yang menjauhinya.


" Maksud kamu?", tanya Dila mengernyitkan keningnya.


Bima menghentikan langkahnya di pinggir jalan yang sepi, diantara pepohonan besar di depan bangunan besar semacam gudang.


" Kamu nggak kelihatan punya riwayat hidup pernah jadi orang susah, dari wajah kamu, body language kamu, cara berpikir kamu, itu menunjukkan kamu seperti dari kalangan orang mampu, apa itu semua berkat bantuan dari suami kamu yang seorang pemilik perusahaan besar?".


Pertanyaan Bima sebenarnya sedikit menyentil perasaan Dila, karena itulah yang selalu ditakutkan Dila selama ini, penilaian orang lain tentang dirinya yang menumpang enak dan nyaman pada sang suami.


" Kamu sepertinya terlalu banyak kesalahpahaman mengenai kehidupanku yang sebenarnya Bim, tapi bukan berarti aku sebagai teman kamu harus menceritakan riwayat perjalanan hidupku kan?". Dila kembali berjalan menuju posko.


Ternyata penilaiannya tentang Bima seorang teman yang baik sedikit meleset. Bima menjaga Dila semata karena melihat Dila adalah istri dari teman dosennya, orang kaya yang dihormati dan disegani. Cara berteman ya tidaklah tulus.


" Terus kenapa kamu menikah sementara kamu masih kuliah?, kamu nggak lagi hamil karena pergaulan bebas kan?, atau sempat jadi sugar baby-nya suami kamu, dan kamu berhasil menaklukkan hatinya, sehingga kamu diperistri?". Pertanyaan Bima yang cukup keras di pinggir jalan dan sangat merendahkan Dila itu sagat tidak mencerminkan Bima seorang mahasiswa jurusan pendidikan.


" Apa selama ini itu yang ada di pikiran kamu ?, wah... sepertinya saya sangat rendah dimata kamu. Tapi maaf, semua yang kamu katakan barusan tidak ada yang benar, saya sarankan kamu harus lebih bisa menghormati orang lain, kamu calon pendidik anak-anak kecil yang akan menjadi penerus bangsa, jadi tidak baik kalau kamu berpikir negatif tentang orang lain seperti itu".


Dila kembali melangkah dengan cepat, meninggalkan Bima di belakang untuk segera kembali ke rumah yang menjadi tempat tinggal sementara nya.


Sampai di rumah Dila langsung ke kamar, mendapat tatapan menyelidik dari ketiga gadis yang menjadi teman KKN nya, mereka memang dari beda fakultas tapi dari gelagat mereka, sepertinya mereka bertiga naksir dengan Bima.


" Dari mana sama Bima ?, apa kalian sekarang semakin dekat Dil?".


Dila menghembuskan nafasnya panjang, " Bima cuma nemenin aku ketemu sama teman-teman lamaku yang tinggal di dekat sini, sudah itu saja. Tidak ada hubungan spesial atau kedekatan yang lebih, sama seperti dengan kalian, kami hanya sebatas teman, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan kan?, aku ngantuk", Dila langsung masuk kamar dan menutup pintu kamarnya.


Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik, akan semakin buruk jika harus meladeni teman-teman perempuan yang mencurigainya, sudah cukup di curigai dan dinilai buruk oleh Bima, tidak perlu ditambah dengan teman KKN lainnya.


Bukankah seharusnya orang yang berpendidikan tinggi itu attitude nya lebih bagus, tapi mungkin pemikiran Dila mengenai hal itu salah besar, sekarang Dila baru mengerti, belum tentu orang berpendidikan tinggi mempunyai attitude yang lebih baik dari mereka yang hanya lulusan SMP atau SMA.

__ADS_1


__ADS_2