
Ternyata anak perempuan Bu Titin yang diceritakan beliau bekerja di Bekasi adalah Kak Intan, Dila sungguh tidak menyangka jika dunia ini hanya selebar daun kelor. Begitu sempit, hingga dimana-mana kembali bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.
Yang menjadi pertanyaan besar dalam pikiran Dila sekarang adalah, " Apakah Bu Titin tahu apa pekerjaan Intan yang sebenarnya?, mungkinkah intan mengatakan yang sebenarnya jika dia bekerja sebagai PL (pemandu lagu) di tempat karaoke?".
Intan nampak tersenyum tapi juga terlihat panik, ekspresi Intan saat itu bercampur antara senang dan terkejut bisa terlihat dari wajahnya yang menjadi pucat namun masih memaksakan untuk tersenyum.
" Apa kalian saling kenal?, waaah... ibu tidak menyangka kalau kalian saling kenal, soalnya Intan ini jenis orang yang tidak mudah untuk bergaul", gumam Titin.
" Dulu sekali, sebelum aku berangkat ke Jakarta menjadi pengasuh El, kontrakan kami bersebelahan Bu, kak Intan ini yang memberi tahuku jika ada teman dari kenalannya yang sedang mencari pengasuh. Tapi sejak aku pindah Jakarta, kami tidak pernah lagi bertemu", ucap Dila berusaha menjelaskan.
" Kak Intan sudah sangat baik kepadaku Bu Titin, bahkan dulu kami baru kenal saja, dia sudah kasih kado pas ulang tahunku yang ke 17. Sampai sekarang masih aku simpan kado dari Kak Intan dengan baik", imbuh Dila.
Intan tersenyum. Kali ini merasa lega karena Dila tidak mengatakan hal-hal aneh yang bisa menimbulkan kecurigaan sang ibu. Sejak dulu memang Dila seperti itu, Intan bisa tahu Dila gadis yang baik, dia juga yang tidak pernah membicarakan keburukan Intan diantara penghuni kontrakan yang lain. Bahkan masih tetap menyapa dan menghormati Intan meski dirinya tahu apa pekerjaan Intan yang sebenarnya.
" Apa Kak Intan masih tinggal di Bekasi sampai sekarang?. Bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol?", ajak Dila.
Dan disinilah mereka sekarang, kafe yang ada tempat bermain anak-anak, ada tempat duduk-duduk untuk bersantai di sekitar tempat bermain. Masih di dalam mall yang sama, hanya beda lantai saja dari tempat Dila dan El tadi makan. Dila memesan beberapa minuman dan juga kue untuk teman ngobrol mereka.
" Jadi apa sekarang hubungan kamu sama suamimu sudah membaik?", Bu Titin ingat bagaimana Dila dulu curhat tentang urusan rumah tangganya.
Dila merasa tidak enak karena disana ada Intan juga.
" Nggak papa cerita saja, Intan itu nggak suka ngegosip seperti ibunya, teman wanitanya juga sedikit, kebanyakan teman cowok, makanya Ibu kaget pas tahu kalian saling kenal".
" Intan juga sekarang sudah nggak di Bekasi, dia sudah menikah dengan orang Kalimantan, pengusaha batu bara yang sukses, meski usia suaminya jauh lebih dewasa, tapi nggak masalah lah kalau menurut ibu, sama seperti kamu dan suamimu yang berjarak cukup jauh usianya, malah jadi bisa ngemong kan?".
Bu Titin menceritakan tentang Intan, putri sulungnya.
" Benarkah Intan sudah menikah?, dengan orang Kalimantan, atau dia hanya di jadikan wanita simpanan oleh om-om hidung belang yang pernah menjadi tamunya?", Dila masih terus menyimpan banyak pertanyaan dalam otaknya.
