Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bonus Bab 156


__ADS_3

Dokter IGD mengabari Indra, bahwa Dila sudah diperbolehkan pindah ke kamar rawat inap, karena kondisi di IGD yang penuh dan berisik, Dokter memutuskan Dila untuk istirahat di kamar inap.


" Karena Bu Dila masih sangat pucat dan lemas, maka harus tetap mendapatkan asupan nutrisi dari infusan. Selain itu kami juga masih menunggu hasil cek laboratorium dan juga USG Bu Dila yang belum keluar, ada kemungkinan besok pagi hasilnya baru keluar. Jadi sebaiknya Bu Dila di pindahkan ke ruang rawat inap terlebih dahulu agar bisa istirahat dengan tenang".


Indra mendengarkan penjelasan dari dokter jaga di IGD, memang benar apa yang di sampaikan nya, Dila harus segera di pindah ruangan, agar lebih tenang dan nyaman, selain itu dirinya juga bisa istirahat malam ini.


30 menit setelah obrolan Indra dengan dokter jaga di IGD, Dila kini sudah menempati kamar VVIP yang sengaja dipesan Indra untuk kenyamanan sang istri. Ruang dengan ukuran 4x5 meter dengan fasilitas yang lengkap. Bahkan ada dua kasur di ruang itu, satu untuk pasien dan satu untuk tidur keluarga yang berjaga.


" Mas, sepertinya aku sudah baikan, bagaimana kalau kita minta pulang ke rumah saja, aku khawatir Arsy rewel dan nangis karena mencari ku". Dila memang baru kali ini tidur terpisah dari Arsy.


Selama ini semenjak Arsy dilahirkan, tepat satu tahun, Dila selalu tidur bersama Arsy dimana pun berada.


" Apa aku harus mencari baby sitter untuk Arsy Mas?, sepertinya setelah kehamilanku ini, Aku tidak bisa mengurus dua anak sekaligus. Tapi Arsy masih terlalu kecil, usianya baru setahun, aku tidak menyangka kalau akan hamil lagi secepat ini. Ku kira karena kehamilan yang pertama lumayan lama dan perlu berbagai macam usaha. Aku akan baik-baik saja dan tidak hamil meski tidak melakukan KB", ucap Dila seperti masih tidak percaya.


Indra duduk di samping ranjang dan mengusap kepala Dila dengan lembut. " Itu berarti Yang Maha Kuasa percaya pada kita, bahwa kita mampu untuk di beri amanat dengan memiliki banyak anak".


" Bukankah anak itu rejeki... jadi semakin banyak anak yang kita miliki, semakin banyak pula rejeki yang kita terima". Indra masih menatap Dila dan mengecup keningnya.


Tok...tok...tok...


" Maaf mengganggu, cuma mau mengantar makan malam untuk Bu Dila, saya letakkan di sini, permisi".


Seorang perawat mengantarkan makanan, memang sejak tadi Dila dan Indra belum sempat makan malam karena saat tadi hendak acara potong tumpeng justru Dila pingsan, karena itulah baik Indra maupun Dila saat ini sama-sama sedang merasa lapar.


" Lihatlah menu makan malam di rumah sakit, apa kamu menginginkan makanan yang lain sayang?, kalau mau biar aku suruh Ari mencarikan", tanya Indra pada Dila yang sedang memeriksa apa saja menu makan malamnya.


" Sebenarnya ini saja sudah cukup, tapi Mas dan Mas Ari kan belum makan malam, Mas pesan saja makanan buat makan malam Mas dan Mas Ari, beli apa saja penjual di depan rumah sakit kan lumayan banyak mas".


Indra mengangguk dan menelepon Ari yang sedang beristirahat di mobil untuk membeli makan malam untuk mereka berdua.

__ADS_1


Malam ini Dila sebenarnya merasa tidak nyaman karena tidur terpisah dari Arsy, namun karena efek obat tidur yang terkandung di dalam suntikan yang diberikan pada Dila, malam ini Dila bisa tidur dengan sangat pulas.


Hingga pagi tiba, Dila baru terbangun dari tidurnya yang sangat berkualitas. Karena biasanya di rumah, tiap malam Dila akan terbangun beberapa jam sekali sekedar untuk


memberi Asi pada Arsy.


Dan semalam Dila tidur tanpa terbangun sekalipun, karena itulah bangun tidur pagi ini, Dila merasa begitu bugar dan bersemangat.


Melakukan ibadah di pagi hari, dan menyuruh Ari membelikan sarapan bubur ayam untuk sang suami adalah hal yang dilakukan oleh Dila pagi ini. Tak lupa Dila menelepon sang ibu mertua menanyakan bagaimana keadaan El dan Arsy, tentu saja El langsung ikut bicara dan bahkan mendominasi percakapan.


" Maafkan Bu Dila ya sayang, sudah membuat semuanya khawatir, semoga saja semuanya baik-baik saja. Tinggal nunggu hasil cek laboratorium keluar, kalau semuanya baik-baik saja, siang ini juga ibu akan pulang ke rumah".


Dila berusaha memberi tahu El dengan bahasa yang mudah dimengerti agar El paham. Untung hari ini hari Sabtu, jadi El libur dari sekolahnya. Beda dengan Indra yang sengaja tidak masuk kantor hanya untuk menemani sang belahan jiwa yang sedang terkapar di ranjang rumah sakit.


