
" Kak Dila kenapa?, kok ngumpet begitu?", El yang mengetahui Dila berusaha menunduk agar tak terlihat oleh Pakdenya jadi bertanya-tanya.
Dila hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar El diam." Husssst...!".
Setelah Pakde Didit terlihat jauh dari posisinya sekarang Dila duduk dengan posisi semula.
" Kakak tadi cuma lagi nyoba, kalau naik kereta sambil nunduk itu bagaimana rasanya", ucap Dila beralasan.
" Bial tau lasanya jadi El yang masih kecil ya Kak?".
" Iya betul", ternyata El percaya begitu saja ucapan Dila. Membuat Dila menyesali perbuatannya, tidak lagi-lagi Dila akan berbohong pada El, karena El begitu mempercayai semua yang dikatakannya.
" Kak Dila juga sudah sembuh sakit yang di pipi?".
Dila berusaha mengerti ucapan El, perasaan sejak kemarin Dila baik-baik saja, "sakit yang di pipi?", Dila mengulang kalimat El.
El mengangguk, " Itu yang bulet item-item di sini".
Dila langsung tertawa ngakak, " Oh maksud El tompel kakak?, itu lagi kakak lepas, nanti kalau pulang kerumah akan kakak pakai lagi", jawab Dila jujur.
" Kakak cantik gak ada item-item di pipi", ungkap El jujur.
Dila tersenyum dengan keluguan El.
" Iya... kak Dila tahu, tapi ayah El nggak suka kalau lihat kak Dila cantik, jadi harus pakai item-item di pipi, biar ayah El nggak marah-marah".
" Ooh... begitu", terlihat wajah El yang masih bingung.
Dila memakluminya, anak sekecil El, memang masih sangat lugu dan polos, ibarat selembar kertas kosong yang belum ada coretan. Orang tua dan lingkunganlah yang akan membuat coretan-coretan di kertas itu, dan membentuk kertas itu menjadi sebuah lukisan yang indah yang akan menjadi karya seni yang mahal dan bernilai, atau hanya sekedar coretan tak berbentuk yang akhirnya akan di buang ke tempat sampah
Kereta api selesai berkeliling mall, Dila dan El turun dari kereta dan menghampiri Bu Fatma yang sejak tadi menunggu mereka sambil melihat-lihat berbagai macam permainan di time zone.
" Nenek..., El udah naik keleta api, sekalang El mau main itu", El melihat permainan pukul tikus, dan menarik tangan Dila menuju permainan itu.
" El pegang palunya, nanti kalau ada tikus yang nongol keluar, El pukul pakai palu itu, oke?". Dila sebelumnya meminjam kursi pendek untuk El naik dan berdiri diatasnya, karena El masih terlalu kecil dan belum sampai untuk melakukan permainan pukul tikus. Dila pun memasukkan koin, dan El langsung memukul tikus yang nongol dengan begitu antusias.
" Padahal baru kemarin Dila datang ke rumah, tapi El sudah sangat dekat dengannya, tapi entah mengapa aku juga menyukai karakter Dila, dia itu benar-benar tulus menyayangi El", ucap Fatma dalam hatinya, sambil melihat keseruan El dan Dila berusaha memukul semua tikus yang muncul.
Setelah lelah bermain pukul tikus, El mengajak Dila menuju ruang tertutup yang digunakan untuk berkaraoke. " Sekarang kita nyanyi-nyanyi yuk Nek, El mau nyanyi lagu balonku ada lima".
__ADS_1
Ternyata El suka bernyanyi juga Dila baru tahu hal itu, Dila pun memilihkan lagu sesuai keinginan El, ternyata El sudah hafal cukup banyak lagu, ada pelangi-pelangi, cicak-cicak di dinding dan balonku ada lima.
Setelah lelah dengan semua permainan, dan juga bernyanyi, Bu Fatma mengajak El dan Dila ke toko mainan, "apa nenek mau beli mainan balu buat El?", tanya El saat El mengetahui sang nenek sedang pilih-pilih mainan anak.
