Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 88


__ADS_3

Pikiran buruk jadi memenuhi otak Dila, sepanjang jalan Dila dan Indra hanya diam tak bersuara, semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Indra menyetir dan fokus menatap jalanan sambil berfikir.


" Apa iya aku harus cuti bekerja untuk beberapa hari kedepan, sebenarnya tidak masalah karena tidak ada proyek baru yang sedang dikerjakan, hanya menandatangani laporan dari para bawahan, kalau iya, apa Dila mau pergi berbulan madu hanya berdua tanpa mengajak El bersama kami?".


" Semoga saja Dila bisa mengerti jika pergi bulan madu berdua itu adalah untuk mewujudkan keinginan El agar segera memiliki adik bayi yang lucu". Indra terus berpikir dalam hatinya.


Beda lagi dengan yang sedang Dila pikirkan.


" Apa sebaiknya aku diam-diam mengecek kebenaran jika El putra kandung Indra atau bukan ke dokter, bagaimanapun hasilnya El tetap putra mas Indra, meski jika kemungkinan terburuk El bukan darah dagingnya, tapi sebaiknya tidak ada yang tahu tentang pengecekan yang akan ku lakukan ini, aku hanya penasaran dengan kebenarannya, tidak bermaksud menyakiti hati siapapun, hanya aku saja yang akan tahu hasilnya", Dila sudah bertekad untuk melakukan cek DNA antara El dan Indra, tapi tentu saja secara sembunyi-sembunyi.


Mobil sampai di rumah, dan seperti biasa El sudah menanti kedatangan ayah dan ibunya di teras depan bersama sang nenek.


Dila langsung keluar dari mobil dan memeluk El saat El menghambur ke dalam pelukannya. " Anak tampan, kamu sangat mirip dengan mas Indra, aku sangat berharap jika kamu adalah anak kandungnya, setidaknya itu akan sedikit mengurangi rasa sedih dalam hidupnya", batin Dila sambil mengecup kening El.


" El main sama ibu ayo ke depan, ibu lupa tadi nggak beli apa-apa buat El, kita beli es krim saja sekarang ke minimarket depan", ajak Dila yang disambut sorakan bahagia dari El.


Dila sengaja memberi waktu untuk Indra dan ibunya untuk mengobrol berdua, biar Indra sendiri yang menjelaskan bagaimana keadaannya yang sebenarnya.


El dan Dila pamit keluar untuk jalan-jalan ke minimarket depan, Dila sengaja mengajak El berjalan kaki agar mereka keluar cukup lama, jadi Indra dan ibunya juga akan punya waktu mengobrol lama.


" Bagaimana hasilnya, kamu juga pasti baik-baik saja kan Ndra?, kemarin ibu melihat hasil pemeriksaan Dila semuanya baik-baik saja, dan pasti kamu juga baik-baik saja kan?, kamu kan nggak pernah berhubungan dengan wanita sembarangan, nggak pernah jajan diluar juga meski menduda cukup lama".


Ucapan Fatma justru membuat Indra risih, ibunya selalu saja seperti itu, cerewet dan banyak bicara.


" Aku yang nggak subur Bu, dokter menjelaskan kalau 'cairan' yang ku hasilkan itu kurang baik karena aku kecapekan dan kurang istirahat".


" Dokter menyarankan agar aku dan Dila untuk liburan, kalau bisa bulan madu berdua saja agar bisa punya waktu istirahat yang cukup dan bisa berhubungan lebih sering jika kami berulan madu".


" Apa ibu nggak masalah jika El kutitipkan pada Ibu sementara waktu, selama aku dan Dila bulan madu?".

__ADS_1


Fatma langsung mengangguk, " Tentu saja ibu mau, dengan senang hati ibu akan mengurus El, sekarang El itu sudah besar dan sudah pinter ngapa-ngapain sendiri, ibu sih mau banget dititipi El mau berapa lama pun, seminggu, dua minggu, atau sebulan?"


Sesuai dugaan Indra, jika ibunya pasti akan sangat setuju dan bersemangat untuk dititipi El.


" Sekarang tugas ibu adalah menyuruh Dila untuk pergi berbulan madu denganku, karena sebenarnya kami berdua memang belum pernah bulan madu sejak menikah".


Kini Indra ganti berfikir mau berbulan madu kemana, Dila lebih suka di dalam negeri atau ke luar negeri, Indra belum memperkirakan tujuan bulan madu mereka, mungkin nanti akan ditanyakan langsung pada Dila mau berbulan madu kemana.


Dan malam pun tiba, setelah mengetahui semuanya rencana tersusun dengan lancar, kapan mereka akan pergi, berapa hari Dila dan Indra akan honeymoon dan ijin dari El pun sudah didapat, tinggal tujuan mau kemana mereka berbulan madu.


" Jadi Mas sudah memutuskan habis kamu wisuda nanti kita akan berangkat bulan madu, apa kamu pernah punya keinginan ingin bulan madu kemana Dil?".


Indra memang bukan tipe laki-laki romantis dan penuh kejutan, karena semenjak Dila menjadi istrinya, belum pernah sekalipun Indra memberikan kejutan pada Dila, kecuali saat tiba-tiba dirinya muncul di ruko Dila, itu benar-benar membuat Dila terkejut, tapi bukan kejutan seperti itu yang di maksud, layaknya membawa Dila ke tempat indah dan romantis, atau memberi hadiah kejutan seperti pada pasangan lainnya.


