Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 7


__ADS_3

Dila dan teman-teman yang berangkat bersamanya kemarin, sarapan bersama di warung makan depan kontrakan.


Kali ini Evan dan Kunto memilih tidak duduk bersama Dila, karena Dila bersama dengan 9 temannya yang lain. Memang semuanya total ada 10 anak yang berangkat ke Bekasi kemarin, ada yang baru lulus SMK seperti Dila, ada juga lulusan tahun lalu. Tapi yang jelas, yang datang bersama Dila kemarin usianya masih di bawah 20 tahun semua.


Evan dan Kunto memilih untuk makan dengan cepat dan keluar terlebih dahulu dari warung makan, Kunto hanya sekilas menatap ke arah Dila sambil tersenyum dan mengangguk berpamitan.


" Dil, kita duluan ya, takut ketinggalan bus jemputan", berbeda dengan Kunto yang hanya tersenyum pada Dila, Evan terlebih dahulu memanggil Dila dan berpamitan.


" Oh iya, hati-hati dijalan, semoga hari ini kalian diberi kelancaran", Dila menjawab seperlunya dan kembali fokus pada sarapannya.


Evan berjalan keluar warung, sambil tersenyum, mendengar ucapan Dila yang mengandung doa kebaikan untuknya.


" Siapa Dil?", tanya Fitri, salah satu teman yang satu sekolah dengan Asri. Fitri mengenal Dila dari cerita Asri, yang ngerumpi di kamar Fitri semalaman.


" Tetangga kamar", jawab Dila seperlunya.


" Kok cuma manggil kamu sih Dil?, memangnya nggak kenal sama Asri?", Yani teman sekamar Fitri ikut-ikutan penasaran.


" Kenal kok, kemarin juga kita berdua di traktir makan siang disini, iya kan Dil?", justru Asri yang menjawab. Dila langsung mengangguk membenarkan ucapan Asri.


" Tapi bener juga kenapa cuma pamitan sama Dila, dan nggak manggil aku juga, apakah mungkin Evan naksir kamu Dil?", Asri membuat kesimpulan sendiri.


" Nggah usah halu, masih pagi, yuk kita berangkat, jangan sampai kesiangan, ini hari pertama kita ke LPK, harus buat kesan yang baik biar cepet di salurkan kerja".


Dila berdiri dan membayar sarapannya, yang lain ikut berdiri dan melakukan hal yang sama.


Dila dan kesembilan temannya menunggu bus yang akan melewati LPK Jaya Sentosa. Hanya 5 menit naik bus, mereka sudah sampai di depan LPK, sebenarnya jika sudah terbiasa mungkin dari kontrakan hanya perlu jalan kaki sebentar juga sampai di LPK.


Dila nampak begitu bersemangat melihat ada banyak peserta lain yang sudah menunggu di depan LPK, saat jam menunjukkan pukul 7, semua peserta dipersilahkan masuk ke dalam gedung. Mereka semua di persilahkan untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.


Pertama-tama para peserta harus mengisi formulir yang berisi pertanyaan tentang data diri masing-masing, setelah mengisi data diri peserta mendapatkan arahan proses apa saja yang akan di lalui sampai mereka di salurkan kerja.


Langkah pertama semua peserta keluar dari gedung satu, dan masuk ke gedung kedua untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Dila dan yang lain harus melakukan tes kesehatan, dari pemeriksaan mata, urin, pendengaran, tes darah, tes warna dan serentetan tes lain yang begitu banyak.

__ADS_1


Waktu dari pagi hingga sore hanya digunakan untuk mengikuti pemeriksaan fisik para calon tenaga kerja. Beruntung Dila dan kesembilan temannya lolos dalam tes kesehatan tubuh di hari pertama, ada beberapa peserta dari daerah lain yang harus mundur karena pendengaran yang kurang, atau buta warna. Bagi yang lolos pemeriksaan kesehatan, esok hari harus berangkat dan membawa baju olahraga.


