Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 148


__ADS_3

Dila sengaja mengambil lumayan banyak foto di depan menara kembar Petronas. Paling banyak foto El dan Arsy berduaan. Selama ini Dila memang gemar sekali mengabdikan momen-momen penting dari Arsy baru lahir, hingga dia bisa berjalan.


Arsy pertama kali bisa tengkurap di usia 3 bulan, Dila mengabadikan dengan memfotonya, saat Arsy bisa duduk usia 6 bulan, Dila juga memfotonya. Terus.... tiap Arsy mendapatkan kemajuan, Dila pasti selalu mengabadikannya. Dan Dila berniat akan menjadikan sebuah album khusus, sebagai kenang-kenangan untuk Arsy.


Kelak pasti Arsy akan sangat berterimakasih pada ibunya, karena sudah membantu mengabadikan momen sejak dirinya lahir.


Dila bersama suami dan keluarga besarnya seharian berjalan-jalan di sekitaran menara Petronas. Mereka juga menyempatkan makan siang di salah satu restoran yang letaknya tak terlalu jauh dari menara.


Di sana lagi-lagi Dila bertemu dengan orang Indonesia yang bekerja sebagai pramusaji di restoran itu.


Sebenarnya Dila tidak menyangka jika orang itu adalah orang Indonesia, karena wajah dari orang-orang kedua negara ini mirip, tapi lagi-lagi orang itu bertanya lebih dulu saat mendengar Dila bercakap-cakap dengan El dan Arsy. Pemuda itu menyapa Dila saat Dila mengantar El dan Arsy ke kamar mandi sebelum makan.


" Maaf Nona, apa nona asli Indonesia?".


Dila mengangguk mengiyakan, dan orang itu kembali bertanya, mulai dari asal Dila dimana, untuk apa pergi ke Malaysia, dan orang itu juga memperkenalkan diri pada Dila dan juga El.


Ternyata dia orang Kalimantan, dan bekerja di Malaysia karena memang tempat tinggal dekat dengan Malaysia, dia bisa pulang kerumah sebulan sekali hanya melewati jalur darat.


" Senang bisa bertemu dengan orang senegara di negri orang, semoga lain kesempatan masih bisa bertemu lagi dengan Nona cantik dan adik yang ganteng", ujar pramusaji itu.


Sepeninggal orang itu, Dila jadi berpikir, seberapa banyak warga negara Indonesia yang merantau dan bekerja di Malaysia, sepertinya baru sehari Dila di Malaysia, dia sudah bertemu dengan dua orang asing yang baru pertama kali bertemu dengannya dan berasal dari Indonesia. Padahal di Indonesia begitu banyak lapangan pekerjaan, tapi entah mengapa masih banyak juga yang memilih untuk merantau dan bekerja di negeri orang.


Tapi Dila tidak sedang menyalahkan orang-orang itu, seperti halnya dirinya sendiri yang memilih merantau dan bekerja di kota besar, dengan tujuan mendapatkan penghasilan lebih besar. Padahal di kampungnya sudah ada banyak PT dan pabrik , mungkin seperti itu juga yang orang-orang itu pikirkan.


Hanya saja perbedaannya, Dila merantau tanpa meninggalkan anak, karena dulu dirinya masih gadis, sedangkan kedua orang yang tadi di temui nya adalah orang-orang yang sudah berkeluarga dan punya anak.

__ADS_1


Pasti perjuangan dan pengorbanan mereka lebih besar dari dirinya. Jarang berkumpul dengan keluarga jelas sudah menjadi salah satu pengorbanan besar, dan orang-orang itu perlu diberi apresiasi khusus untuk pengorbanan yang dilakukan.


" Bu Dila.... apa ibu kenal dengan om-om tadi?", El yang penasaran karena Dila habis ngobrol cukup lama dengan pramusaji restoran tempat nya makan siang.


Dila menggeleng, " Ibu baru kenal tadi, dia yang menyapa ibu terlebih dahulu karena mendengar kita ngobrol menggunakan bahasa Indonesia tadi, dia orang Indonesia, sama seperti kita, makanya orang itu menyapa ibu", ujar Dila menjelaskan.


" Jadi om-om dan tante yang ketemu kita tadi pagi itu, nggak ibu kenal?", tanya El lagi.


" Enggak sayang, hanya mereka senang bertemu dengan sesama orang Indonesia saat mereka berada di negara lain. Sama seperti ibu dulu waktu awal ibu pergi merantau, ibu merasa senaaaang sekali kalau bertemu dengan perantau lain yang ternyata tinggalnya dekat dengan kampung halaman ibu".


" Rasanya itu seperti menemukan teman yang senasib seperjuangan dengan kita. Nanti kalau El sudah besar, terus misal El harus tinggal di kota lain atau negara lain karena harus kuliah di negara atau kota lain, ini misal ya sayang... terus El ketemu sama orang yang sedaerah dengan kita. Rasanya itu seneeeng banget, karena bertemu orang yang seperjuangan dengan kita".


El mengangguk, sepertinya sekarang El sudah mulai paham dengan penjelasan Dila.


