Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 9


__ADS_3

Berpegangan tangan seperti saat ini, sejenak membuat Dila jadi teringat dengan Nino saat di Curug asmara, dengan alasan takut Dila terpeleset karena licin, Nino berhasil membuat Dila menurut untuk saling berpegangan tangan.


Seperti sebuah ikatan batin, saat Dila teringat Nino, tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Nino di ponselnya.


Dila hanya melihat sejenak, tapi sengaja belum membacanya, karena saat ini dirinya sedang berada di jalan, takut berbahaya jika berjalan sambil bermain HP.


Usai menyeberang, Dila masuk kedalam minimarket dan membeli lotion anti nyamuk yang sama persis dengan milik Kunto, sedangkan Kunto membeli dua es krim rasa coklat, untuk dirinya dan satu lagi diberikan pada Dila.


Kunto langsung membuka kemasan es krim dan menikmatinya sambil berjalan.


" Makasih ya, harusnya aku yang beliin kamu jajan, karena sudah maksa nemenin ke minimarket malam-malam begini, malah kebalik, kamu yang beliin aku es krim".


Dila masih berdiri di depan minimarket, kendaraan masih ramai, jadi belum berani menyeberang.


Kunto menepuk pundak Dila, membuat Dila menengok ke arah Kunto.


" Apa kalau makan malam, kamu harus makan nasi Dil?", tanya Kunto menatap Dila, sambil menikmati es krim di tangannya.


" Kenapa memangnya?", Dila balik bertanya.


" Nggak jauh dari sini ada tukang mie ayam yang rekomended banget, rasanya dijamin enak, kamu pengen coba nggak?", ajak Kunto.


" Boleh juga, tapi harganya mahal nggak Mas?", Dila masih harus memperhitungkan pengeluarannya sehemat mungkin.


" Cuma 10 ribu, tapi dijamin kamu bakal kekenyangan, dan tidur nyenyak malam ini. Sekali kamu coba, kamu bakalan pengen datang kesana lagi", ucap Kunto meyakinkan.


" Oke lah kalau begitu, malam ini kita makan mie ayam rekomendasi Mas Kun saja".


Dila mengikuti langkah Kunto yang menyusuri trotoar jalan, menuju tukang mie ayam yang katanya super enak.


Sampailah mereka di tenda cukup luas bertuliskan,


... ' Mie ayam Bang Kodir, Halalan toyiban '...


Kunto masuk kedalam tenda dan langsung memesan mie ayam, " Bang pesen mie ayamnya dua, yang satu biasa, pakai kepala ya Bang. Minumnya air putih saja, lagi berhemat, maklum tanggal tua", canda Kunto pada Bang Kodir.


" Oke Kun, di tunggu bentar ya, lagi bikinin buat yang duduk di pojokan Sono dulu nih".


Jika di dengar dari percakapannya, sepertinya Kunto dan penjual mie ayam sudah saling kenal dan cukup akrab.

__ADS_1


" Pasti penjual mie ayam nya namanya Bang Kodir ya Mas Kun?", ujar Dila lirih.


" Ya iyalah, kan namanya tertulis jelas itu di tenda warungnya. Sekedar informasi, kalau bang Kodir itu bukan orang sini, dia asli Jakarta", bisik Kunto. Jarak duduk mereka berdua memang sangat dekat, karena warung tenda yang ramai pembeli, dan hampir semua kursi sudah terisi.


" Tumbenan..., baru kali ini lu kesini bawa cewek, biasanya sama laki mulu lu !", logat bang Kodir terdengar khas seperti orang Betawi.


" Iya Bang, ini tetangga baru di kontrakan, tadi habis dari minimarket bareng, jadi sekalian aku ajak makan disini".


Bang Kodir menyajikan dua mangkok mie ayam untuk Kunto dan Dila, " Pinteran lu milihnya, cewek bening macam begitu pantesan elu bawa kemari, cocok dah gua kalau bening begini. Bisa buat memperbaiki keturunan Kun".


