
Hari-hari Dila kini disibukkan dengan pekerjaan barunya, karena Dila guru baru, beberapa guru lain kadang mengajaknya ke seminar, maupun pertemuan guru-guru se Jakarta. Ternyata ada paguyuban guru-guru SD juga, Dila baru tahu dunia baru yang sedang dimasukinya.
Sudah sekitar sebulan Dila mengajar di SD Mulia, semakin banyak grup yang masuk di ponselnya. Dari grup guru Sekolah Mulia, paguyuban guru-guru se Jakarta, koperasi guru, dan beberapa grup lain yang tiba-tiba saja muncul.
Dila termasuk anggota yang kurang aktif berkomentar, karena memang dirinya masih lebih suka menyimak apa yang menjadi pembahasan di grup itu.
Minggu pagi saat Dila selesai sarapan bersama Indra dan El, Fatma datang berkunjung ke rumah mereka.
" Ibu dengar sudah sebulan kamu bekerja jadi pengajar di SD tempat El sekolah?, pantas saja kamu sudah lama tidak menitipkan El pada Ibu, ternyata kamu kerja di sana".
" Bagaimana apa disana guru-guru yang lain bersikap baik sama kamu?", tanya Fatma sambil mendudukkan dirinya di samping Dila.
" Alhamdulillah semuanya baik sama Dila Bu, anak-anak yang Dila ajar juga semakin hari Dila semakin mengenal karakter satu persatu nya, jadi lebih mudah melakukan pendekatan", ujar Dila.
Melihat Ibunya datang, Indra justru berpamitan untuk ke taman samping, membantu Mang Santo merawat kebun. Indra terlihat sangat malas membahas tentang pekerjaan Dila.
" Apa Indra tidak suka kamu jadi guru?, kelihatannya dia tidak begitu antusias saat kita berdua membicarakan tentang pekerjaanmu?". Fatma bisa melihat ekspresi putranya yang acuh saat ibu dan istrinya membahas urusan pekerjaan baru.
" Sepertinya begitu Bu, padahal semuanya masih bisa Dila handle dengan baik selama ini, waktu untuk El, untuk mas Indra, juga untuk lainnya, Dila masih bisa membagi waktu dengan baik, Dila masih setiap hari pulang lebih awal dari Mas Indra, tapi nggak tahu kenapa Mas Indra seperti itu", Dila akhirnya curhat pada sang ibu mertua, karena selama ini Dila berusaha memendam sendiri rasa kesal karena sekalipun Indra tidak pernah menanyakan tentang kegiatannya di sekolah.
" Bukankah kamu sudah ijin terlebih dahulu sebelum mengajukan lamaran menjadi guru?", tanya Fatma.
" Dila kasih tahu Mas Indra saat Dila sudah mendapat pesan dari sekolahan kalau Dila diterima, soalnya awalnya mau bilang dulu khawatir nggak diterima karena pendaftarnya cukup banyak".
" Hem.... jadi begitu, sepertinya Indra sedikit keberatan karena kamu bekerja, padahal nggak ada salahnya juga biar kamu punya banyak pengalaman. Dari pada di sekolah hanya menunggu El tanpa ada kegiatan, ibu sih setuju dengan kamu jadi guru disana, tapi kenapa Indra tidak suka ya, ibu jadi penasaran", Fatma nampak berfikir.
" Mungkin sebenarnya karena sampai sekarang Dila belum hamil Bu, Mas Indra kan sudah pengen banget punya anak dari Dila, kami sudah berusaha berbagai macam cara", gumam Dila.
__ADS_1
" Iya, benar juga, Indra sudah tidak lagi muda, meski teman-temannya banyak yang belum menikah, tapi Indra itu memang tipe yang ingin mempunyai banyak keturunan, soalnya dia sendiri merasa kesepian, saudaranya cuma Indri, dan sekarang Indri di Malaysia, karena itulah dia ingin punya banyak anak, biar anak-anaknya kelak tidak kesepian, banyak saudara".
Benar juga, sama seperti dirinya yang hanya dua bersaudara, rasanya memang kalau terjadi apa-apa itu ketemu sendiri, seperti kemarin saat Indra sakit, untung ayah dan ibunya Indra masih sehat dan tempat tinggal nya dekat, makanya bisa titip El karena Dila harus menjaga Indra. Seandainya tidak ada pasti akan sangat kerepotan.
" Dila paham Bu, karena Dila juga merasakan hal yang sama, punya satu saudara dan berada jauh, seperti hidup sendiri, ada apa-apa minta tolongnya sama ibu dan ayah", ujar Dila.
" Ya sudah, jangan bersedih, yang kamu lakukan itu hal yang mulia, menjadi guru itu kan adalah berkontribusi dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa, lama-lama Indra juga akan terbiasa dan menerima pekerjaan baru kamu", Fatma mencoba menghibur Dila.
" Besok pulang sekolah Dila ada pertemuan di gedung serbaguna, kemarin rencananya El mau Dila ajak sekalian. Tapi mungkin acaranya cukup lama, apa ibu besok santai?, kalau iya, El akan Dila antar ke rumah ibu dulu pulang sekolah", gumam Dila.
Fatma mengangguk setuju, " Datang saja, ibu itu senang kalau El datang ke rumah, rumah jadi rame, maklum rumah seluas itu cuma ditinggali nenek-nenek dan kakek-kakek berdua saja, jadi sepi, kalau ada El jadi lebih hangat suasana rumah".
