
" Wah...wah...wah..., supir yang selalu sok jadi pahlawan kesiangan. Jangan jangan anak yang ada diperut pembantu sialan itu anak elu, segitunya ngebela pembantu ngelunjak kaya dia. Tapi cocok sih, supir sama pembantu, memang seharusnya begitu pasangan yang benar, supir dan pembantu".
Tania melirik ke arah Dila yang sedang makan, " Jangan ngelunjak !, pembantu deketin majikan, nggak tahu diri itu namanya, sok kecantikan !, kegatelan !".
Evan dan Bima yang tidak tahu apa-apa dan tidak kenal juga dengan Tania merasa ucapan Tania semakin keterlaluan dan sangat tidak enak di dengar, apalagi Tania terus melotot ke arah Dila yang masih berusaha tenang, dan memakan makanannya.
Bima khawatir kata-kata kasar Tania di dengar oleh El yang sejak tadi menatap Tania dengan jengah. Sepertinya El juga mengenal perempuan itu karena El menatap dengan marah, hanya saja tetap Diam.
" Heh, perempuan nggak punya malu, kalau lagi mabok itu jangan kesini, pergi sana ke klub atau diskotik. Sudah kesini pakai pakaian kaya yang dipakai sama murid TK. Ini orang nggak ada urat malunya apa gimana, sejak tadi disini teriak-teriak terus kayak orang gila, pergi sana, atau mau aku panggilan keamanan buat usir kamu?, bikin makan enak ku jadi nggak nyaman saja!", bentak Bima.
Dua laki-laki yang tadi bersama Tania jadi berdiri karena Bima yang bertubuh tinggi besar berdiri dan mengusir Tania untuk pergi menjauh.
" Heh lu jangan beraninya sama cewek lu, badan gede, pakai pakaian dines, tapi sama cewek kasar lu !", ujar salah satu laki-laki yang tadi duduk bersama Tania. " Sini kalau berani lu lawan gua, laki sama laki, jangan berkata kasar sama cewek!".
" Yaelah.... cewek situ yang duluan ngomongnya kasar banget. Makanya ini dijagain Bang ceweknya, jangan suruh berkeliaran bebas kemana-mana pakai pakaian sekecil itu, nanti itu bokong sama susu tumpah-tumpah kemana-mana, bisa mbleber, gara-gara wadahnya kekecilan", gumam Bima sengaja menyindir. " Bikin mata saya yang masih suci ini jadi ternodai tau nggak Bang".
Jujur sebenarnya Dila, Evan dan juga Ari ingin menertawakan kata-kata Bima barusan. Hanya saja posisi mereka saat ini sedang beradu mulut dengan orang-orang yang sedang berdiri di samping meja makan mereka.
" Ada apa ini kok rame-rame seperti ini?", tanya seorang berkemeja kotak-kotak, yang ternyata manager restoran itu.
" Kita lagi makan, tapi mereka tiba-tiba datang dan gangguin makan kita disini, bikin nafsu makan jadi ilang" gumam Bima, sengaja mengadukan pada sang manager.
" Maaf Tuan dan nyonya, bukankah kalian tadi yang duduk di sebelah sana?, silahkan kembali ke kursi anda, atau sudah selesai makannya dan mau segera keluar?", tanya Pak manager masih dengan senyum dan kata-kata yang sopan.
__ADS_1
" Kita juga lagi makan disini, kita langganan di restoran ini, kenapa situ ngusir kita?, apa mau restoran ini gue tuntut?", ujar Tania merasa tidak terima karena sang manager seolah membela Dila dan teman-temannya, serta berusaha mengusirnya.
" Maaf Nyonya, saya tidak bermaksud sama sekali untuk mengusir siapapun, saya hanya menyarankan agar nyonya kembali ke tempat nyonya yang semula".
Namun justru Tania melotot dan mengambil gelas di depannya yang berisi jus alpukat milik Dila, dan hendak menumpahkan ke wajah Dila, namun seseorang menyenggol sikunya, hingga jus alpukat itu justru tumpah di kemeja kotak-kotak sang manager.
" Aduh...!".
Ternyata yang menyenggol siku Tania adalah El, yang sengaja turun dari kursinya dan mengawasi Tania, takut berbuat jahat pada ibunya. Karena itu El yang semakin pintar berinisiatif sendiri.
Wajah sang manager kali ini benar-benar terlihat sudah kehilangan kesabaran. " Nyonya saya sudah bicara baik-baik dengan Anda, tapi anda justru menyiram saya seperti ini !", suara sang manager terdengar semakin geram dan penuh penekanan.
" Sori, gue nggak sengaja, itu anak setan nyenggol tangan gue, jadi tumpah ke baju situ jusnya. Kita-kita sudah selesai kok makannya, ayo kita cabut sekarang", ajak Tania pada dua laki-laki yang bersamanya. Karena acara siram wajah salah sasaran. Justru Tania menyiram manager restoran.
Tania berjalan cepat dan menuju kasir, melakukan pembayaran dan keluar dari restoran bersama dua laki-laki bertubuh kekar yang bersamanya.
Dila tersenyum melihat tingkah El. El tidak mendebat dan menjawab perkataan Tania, tapi El berusaha melindunginya dari siapa pun yang berusaha menyakiti Dila.