" Hubungan antara aku dan suamiku sekarang sudah lebih baik dari waktu pertama menikah dulu, mungkin memang dulu masih masa pengenalan dan penyesuaian, jadi sering terjadi ke salahpahaman. Tapi sampai sekarang kami belum diberi momongan, makanya rencananya bulan depan kami akan berbulan madu Bu Titin, selama ini kami sibuk dengan urusan kami, dan belum sempat berbulan madu", ujar Dila begitu terbuka dengan Bu Titin, entah mengapa setiap ngobrol dengan Bu Titin serasa sedang curhat pada ibunya sendiri. Bu Titin memang tempat curhat paling nyaman menurut Dila.
" Wah.... bagus kalau begitu, usia suamimu juga pasti sekarang sudah 30 tahunan lebih, sudah seharusnya menambah momongan".
" Semoga saja rencana kalian berdua sukses ya..., biar cepet dapat momongan. Doakan juga ini si Intan juga lagi hamil, baru 11 minggu, makanya belum kelihatan besar perutnya. Intan juga sudah mengikuti program hamil cukup lama, iya kan nak?", tanya Titin pada putrinya itu.
__ADS_1
Intan mengangguk. " Sebenarnya dulu aku belum siap hamil, karena suamiku sibuk mengurus bisnisnya, dan aku masih ingin menikmati masa-masa berdua saja dengan suamiku. Namun ibu mertuaku selalu menanyakan tentang cucu dan cucu lagi..., makanya aku ikut program hamil, setelah satu tahun, baru nih aku berhasil hamil. Ini juga dengan proses pembuahan di luar, karena kata dokter 'punya suamiku' tidak terlalu bagus dan kuat. Makanya antara punyaku dan suamiku di satukan dan dilakukan pembuahan di luar, setelah ada yang jadi, baru dimasukkan ke dalam rahimku". Intan kini ikut menjelaskan.
Penjelasan dari Intan barusan membuat semua pikiran buruk Dila tentang Intan seketika musnah. Kalau memang suami Intan dan keluarganya menginginkan cucu dari Intan, pasti Intan sungguh-sungguh menikah dengan orang Kalimantan, bukan hanya menjadi wanita simpanan om-om kaya. Soalnya dari novel yang pernah Dila baca, biasanya menjadi wanita simpanan itu hanya diajak enak-enak di ranjang, dan si laki-laki tidak mau wanita simpanannya sampai hamil, karena hanya akan merepotkan dan nggak bisa diajak sering-sering bermain ranjang lagi.
" Waaah.... selamat kalau begitu kak Intan, usaha dan perjuangannya membuahkan hasil, semoga saja sehat-sehat semua, Kakak dan juga janin yang ada di dalam perut kak Intan".
Dila menatap Intan dengan seksama.
" Apa Kak Intan tidak mabok, muntah-muntah atau ngidam apa begitu?, katanya kalau ibu hamil muda suka kepingin yang aneh-aneh?, atau mual-mual terus seperti itu?", tanya Dila penasaran.
Intan terkekeh mendengar pertanyaan Dila.
" Hampir tiap pagi muntah-muntah seperti itu di rumah, namanya morning sickness, tapi kalau siang sudah nggak muntah lagi".
" Dan keinginanku ya ini.... lagi kepingin jalan-jalan di mall sama ibuku, makanya kemarin aku pamit untuk ke Jakarta sama suamiku, aku diantar sampai Jakarta, tapi suamiku balik ke Kalimantan lagi karena sibuk dengan urusan pekerjaan. Mungkin aku akan menginap di rumah ibu sampai beberapa hari. Sepertinya anakku ngidamnya kepingin deket-deket sama Oma nya", terang Intan.
Dila tersenyum mendengar apa keinginan sang janin dalam perut Intan. Karena memang katanya kadang-kadang yang diinginkan ibu hamil itu hal-hal yang aneh. Dila berharap dirinya bisa seberuntung Intan yang usaha dan perjuangannya membuahkan hasil.
Dila bersama Intan dan Bu Titin terus mengobrol seputaran keluarga, Dila banyak bertanya kepada Intan tentang bagaimana rasanya hamil dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan, hingga tak terasa waktu pun berubah dengan cepat, sebentar saja siang sudah berubah menjadi sore.
