Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 79


__ADS_3

Dila langsung mengajak Indra ke dalam mobilnya, dan menyuruh Kunto untuk pergi ke klinik terdekat, bagaimanapun saat ini wajah mereka berdua sama-sama babak belur dan penuh luka, tidak baik jika langsung pulang ke rumah dengan tampang amburadul seperti itu.


Sejak tadi Dila masih belum berani bertanya pada suaminya sejak kapan dia berada di taman kota. Dila sengaja tidak memberi tahu Indra tentang pertemuannya dengan Kunto di taman kota, bukan karena Dila merahasiakan hubungan gelap dengan laki-laki lain, tapi Dila hanya ingin menyelesaikan kisah di masa lalu yang masih menggantung.


Tak sedikitpun Dila berniat mengkhianati Indra, hanya saja dari mana Indra tahu jika dirinya janjian dengan Kunto di taman, setahu Dila dirinya tidak mengatakan kepada siapapun. Dan Dila juga selalu menghapus pesan dari Kunto sesaat setelah membacanya.


" Duduk dulu Mas, biar aku bersihkan luka kamu".


Dila mengambil kotak P3K yang selalu ada di mobil, membersihkan luka Indra dengan air, baru membersihkan dengan alkohol. Setelah luka terlihat bersih dari kotoran dan darah yang menempel, Dila mulai mengoleskan betadin agar luka cepat kering.


" Sshhhh....".


Indra mendesis karena menahan rasa sakit dan perih di setiap lukanya yang diberi betadine.


Dila sudah selesai mengoleskan semua luka Indra dengan betadine, dan sekarang tidak ada yang mereka berdua lakukan, namun tidak ada juga yang memulai pembicaraan. Dila bisa melihat mobil Kunto sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Tapi Dila tetap diam seolah tidak perduli jika Kunto sudah pergi.


" Jadi berapa banyak lagi yang harus aku hadapi setelah kejadian pagi ini?". Tiba-tiba Indra bertanya dengan suara lirih dan nada penuh penekanan.


Dila tahu dengan maksud pertanyaan suaminya, tapi Dila tidak mau memperpanjang masalah ini, karena Dila tidak pernah bermaksud memberi harapan atau memberi janji palsu pada laki-laki lain yang menyukainya.


" Tidak ada Mas", jawab Dila lirih sambil menunduk merasa bersalah dengan kekacauan yang terjadi barusan.


" Maafkan aku karena tidak memberi tahu Mas terlebih dahulu tentang pertemuan tadi, aku tidak bermaksud mengkhianati kamu dengan diam-diam bertemu dengan laki-laki lain di belakang kamu mas. Aku hanya ingin menyelesaikan kisah masa lalu ku yang masih menggantung, setiap orang pasti butuh kepastian, dan aku tidak mau menggantung dan memberi harapan palsu pada siapapun".


" Jadi apa aku yang salah karena tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan kamu?".


Dila langsung menggelengkan kepalanya, " Tidak, Mas juga tidak bersalah, hanya saja keadaan yang membuat semuanya menjadi kacau seperti ini".


Melihat Indra penuh luka Dila jadi merasa semakin bersalah, dan yang paling Dila khawatirkan lagi, entah apa yang akan El tanyakan jika melihat ayahnya babak belur seperti ini.


" Mas, bagaimana kalau malam ini Mas menginap di hotel atau di kantor saja, El pasti akan banyak bertanya kalau melihat wajah mas seperti ini, aku nggak mau El melihat Mas dalam keadaan seperti sekarang".

__ADS_1


Indra memang kesal sejak tadi, entah kesal pada siapa, mungkin pada Dila, atau pada dirinya sendiri, mungkin juga marah pada keadaan seperti yang Dila katakan. Dia mengetahui jika Dila tidak menunggu El di TK, karena salah satu wali dari teman El adalah istri dari anak buahnya.


Tidak sengaja Indra mendengar percakapan karyawannya di lift dengan istrinya yang baru sampai mengantar sang anak ke sekolah, yang kebetulan satu sekolah dengan El. Istri karyawannya mengatakan hari ini El di antar oleh ibu tirinya yang masih sangat muda dan cantik, tapi saat bel masuk dan anak-anak masuk kelas, gelagat ibu muda itu sangat mencurigakan, dia pergi dengan mobilnya dan terlihat gugup melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang melihat situasi.


Saat itu Indra berusaha melacak ponsel Dila yang sudah di sambung dengan ponselnya, benar saja, Dila pergi dari sekolahan El, titiknya berpindah di taman kota yang tak jauh dari sekolah El.


Karena pagi itu pekerjaan hanya di dalam kantor dan menandatangani berkas dan laporan, Indra mengatakan akan keluar sebentar pada sekertarisnya. Karena siang hari sebenarnya ada meeting dengan klien.


Indra sengaja langsung menuju taman kota, saat sampai di taman kota, Indra mendengar suara laki-laki yang nadanya terdengar kecewa dan marah sedang berbicara dengan Dila. Indra sengaja mendengarkan dari balik tanaman pagar apa yang Dila dan laki-laki itu bicarakan.


