Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 119


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang paling tidak disukai sebagian besar orang, baik anak kecil yang harus berangkat sekolah, maupun orang dewasa yang harus kembali bekerja usai libur hari minggu kemarin.


" Apa ada yang harus dibawa lagi?", Dila mengecek tas El, sudah ada buku pelajaran hari ini, bekal makanan dan minuman, juga baju olahraga. Ya.... hari Senin memang ada jadwal olahraga di TK Mulia.


Dila berangkat bersama El diantar oleh Ari. Rencananya hari ini Dila hendak mengajukan permohonan guru pengganti sementara untuk mengajar anak-anak di kelasnya saat dirinya harus mulai cuti melahirkan dua bulan lagi. Karena itulah Dila langsung menghadap ke ruang kepala sekolah saat sampai di sekolahan.


Hari ini akan ada upacara bendera seperti biasanya, yang bertugas anak-anak kelas 5, harusnya Dila sebagai wali kelas yang menjadi pembina upacara, namun karena kondisi perutnya sudah semakin membesar, Dila meminta tolong sekalian pada Kepala sekolah untuk mewakilinya menjadi pembina upacara.


Dan bapak kepala sekolah sama sekali tidak keberatan untuk menggantikan Dila menjadi pembina upacara. Bapak kepala sekolah juga akan mengatakan akan mencarikan guru pengganti Dila untuk mengajar 3 bulan, selama Dila cuti melahirkan.


Dila sangat berterimakasih kepada pak kepala sekolah yang selalu baik kepadanya. Rencananya Dila ingin bermain ke rumah beliau sekedar mengucapkan terimakasih sekaligus berkenalan dengan istri pak kepala sekolah yang katanya menjadi seorang perawat di rumah sakit.


" Kalau begitu saya permisi dulu Pak, menuju lapangan, sebentar lagi upacara akan segera dimulai", Dila berpamitan dan keluar dari ruang kepala sekolah.


" Oh iya iya, mari, saya juga mau ke lapangan", ucap Pak kepala sekolah, sambil berjalan di belakang Dila.


" Dil...!".


Dila dan pak kepala sekolah sama-sama menengok ke arah asal suara. Ternyata Bima yang memanggil Dila.


" Ada apa kamu pakai lari-lari segala, baru sampai apa?, kesiangan?", tanya Pak kepala sekolah yang juga pamannya Bima.


" Nggak Papa Pak, cuma mau kasih kabar penting sama Dila", ujar Bima, sambil mengatur nafasnya yang masih memburu.


" Kenapa Bim?", Dila hanya menengok sebentar tapi kembali berjalan menuju lapangan.


" Kamu sudah buka browsing pendaftaran CPNS tahun ini?, lagi ada banyak lowongan, bagaimana kalau kita daftar bareng Dil?, biar gaji yang kita dapat lebih besar dan juga mendapat banyak jaminan".


Dila berhenti dan menatap Bima. " Kamu sudah daftar?".


" Belum, lagi ngasih tahu kamu dulu, kita daftar bareng yuk Dil?", ajak Bima.

__ADS_1


Dila diam dan nampak berfikir, tentu saja dirinya harus mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mendaftar, karena keadaannya saat ini bukan keadaan orang biasa, dua bulan lagi dirinya akan melahirkan. Untuk mendaftar CPNS dan mengikuti serentetan tes dan ujian tentu akan menguras tenaga dan pikirannya.


Padahal sudah diwanti-wanti, oleh dokter jika dirinya tidak boleh kecapekan apa lagi stress. " Aku tanya dulu sama Mas Indra, boleh apa nggak ikut tes CPNS. Kalau boleh aku ikut, kalau enggak aku ikut yang tahun depan", ujar Dila.


Kini Dila dan Bima sudah masuk ke barisan guru-guru SD Mulia. Upacara akan segera dimulai.


" Bu Dila duduk saja, nggak usah ikut berdiri disini, apalagi cuaca sangat cerah, sebentar lagi pasti panas banget", saran salah seorang guru yang berbaris di samping Dila.


" Iya Bu, kalau nggak enak, duduk di ruang guru juga nggak papa", ucap guru lainnya lagi.


Dila mengangguk, " Saya duduk di pinggir lapangan saja, pengen lihat anak-anak jadi petugas upacara Bu", jawab Dila jujur. Memang yang jadi petugas anak-anak didiknya, karena itulah Dila ingin menyaksikan secara langsung. Setelah berlatih beberapa kali dengan Evan hari jumat kemarin.


Dila tidak bisa mengawasi karena harus melakukan perjalanan ke kampungnya. Karena itulah Dila meminta tolong pada Evan, sang guru olahraga, sekaligus temannya, untuk melatih anak-anak didiknya menjadi petugas upacara.


Dila duduk di pinggir lapangan, di bawah pohon Ketapang yang rindang, disana memang ada kursi panjang biasa digunakan untuk duduk-duduk.


Ternyata semuanya melebihi ekspektasi. Dila bahkan sampai terharu sendiri karena anak-anak kecil itu begitu sukses menjadi petugas upacara hari ini. Semua berkat bantuan Evan, tapi sejak pagi Dila belum melihat evan sekedar untuk mengucapkan terimakasih.


