
" Dil, semoga saja yang dikatakan ibu warteg dan Abang yang lagi makan tadi bener, se enggak nya kamu beneran jadi baby sitter selama setahun. Dan setelah umur kamu 18 tahun dan cukup untuk mendaftar di PT, kita bisa berjuang bersama-sama lagi". Asri menggelayut di lengan Dila.
Mereka berlima naik angkot dengan nomer sesuai yang tadi disebut ibu pemilik warteg. Benar hanya 10 menit Dila sampai di daerah yang di tuju.
" Neng kita udah sampai nih di daerah yang neng sebut, mau berhenti dimana?", tanya Abang sopir.
" Di depan perumahan Green Village Bang", justru Joko yang menjawab.
Angkot berhenti di depan sebuah pintu gerbang besar, yang di gunakan sebagai gerbang masuk ke perumahan elit.
Sepeninggal angkot itu seorang petugas security yang berjaga di pos penjagaan menghampiri mereka berlima.
" Maaf Tuan-tuan dan Nona-nona, kalau boleh tahu ramai-ramai turun disini, tujuannya mau kemana ya?, apa ada yang bisa kami bantu?".
Dila langsung maju dan mendekat ke security.
" Saya mau numpang tanya Pak, sebenarnya saya ada tawaran kerja di salah satu rumah di perumahan ini, di alamat ini, apa benar ada anak kecil berumur sekitar 3 tahun yang tinggal di alamat ini?".
Petugas security itu melihat Dila dengan tatapan menyelidik.
" Nanya alamat kok pake ajak rombongan segala, kalian ini sebenarnya dari mana?, sekarang banyak modus penculikan dengan bertanya seperti itu, jadi maaf saya tidak bisa membagi informasi tentang penghuni rumah di perumahan ini", ujar security tegas.
" Tapi beneran, kami orang baik-baik, kami tinggal di lingkungan kontrakan yang sama di Cibitung, Bekasi, kami ke sini hanya mengantar teman kami untuk memastikan informasi yang didapatnya betul atau tidak", Asri sedikit sewot pada security tua itu, karena enggan memberikan informasi.
" Kalau begitu coba tunjukkan KTP kalian semua",pinta security.
Asri, Evan, Kunto dan Joko menyerahkan KTP mereka, " mana KTP kamu?", tanya security pada Dila.
" Nggak punya Pak, saya baru hari ini berusia 17 tahun, jadi belum punya KTP". Security itu kembali menatap Dila dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Dila jadi merasa risih dengan tatapannya.
" Kok bisa kalian semua dari daerah yang berbeda-beda?", Security membaca satu persatu alamat yang tertera di KTP mereka berempat.
Kunto maju dan mengajak security itu pergi menjauh, lalu mengobrol berdua dengan security itu agak lama, entah apa yang di obrolkan, tapi security itu mengangguk-angguk terus.
" Kita pulang ke kontrakan sekarang yuk, sudah hampir jam 10, nanti pasti di perjalanan pulang panas banget".
" Aku sudah pengen menikmati semangka yang Evan beli semalam".
Kunto membuat yang lain heran dengan sikapnya.
" Apa yang kamu bicarakan dengan satpam itu?", tanya Evan penasaran.
" Nanti saja kita bahas di kontrakan".
Kunto menghentikan angkot yang lewat dan merekapun naik angkot kembali ke terminal.
Perjalanan pulang menghabiskan waktu selama 2 jam hingga mereka sampai di kontrakan. Cuaca panas karena terik matahari membuat perjalanan terasa lebih lama dibandingkan perjalanan saat berangkat tadi.
__ADS_1
Evan langsung memotong semangka yang semalam dibelinya, mereka berlima duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati semangka dan mangga yang Asri beli.
" Jadi apa yang dikatakan security tua itu sama kamu Kun?", Evan sudah sangat penasaran.
Kunto menelan semangka yang dikunyah nya,
" Security itu bilang di alamat rumah yang Dila tanyakan memang ada anak kecil berusia sekitar 3 tahun, anak itu sangat aktif dan sering berusaha kabur dari rumah untuk mencari ibunya".
" Memangnya ibunya kemana?", tanya Evan penasaran.
