
" Kenapa diam?, apa kau benar-benar sudah tidur Dil?", Indra mengangkat kepalanya dan melihat wajah Dila yang sudah memejamkan mata.
Indra pun duduk dan mendekat ke arah Dila, menyingkirkan bantal guling yang membatasi mereka berdua. Ingin tahu bagaimana reaksi Dila saat penghalang yang dibuatnya di pindah begitu saja oleh Indra. Namun Dila tetap diam.
" Jadi benar-benar sudah tidur, ya sudah kebetulan kalau begitu, aku jadi bebas menatap wajah istriku selama mungkin, toh orangnya lagi tidur kan nggak akan merasa terganggu aku tatap semauku", Indra kembali memancing reaksi Dila. Namun tetap sunyi.
Indra tersenyum jahil, dia merengkuh tubuh Dila dan memeluknya dari belakang, namun Dila tetap diam. Kalau seperti ini sih fix Dila memang sudah tidur. Justru sekarang Indra yang terjebak pada candaannya sendiri. Tubuhnya yang sudah terlanjur memeluk Dila justru merasa enggan untuk melepaskan.
Naluri kelelakiannya tetap saja muncul. Indra pria normal, sangat normal. Memeluk perempuan cantik dan seksi yang tengah tidur di ranjangnya itu sungguh sebuah godaan yang sangat besar untuk bisa bertahan tidak melakukan hal yang lebih. Apalagi saat ini wanita yang berada dalam pelukannya sudah sah menjadi istrinya.
Indra mengendus pelan, aroma rambut Dila benar-benar wangi dan menggoda imannya.
" Ternyata kamu sangat cantik Dil, bagaimana aku bisa tidak tahu penyamaran mu selama ini. Apa aku bisa bertahan untuk tidak menyukaimu, jika kita terus tinggal bersama dibawah atap yang sama, 6 bulan permintaan kamu agar aku membebaskan kamu, jika kamu tidak hamil. Sekarang aku berharap kamu hamil anakku akibat kesalahanku malam itu, agar kamu bisa bertahan lebih lama berada di dekatku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku". Indra terus ber monolog, masih dalam posisi memeluk Dila.
Dila masih diam tak bergeming, namun sebenarnya dia tidak tidur sama sekali. Dila hanya masih bingung dengan perasaannya. Di satu sisi dia masih sangat membenci Indra gara-gara perbuatannya waktu itu, tapi disisi lain Dila menyadari laki-laki yang sedang memeluknya saat ini sudah menjadi suami sah nya baik secara hukum maupun secara agama, akan menjadi dosa jika Dila menolaknya. Dila sungguh dilema dengan statusnya saat ini.
Tok...tok....tok....
" Dil, apa kamu sudah tidur?, ini El bangun maunya tidur sama kamu", terdengar suara Fatma mengetuk pintu dari luar. Dila yang sedang pura-pura tidur langsung menyingkirkan tangan Indra yang memeluk tubuhnya dan membukakan pintu kamar.
Terlihat El sedang di gendong neneknya sambil merengek memanggil-manggil Dila.
" Aduh sayang, maaf ya tadi kakak.... eh ibu lagi ada perlu sama ayah sebentar, jadi El ibu tinggal karena sudah tidur nyenyak".
Dila membawa El keluar menuju kamarnya sambil terus minta maaf.
" Untung El bangun, setidaknya aku tidak perlu berada di kamar itu lebih lama lagi", batin Dila.
Indra hanya melongo melihat Dila yang tadi sedang tidur tiba-tiba bangun dan menggendong El ke kamarnya. Namun seketika Indra tersenyum, berarti tadi Dila pura-pura tidur, dan dia diam saja saat Indra memeluk tubuhnya. Itu berarti Dila tidak masalah jika nantinya Indra melakukannya lagi, pikir Indra.
" Pantas saja dia tidak takut sama sekali meminta berpisah dariku, karena mungkin jandanya saja akan banyak yang ngantri. Enak saja, aku tidak akan melepaskan kamu Dil, Tuhan sudah baik mengirim mu padaku, wanita yang menyayangi putraku seperti putranya sendiri, ditambah ternyata wajahmu sangat cantik, bukankah itu sebuah anugrah", Indra beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar berniat untuk ke kamar El.