Dila memaklumi hal itu karena dirinya juga tidak suka sesuatu yang mengejutkan, Dila lebih suka diajak berdiskusi dan dimintai pendapat, itulah gunanya pasangan, ada untuk saling berbagi dan kerjasama.


Tapi sesekali mendapatkan kejutan seharusnya tidak apa, Dila juga wanita biasa yang suka dengan kejutan, Indra orang kaya dan hartanya melimpah, bukan hal sulit bagi dirinya untuk membuat kejutan kecil.


Kini Dila punya inisiatif ingin bertanya pada Lita, sahabatnya, mungkin saja Lita punya gambaran tempat yang bagus untuk berbulan madu, karena jujur Dila kurang paham dengan tempat-tempat indah yang sering dikunjungi.


" Besok aku kasih jawabannya Mas, biar aku pikirkan dulu mau kemana, nggak papa kan kita bahas lagi besok?".


Indra merengkuh Dila, " tentu saja tidak papa, kan masih ada waktu sampai kamu wisuda, kan berangkatnya habis kamu wisuda".


Dila tersenyum, " Sebenarnya aku masih bingung mau kemana Mas", batin Dila.


Esok harinya Dila sengaja menelepon Lita, hari ini Lita sedang libur akhir pekan, dan Dila meminta ijin pada Indra untuk bermain ke apartemen Lita bersama El. Indra menawarkan untuk mengantarkan Dila, namun Dila memilih untuk membawa kendaraan sendiri. Ya... Dila membawa motor bebek sejuta umat yang menjadi kendaraan favoritnya, selain terhindar dari kemacetan, menggunakan motor bisa memilih jalan tikus dan terobosan, sehingga lebih cepat sampai tujuan.


Beruntung cuaca terang, tapi juga tidak terlalu panas, sehingga sangat cocok untuk bepergian dengan naik motor.


45 menit perjalanan, lumayan capek, tapi Dila sampai juga di apartemen Lita. Saat sampai apartemen, Lita sedang bermalas-malasan di kasurnya.

__ADS_1


" Gadis jorok, sudah jam 9 masih tiduran, belum mandi, apartemen berantakan, dan.... apa ini?", Dila melemparkan pakaian dalaman Lita yang tergeletak di sofa.


" El duduk dulu di sini ya sayang", bisik Dila mendudukkan El di sofa yang sudah dibereskan dari sampah-sampah oleh Dila.


" Sebenarnya ini rumah apa kapal pecah sih Lit, kamu itu dari jaman masih kuliah sampai sekarang sudah kerja, masih sama saja, jorok dan pemalas".


Dila memunguti sampah, mengelap meja, memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci dan langsung menyalakan mesin cuci itu. Dila juga menyapu lantai apartemen Lita yang tidak terlalu luas.


" Udah si Dil, biarin aja, nanti aku suruh orang buat bersihin, aku tuh kemarin pulang kerja nonton Drakor secara maraton, sampai jam 3 pagi baru tidur, huaaahm...., makanya masih ngantuk banget", ujar Lita sambil menguap lebar.


El menertawakan Lita yang menguap begitu lebar tanpa ditutupi mulutnya seperti seekor kuda Nil.


" Tante mirip kuda Nil yang ada di kebun binatang", ujar El begitu polosnya.


Lita langsung bangun dan menoleh melihat El yang sedang duduk disofa nya, Dila memang sudah tahu pin pintu masuk apartemen Lita, makanya Dila bisa masuk begitu saja ke apartemen Lita tanpa memencet bel terlebih dahulu. Tadi posisi Lita masih tiduran sambil telungkup dan tidak tahu jika Dila datang bersama dengan El, karena sejak tadi El tidak bersuara.


" Wah... ternyata ada si ganteng El disini, Tante jadi malu ternyata ada tamu cowok ganteng", Lita bangkit dari tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi. " Tantea mandi dulu ya El !", teriak Lita dari dalam kamar mandi.


Dila sengaja membuka kulkas Lita, ternyata Lita hanya menyimpan buah dan beberapa Frozen food, ada sedikit sayur yang sudah agak layu, mungkin karena sudah tersimpan lama di dalam kulkas.


" Dimana Lita menyimpan beras?", Dila mencari-cari keberadaan beras, namun Dila tak berhasil menemukan. Justru Dila menemukan banyak mie instan berbagai rasa.


Dila pun mengambil mie, telur, dan sosis, dan daun bawang. Dila membuat omelet telur dan mie untuk sarapan Lita, Dila sengaja membuat dua piring, siapa tahu El kepingin saat melihat Lita makan.


Lita keluar kamar mandi sudah segar karena sudah mandi.


" Hemm.... baunya enak banget, bikin apa nih Bu Dila?", Lita masih menggunakan handuk kimono dan rambutnya juga masih terbungkus handuk karena habis keramas.


" Aku nyari beras nggak nemu, malah nemunya mie instan, ya sudah aku campur telur dan bikin omelet, sarapan dulu Lit, aku sudah hangatkan susu murninya juga", ujar Dila.


Lita langsung memeluk Dila, Dila memang selalu seperti itu sejak masih kuliah dulu, tanpa pamrih membantu Lita. " Makasih my bestie, kapan-kapan aku traktir makan enak deh", ujar Lita sambil mendudukkan diri di kursi dan mengambil sepiring omelet miliknya dan memakannya dengan lahap.

__ADS_1


" Selamat makan El ganteng!", ucap Lita sambil memasukkan potongan omelet pertama ke dalam mulutnya.


__ADS_2