Tidak ada tanda-tanda Dila akan mengkhianatinya, sebenarnya Indra juga tidak pernah meragukan Dila, hanya saja Indra penasaran, kenapa Dila tidak meminta ijin jika hendak bertemu dengan laki-laki lain, awalnya bahkan Indra mengira jika yang akan Dila temui adalah Bram, tapi saat mendengar suara dari balik tanaman pagar, ternyata suaranya berbeda, bahkan bercampur dengan logat daerah, sehingga Indra hanya berniat mendengarkan percakapan mereka dan kembali ke kantor setelah pertemuan rahasia mereka selesai.


Hanya saja sikap laki-laki itu ternyata melewati batasan, Bram saja tidak berani menyentuh tangan Dila, tapi laki-laki itu, justru memeluk Dila dengan paksa, membuat dirinya lepas kontrol dan langsung menarik tangan yang memeluk paksa istrinya, dan menghajar laki-laki itu saat itu juga. Hingga akhirnya seperti inilah keadaannya sekarang.


Babak belur...


Dila menatap Indra yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong, Indra tidak mengatakan iya ataupun menolak, Indra masih tetap diam, membuat Dila bingung dan takut jika Indra marah kepadanya.


" Mas.....".


" Baiklah aku akan ke kantor, kamu temani El saja, sebentar lagi sudah waktunya El pulang".


Indra menjawab tanpa menatap Dila, masih melihat kearah depan dengan tatapan kosong.


" Tidak Mas, aku akan mengantar kamu, dan menemani kamu hari ini, biar aku telepon ibu untuk menjemput El di sekolahnya".


Dila langsung menghubungi Fatma dan meminta tolong agar menjemput El, awalnya Fatma langsung memberi banyak pertanyaan, namun Dila berjanji akan menceritakan semua tapi nanti, Dila hanya memberi tahu dirinya saat ini bersama dengan Indra.


Fatma pun tidak masalah jika harus menjemput El di sekolahnya, karena Fatma juga tidak ada kegiatan. Dila sekalian pamit dan minta tolong pada ibu mertuanya untuk menjaga El, karena dirinya mungkin akan pulang telat.


" Ari kemana mas?, dia tidak anter kamu hari ini?", tanya Dila saat Indra melajukan mobilnya untuk kembali ke kantornya.

__ADS_1


" Ari ada di kantor, aku yang menyuruhnya menunggu di sana, aku tidak ingin Ari tahu apa yang hendak aku lakukan". Indra membelokkan mobilnya karena berubah pikiran.


Indra menelepon Ari, menyuruhnya untuk mengambil mobil Dila dan membawa pulang mobil itu, Indra juga menelepon sekertarisnya menyuruh untuk membatalkan semua meeting hari ini dan menggantinya di lain waktu.


Mobil Indra arahkan ke salah satu hotel terdekat milik Indra, yang pernah dia datangi saat pertama kali sampai dari menjemput Dila di bandara, waktu pertama kali Dila datang dari Jogja.


" Kita ke hotel kamu Mas?, katanya tadi mau ke kantor". Dila nampak bingung karena Indra merubah tujuan.


" Aku sedang tidak fokus dan konsentrasi ku sedang kacau, jika kembali bekerja di kantor, otak ini tidak akan bisa dibawa untuk bekerja, hanya emosi dan emosi saja yang ada".


Indra langsung berjalan menuju lift dan lebih dulu mengambil kunci kamar pribadinya di resepsionis. Kamar paling luas dan paling nyaman di hotel itu. Dila sengaja menggandeng Indra saat berjalan menuju lift.


" Suruh pramusaji membuatkan makanan untuk makan siang kami", hanya itu yang diucapkan Indra pada manager hotel yang tadi menyambut kedatangannya.


" Baik Tuan".


Manager hotel undur diri sambil curi-curi pandangan menatap wajah Indra yang babak belur.


" Apa mau aku panggilkan dokter untuk mengobati lukamu mas?", Dila memang sangat khawatir melihat keadaan Indra.


Entah bagaimana dengan Kunto disana, dia pasti lebih kasihan karena mungkin tidak ada yang merawatnya. Tapi Dila tidak mau memikirkan nya, dia sendiri yang salah, kenapa tetap memeluk Dila, padahal Dila sudah menolak sejak awal.


" Tidak usah, ini hanya luka lecet dan lebam-lebam saja, di kompres dengan es batu nanti dikamar juga akan segera hilang lebamnya".


Ting.....


Pintu lift terbuka tepat di lantai tujuan mereka. Dila masih menggandeng Indra dan tak mau melepaskan. Dila masih takut Indra akan marah.


" Aku bisa jalan sendiri, kamu siapkan saja es batu untuk mengompres memar-memar di wajahku", ucap Indra setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.


Indra melepas gandengan tangan Dila dan duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu. Dila langsung menuju kulkas dan mengambil es batu dan kantong untuk mengompres luka Indra.

__ADS_1


Lagi-lagi Indra mendesis kesakitan saat es batu menempel di wajahnya yang lebam, sampai-sampai Dila ikut meringis seolah merasakan perih yang Indra rasakan.


" Maafkan aku, maafkan aku Mas", Isak Dila sambil pelan-pelan terus menempelkan es batu ke memar-memar di wajah dan tubuh Indra.


__ADS_2