Entah mengapa Indra ingin berlama-lama menatap Dila, wajah Dila itu membuat yang menatapnya enggan berpaling. Cantik alami, apalagi kalau tersenyum, siapapun yang melihat bisa jatuh cinta.
" Ndra, mau kemana?", Indra menengok ke ruang tengah, ada ayah dan ibunya disana.
" Mau ke kamar El, kenapa yah?".
__ADS_1
" Kemari sebentar".
Indra pun berbelok keruang tengah duduk di samping Ibunya.
" Ada apa yah?".
" Ayah tahu pernikahan kamu dan Dila berawal dari kesalahan yang sudah kamu lakukan padanya, apa kamu begitu sangat menyukainya?, beri Dila waktu istirahat, jangan terlalu bersemangat mentang-mentang pengantin baru".
" Dila bukan hanya melayani kamu saja, tapi dia juga harus mengurus El, jadi kamu jangan grasa grusu, dan memaksakan kehendak kamu. Meski sekarang dia sudah resmi jadi istrimu, tapi dia juga ibunya El, dan dia mau menikah denganmu karena kamu ayahnya El".
Rizal mengingatkan Indra karena tahu, sebagai sesama laki-laki yang membutuhkan pendamping, setelah ditinggal sang istri selama 3 tahun, dan kini mempunyai istri baru yang masih muda dan sangat cantik, tentu saja Indra begitu bersemangat menyalurkan hasratnya yang sudah terpendam selama 3 tahun ini.
Sebagai orang tua Indra, Rizal dan Fatma tahu, selama ini Indra berusaha menyibukkan diri mengurus El dan terus sibuk bekerja, mengembangkan bisnisnya agar tidak memikirkan mantan istrinya.
Namun sepertinya kini Indra sudah bisa move on dari Kayla, perempuan yang dulu dicintainya namun ternyata meninggalkan Indra hanya karena salah paham. Bahkan selama 3 tahun ini tak pernah sekalipun Kayla menghubungi Indra dan menanyakan kabar El, putra kandungnya. Bagaimana bisa Indra tetap mencintai perempuan jahat yang tega meninggalkan suami dan anaknya seperti itu.
" Iya yah.... Indra mengerti, lagian Indra belum ngapa-ngapain kok, tadi Dila tidur", ucap Indra, dengan wajah kecewa.
Justru hal itu membuat Fatma tertawa.
" Besok pagi, ibu dan ayah harus terbang ke Malaysia lagi, Indri bolak-balik telepon ibu, minta ibu segera kembali kesana. Jadi kamu jaga baik-baik Dila, ibunya menitipkan dia pada ibu, tapi ibu tidak bisa terus disini".
" Besok kamu cuti atau berangkat ke kantor?, pernikahan kalian kan belum dipublikasikan, tunggu ayah dan ibu punya waktu luang saja, kalau memang nanti Dila hamil, kita bisa bahas lagi rencana pesta pernikahan kamu".
" Sekarang kami istirahat dulu, kami juga sangat lelah".
Rizal dan Fatma pergi ke kamar mereka untuk beristirahat. Indra pun melanjutkan rencananya pergi ke kamar El.
Saat membuka pintu kamar, dilihatnya El dan Dila sudah sama-sama tidur dengan lelapnya. Kali ini sepertinya Dila tidur sungguhan, nafasnya terdengar teratur. Indra pun duduk di tepian kasur di samping El, namun yang ditatap adalah wajah Dila. Entah mengapa menjadi hobi barunya menatap wajah istrinya itu.
Indra akhirnya ikut merebahkan diri di samping El, mereka tidur seranjang bertiga.
Tidur siang selama satu jam sudah membuat rasa capek Dila terobati. Dila bangun dan melihat dua lelaki dengan wajah mirip namun beda generasi itu masih tidur dengan pulas.
Dila memilih beranjak dan keluar dari kamar itu, dan masuk ke kamarnya. Di ponselnya ada banyak sekali panggilan masuk dan juga pesan dari teman-teman yang menanyakan kabarnya.