" Sekarang kita bergabung dengan yang lain yuk... untuk makan, sepertinya makanan yang El pesan sudah tersaji di meja, ayo buruan", Dila mengajak El kembali bergabung dengan yang lain setelah cukup lama berada di depan toilet umum.


Bisa-bisanya Indra menyebutkan kalimat , 'buang air besar' di depan semua orang yang sedang bersiap untuk makan. Apalagi di depan mereka sudah tersaji berbagai macam makanan, bagi Dila ucapan Indra sungguh tidak sopan.


" Mas itu nggak bisa ngomong bahasa lain?, ini di tempat makan loh, nggak enak didengar yang lain, maaf ya Bu, Yah, Om dan Tante, mas Indra memang suka nggak lihat tempat ngomongnya".


Yang lain hanya tersenyum meringis.


" Santai saja kak, kita baik-baik saja kok", ujar Indri. " Ayo makan kak Dila, keburu dingin makanannya, sudah dari tadi di sajikan".


Dila mengangguk. Dila sengaja memesan bubur Century agar bisa sekalian menyuapi Arsy, Arsy belum di ajari makan nasi, selama ini masih mengkonsumsi makanan bertekstur lembek semacam bubur karena usianya yang baru memasuki 10 bulan.

__ADS_1


Tak lupa juga Dila memesan ice ABC, untuk El, karena sejak mereka berada di pesawat, El terus mengatakan padanya ingin mencoba ice ABC seperti yang ada di film dengan tokoh utama anak kembar yang bernama Upin dan Ipin.


" Apa El boleh mencicipi ice ABC nya sekarang?", tanya El yang menatap ice ABC di hadapannya dengan mata berbinar.


" El harus makan nasi dulu sayang, itu yang di depan El adalah nasi lemak, seperti yang di film Upin Ipin juga, ayo makan nasi dulu, setelah itu boleh makan ice ABC nya", ujar Dila masih sambil menyuapi Arsy dengan telaten.


Namun dirinya juga sesekali menyendok makanan miliknya ke mulutnya, dan kadang sesekali Indra yang menyuapinya, sehingga dua pekerjaan bisa selesai dalam satu waktu.


Sejak tadi Indri juga melakukan hal yang sama, menyuapi putrinya dengan telaten, dan memakan makanan miliknya sambil menyuapi sang anak.


Begitulah menjadi seorang ibu muda yang masih punya anak kecil, harus bisa membagi waktu dengan baik, agar anak kenyang, ibu pun kenyang.


Indri yang biasa merawat putrinya sendiri sejak bayi, kini jadi semakin pandai dalam hal mengurus anak. Karena Indri banyak belajar ilmu parenting dari media online.


Awalnya usai makan mereka berniat mampir ke sebuah wahana permainan anak-anak, namun ternyata saat di dalam mobil menuju ke wahana itu, ketiga bocah yang ikut justru sudah tertidur dengan lelapnya. Membuat suasana mobil yang tadinya berisik dengan suara El bercerita menjadi sunyi.


Akhirnya mereka putar balik kendaraan dan pulang ke rumah. Niat hati ingin membahagiakan anak-anak itu dengan pergi ke wahana permainan anak-anak, justru mereka malah tidur. Rencana bermain jadi batal, mereka semua pun pulang dan beristirahat di rumah.


" Main ke wahana permainannya lain kali lagi, kalau ada kesempatan main kesini lagi ya Mas?", pinta Dila, karena sebenarnya tadi El sangat berantusias ingin ke wahana permainan anak-anak, namun ternyata justru tidak jadi. Pasti saat bangun El akan sedikit kecewa, meski El mudah untuk dibujuk dan dialihkan ke hal lain, karena El tipe anak yang menurut pada ibunya.


" Tentu saja, tapi entah kapan, nunggu kita semua punya waktu luang, itupun kalau kamu nya nggak kepingin mengisi dengan kegiatan lainnya saat liburan selanjutnya", ujar Indra, karena Indra tahu dan paham betul dengan karakter Dila yang selalu punya rencana sendiri untuk mengisi waktu liburnya.


" Hehehe... Mas tahu saja, sudah paham ya dengan kebiasaan ku?", Dila cengengesan karena ucapan Indra memang benar.


Selama ada waktu luang, Indra memang akan menuruti kemanapun Dila ingin pergi, tapi yang jelas untuk kembali ke kampung dalam waktu dekat ini, Indra akan mencari alasan untuk menolak, setidaknya sampai hotel yang di bangun dekat kampung halaman Dila sudah jadi dan sudah beroperasi, sehingga bisa tidur dan menginap di hotel saja, tidak perlu tidur di rumah mertuanya bersama dengan mantan pacar Dila, si kades Nino.

__ADS_1


Bagaimanapun untuk kebaikan bersama, terserah apa yang orang lain pikirkan, menilai Indra sebagai suami yang over protektif, atau menilai Indra cemburuan seperti ABG labil, tapi Indra tetap akan bersikap sesuai kehendak hatinya. Toh memang Nino perlu dicurigai, dan Dila sebagai istrinya perlu di jaga dari mata jahat.


__ADS_2