Dila dan yang lainnya harus mengikuti beberapa tahap tes lagi, seperti tes ketahanan fisik, tes mental atau biasa disebut psikotest, dan beberapa rangkaian tes lainnya.


Pukul 4 sore Dila dan yang lain sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena menunggu bus cukup lama tapi tak kunjung lewat, akhirnya Dila dan yang lain memilih berjalan kaki menuju kontrakan.


Ternyata jarak dari LPK menuju kontrakan hanya memakan waktu 15 menit perjalanan, dan pengalaman berjalan sore ini cukup membuat Dila terkejut. Dari LPK menuju kontrakan Dila bisa melihat ada banyak sekali kos-kosan ataupun kontrakan yang ditempati para perantau.


Ada satu bangunan besar yang membuat Dila merasa penasaran ingin melongok ke dalamnya, di depan bangunan ada tulisan 'Panti pijat', namun pemandangan yang ada di depan gedung itu justru wanita-wanita cantik dengan pakaian seksi dan serba mini dengan wajah memakai makeup menor, mirip seperti seorang biduan atau penyanyi dangdut yang sering tampil di acara orgen tunggal di acara hajatan di tempat Dila.


" Hussss... jangan lihat-lihat ke dalam Dil, kamu itu pengen kaya mba-mba seksi itu yang kerja jadi tukang pijat plus-plus". Asri menarik tangan Dila yang baru sempat melihat sedikit melalui celah pintu masuk panti pijat yang sedikit terbuka itu. Seperti lampu kelap-kelip di atas panggung hiburan saat acara 17 agustusan.


" Nggak kok As, lagian kata bapak dan ibuku, aku itu nggak pinter mijat, kalau disuruh mijat pasti bapak atau ibu nyuruh adikku Dita, katanya lebih enak pijatan Dita ketimbang pijatan ku", jawab Dila dengan polosnya.


Asri, Fitri dan Yani yang berjalan bersama Dila menertawakan jawaban Dila yang begitu polos.


" Pijat plus-plus itu bukan cuma mijat seperti biasa Dil, tapi ada tambahannya, alias si tukang pijat boleh di pakai sama yang minta pijat, boleh di pegang-pegang badannya, bahkan kadang ada yang sampai berhubungan ****".


" Di kota besar, tempat-tempat seperti itu sudah ada banyak, hanya berkedok panti pijat, tapi seperti rumah bordil, makanya jangan berani-berani keluar dan bermain terlalu jauh dari kontrakan sendirian, bisa-bisa kamu dikira wanita kesepian yang lagi nyari teman bermain di atas ranjang", kali ini Yani yang memberikan penjelasan.


" Apa sebelum ini kalian sudah pernah merantau?, kok kalian seperti tahu banyak tentang kehidupan di kota besar", tanya Dila pada ketiga teman barunya.


" Dulu sempat merantau 3 bulan, tapi nggak betah, jadi kabur pulang ke kampung", jawab Yani jujur. Yani memang satu sekolah dengan Fitri dan Asri, tapi Yani kakak angkatan mereka. Dila pun mengangguk sambil ber 'ooh' panjang.


" Pergaulan di perantauan, apa lagi di kota besar itu berbeda jauh dengan di desa. Kalau tidak pintar-pintar menjaga diri sendiri, aku jamin, nggak sampai setahun, pasti keperawanan kamu bakal terenggut. Entah itu oleh pacar kamu, oleh tetangga kamar, oleh teman kerja, atau atasan di PT / pabrik, semua bisa menjadi pelakunya", ucap Yani dengan raut wajah yang menunjukkan sebuah kesedihan dan penyesalan.


Dila jadi menebak-nebak, apa mungkin Yani sudah kehilangan keperawanannya saat merantau dulu. Dari ekspresinya saat bicara tadi, seolaah dia merasakan kepedihan yang sangat dalam.


" Wah karena berjalan sambil bercerita, tidak terasa kita sudah sampai di depan gedung kontrakan, makasih ya buat pengalaman dan pengetahuan dari kalian semua, beruntung banget aku hari ini, dapat banyak masukan dari teman-teman baik seperti kalian".