" Sudah sore, jadi maaf banget nih Bu Titin dan Kak Intan, harus memotong kalimat, sudah sejak pagi aku dan El keluar dari rumah, takut kelamaan, mumpung ayahnya El lagi libur akhir pekan, jadi mau pamit pulang duluan ya, kalau kalian masih asyik jalan-jalan dilanjut saja, sepertinya El juga sudah capek bermain-main, dan sudah waktunya istirahat".
Padahal Kayla adalah ibu kandungnya, jika benar ada ikatan batin antara ibu kandung dan anaknya, seharusnya El bisa merasakan desiran aneh di hatinya saat bertemu dan melihat Kayla. Namun sepertinya El biasa-biasa saja.
Apa anak-anak itu tahu, mana orang yang benar-benar tulus dan mana orang yang acuh.
" El pulang dulu Tante, Oma... assalamualaikum...", ucap El dengan tersenyum lebar.
" Aduh, sudah tambah gede dan ganteng saja ini cucu Oma, dulu pas liat pertama masih kecil dan belum lancar ngomong huruf 'r', sekarang sudah pinter banget, tambah ganteng juga".
Bu Titin begitu gemas melihat El yang sudah semakin besar dan pintar berbicara.
El tersenyum mendengar pujian dari Bu Titin, merekapun berpisah, Bu Titin dan Intan masih berada di kafe, sedangkan Dila dan El berjalan menuju parkiran.
" El, apa kita mau beli oleh-oleh buat ayah biar ayah nggak marah?, sepertinya kita sudah pergi terlalu lama seharian ini, menurut El, ayah sukanya apa ya?".
__ADS_1
Dila nampak berpikir saat masih berjalan di dalam mall.
" Beli es krim saja Bu Dila, es krim kan manis, manis itu kan bikin hati senang, biar ayah nggak marah".
Dila langsung terkekeh mendengar penjelasan El, " Paling juga El yang mau es krim, tapi pake alesan beli es krim buat ayah", Dila mencubit hidung El yang kini terkekeh sendiri.
" Tapi nggak papa deh beli es krim, lagian di luar juga masih sangat panas, bawa pulang es krim pasti cocok disaat panas-panas begini".
Dila pun setuju dengan usul El, dan membeli beberapa cup ice cream untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Sampai di parkiran Dila langsung menggantung kantong berisi es krim di motornya. Memakaikan El helm dan juga memakai helmnya sendiri.
" Sudah siap sayang ?".
El mengangguk.
" Oke, kalau begitu sekarang kita let's go....!".
Dila langsung melajukan motornya menerobos jalanan yang panas dan padat kendaraan. Dila sengaja mencari rute terobosan yang tidak terkena macet dan yang paling cepat sampai di rumah.
Hanya setengah jam berkendara Dila sudah sampai, sejak tadi El sudah merasa mengantuk, api Dila terus mengajaknya mengobrol, beruntung El bisa menahan ngantuknya, demi bisa makan es krim bersama sang ayah di rumah.
Sampai di rumah El langsung mencari-cari keberadaan ayahnya. Yang ternyata sedang duduk-duduk di gazebo samping rumah.
" Ayah kita makan es krim bareng-bareng yuk", ajak El. Indra hanya mengangguk, dan mencicipi sedikit es krim.
" El lanjut makan es krimnya di dalam ya, sama bi Darsih dan bi Ana, ayah mau bicara sama Bu Dila".
El menurut dan membawa box es krim ke dalam rumah.
" Maaf kalau perginya seharian, tadi ketemu teman lama di mall, pas habis makan sama El". ujar Dila menjelaskan terlebih dahulu.
" Sebelum ke mall kamu kemana?", tanya Indra.
" Ke apartemen Lita Mas", jawab Dila.
__ADS_1
" Dari apartemen Lita kamu kemana?", tanya Indra lebih spesifik.
" Kenapa mas Indra menanyakan hal itu, apa mas Indra tahu kalau aku dari rumah sakit?", batin Dila.