Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 40


__ADS_3

Dila langsung merebahkan tubuh El di kamarnya, El tidur begitu nyenyak, sampai di rumah saat adzan maghrib berkumandang. Ternyata perjalanan pulang lebih lama, karena terjebak macet berulang kali.


Setelah merebahkan El Dila langsung menuju kamar mandi dan membawa baju ganti sekalian, Indra belum pulang kerja, mobilnya belum ada di garasi, bi Ana juga mengatakan jika Indra itu belum pulang.


Dila menjalankan sholat maghrib di kamar Indra, saat selesai sholat Indra baru saja sampai di rumah, Indra nampak sangat lelah, langsung masuk kamar mandi dan berganti pakaian, setelah memakai kaos putih dan celana kolor pendek Indra langsung merebahkan diri di kasur.


" Kamu nggak sholat mas?", tegur Dila.


" Sudah tadi di jalan", jawab Indra singkat.


Dila melipat mukenanya dan melihat Indra yang memejamkan mata sambil memijit-mijit keningnya.


" Kamu sakit?, wajahmu merah begitu", Dila mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Indra.


" 39° tinggi banget mas, kamu sakit. Aku ambilkan obat dulu", Dila mengambil kotak P3K yang disimpan di lemari nakas. Mencari obat penurun panas dan pereda nyeri.


" Tadi sudah makan apa belum Mas?", tanya Dila sambil mengambil obat yang hendak diberi pada Indra.


Indra menggelengkan kepalanya, Indra memang hanya sarapan saja hari ini, siang tadi Indra tidak pulang kerumah karena tahu Dila dan El tidak di rumah. Indra hanya minum kopi dan sepotong sandwich yang dibuatkan oleh Dila.


" Aku ambilkan makanan dulu sebentar. Sebaiknya minum obat kalau sudah makan", Dila keluar dan kembali dengan semangkuk sup hangat dan nasi.


" Makan sedikit biar perutnya nggak kosong".


Indra mengambil mangkok itu dan memakannya hanya satu suapan.


" Kok cuma sesuap, lagi dong Mas, sini biar aku suapin", Dila mengambil mangkok dari tangan Indra dan menyuapi Indra dengan telaten hingga mangkok itu bersih tanpa sisa.


" Habis juga makanannya, itu lebih baik dari pada perutnya kosong, tentu akan membuat asam lambung naik, perut sakit dan kepala pusing", gumam Dila. Dila memberikan dua butir obat pada Indra, dan langsung Indra telan dengan segelas air putih.


" Besok cuti saja Mas, jangan berangkat kerja, mungkin kamu kecapekan dan butuh istirahat total".


Dila keluar lagi untuk menaruh peralatan bekas Indra makan. Indra hanya menatap punggung Dila yang sedang keluar.


Indra memang sedang kurang sehat, dan tadi saat baru sampai dirumah, Ari langsung menemuinya, melaporkan informasi tentang Dila yang baru Ari ketahui, Ari juga mengatakan tentang Dila yang sudah punya calon di kampung.


Indra hanya mengangguk berterimakasih pada Ari untuk laporannya hari ini. Indra tidak kaget, karena saat itu Dila juga mengatakan hal yang sama, jika sudah ada pemuda yang sedang menunggunya di kampung. Dulu Indra sama sekali tidak peduli saat Dila mengatakan hal itu, tapi sekarang entah mengapa Indra merasa takut, jika tiba-tiba Dila meninggalkannya. Indra yang sedang kurang fit, jadi semakin pusing karena rasa khawatir berlebihan yang kini dirasakannya.

__ADS_1


Saat Dila kembali ke kamar Indra sengaja memejamkan matanya , Dila berfikir jika Indra sudah tidur karena efek setelah minum obat bikin ngantuk.


Karena tidak ada yang harus dikerjakan, Dila mengambil tasnya dari lemari penyimpanan. Dan mengambil paper bag yang dulu diberikan Evan padanya saat hendak pergi ke Jakarta. Masih utuh dan tertutup rapat.


Dila membuka dan melihat isinya, jam tangan yang rantainya berbentuk love saling menyambung berwarna merah. Dila ingat betul dia yang menyarankan Evan agar membeli jam tangan itu saat mereka pergi ke pasar malam bersama. Apa itu artinya, gadis yang di sukai Evan adalah dirinya?.


Setelah melihat jam tangan, Dila kembali melihat isi dalam paper bag, ada buku kecil, berisi doa-doa dan suratan pendek, dan saat melihat dan membuka buku kecil itu, Dila menemukan sepucuk kertas yang dilipat di dalamnya.


Perlahan Dila membuka kertas yang dilipat kecil itu.



*Dear Karina Nadila*



*Semenjak pertama kali aku melihat kamu, aku tahu kamu berbeda dari gadis lainnya, entah mengapa ada rasa nyaman dan nyambung tiap kali kita mengobrol. Aku merasa seperti menemukan sosok yang tepat untuk dijadikan teman hidup*.



*Tapi saat aku mendengar bahwa kamu sudah ada calon di kampung, aku sedikit kecewa, seperti seseorang yang kalah sebelum perang. Namun aku kembali berfikir, jika benar kamu sudah ada calon, bukankah itu baru calon saja, selama belum ada janur kuning melengkung, berarti kamu belum menjadi hak milik pria manapun*.



Aku jatuh cinta sama kamu Dil.



Jika kamu tanya mengapa, aku pun tak mempunyai jawaban. Aku jatuh cinta karena wanita itu adalah kamu, itu saja yang bisa aku katakan\*.



