
Bram mengantar El sampai di depan rumahnya, namun Bram tidak mampir, karena khawatir ketahuan bahwa dirinya habis ketemuan dengan El di kafe. Pasti Dila akan marah padanya jika mengetahui jika surat hasil tes DNA yang dulu disimpannya sudah berpindah tangan, dan El yang menyimpannya.
Namun bagi Bram, memang El lah yang paling berhak menyimpan surat itu. El yang berhak untuk menjaga rahasia kebenaran tentang dirinya, terserah El akan memusnahkan surat itu atau menyimpannya, yang jelas sekarang Bram merasa lebih tenang karena anak yang bersangkutan dengan surat yang disimpannya sudah mengetahui kebenarannya.
" Terima kasih atas tumpangannya Om, dan terima kasih juga untuk informasinya".
El turun dari mobil Bram dan masuk ke dalam rumahnya, tangannya penuh dengan tas belanjaan yang di bawahnya dari rumah sang nenek.
Bram melambaikan tangan sambil melajukan mobilnya. Senyum merekah dari wajah keduanya yang sama-sama merasa lega. Karena seolah ada beban berat yang berhasil terangkat.
" Dari mana den El ?, bawa barang banyak benar biar bapak bantuin bawa masuk", ujar pak satpam menawarkan bantuan.
El pun dengan senang hati menyerahkan barang bawaannya kepada Pak satpam untuk dibawa masuk, setelah sang satpam kembali menutup pintu gerbang, sampai di rumah El langsung bertemu dengan Bu Dila dan Arsy yang sedang sibuk bermain bersama.
Arsy sedang sibuk memainkan miniatur hewan-hewan, bekas mainan El saat kecil dulu. Ternyata masih disimpan dan masih bagus-bagus, sehingga Dila tak perlu membelinya lagi.
Dila nampak menatap El dengan tatapan penuh selidik, ternyata sebenarnya Dila tahu El habis ketemuan dengan Bram di kafe, karena salah satu teman sesama pengajar di SD tempatnya mengajar sempat melihat El masuk ke dalam kafe sendirian.
Dan saat itu Dila meminta tolong kepada temannya, untuk mengawasi El dan meminta pada temannya untuk memfoto saat El bertemu dengan seseorang yang janjian dengannya, dan ternyata orang itu adalah Bram. Dila sudah mengira hal ini akan terjadi cepat atau lambat. El adalah tipe anak yang cerdas, jika ingin mengetahui sesuatu pasti dia akan terus mencari tahu, sebelum rasa ingin tahunya terjawab, El pasti tidak akan berhenti.
Namun meski Dila tahu El janjian bertemu dengan Bram, Dila membiarkannya. Mungkin memang sudah saatnya El harus tahu kebenaran tentang dirinya, sebagai ibu yang sangat paham dengan karakter anaknya, Dila yakin El akan bisa mengerti mengapa selama ini ibu, ayah, dan juga neneknya merahasiakan tentang kebenaran itu. Semua itu semata-mata karena rasa sayangnya yang begitu besar kepada El.
" Dari rumah nenek kok pulangnya sampai sore banget, tadi nenek bilang kamu sudah pulang sekitar jam 03.00-an, apa kamu mampir ke suatu tempat?", Dila sengaja bertanya kepada El, mencoba menguji kejujurannya. Apakah El akan menceritakan yang sebenarnya, atau dia mencari alasan lain.
El nampak duduk di samping Dila, " Benar tadi El mampir ke suatu tempat terlebih dahulu Bu, karena ada sesuatu yang harus El lakukan".
" Yang penting sekarang El sudah sampai rumah dengan selamat, itu bukti kalau El sudah besar kan Bu?, karena bisa ke rumah nenek sendiri, juga bisa pulang sampai ke rumah sendiri dengan selamat. Mulai saat ini ibu tidak perlu khawatir jika El harus bepergian sendiri".
__ADS_1
El memang tidak berbohong kepada Dila, dia mengatakan dirinya mampir ke suatu tempat. Meski kejujuran yang dikatakannya hanya setengah, karena selebihnya tetap diam dan tidak mengatakan dia pergi ke mana dan bertemu dengan siapa, tapi Dila tidak akan memaksakan agar El menceritakan semuanya saat ini. Mungkin El juga berniat untuk tidak memberitahu Dila dan keluarganya jika sebenarnya dia sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya yang bukan anak kandung Indra.
Mungkin El berusaha menghormati keputusan Dila dan yang lain untuk merahasiakan kebenaran akan jati dirinya. Jika memang itu yang terbaik menurut para orang tua, El tidak keberatan sama sekali untuk berpura-pura tidak tahu kebenaran tentang dirinya.
" Jadi putra ibu sekarang merasa sudah besar. Ibu nggak perlu khawatir lagi kalau El pergi-pergi sendiri, yang penting El kabari Ibu mau ke mana, dan jangan lupa bawa ponsel biar El bisa mengabari Ibu setiap waktu, biar ibu nggak khawatir", ujar Dila, dan El langsung mengangguk patuh.
" Memangnya El dari mana?", ternyata Indra sudah pulang dari kantor, dan sempat mendengar percakapan Dila dan El barusan.
El dan Dila menengok bersamaan saat mendengar suara Indra dari belakang mereka. Bagaimana bisa suara langkah Indra tidak terdengar sama sekali, padahal Indra memakai sepatu pantofel yang bunyinya cukup keras jika menginjak lantai.
Dila sama sekali tidak berniat untuk memberi tahu suaminya jika sebenarnya El habis ketemuan dengan Bram, dan sudah mengetahui semua tentang rahasianya sendiri.