Pasalnya Asri sedang habis kontrak dan mengajak Dila ketemuan. Sejak pagi Asri menelepon Dila, tapi ponsel Dila ditinggal di kamar, jadi Dila tidak tahu. Akhirnya Asri mengirim pesan singkat.
__ADS_1
Dila pun berusaha menghubungi Asri balik, dan langsung diangkat, terdengar suara nyaring Asri dari dalam HP Dila.
" Kamu sibuk banget ya ngurus anak kecil, masa aku telepon berkali-kali nggak kamu angkat Dil".
" Maaf As, aku dari pagi sibuk banget, dirumah habis ada acara. Jadi kamu lagi habis kontrak?, libur berapa hari?", tanya Dila.
" Aku libur seminggu besok, Senin depan aku tanda tangan kontrak lagi, aku sudah kangen banget sama kamu Dil, mumpung aku liburan lama, kita ketemuan yuk", ajak Asri.
" Mau ketemu dimana?, aku nggak ada liburnya As, gimana kalau kamu yang ke Jakarta, kan kita bisa jalan-jalan ke ragunan, terus.... kalau aku bawa El pas ketemuan sama kamu boleh nggak?". Dila memang tidak punya hari libur, karena itulah gajinya besar.
" Ya sudah aku ke Jakarta, tapi Joko sama Evan ikut boleh ya?, soalnya kalau pergi kesana sendirian aku belum berani", ujar Asri.
" Iya boleh, besok El sekolah, jadi kita ketemuan hari Selasa gimana?, kamu bisa As?".
" Oke, kalau gitu, aku nunggu kamu di depan ragunan ya, soalnya aku naik bus, kalau ke rumah majikan kamu dulu kebanyakan ongkos", ucap Asri.
Dila tersenyum sendiri, jadi anak rantau yang ngontrak dan apa-apa bayar sendiri memang butuh biaya hidup yang cukup besar, harus selalu perhitungan jika mau melakukan apapun.
" Iya As, kita ketemu di depan ragunan, kamu kabari aku kalau besok sudah mau berangkat ke Jakarta, sampai jumpa hari Selasa As", Dila mengakhiri obrolan mereka.
" Mau ketemu siapa?", Dila kaget saat Indra sudah berdiri di pintu kamarnya.
" Ketemu sama Asri, temen satu kamar pas di Cibitung, dia lagi libur habis kontrak katanya, jadi minta ketemuan, aku boleh kan pergi ke ragunan hari Selasa besok?, El juga aku ajak". Dila mencoba meminta ijin.
" Apa... Ragunan?", Indra awalnya hendak melarang Dila pergi, namun tiba-tiba suara El merubah keputusannya.
" El mau diajak jalan-jalan ke lagunan sama ibu Dila, ye... asyik". El yang bangun tidur dan mendengar ibu Dila minta ijin pada ayahnya untuk mengajak El ke ragunan berjingkrak- jingkrak merasa sangat senang.
" Jadi boleh kan Tuan...eh Mas?", tanya Dila dengan ekspresi penuh harap.
" Ya sudah, besok Ari yang antar kalian kesana, tapi dengan satu syarat". Indra mengikuti gaya bicara Dila. Yang selalu mengajukan syarat.
" Syarat apa?", tanya Dila curiga.
" Kamu harus tidur di kamarku, karena kita sudah menikah dan jadi suami istri, dan pindahkan semua baju dan barang-barang kamu ke kamarku sekarang juga, barang-barang kamu nggak banyak kan?, sini aku bawa tas kamu itu".
Indra memanggil Bi Ana. " Bi, tolong pindahkan semua barang-barang Dila ke kamar ku", ucap Indra dengan menyeringai jahil, padahal Dila belum menyetujui syarat itu, tapi Indra sudah berbuat semaunya sendiri.
__ADS_1
Bi Ana langsung memindah baju Dila ke kamar Indra. Dila hanya bisa pasrah, karena akan menjadi aneh jika Dila melarang bi Ana memindahkan barang-barang ke kamar suaminya.