" Maaf atas ketidak nyamanan tadi tuan-tuan dan Nyonya, biar saya ganti jus alpukat yang ditumpahkan perempuan tadi", ujar sang manager yang masih berdiri di sana, dan pergi kebelakang untuk membersihkan pakaiannya yang kotor karena tersiram jus alpukat.
Tak lama kemudian jus alpukat baru sudah tersedia kembali di meja.
" Wah Bu Dila sudah punya pahlawan pelindung ni kemana-mana, ada El yang dengan berani menjaga Bu Dila. Tapi ngomong-ngomong siapa Tante Tania itu El?, sepertinya Om baru pernah lihat", tanya Evan yang sejak tadi diam karena tidak tahu duduk permasalahannya.
__ADS_1
" Tante Tania itu Tante yang jahat, yang dari dulu pengen jadi istri ayah El, tapi Ayah tidak pernah suka sama Tante Tania, habis Tante Tania nggak tulus menyanyangi El, tidak seperti Bu Dila", gumam El seraya duduk kembali di kursinya.
Evan manggut-manggut paham. " Pantas saja perempuan tadi kelihatan sangat benci melihat Dila. Ternyata karena mereka berdua dulu adalah saingan. Padahal wanita tadi sangat seksi dan hot, tapi memang bukan tipe wanita yang pantas dijadikan istri sih, hanya bisa jadi teman asyik-asyik, atau jangan-jangan suami Dila dulu pernah bermain-main dengan perempuan itu, karena perempuan tadi jelas-jelas mengatakan jika suami Dila lemah ", batin Evan penuh dengan tanda tanya yang muncul.
" Jadi dia dulu saingan kamu Dil?, aku kira ayahnya El yang mohon-mohon sama kamu biar bisa nikahin kamu, tapi sepertinya kamu juga perlu berjuang mendapatkan ayahnya El
, karena ada saingan", gumam Evan.
" Nggak, bukan begitu ceritanya, nggak ada saingan-saingan seperti itu. Aku nggak pernah nganggep mba Tania saingan aku. Dia itu dulu sekertaris nya Mas Indra di kantor, mereka sudah mengenal sangat lama, jauh sebelum aku masuk ke dalam kehidupannya Mas Indra. Karena Tania teman mas Indra sejak SMA", ucap Dila menjelaskan.
" Sircle pertemanan orang-orang kota besar itu, bisa dibilang susah dimengerti, nggak seperti kita yang bilang teman ya memang teman, cuma bermain dan jalan-jalan bersama, sudah begitu saja. Kalau orang-orang kota, mungkin pergaulan mereka sudah agak kebarat-baratan, sedikit lebih bebas dan ya...seperti kalau kamu lihat di film-film seperti itu, aku nggak bisa jelasin secara gamblang", ujar Dila sambil melirik El, ada El disampingnya, tidak mungkin Dila akan mengatakan bahwa Indra pernah seranjang dengan Tania tanpa busana.
" Nggak seperti itu Dil, yang kamu lihat itu nggak seperti yang kamu bayangin, Pak Indra itu dijebak sama wanita gatel itu. Kamu jangan ingat-ingat lagi kejadian malam itu, kamu bisa jadi benci lagi sama Pak Indra. Aku yakin 100%, pak Indra di jebak", Ari masih saja membela majikannya.
" Iya iya Ar... aku ngerti, aku cuma memberi penjelasan pada Evan bagaimana pergaulan di kota besar, terutama bagi mereka anak-anak keturunan orang kaya yang jalannya ke mall, ke klub malam dan diskotik. Aku nggak membahas tentang kamu loh ya Ar ".
Ari manyun, " iya, memang aku tidak masuk golongan keturunan orang kaya, tapi pergi ke klub sudah pernah beberapa kali, cuma mampir doang sebentar, hehe". Ari tidak mau memperpanjang ceritanya, kenapa dia mampir ke klub. Tentu saja menjemput bosnya, dan siapa bosnya Ari?, tentu saja Indra, suami Dila.
" Ya sudah sih, udah kelihatan kok dari cara cewek tadi berpakaian, dia sudah bolak-balik 'dipakai', dan gonta-ganti pasangan, bempernya saja depan belakang gede banget, mana yang dipakai buat nutupin pres banget, sengaja dia biar mata cowok melotot kalau lihat dia. Jadi bisa disimpulkan bahwa dirinya selalu welcome, kalau nggak percaya, coba saja kamu deketin Van, siapa tahu rejeki kamu dapat yang gede-gede, tapi kalau dia mau sama cowok kere semacam kita, hahaha".
" Pasti yang diajak jalan ya yang bisa traktir makan enak, dan tidur di hotel yang mahal. Misal pengusaha kaya seperti suami Dila, dan sekelas itu deh. Kalau cowok seperti kita yang gaji saja pas buat hidup sebulan, mana mau dia ", Bima seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.
" Nggak mau aku sama model begitu, sudah kenyang duluan sebelum nyobain", ucap Evan.
__ADS_1
Namun justru membuat Ari dan Bima langsung tertawa lepas.
" Bisa muntah-muntah kalau nyoba yang begitu, kekenyangan", lagi-lagi Evan membuat lelucon konyol.