Upacara selesai, semua kembali ke kelas, dan guru guru pun kembali ke kantor terlebih dahulu, Dila langsung menemui Evan saat melihatnya hendak ke lapangan kembali.


" Pak Evan ..!". Evan langsung menengok ke arah Dila.


" Terimakasih banyak untuk bantuannya, sudah membuat anak-anak didikku sukses menjadi petugas upacara bendera hari ini. Jadi apa mau di traktir makan siang nanti?", tanya Dila menawarkan.


" Wah.... rumah makan depan sudah biasa, kalau ngajak yang agak jauhan, yang mahal juga menunya. Gimana kalau kita bertiga jadi makan di restoran mahal, bareng Pak Bima?", Evan ingat saat Bima yang minta di traktir Dila, namun ternyata justru Bima mentraktirnya.


" Oke, apa mau hari ini juga?", kalau iya nanti siang pulang sekolah langsung otw", ucap Dila.


" Boleh juga, kamu kabarin Bima sekalian ya Dil, biar rame ada temen makan nanti, jadi nambah selera kalau makan rame-rame.


Dila pun mengabari Bima juga, dan mereka bertiga ditambah El dan Ari pun langsung pergi ke restoran ternama yang menunya terkenal mahal-mahal.

__ADS_1


Mereka berlima makan bersama di restoran itu. Tak sengaja matanya menemukan sosok yang dulu sangat dibencinya. Ya.... siapa lagi kalau bukan si Tania yang sedang makan bersama dua orang teman laki-laki nya.


Dila sampai mengusap perutnya sambil mengucapkan " Amit-amit jabang bayi". Itu lah yang diajarkan oleh ibunya, jika Dila melihat seseorang yang tidak di sukai nya saat hamil, agar anaknya tidak meniru sikap atau sifat dari orang yang dibenci itu.


" Kamu kenapa Dil?", tanya Evan yang melihat Dila sejak tadi belum memakan makan siangnya, tapi sudah mengelus perut berulang kali. " Apa kamu sakit perutnya Dil?, atau mules?, aduh jangan pas lagi sama aku dong lahirannya, pliiiis ", ujar Bima konyol.


" Mana ada orang mau lahiran, aku cuma pengen ngelus perutku saja, kandungan ku baru 7 bulan, dua bulan lagi baru mau lounching",


" Aku cuma lagi lihat mantan sekertarisnya Mas Indra lagi jalan sama dua cowok sekaligus, karena itulah aku ngelus perut, biar anakku tidak seperti nya", ujar Dila.


Evan, Ari, dan Bima langsung menengok ke arah dimana Dila tadi terus menatap.


" Sudah Dil, jangan dilihatin terus, itu cuma masa lalu dan ke salah pahaman. Kalian sudah tidak pernah berhubungan atau ketemu lebih dari 3 tahunan. Hidupnya mungkin makin kacau dan parah", ujar Ari yang tiba-tiba langsung teringat hari dimana Dila esoknya minggat, karena melihat Indra dan Tania telanjang di kasur yang sama.


" Kenapa memangnya, dia bikin masalah sama kamu?, mau kita-kita kasih pelajaran Dil?", ujar Evan.


Dila menggeleng, " Nggak usah, kalian itu tugasnya kasih pelajaran sama murid-murid kalian, bukan sama orang itu, dia sudah gede, bisa belajar sendiri", ujar Dila seraya melucu. Namun tak ada yang tertawa, alias lelucon Dila sangat garing.


" Wah... ada pembantu naik kasta lagi makan di sini, sudah lama banget nggak ketemu, apa masih ingat sama gue?", tiba-tiba Tania menghampirinya dan berbicara pada Dila.


" Wooow...!, sudah lagi bunting juga, sama siapa tuh buntingnya?, Indra kan lemah, dia nggak mudah bisa bikin anak, karena itulah Kayla kabur. Elu katanya kabur kok bisa balik lagi?. Coba tunjukin yang mana bapak dari bayi diperut lo itu?, yang ini, yang ini, atau supir kurang ajar ini?", tanya Tania sambil menunjuk ketiga laki-laki yang bersama Dila secara bergantian.


" Ternyata lo lebih parah dari gue ya, gue cuma bawa dua cowok ke sini, dan Lo bawa tiga cowok, hebat-hebat".


Ucapan Tania benar-benar merendahkan Dila. Namun Dila masih berusaha untuk tetap sabar, jangan terpancing emosi.


Ari yang berdiri dan mendorong Tania agar menjauh. " Heh wanita nggak tau diri dan nggak punya malu, kalau ngomong nggak bisa lebih sopan apa?, jelas itu anak Pak Indra, dia kan istri Pak Indra, memangnya kamu yang tidur dengan semua laki-laki yang kamu ajak keluar".


" Pasti kamu habis melayani mereka berdua di ranjang kan?, cih....!, wanita murahan !". Ari semakin geram tiap kali melihat Tania yang memakai pakaian sangat seksi dan minimalis.


" Sudah Ar, aku nggak papa kok, kalau kalian sudah selesai makan, kita bisa pulang sekarang", ucap Dila sambil berusaha menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, berusaha bersikap biasa-biasa saja dengan kedatangan Tania, meski sebenarnya dalam hatinya sangat kesal dan emosi.

__ADS_1


__ADS_2