Dila tahu apa yang dikatakan oleh si Abang penjual mie, membuatnya jadi merasa kurang nyaman.


" Jangan begitu Bang, Dila sudah ada yang punya di kampung, Abang juga tahu kalau aku juga dikampung sudah ada calon. Kita berdua cuma tetanggaan saja".


Kunto mencoba menjelaskan hubungan mereka pada Abang penjual mie ayam, supaya Dila merasa nyaman.


" Lu emang laki yang setia, jarang banget gua nemuin laki macam elu di perantauan, kebanyakan pada goyah dan lupa sama yang di kampung, kegoda sama gadis-gadis bening yang bisa di lihat dan di pegang-pegang tiap harinya di sini", ujar si Abang.


" Abang bisa saja.... aku kan belajar sama Abang yang juga setia, meski istri di Pulo gadung, ketemu cuma seminggu sekali kalau Abang libur jualan, tapi Abang nggak ngelirik cewek-cewek cantik di sini", puji Kunto sambil menikmati mie ayam plus kepala ayam kesukaannya.


" Hidup cuman sekali Kun, mau nyari yang bagimana lagi, bini gua udah banyak berkorban buat gua, udah nerima gua yang cuma tukang mie ayam, padahal bini gua anak juragan empang. Bakal nyesel kalo gua sampe nyakitin hati bini gua", terang si Abang.


" Bener bang, jangan sampe nyakitin hati wanita yang sudah banyak berkorban buat kita, karena kita juga terlahir dari rahim seorang wanita. Aku selalu teringat almarhum ibuku kalau mau nyakitin perasaan cewek".


Selesai makan mie ayam Kunto dan Dila menyeberang jalan yang sudah lumayan lengang. Saat di jalan ada panggilan masuk dari Nino di HP Dila. Dila baru ingat kalau tadi Nino mengirimkan pesan padanya, tapi belum sempat di baca sampai sekarang. Saking asyiknya menikmati mie ayam yang ternyata memang rasanya enak.


Dila melihat layar ponselnya yang sudah mati, tapi saat sampai dipekarangan kosong kembali ada panggilan masuk dari Nino.


" Siapa Dil?, TTM kamu ya?, kenapa nggak diangkat?". Kunto berhenti di tengah pekarangan kosong.


" Apa itu TTM?, dia bukan teman tapi mesra ku, karena Nino itu cowok yang kalem, nggak ada mesra-mesranya sama sekali", ujar Dila begitu polos.


" TTM itu artinya bukan teman tapi mesra, tapi 'teman tapi membingungkan', coba kamu pikir, bagaimana nggak membingungkan, dia nggak menyatakan cinta atau mengatakan i love you sama kamu, tapi dia tiap hari telepon dan menanyakan kabar kamu, sok perhatian, padahal bukan keluarga atau saudara. Bukankah cowok kaya gitu itu justru membingungkan".


" Bukankah mending dijelaskan mau bagaimana hubungan kamu sama dia", ucap Kunto memberi saran.


" Dia pernah bilang sama aku, meminta aku nungguin dia selesai kuliah, dan dapat kerjaan, baru dia akan bicara serius sama bapak ku", jawab Dila memberi tahu.


" Nih dia telepon lagi, aku angkat dulu ya, mumpung disini nggak terlalu rame, kalau tadi kan lagi dijalan raya, mau diangkat teleponnya juga suaranya nggak kedengeran jelas, karena bising dengan suara kendaraan", ujar Dila sambil menyentuh tombol hijau, menerima panggilan telepon dari Nino.

__ADS_1


Dila pun berhenti terlebih dahulu di pekarangan kosong yang sepi.


" Halo No, maaf aku tadi habis dari minimarket, jadi baru ngecek HP, kamu ngechat y, maaf belum sempet kebaca", ujar Dila sambil kembali berjalan menuju kontrakan. Kunto pun mengikuti langkah Dila sambil menerangi jalan yang hendak dilewati Dila dengan ponselnya.