" Eh.... Ayah sudah pulang, anu... tadi pagi El pamit untuk pergi ke rumah nenek karena mau ngambil oleh-oleh yang kemarin titip di kopernya nenek, tapi tadi pagi Arsy rewel makanya Ibu nggak bisa nemenin ke rumah nenek. El pergi sendiri naik ojek online, dan ini baru saja pulang karena ternyata pas sampai rumah nenek, nenek Fatma lagi sakit dan minta ditemenin makan siang sama El, karena itulah El pulangnya sampai sore", El mencoba menjelaskan secara singkat.
" Benarkah Nenek sakit ?, sakit apa?, kenapa kakek tidak memberitahu Ayah kalau Nenek sedang sakit?", tanya Indra pada El.
" El sudah menawarkan untuk menghubungi dokter agar nenek diperiksa, tapi kata nenek kondisinya sekarang sudah lebih baik karena sudah meminum obat persediaan yang ada di rumah, cuma kecapean dan butuh istirahat saja kata nenek Yah...", terang El.
Indra mengangguk paham, " Coba nanti ayah telepon nenek, sekarang ayah ke kamar dulu buat bersihin badan biar bisa main-main sama kalian. Kulit ayah lengket banget. Tadi melakukan sidak ke pengembangan pembangunan hotel yang ada di Jakarta Utara. Di sana panas banget", ujar Indra memberi tahu sambil berjalan menuju kamarnya.
Memang hotel yang ada di Jakarta Utara sedang melakukan renovasi dengan menambah beberapa lantai ke atas. Pasalnya lahan di samping kanan dan kiri sudah tidak bisa di beli, namun karena hotel disana cukup ramai yang menginap dan butuh penambahan kamar, akhirnya pembangunan dilakukan ke atas, alias menambah lantai gedung.
" El ke kamar dulu buat naruh barang-barang ini ya Bu... sama mau mandi juga seperti ayah, nanti El kesini lagi buat main-main sama Arsy".
Dila mengangguk mempersilahkan El untuk ke kamarnya. Sekarang bagi Dila sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
El sudah mengetahui sendiri rahasia tentang dirinya. Dila tidak perlu memberi tahu El, dan akan tetap diam kedepannya. Indra dan kedua orang tuanya juga sama sekali tidak mempermasalahkan tentang El yang bukan darah daging mereka.
__ADS_1
Ketakutan dan rasa khawatir yang sebelumnya Dila rasakan, kini semua telah hilang dengan sendirinya. Tak lagi ada ganjalan di hati Dila.
Kini tinggal melanjutkan hidup seperti biasanya saja, menjadi istri yang baik untuk Indra, menjadi ibu yang baik untuk El dan Arsy. Dan menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan juga mertuanya.
Mungkin inilah buah dari perjuangan yang selama ini Dila lakukan. Berawal dari mimpi ingin menaikkan derajat hidup keluarganya dengan merantau ke kota besar.
Bertemu dengan teman-teman yang sangat baik dan mensuport nya di saat dirinya berada pada titik terendah. Bertemu dengan jodohnya di perantauan. Dan bagaikan buy one get one, Dila juga mendapat bonus seorang putra yang sangat cerdas dan penurut. Kini dirinya sendiri sudah mempunyai seorang putri, belum lagi cita-citanya untuk menjadi seorang guru sudah tercapai. Ditambah bonus lolos seleksi menjadi seorang pegawai negeri sipil.
Dalam hidupnya Dila sudah merasa sangat beruntung, karena Yang Maha Kuasa memberikan semua yang di harapkan nya di masa silam.
Meski semua yang terjadi diluar bayangan dan ekspektasi nya saat muda. Seperti tempat tinggalnya saat ini yang jauh dari rumah orang tuanya, suami yang sejak dulu tak pernah dibayangkan akan menjadi suaminya, karena justru orang yang dibayangkan menjadi suaminya justru kini menjadi saudara iparnya.
Dan kisah hidup yang penuh liku dari awal dirinya nekad melakukan perantauan. Membuat Dila kadang ingin tertawa sendiri jika harus mengingat flash back kehidupannya di masa lalu.
Kehidupan yang sangat berbeda 180° dari kehidupannya saat di kampung. Namun Dila tak memungkiri, kehidupan yang sekarang jauh lebih baik dari kehidupannya dulu saat dikampung. Bahkan Dila tidak perlu menjalani hidup dengan bersusah payah lagi seperti dulu.
Dan kini tinggal menikmati hasil perjuangan hidupnya, berbahagia bersama suami dan anak-anak yang lucu.
" Kenapa senyum-senyum sendiri sayang...?, apa ada yang lucu?", Indra duduk di sebelah Dila dan merangkul Dila sambil mengamati Arsy yang sedang sibuk bermain miniatur hewan-hewan.
" Nggak papa Mas, hanya merasa beruntung saja menjadi istri kamu, makasih ya Mas sudah sabar menantikan aku yang sempat kabur dari rumah ini", Dila menyandarkan kepalanya di pundak Indra.
Indra tersenyum penuh arti, " Justru Mas yang harusnya berterima kasih karena kamu mau menjadi istri Mas, dan Mas juga harus berterimakasih kepada El, karena dirinya
lah dulu kamu jadi mau menerima pinangan Mas".
Dila dan Indra saling menatap dengan penuh kasih. Di belakang mereka El pun tersenyum penuh rasa syukur karena diberi keluarga yang saling menyayangi, bahagia dan penuh kehangatan.
__ADS_1
...Tamat...