" Mas sarapan dulu, semoga saja nanti siang kita bisa pulang kerumah".


Berita kehamilan Dila langsung menyebar setelah hasil USG menyatakan jika benar, sudah ada janin di dalam rahim Dila.


Terpaksa Dila harus mencari pengasuh untuk mengasuh Arsy yang masih sangat kecil, karena setelah ketahuan dirinya hamil, Dila sudah tidak diperbolehkan untuk kecapekan oleh Indra.


Memberi ASI pun tidak secara langsung, Dila sengaja memompa ASI sebanyak-banyaknya dan menyimpan di kulkas, hanya perlu menghangatkan saat Arsy ingin meminumnya.


Bahkan belum genap 2 tahun, Arsy harus berhenti meminum ASI dari Dila, dan dilanjut dengan susu formula, karena selanjutnya Dila harus menyusui adiknya Arsy yang ternyata berjenis kelamin laki-laki.


Begitu berbeda menyusui bayi laki-laki dan bayi perempuan, karena Dila sampai kewalahan memberi ASI pada putra kecilnya yang sebentar-sebentar merasa lapar lagi dan lagi.


Indra merasa sangat beruntung, karena akhirnya mempunyai putra yang benar-benar darah dagingnya sendiri. Begitu juga dengan Fatma dan Rizal, mereka berdua merasa begitu bahagia karena Dila melahirkan cucu laki-laki mereka dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun.


Berita Dila yang melahirkan tak serta Merta membuat El cemburu pada adiknya, karena El masih tetap menjadi kesayangan yang lain, tidak ada yang membeda-bedakan antara dirinya dan adik bayinya.

__ADS_1


Arsy sudah semakin besar dan pandai sekali bicara, Baru berusia 2 tahun, tapi Arsy kec sudah terlihat sangat cantik, karena sangat mirip dengan ibunya.


Bapak dan ibu Dila langsung datang dari kampung, saat mendengar kabar Dila yang sudah melahirkan, namun tanpa Dita dan suaminya, karena saat Dila melahirkan, Dita tengah hamil 8 bulan, dan terlalu beresiko jika harus melakukan perjalanan jauh, karena itulah Dita dan Nino hanya memberi selamat pada Dila melalui sambungan video call saja.


Sementara waktu Dita dan Nino tinggal di rumah orang tua Nino saat Ibu dan bapaknya ke Jakarta menengok cucu barunya yang baru saja lounching.


Toto dan Siti juga merasa sangat bahagia, karena baru sebentar sudah menambah cucu, dan sebulan lagi juga Dita akan lahiran, tambah cucu lagi. Dua cucu sekaligus dalam waktu berdekatan. Sungguh rejeki yang tak terduga.


Siti dan Toto hanya berada di Jakarta selama satu minggu, karena pekerjaan di kampung yang tidak baik jika terlalu lama ditinggalkan. Dila memaklumi hal itu. Dan dengan sukacita melepas kepergian orang tuanya untuk kembali ke kampung.


Bertepatan dengan 40 hari putra Dila yang ke dua, Dila mendapatkan kabar jika sang Adik telah melahirkan seorang putra juga. Dila sangat bersyukur karena Dita tidak pernah mengeluh padanya meski hamil di usia yang tergolong masih muda.


Dan itu pertanda jika Nino memperlakukan Dita dengan sangat baik, sebagai kakak yang mengkhawatirkan kelanjutan hubungan pernikahan Dita dan Nino, ternyata kekhawatiran Dila terlalu berlebihan, karena ternyata Nino bisa ngemong Dita dan sukses menjadi seorang suami yang baik.


Indra juga bersyukur karena kekhawatiran nya tentang Nino tidak terbukti. Nino benar-benar menyukai dan menyayangi Dita, dan hidup dengan bahagia setelah pernikahan mereka.


Bahkan dikaruniai putra pertama yang jarak usianya tak jauh dari putranya.


Kali ini gantian Dila yang tak bisa pulang kampung dan menengok keponakan barunya. Karena Dila dan Indra disibukkan dengan mengurus ke tiga buah hati mereka.


Untung ada istri Mas Ari yang bersedia menjadi pengasuh Arsy, Ari akhirnya menikah dengan gadis yang tinggal tak jauh dari rumahnya, dan bahkan setelah menjadi pengasuh Arsy, Mas Ari dan istrinya tinggal di rumah Indra.


Istri Ari memang masih muda, dan setelah setahun menikah mereka belum juga dikaruniai keturunan, karena itulah, istri Ari menerima tawaran untuk mengurus Arsy sama ini.


Dila yang harusnya mengajar harus mengambil cuti lama, menunggu sang buah hatinya tumbuh menjadi besar terlebih dahulu. Karena saat ini prioritas utamanya adalah mengurus dan membesarkan anak-anaknya terlebih dahulu.


Hingga putra kecilnya berusi satu tahun dan bisa berjalan sendiri, baru Dila memutuskan untuk kembali mengajar ke sekolah.


Kini suasana rumah Indra menjadi ramai setiap harinya, suara riuh dan canda tawa anak-anak kecil selalu meramaikan rumah megah itu. Rasanya rumah yang dulunya dingin dan sepi, kini menjadi terasa hangat dan ramai anak-anak.

__ADS_1


__ADS_2