" Mana aku tahu, security itu cuma bilang begitu", Kunto melanjutkan menggigit semangka yang ada di tangannya.
" Kata Kak Intan, bapak anak itu duda, karena itulah nyari baby sitter untuk merawat anaknya, kalau kabar ibunya aku nggak tahu, mungkin mereka bercerai dan tinggal berpisah, makanya anaknya kabur-kaburan pengen nyari ibunya", terang Dila.
" Kak Intan juga bilang anak itu aktif banget dan nakal, baby sitter yang mengurusnya kebanyakan pada nyerah, rekor paling lama yang bertahan jadi baby sitter anak itu katanya cuma sebulan".
" Karena itulah, aku sedikit khawatir, semoga anak itu bisa menerima aku menjadi baby sitter nya. Kalau di sana nanti aku nggak bertahan lama, aku akan kembali kesini", ucap Dila, sudah pesimis terlebih dahulu.
" Kenapa kamu nggak optimis begitu Dil, nggak seperti Dila yang biasanya, penuh semangat dan percaya diri, iya kan As?", ucap Evan.
" Iya Dil, semoga saja semuanya lancar, kamu juga harus optimis". Asri menggenggam tangan Dila memberi semangat.
" Bukannya aku pesimis, tapi ini pertama kalinya aku jadi baby sitter anak berumur 3 tahun, apalagi anaknya spesial, dia itu katanya nakal, karena itulah aku sudah khawatir dulu sebelum mencoba".
" Satu hal lagi, aku minta tolong sama kalian semua, kalau nanti aku sudah tidak disini dan ada Pakde ku datang kesini nyari aku, bilang saja aku lagi kerja. Pakde Didit namanya, dia tinggal di Cikarang, baru tahu kemarin aku ada di Cibitung. Setahu Pakde aku kerja di PT, jadi biarlah semua orang tahunya seperti itu".
" Oke Dil, pasti kita bantu kamu kok, kalau cuma melakukan kebohongan kecil seperti itu sih, kita semua sudah sering ngelakuin", ucap Evan enteng.
" Kita...?, lu aja kali Van yang sering ngelakuin kebohongan kecil, aku sih enggak", protes Asri.
" Kenapa sih hidup kamu harus dibikin ribet Dil?, sebelum datang kesini, hidup kamu sudah jalur nyaman loh Dil, semua berjalan di jalan yang lurus. Tapi sejak datang kesini, sepertinya jalan hidup kamu mulai berkelok", ucap Kunto.
Dalam hatinya Dila membenarkan ucapan Kunto, tapi mau bagaimana lagi, sudah sampai di titik ini, jika Dila menyerah, kembali ke kampung dan melanjutkan hidup seperti sebelumnya, itu bisa saja di lakukan sejak awal. Tapi Dila masih harus berjuang untuk mewujudkan cita-citanya. Karena usia 17 tahun itu masih terlalu awal untuk menyerah pada keadaan.
Perjalanan dan perjuangan yang sesungguhnya baru akan di mulai. Dan Dila
berharap dirinya mampu untuk bangkit dan kembali percaya diri seperti Dila yang dulu.
_
_
Minggu adalah hari dimana Dila harus berkemas dan merapikan semua barang bawaannya.
Asri hanya menatap Dila mengemasi barang-barang nya. Karena tidak terlalu banyak barang yang dibawa Dila.
" Maaf ya As, mulai besok kamu tidurnya sendirian, terus bayar kontrakan nya juga sendiri". Dila menghadap Asri usai mengemas barang-barang nya ke dalam tas.
__ADS_1
" Nggak papa Dil, setelah aku kerja, uang tidak lagi menjadi masalah. Aku hanya berharap kita akan bertemu lagi, karena meski hanya seminggu kita tinggal bersama, aku tuh sudah merasa dekat banget sama kamu, seperti sudah menjadi teman dengan waktu yang sangat lama"
" Bukan berarti aku mendoakan kamu agar tidak betah kerja disana ya Dil, aku hanya berharap sesekali kita masih bisa ketemuan meski kita tinggal berjauhan".
Dila mengangguk setuju, " tentu saja, kamu bisa menghubungi nomerku jika kamu rindu, lagian perjalanan dari sini ke rumah tempat kerjaku kan cuma 2 jam, jadi nggak masalah sesekali kita ketemuan saat kita sama-sama tidak sibuk".