" Iya sayang... kan kemarin nenek nggak bawa oleh-oleh buat El dari rumah Tante Indri. Jadi sekarang El boleh pilih sendiri mau mainan yang mana?". Fatma memang sangat memanjakan cucu pertamanya itu.
El nampak bingung menatap semua mainan yang terpajang di toko mainan itu. Dila yang tahu El sedang kebingungan mencoba membantu El untuk menentukan pilihannya.
" El harus beli sesuatu yang bisa untuk bermain sekaligus belajar, El ambil ini saja, sepertinya belum ada di rumah", Dila menunjukkan puzzle gambar hewan dan juga buah-buahan.
El setuju dengan pilihan Dila, Dila tersenyum sendiri karena sekarang El berubah jadi sangat penurut. Begitu juga dengan Fatma, dia begitu nurut dengan apa yang pengasuhnya katakan.
Setelah memilih beberapa macam puzzle, mereka bertiga pindah ke outlet ice cream.
Ternyata bukan hanya es krim saja yang dijual di outlet itu, ada burger, kebab, seblak dan kentang goreng.
Bu Fatma memesan semua menu karena sudah siang dan sudah masuk waktunya makan siang juga, tadinya mau pindah outlet, tapi kelihatannya El sudah sangat ingin menikmati es krim, jadi makan siangnya burger, kebab, kentang goreng dan seblak. Tidak lupa Bu Fatma memesan 3 cup ice cream coklat.
Saat Dila menikmati makanannya, entah mengapa wajah Kunto tiba-tiba saja melintas. Teringat hari dimana Dila dibelikan es krim coklat, juga saat Kunto pulang kerja sambil membawa seblak. Dila juga jadi teringat saat Kunto memeluknya malam itu. Sungguh sesuatu yang sangat tidak terduga dan diluar bayangan telah terjadi dalam hidupnya.
Bagaimana bisa Dila berpelukan dengan seorang laki-laki yang bukan saudara, kerabat ataupun pacarnya. Tapi Dila terus berpikir positif, karena saat itu Kunto sedang rapuh dan butuh dukungan. Dila hanya memberi dukungan pada seorang teman disaat sedang rapuh. Itu saja yang berusaha Dila tanamkan dalam otaknya.
" Ada apa dengan otakku ini, pasti ada sesuatu yang salah", batin Dila, namun tangannya reflek menjitak kepala nya sendiri dengan pelan.
" Oh enggak kok El, tadi kakak reflek saja tiba-tiba pengen jitak kepala kakak , hehehe", Dila terkekeh sendiri.
" Lagi ingat sama seseorang ya lihat makanan ini?, apa seorang pemuda?, dari kampung?".
Dila hanya meringis mendengar pertanyaan Bu Fatma yang lebih terkesan sebuah tebakan yang sangat tepat. Kadang Dila berpikir apa mungkin Bu Fatma punya Indra ke enam yang bisa tahu segala sesuatu.
" Cuma lagi mikirin ini Ibu pesen makanannya banyak banget, apa bisa habisin", Dila tak mau mengaku jika tebakan Bu Fatma sangat tepat.
" Tenang saja, kalau tidak dihabiskan ya biarkan saja".
Ternyata seperti itu kebiasaan orang kaya, beli makanan bermacam-macam, dan meninggalkan begitu saja saat tidak di makan.
Jiwa pengiritan Dila langsung meronta-ronta. Tidak setuju dengan pola pikir Bu Fatma. Dari pada mubadzir, Dila pun memakan semuanya dengan begitu antusias, dari Seblak, burger, kebab, kentang goreng, juga es krim. Mungkin sampai malam lambung Dila belum selesai menggiling semua makanan yang sedang di makanannya saat ini.
" Habis ini El mau langsung pulang apa mau main lagi?", tanya Fatma, setelah mereka selesai makan, dan tengah menikmati es krim coklat secara perlahan.
__ADS_1
El melirik ke arah Dila seperti seorang anak yang sedang minta persetujuan dari ibunya.
