
Sampai di rumah neneknya El langsung masuk begitu saja ke dalam rumah, semua penghuni rumah itu sudah tahu jika El adalah cucu majikan mereka. Jadi tidak ada yang menghentikan El saat El masuk ke dalam rumah begitu saja. Bahkan satpam rumah dan para ART menyapa El dengan sangat sopan.
" Mau jenguk neneknya ya Den?".
El mengernyitkan keningnya saat satpam jaga di rumah neneknya bertanya kepadanya.
" Maksud bapak?, apa nenek sedang sakit?", tanya El penasaran, karena kemarin saat pulang dari Malaysia neneknya masih baik-baik saja. Bahkan El tidak tahu kalau neneknya sedang sakit saat ini, El datang ingin mengambil oleh-oleh miliknya yang kemarin di titipkan di koper neneknya.
" Loh... sejak kemarin pulang dari Malaysia, Bu Fatma demam, sepertinya beliau kecapekan sehabis melakukan perjalanan jauh, mungkin waktu tinggal dirumah non Indri capek main-main terus sama cucunya", jawab sang satpam rumah.
El masuk ke dalam rumah dengan berjalan cepat, tapi kemudian menyetop langkahnya secara mendadak karena mendengar suara sang kakek yang cukup keras berbicara pada neneknya.
" Bagaimana bisa masalah sebesar ini kamu nggak kasih tahu aku selama ini!".
" Kamu pikir kalau aku ini manusia tidak punya perasaan?, kamu pikir aku akan tiba-tiba mencoret El dari daftar warisan ku nantinya kalau aku tahu kebenarannya?".
" Kamu salah besar Fatma, meski El entah anak siapa, meski El bukan darah daging Indra, aku sudah menganggapnya sebagai cucu kandungku. Aku sudah sangat menyayangi nya. Dialah kekuatan untuk putra kita Indra, di saat dulu dirinya terpuruk saat ditinggalkan oleh istri sontoloyo nya".
" Dasar orang tua tidak punya otak, tidak berperasaan, bagaimana bisa mereka bahkan tidak pernah menanyakan keadaan El selama ini, apa mereka pikir tindakan menipu kita itu bisa aku maafkan begitu saja".
" Awas saja kalau sampai aku ketemu sama Kayla atau Faris, akan ku kasih pelajaran mereka, karena sudah menipu kita mentah-mentah".
" Fatma... kamu tidak salah dengan tidak mengatakan kebenaran pada El bahwa dia bukan anak Indra, melainkan putra Kayla dan Faris, tapi seharusnya kamu tidak merahasiakannya dariku, aku juga sudah sangat menyayangi El, bagaimana bisa aku akan bertindak jahat dengan mengacuhkan dirinya, aku tidak mau El merasa sedih dan merasa tidak di inginkan. Sudah benar dia menjadi putra Indra, sudah benar El menjadi bagian dari anggota keluarga kita. Jangan pernah kamu memberi tahu kebenaran tentang siapa El. Dan aku juga tidak akan pernah membahas hal ini pada siapapun sampai aku mati".
Suara Rizal nampak lebih rendah dari nada sebelumnya.
" Jadi kamu jangan terlalu banyak pikiran seperti ini, aku tidak mau kamu sakit karena memikirkan hal ini, kita anggap saja jika El memang anak Indra, sampai kapanpun kita jangan lagi bahas masalah ini".
__ADS_1
El yang mendengar suara langkah Rizal keluar dari kamar langsung membalikkan badan dan keluar dari rumah. El sengaja berpura-pura baru datang dan mengucapkan salam saat Rizal sudah berada di luar kamar.
Meski hatinya saat ini sedang sedih, kacau balau, ingin berteriak dan menangis setelah tak sengaja mendengarkan percakapan nenek dan kakeknya, tapi El berusaha bersikap biasa-biasa saja. El berusaha bersikap wajar.
Kenyataan yang baru saja diketahuinya sungguh kenyataan yang sulit untuk bisa di terima oleh dirinya.
Jadi selama ini keluarganya sengaja merahasiakan kebenaran jika dirinya bukanlah keturunan mereka. Ibu dan ayah kandungnya sudah menelantarkan dirinya dan keluarga ayah Indra menerimanya meski dirinya adalah anak dari orang yang sudah menyakiti hatinya. Orang yang sudah berkhianat padanya.
El tidak tahu harus bagaimana berterimakasih pada keluarga yang sudah menerima keberadaannya, bahkan mereka tetap diam dan tidak mengatakan apapun padanya hanya agar dirinya tidak sakit hati dan merasa terbuang.
" Wa'alaikum salam, loh El, ada apa siang-siang begini kamu main kesini, sudah sejak tadi atau baru datang?", tanya Rizal saat melihat El masuk kedalam rumah.
" Baru datang kek, kenapa kakek nggak berangkat ke kantor?, apa karena ingin merawat nenek?, El dengar nenek sedang sakit karena kecapekan ya?, Apa nenek ada di kamar?, El kesini tadinya cuma mau ngambil barang-barang El yang di titipkan di koper nenek kemarin. Tapi kata pak satpam malah nenek lagi sakit", ujar El mencoba menjelaskan.