Yani mengangguk, sedangkan Fitri dan Asri hanya tersenyum tipis.


Sampai dikamar Dila dan Asri langsung mengambil baju ganti dan berjalan menuju kamar mandi, karena tubuh mereka yang sudah sangat lengket dan bau asam.

__ADS_1


" Baru sampai Dil?".


Dila berpapasan dengan Kunto yang sudah selesai mandi.


" Iya Mas, tadi pulangnya jalan kaki dari LPK, jadi agak lama sampainya", jawab Dila sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Asri juga berjalan di belakang Dila, tapi Kunto tidak menyapa nya, karena Kunto dan Asri belum sempat berkenalan. Semalam Asri tidak di kamarnya, dan tidak ikut makan malam bersama Kunto dan Dila.


Dila keluar dari kamar mandi dan lagi-lagi sudah selesai mencuci baju yang tadi dikenakannya. Dila langsung berjalan menuju ke atas gedung, mengambil jemuran tadi pagi dan menjemur pakaian yang baru saja di cuci nya.


Karena merasa kakinya pegal karena sudah berjalan cukup jauh ditambah berjalan menaiki tangga dua lantai Dila memilih duduk di tepian atap gedung.


Dila melihat ke bawah, di depan kontrakan terlihat banyak pemuda pemudi yang sedang bercengkrama dan ada juga yang sedang asyik merokok sendirian. Dari sekian banyak orang yang tinggal di tempat itu, semua wajah itu terasa asing bagi Dila, karena Dila baru mengenal beberapa orang saja.


Ada juga yang sedang mengobrol di balkon kontrakan di lantai dua, bahkan bahasa mereka sangat asing ditelinga Dila, bukan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, mungkin penghuni kamar kontrakan di lantai dua berasal dari daerah Sunda, atau luar Jawa, bahasanya tidak bisa Dila pahami sedikitpun.


Dalam hati Dila jadi berpikir dan merasa lucu sendiri, membayangkan jika tetangga kamarnya berasal dari daerah berbeda dan saat mengobrol semua berbicara dengan bahasa daerah masing-masing, bukannya ngobrol malah bisa jadi semua jadi bingung dengan yang dikatakan oleh lawan bicaranya.


" Ngapain kamu senyum-senyum sendiri di atap gedung seperti ini?", sudah sore, sebentar lagi Maghrib, nggak baik duduk di tepian atap seperti itu, kalau tiba-tiba ada setan lewat dan bisikin kamu suruh loncat, bakalan jadi tempat yang serem nanti kontrakan ini", ledek Evan yang datang sambil membawa ember berisi cucian basah yang hendak di jemur.


Mendengar ucapan Evan, Dila jadi melongok ke bawah dan bergidik, cukup tinggi juga kalau jatuh kebawah, pasti sakit. Dila pun langsung berdiri dan berjalan ke tengah-tengah.


" Kenapa melamun?, apa hari ini kamu nggak lolos pemeriksaan kesehatan?", Evan bertanya sambil menjemur cuciannya.


" Siapa bilang?, aku sehat dan baik-baik saja, tentu saja lolos pemeriksaan kesehatan".


" Tadi cuma lagi liatin orang-orang yang lagi pada ngobrol di depan kontrakan mereka, di dengar-dengar, bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Jawa, bukan juga bahasa Indonesia. Jadi merasa asing berada di sini. Semua punya dunianya masing-masing".


Penjelasan Dila membuat Evan tersenyum. " Kamu merasa sendiri dan kesepian di tempat ramai seperti ini?".


Mendengar Evan mengatakan 'merasa kesepian', Dila jadi teringat perkataan Yani yang menyuruhnya agar tidak berkeliaran sendirian, takut dikira wanita kesepian.


" Nggak kok, aku nggak kesepian, kan ada Asri, ada teman-teman yang lain juga". Dila langsung pergi meninggalkan Evan yang merasa aneh dengan sikap Dila, tiba-tiba berubah dan meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2