Dila sengaja tidak memberi tahu Indra jika besok sepulang sekolah El akan ke rumah neneknya karena Dila harus menghadiri pertemuan di gedung serbaguna. Dila masih khawatirkan jika Indra makin tidak suka dengan pekerjaan baru Dila jika tahu El sampai dititipkan lagi dan lagi.
Esoknya selesai jam pelajaran, Dila langsung menuju kelas El, namun sayangnya kelas sudah sepi, biasanya El akan tetap tinggal di kelas sampai Dila menghampirinya. Namun siang ini El sudah tak ada, padahal Dila sudah bilang agar El tetap menunggunya di kelas.
Dengan langkah cepat Dila berlarian kesana kemari mencari El, dan Dila bisa melihat El sudah berada di seberang jalan, tengah membeli es potong yang mangkal di seberang jalan.
Dila yang sejak tadi sudah sangat khawatir El menghilang bisa bernafas lega karena sudah menemukan El yang tengah mengantri di tukang es potong.
" Ibu...!", teriak El, saat melihat Dila di seberang jalan. Dila memberi kode agar El tetap di sana karena Dila akan menghampirinya menyeberangi jalan.
Namun El yang kegirangan melihat sosok ibunya justru berlari menuju tempat Dila berdiri tanpa menengok ke kanan dan ke kiri sambil membawa es potong dikedua tangannya, mungkin El bermaksud untuk membelikan Dila es potong juga.
Suasana lalulintas yang sedang ramai-ramainya membuat salah satu pengendara motor mengerem mendadak karena kaget melihat El menyeberang tiba-tiba. El selamat dari terjangan sepeda motor, namun sayang mobil di samping sepeda motor yang mengerem mendadak kurang sigap dan telat menginjak pedal rem, dan menyeruduk tubuh mungil El hingga terpental cukup jauh. Dua buah es potong pun melayang tinggi bersamaan dengan tubuh El yang juga melayang.
Dila langsung berteriak histeris melihat kejadian itu. Begitu juga dengan semua yang masih berada di depan sekolahan. Satpam jaga juga langsung melompat dan menyetop semua kendaraan karena melihat kejadian itu. El terbaring di jalan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya.
__ADS_1
Tubuh Dila seketika lemas melihat keadaan El yang bersimbah darah. Dila tetap berusaha menuju tempat El tergeletak, namun kakinya mendadak lemas, tubuhnya terasa seolah melayang dan Dila pun pingsan di tengah jalan sebelum menggapai tubuh El.
Hanya suara teriakan yang samar-samar terdengar semakin lama semakin lirih , juga suara sirine ambulance yang terdengar mendekat, namun semua suara itu lama kelamaan menghilang.
Dila membuka matanya perlahan, dirinya kini menatap langit-langit kamar yang serba putih. Ruangan itu terasa dingin dan bau obat. Ternyata Dila sudah berada di IGD rumah sakit.
Dila langsung bangkit dari tidurnya saat teringat kejadian yang menimpa El tadi, namun dokter menahan tubuhnya agar kembali merebahkan diri.
" Ibu tenang saja, putra ibu sedang dirawat oleh dokter ahli bedah, ada di kamar sebelah. Ibu masih lemah dan butuh istirahat, jadi tolong jangan banyak bergerak dulu", sambung sang dokter.
" Tapi Sus, saya mau lihat keadaan putra saya, dia pasti ketakutan kalau sendirian", Dila memohon agar diperbolehkan untuk menemani El.
" Ibu tenang saja, sudah ada ayahnya yang menemani disana, karena anak ibu banyak kehilangan darah, sedangkan stok di rumah sakit sedang habis, saat kami cek darah ibu berbeda, karena itu kami langsung menghubungi ayahnya agar segera datang", ucap sang perawat menjelaskan.
" Apa darah El dan Indra sama?, semoga saja darah mereka sama ya Allah, jangan sampai Indra tahu jika El bukan putranya", doa Dila dalam hati. Dila begitu cemas dengan keadaan El, tapi dia sendiri kini justru terbaring lemah di atas ranjang IGD.
Dila langsung teringat Lita, dan menelepon Lita, mengabari jika El kecelakaan, dan butuh banyak darah, sayangnya stok darah di rumah sakit sedang habis, darah El dan Indra berbeda, karena itu Dila meminta Lita membawa Kayla ke rumah sakit Medika.
Lita pun bergegas menelepon Kayla dan mengajak Kayla ke rumah sakit, namun lebih mencengangkan lagi karena darah Kayla juga berbeda dari El.
Indra yang tengah panik, semakin dibuat panik dan menatap Kayla dengan tatapan mata yang seolah mengulitinya.
" Jadi El itu anak siapa?!", bentak Indra di depan dokter bedah dan semua perawat. " Cepat suruh ayahnya kesini untuk mendonorkan darah, jenis darahnya langka dan harus segera mendapatkan donor!, kamu nggak mau anak kamu kenapa-kenapa kan !", Indra semakin tak bisa mengontrol emosinya, sampai Andrew datang dan menarik Indra agar keluar dari ruang operasi.
Kayla nampak shock, tapi dia langsung menghubungi seseorang dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
Indra benar-benar merasa sangat emosi, bertahun-tahun dia telah di sakiti, bahkan di tipu mentah-mentah oleh mantan istrinya.
__ADS_1
" Sabar bro... sekarang yang paling penting kesembuhan El, kamu harus tenang bro...jaga emosi kamu, Dila juga masih terbaring di IGD, sebaiknya kamu menengoknya. Biar El aku yang urus", ujar Andrew sambil menepuk bahu Indra berusaha menenangkan.