" Kamu kesini sendirian?", Rizal melihat ke luar, El memang sendirian.
El mengangguk, karena memang dirinya datang seorang diri.
" El kesini naik ojek online, karena Arsy masih rewel, sehingga tidak bisa ajak bu Dila, sedangkan ayah sudah mulai berangkat ke kantor, lagian el sudah besar, ini buktinya El bisa sampai disini sendiri kan?", ujar El.
Rizal mengangguk mengerti, " Ini cucu mu datang, mau ambil barang-barang miliknya katanya titip di koper kamu kemarin", Rizal masih merangkul El saat mereka sudah di kamar dan berdiri di samping ranjang.
Fatma yang sedang tiduran miring kiri membelakangi pintu merubah posisinya menjadi miring kanan.
" Nenek kira kamu mau ambil kesini kemarin, kenapa malah jadi hari ini?", tanya Fatma dengan suara lirih.
Iya nek, kemarin mau kesini tapi El capek, jadi istirahat seharian dirumah. Tadi kata pak satpam nenek sakit, apa mau El telepon dokter biar nenek diperiksa oleh Om dokter?", tanya El.
__ADS_1
Fatma menggelengkan kepalanya, " Tidak usah, nenek sudah minum obat dan sebentar lagi pasti akan sembuh, kedatangan kamu sudah membuat nenek merasa lebih baik lagi", ujar Fatma.
" Apa kamu sudah makan sayang?, nenek belum makan siang, apa kamu mau temani nenek dan kakek makan siang bersama?".
El yang sudah janjian dengan Bram menjadi bingung, satu sisi dirinya ingin tahu dari Bram kebenaran tentang dirinya secara keseluruhan, meski secara garis besarnya sudah diketahui El barusan, tapi mendengar sedikit sekali percakapan kakek dan neneknya justru membuat dirinya mempunyai begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
Tapi El juga tidak mungkin menolak ajakan neneknya untuk makan siang bersama, dia tidak punya alasan yang tepat untuk menolak ajakan sang nenek.
" Baiklah nek, El akan makan siang disini, tapi El kabari ibu terlebih dahulu, takutnya di rumah Bu Dila nungguin El pulang untuk makan siang bersama".
Fatma mengangguk dan percaya begitu saja dengan alasan El. El keluar kamar dan duduk di ruang tengah untuk menghubungi Bram dan ibunya.
El tidak menyia-nyiakan kesempatan membuka ponsel dan langsung mengirim pesan jika dirinya belum bisa menemui Bram siang ini, karena suatu hal lain yang lebih penting. Namun El menggeser waktunya sore hari saat Bram usai bekerja.
Bram setuju dengan perubahan waktu pertemuannya dengan El. Dan mereka akan bertemu sore ini, jam 3, tempat masih tetap di kafe RX.
El juga langsung menelepon Dila, mengabari jika El pulang sampai sore, karena saat ini neneknya sedang kurang sehat, dan El akan makan siang di rumah neneknya untuk menemani nenek dan kakeknya makan siang.
Dila yang baru tahu jika ibu mertuanya sedang sakit mengijinkan El untuk pulang sore. Juga tidak lupa titip salam untuk Bu Fatma, dan memohon maaf belum bisa jenguk, karena Arsy juga sedang rewel sejak kemarin, pulang dari Malaysia.
Setelah telepon ditutup El kembali ke kamar neneknya, " Ayo nek, kakek, kita makan siang sekarang, El sudah kabari Bu Dila akan pulang sore nanti, tapi Bu Dila belum bisa main kesini, karena Arsy masih rewel. Bu Dila cuma bisa titip salam buat nenek, kata Bu Dila ...semoga nenek cepat sehat lagi".
Fatma mengangguk dan beranjak dari tidurannya. " Iya sayang, nggak papa, Bu Dila pasti capek urus adik kamu yang masih kecil. sekarang kita makan siang bersama kakek juga ya", ujar Fatma sambil berjalan pelan menuju ruang makan.
" Sebenarnya nenek sakit apa?, bukankah waktu di bandara kemarin nenek masih baik-baik saja?", tanya El saat dirinya sudah duduk di ruang makan bersama Rizal dan Fatma.
" Nenek cuma kecapekan sayang, kemarin kan waktu di Malaysia nenek banyak bepergian, jadi waktu pulang baru terasa capeknya, pas kemarin di bandara belum terasa capeknya", ujar Fatma beralasan.
__ADS_1
" Berarti nenek masih harus istirahat dan cepat pulih, El dan Bu Dila liburan nya tinggal dua hari lagi, setelah itu kami mulai berangkat ke sekolah, jadi tolong nenek makan yang banyak, dan minum air putih yang banyak juga, jaga kondisi nenek", pinta El.
Fatma mengangguk, El memang sudah semakin dewasa sekarang, dia sudah bisa memberikan nasehat kepadanya. Semoga saja sikap El tidak akan pernah berubah jika suatu hari nanti El mengetahui yang sebenarnya.