" Gimana hari pertama mulai kegiatan di situ?", suara Nino terdengar oleh Kunto cukup keras karena Dila dan Kunto berjalan dengan jarak dekat.


" Alhamdulillah tadi mengikuti pemeriksaan kesehatan, dan semua tesnya lolos, besok tinggal ikut psikotest dan tes fisik, sama mentor nya di suruh bawa baju olah raga besok".


Dila sampai kontrakan, dan membuka kunci kamarnya.


" Makasih Mas Kun, udah ditemenin", ucap Dila lirih sambil menjauhkan ponselnya agar suaranya tidak terdengar oleh Nino.


" Oke, santai saja", jawab Nino sambil masuk ke dalam kamarnya.


" Kalian berdua habis dari mana Kun?" , Evan ternyata sudah ada di kamar saat Kunto masuk.


" Tadi nemenin Dila ke minimarket", jawab Kunto singkat, sambil merebahkan diri di kasurnya. Kunto sedang fokus mendengarkan percakapan Dila bersama teman tapi membingungkan, yang hubungannya dengan Dila nggak jelas itu.


" Kamu sudah makan Kun?, kita cari makan yuk?, aku laper nih", lagi-lagi Evan mengganggu konsentrasi Kunto yang sedang menguping pembicaraan Dila.


" Aku sudah makan mie di ujung jalan sana, tadi sama Dila", jawab Kunto seperlunya.


" Kok kamu nggak ajak-ajak aku sih, pergi makan mie ayam sama siapa saja selain sama Dila?", Evan mulai bicara dengan nada keras.


Kunto akhirnya menatap Evan heran, " kamu ini kenapa sih Van?, aku tadi ajak kamu balik dari mushola buat makan malam bareng, kamu malah bilang mau duduk-duduk di mushola dulu dan nyuruh aku balik duluan".


" Karena aku sudah lapar, dan Dila minta ditemenin ke minimarket, ya sudah akhirnya aku ajak Dila makan mie ayam bareng biar ada temen makan".


Evan tiba-tiba beranjak dari rebahan nya dengan ekspresi wajah seperti orang marah, kemudian keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


" Itu anak kenapa sih, apa PDKT nya gagal tadi, kok malah emosinya sama aku sih, aku salah apa coba?", Kunto kembali fokus mendengarkan percakapan Dila yang tengah bertelepon ria. Tapi suara Dila sudah tak terdengar lagi, mungkin percakapan Dila melalui telepon sudah selesai.


" Gara-gara Evan terus ngomong nggak jelas, jadi aku nggak bisa denger obrolan Dila sama cowok itu", batin Kunto, merasa geram.


Kunto mendengar suara pintu kamar Dila yang dibuka, Kunto pun memutuskan untuk keluar kamar. Siapa tahu bisa lanjut ngobrol sama Dila.


" Mau kemana Dil?", tanya Kunto melihat Dila berjalan keluar.


" Mau wudhu, tadi belum sholat Isa, mau sholat di kamar, soalnya sudah telat, kan tadi pas adzan Isa kita lagi makan mie ayam di warung bang Kodir". Dila kembali berjalan menuju kamar mandi sekalian cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur.

__ADS_1


Kunto merasa sedikit kecewa karena tidak bisa lanjut ngobrol dengan Dila, entah perasaan apa yang merasuki Kunto, yang jelas Kunto merasa nyaman saat ngobrol atau melakukan sesuatu bersama dengan Dila. Tapi pikiran Kunto masih menyangkal kalau dirinya naksir atau tertarik pada Dila, karena Kunto sudah punya pacar di kampung. Dan selama ini hubungannya dengan pacarnya selalu baik-baik saja meski mereka pacaran jarak jauh.


Untuk kedepannya Kunto berharap semuanya akan tetap baik-baik saja seperti yang sudah dilaluinya selama ini. Mungkin perhatiannya pada Dila karena merasa Dila adalah gadis baik yang harus dilindungi dari pergaulan di kota besar yang sudah sangat bebas.


__ADS_2