Malam pun tiba malam terakhir kebersamaan mereka, Evan kembali mengajak Dila keluar, bukan ke mall atau pasar tradisional seperti kemarin. Tapi Evan mengajak Dila ke pasar malam yang buka hanya sekali tiap minggunya, ya di minggu malam seperti saat ini.
Letak pasar malam tidak terlalu jauh dari kontrakan, Evan, Dila, Asri dan Joko pergi berempat. Kunto memilih tinggal di kamarnya karena mendapat telepon dari pacarnya di kampung.
Entah mengapa ada perasaan kecewa yang Dila rasakan saat Kunto tidak bisa pergi bersama mereka. Karena menurut Dila mungkin ini malam terakhir mereka bisa pergi bersama-sama.
Sampai di pasar malam Dila dan Asri begitu takjub melihat penjual dadakan yang begitu banyak, dan ada berbagai macam barang dagangan yang dijual di pasar malam.
Dila melihat ke lapak jam tangan menemani Asri.
" Dil bagus yang mana?", Asri meminta pendapat Dila untuk memulihkan jam tangan.
" Yang ini saja simpel, tapi elegan dan terkesan mewah", ucap Dila memilih jam yang ada di sebelah kanan.
" Wah ternyata kamu pinter membuat pilihan ya Dil, aku juga mau dibantu memilih", ucap Evan.
" Kamu mau beli jam tangan juga?", tanya Asri.
" Enggak, bukan buat aku, tapi buat seorang cewek", jawab Evan sambil tersipu.
Joko bisa langsung menebak dalam hatinya, jika cewek yang dimaksud Evan adalah Dila.
" Wah... jadi bener kata Mas Kun, kalau kamu lagi PDKT sama cewek?", tebak Dila. Evan mengangguk.
" Ya sudah kalau kamu mau kasih buat cewek yang kamu suka, aku rekomendasi in yang ini saja Van". Dila mengambil jam tangan dengan rantai jam berbentuk love merah saling berhubungan.
" Motif ini cocok banget sebagai ungkapan perasaan kamu ke cewek itu Van, dijamin si cewek langsung sadar kalau kamu tuh suka sama dia, meski kamu nggak mengungkapkan dengan kata-kata", ucap Dila yakin.
Joko tertawa geli mendengar ucapan Dila, " Cewek yang disuka Evan itu kamu Dil, tapi kamu nggak sadar-sadar, malah kamu ngajarin suruh kasih jam bentuk love begitu, sama saja kamu milih jam buat kamu pake sendiri", batin Joko.
Evan pun langsung setuju dengan pendapat Dila dan membeli jam itu, langsung dimasukkan box dan box itu disimpan di sakunya.
" Mau dikasih kapan ke cewek yang kamu suka Van?", goda Joko.
" Nunggu waktu yang tepat, di tempat yang tepat juga dong Jok, kan mau ngasih sesuatu yang mengungkapkan isi hati, jadi harus liat situasi, kondisi dan lokasi yang sesuai", ucap Dila.
Joko lagi-lagi hanya bisa menahan tertawa dengan sikap lugu Dila.
Mereka pun pulang ke kontrakan jam 9 malam, sampai di kontrakan ternyata Kunto masih berteleponan dengan pacarnya di kamar. Lagi-lagi entah perasaan apa yang membuat Dila sedih dan kecewa melihatnya.
Dila memilih pergi ke kamar mandi untuk cuci muka sekaligus wudhu, sholat Isa pasti akan membuat hatinya lebih tenang dan damai. Dila merasa tidak sepantasnya cemburu dengan pacar Kunto, hanya karena Kunto lebih memilih bertelepon dengan pacarnya, ketimbang pergi jalan-jalan ke pasar malam bersama Dila.
__ADS_1
Tidak semestinya Dila kecewa hanya karena hal sepele seperti itu, Dila tahu sejak awal Kunto sudah ada yang punya, begitu juga dengan dirinya, tidak benar jika ada rasa lain yang tumbuh diantara mereka berdua, karena akan ada banyak hati yang tersakiti jika itu terjadi.