*Jika kamu mempunyai perasaan yang sama, maka pakailah jam tangan ini saat kita bertemu dikemudian hari. Aku akan sangat bahagia saat itu, dan menganggap kamu mempunyai perasaan yang sama. Tapi jika kamu tidak memakainya, maka aku sudah tahu bahwa kamu hanya menganggap aku teman saja*



Dila kembali melipat kertas itu dan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


" Jadi ini yang dia tanyakan tadi, jawaban dari pernyataan cintanya padaku. Aku bahkan belum tahu kalau dia memberikan surat ini, aku sudah berjanji akan menghubunginya setelah membaca surat ini, tapi apa yang harus aku katakan padanya nanti".


Dila menunduk bingung, tiba-tiba ada seseorang yang mengambil kertas itu dari tangannya.


" Mas...!", Dila kaget saat surat dari Evan sudah ada di tangan Indra sekarang. Dila kira Indra sudah tidur sejak tadi, tapi ternyata Indra belum tidur dan justru terus memperhatikan apa yang sedang Dila lakukan sejak tadi.


Dila tak berani mengambil surat itu dari tangan Indra, saat ini Indra terlihat sangat marah. Apalagi saat Indra mengetahui isi surat itu. Indra terlihat mengeratkan gigi menahan amarahnya.


" Jadi kamu tadi bukan hanya ketemuan sama Asri, tapi sama temen cowok juga?", Indra yang belum tahu duduk perkaranya menebak-nebak.


Dila mengangguk takut, Indra terlihat benar-benar marah. Tapi Dila berusaha menjelaskan, agar Indra tidak salah paham.


" Asri itu temen cewek yang tinggal satu kamar denganku, surat itu dari Evan, tetangga kontrakan ku dulu, itu juga surat yang diberikan enam bulan lalu saat aku hendak berangkat kesini, aku lupa membuka hadiah darinya. Tadi dia ikut, dan dia nanyain jawaban dari surat itu, tapi aku malah bingung surat apa, dia ngasih tau kalau dia naruh surat di dalam paper bag yang dia kasih dulu, lah itu suratnya, yang lagi kamu baca ", ujar Dila menjelaskan.


Indra tiba-tiba duduk di samping Dila dan memeluk Dila dengan sangat erat. Dila hendak memberontak, tapi Indra memeluknya dengan lebih erat lagi.


" Tolong jangan tinggalkan aku Dil, meski aku tahu kamu sangat membenciku, tapi aku mencintai kamu Dil. Aku benar-benar mencintai kamu. Aku takut kehilanganmu. Nggak papa kalau kamu nggak setuju untuk memberikan hak seorang suami padaku, aku akan tetap menjadi suami kamu, aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku sebagai seorang istri, aku janji, yang penting kamu tetap bersamaku dan bantu aku untuk membesarkan El. Dia bukan hanya butuh sosok ayah, tapi dia juga butuh ibu yang baik seperti kamu".


Dila merasa sesak nafas karena Indra memeluknya dengan sangat erat, tubuh Indra yang sedang sakit terasa sangat panas saat mereka saling berpelukan.


" Lepaskan aku mas, kamu bisa membunuhku jika terus memelukku seperti ini, aku tidak bisa bernafas", ujar Dila.


Dila menatap Indra yang duduk dihadapannya sambil memohon dengan wajah memelas. Dila tahu El sangat membutuhkan Dila, tapi apa iya dia harus membatalkan janjinya pada Nino di kampung.


" Aku sebaiknya harus bagaimana Mas?, aku sendiri bingung. Bukan Evan yang menjadi masalah untukku, karena aku tidak pernah menjanjikan apa apa sama dia, tapi Mas Kun dan Nino, mereka dua pria baik yang sudah mengatakan akan meminang ku saat aku dewasa nanti".


" Bahkan sampai sekarang belum ada yang aku beri tahu jika aku sudah menikah, aku khawatir menyakiti hati mereka", ucap Dila jujur.


" Kalau kamu khawatir dan tak enak pada mereka, maka pertemukan aku dengan mereka, atau biarkan kami saling mengobrol, biar aku yang menjelaskan tentang pernikahan kita, aku yang akan menjelaskan tentang El pada mereka, aku yakin mereka akan lebih mudah memaafkan kamu jika kami yang berbicara antara sesama laki-laki", ujar Indra.


Mendengar Indra begitu memohon dan bahkan mengatakan tidak masalah jika dia tidak mendapatkan haknya sebagai seorang suami, membuat Dila berpikir jika Indra sudah benar-benar mencintainya. Tapi kenapa Dila belum tumbuh perasaan apapun terhadap suaminya itu.


" Akan aku pikirkan dulu Mas, bagaimana baiknya kedepan, jalan terbaik agar tidak ada hati yang tersakiti".


" Sekarang kamu istirahat, kamu lagi demam Mas, jangan terlalu banyak pikiran, nanti malah kamu bisa semakin parah".


Dila menyuruh Indra kembali tidur di tempat tidurnya. Sedangkan malam ini Dila keluar dari kamar itu. " Beri aku waktu untuk merenung dan berpikir terlebih dahulu Mas..., aku butuh ketenangan, jadi aku mau tidur dikamar El, sambil menemaninya".

__ADS_1


Dila keluar dari kamar Indra, meninggalkan Indra yang hanya bisa diam menatap kepergian istrinya itu dengan sayu.


__ADS_2