" El harus tidur siang Bu, jadi sebaiknya kita pulang saja, sepertinya El juga sudah kelelahan", ucap Dila.
" Ya sudah habis ini kita langsung pulang saja, nanti nenek ikut ke rumah El lagi ya, di rumah nenek sepi, kakek masih di kantor".
Dila jadi penasaran dengan pekerjaan dari suami Bu Fatma, entah berapa besar gaji perbulannya, bisa membuat rumah sebesar itu dan sangat bagus, belum lagi menggaji tenaga kebersihan dan art lainnya tiap bulan, pasti gajinya sangat banyak. Tapi tentu saja rasa penasaran itu hanya tersimpan di dalam hati. Tidak sepantasnya Dila mencari tahu siapa dan apa pekerjaan dari orang tua majikannya.
Pukul 1 siang mereka sampai di rumah, El sudah tidur sejak masih dijalan, Dila pun menggendongnya masuk kedalam menuju kamar El. Dilepasnya sepatu dan kaos kaki El. Baru Dila keluar dan masuk ke kamarnya menaruh tasnya.
" Dil, ini ditaruh dimana?", ternyata supir Bu Fatma membawakan tas besar yang tadi diletakkan di bagasi mobil.
" Oh iya pak disini saja, nanti biar saya masukkan sendiri", Dila meraih tas besar itu dan membawa tas itu ke dalam kamarnya.
" Dibelikan apa sama Nyonya besar?", tanya bi Ana yang tiba-tiba nongol di depan pintu kamar Dila.
" Bukan dibelikan Bi, ini dikasih baju-baju bekas punya Non Indri yang sudah nggak muat".
Mendengar itu Ana langsung tidak tertarik lagi, Ana pun berjalan keluar, untuk kembali ke ruang tengah melanjutkan pekerjaannya mengelap- ngelap kaca.
" Baju bekas yang sudah nggak muat, nggak ada harapan untuk meminta jatah", gumam Bi Ana, dirinya memang lebih gembul dibanding dengan bi Darsih, dan jauh dari postur tubuh Dila yang sangat ramping.
Tapi tiba-tiba Ana berhenti dan balik lagi melongok ke kamar Dila. " Sepertinya ada yang berbeda dari wajah kamu, tapi apa ya?, aku sedikit pangling".
Dila baru teringat jika tompelnya belum dipasang. Dila buru-buru mengambil tompel palsu itu dari tasnya dan memasang tompelnya lagi tanpa sepengetahuan siapapun.
" Beda apanya?, jadi kucel ya Bi?, karena berminyak habis jalan-jalan".
Bi Ana nampak berpikir.
" Sudahlah, mungkin tadi aku yang salah lihat, lupakan saja, maklum mata sudah tua, jadi kadang suka kabur kalau lihat dari kejauhan".
Kali ini bi Ana benar-benar pergi dari kamar Dila, Dila bersyukur bi Ana tidak menyadari bahwa dirinya tadi tidak bertompel.
Dila pergi ke dapur untuk mengambil air minum, saat itu Bi Darsih sedang membuatkan jus melon untuk Bu Fatma.
" Dil, tadi Pak Indra pulang pas istirahat, rencananya mau makan siang bareng El, tapi bibi kasih tahu kalian lagi pergi sama Nyonya besar. Habis makan siang sendirian, Pak Indra nya ke kantor lagi".
" Mungkin Bu Fatma lupa tidak mengabari Tuan Indra tadi", pikir Dila.
__ADS_1
Dila memilih kembali ke kamar El dan berniat u tuk ikut tidur siang di samping El, karena ternyata bermain-main juga melelahkan.
Kamar El lebih terasa adem di banding kamar Dila yang tidak terlalu luas?, mungkin karena ada AC nya, tidak seperti kamar Dila yang menggunakan AC alami, alias jendela kamar yang cukup besar. Baru beberapa menit merebahkan diri, Dila sudah tertidur dengan lelapnya.