
Karena lelah setelah bermain di time zone tadi, sampai di kontrakan Dila langsung tidur usai sholat isa, begitu juga dengan Asri, malam ini mereka berdua tidur dengan begitu nyenyak. Seolah masalah yang Dila hadapi lenyap semua, karena malam ini penuh dengan kebahagiaan.
Tanpa sepengetahuan Dila, ternyata Asri dan ketiga tetangga kamarnya sudah mempersiapkan kejutan pesta ulang tahun kecil-kecilan. Asri dan Evan yang semalam berdua didalam pasar membeli buah semangka dan mangga. Ternyata diam-diam mampir toko kue, dan membeli kue ulang tahun kecil yang dibawa Evan di atas semangka yang semalam dibawanya.
Dan pagi hari sepulang dari mushola bersama Evan dan Kunto, Dila dibuat terkejut saat membuka pintu kamarnya.
" Surprise....!", seru Asri, Evan, Kunto dan Joko bersamaan.
Di hadapan Dila nampak Asri membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 17 diatas kue ulang tahun berbentuk hati yang diatasnya terdapat tulisan 'HBD Karina Nadila'.
Tiba-tiba suara seperti tembakan terdengar dari belakang Dila, ternyata Joko mengarahkan party popper ke arah Dila dan seketika potongan kertas kecil-kecil berhamburan menghujani Dila dan Asri, juga mengenai Evan dan Kunto yang berdiri di belakang Dila, mereka semua bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama-sama.
🎶 Selamat ulang tahun kami ucapkan....
selamat panjang umur kita kan doakan....
selamat sejahtera sehat sentosa....
selamat panjang umur dan bahagia....🎶
Saking terkejutnya Dila sampai spitchles dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata bahagia yang memaksa keluar dan membasahi pipinya.
" Kok malah nangis sih Dil, sekarang ayo buat permohonan dalam hati, lalu di tiup lilinnya". Asri mendekat begitu juga dengan Dila mendekat ke kue yang dibawa Asri dan meniup lilin hingga lilin padam.
" Ye..... sekarang adalah saat yang paling aku suka, yaitu potong kue, kita makan kue bersama-sama", ucapan Joko membuat semua tertawa lepas.
Dila pun memotong kue ulang tahun dan membagikan kue itu. Potongan pertama untuk Asri, dan menyusul yang lain.
" Kadonya nyusul ya nanti, soalnya semalem mau beli takut kemalaman pulangnya", ucap Evan, sambil mendekat ke Dila dan mencolek hidung Dila dengan jarinya yang penuh dengan whipped krim.
Yang lain ikut-ikutan melakukan hal yang sama hingga wajah Dila cemong penuh dengan whipped krim. Perang whipped krim pun berlangsung, kelima anak itu saat ini akhirnya berwajah cemong seperti badut.
Lelah tertawa dan bercanda, mereka duduk di depan kamar sambil membersihkan wajah mereka dengan tisu basah.
Kunto mengeluarkan air mineral untuk mereka minum, dan tawa mereka semua terhenti ketika Intan tiba-tiba muncul dan melewati mereka tanpa menyapa mereka. Intan terlihat sangat lelah karena baru pulang kerja pagi-pagi seperti ini.
Seketika Dila jadi teringat tawaran Intan kemarin, tapi tentu saja Dila akan bicara dengan Intan nanti, saat Intan sudah istirahat terlebih dahulu.
" Apa nanti kita jadi nemenin Dila nyari alamat rumah calon majikannya ke Jakarta?", Joko berbicara lirih, takut suaranya terdengar oleh Intan.
" Tentu saja jadi, tapi setelah Dila bicara sama tetangganya dulu", ujar Evan yang juga berkata lirih.
" Sekarang kita sudahi dulu saja acara pagi ini, sudah mulai terang, kita mandi dan bersiap-siap untuk menemani Dila nanti".
Kelima anak itu membubarkan diri, bersiap-siap untuk mandi.
Asri langsung menuju kamar mandi, sedangkan Dila memilih untuk menemui Intan terlebih dahulu.
" Kak Intan ini Dila, bolehkah Dila masuk?".
Tak lama kemudian pintu kamar Intan terbuka.
" Masuk Dil", Dila pun masuk ke dalam kamar Intan, dan intan menutup kembali kamarnya.
__ADS_1
Dila menatap kamar intan yang ternyata cukup luas, ukurannya dua kali ukuran kamar Dila, sekitar 4x3 meter, ada spring bed, lemari dua pintu, kulkas kecil dan kamar mandi kecil di dalam. Ada televisi yang menempel di tembok depan ranjang.
" Ternyata kamar kak Intan cukup luas ya, pantesan betah berhari-hari dikamar".
Intan tersenyum mendengar ucapan Dila.
" Bukannya aku betah di kamar, hanya saja kalau pulang kerja sudah capek banget rasanya tenaga habis, jadi malas keluar kamar".
" Aku mau sarapan, tadi beli lontong sama tahu isi di jalan, kamu mau?, kalau mau ambil saja".
"Tapi sepertinya tadi kalian sudah makan cake bersama-sama ya?".
Dila mengangguk mengiyakan ucapan Intan.
" Teman-teman membuat pesta kejutan untuk ku, hari ini aku ulang tahun yang ke 17 kak".
Intan menatap tak percaya, " benarkah?, kalau begitu selamat ulang tahun ya Dil".
" Aduh... aku nggak tahu, jadi nggak nyiapin kado apa-apa".
Intan berdiri dan tatapan matanya menyusuri isi kamarnya, seperti sedang mencari sesuatu, lalu dengan senyum merekah Intan mengambil sepasang anting miliknya. Anting berbentuk bunga dengan permata di tengahnya.
" Ini saja, kado buat kamu, sepertinya cocok kalau kamu pakai, maaf nggak baru, sudah pernah aku pakai sekali tapi juga nggak ada yang paham dan melihat aku pernah pakai itu. Kamu kan belum pakai anting, kalau pakai ini pasti tambah cantik". Intan memakaikan anting miliknya di telinga Dila.
" Benar kan, kamu terlihat semakin cantik, pasti akan banyak pemuda yang jatuh hati pada gadis cantik seperti kamu". Intan tersenyum puas karena anting miliknya sangat cantik dipakai oleh Dila.
" Tapi ini berlebihan kak, aku lepas lagi saja ya, kado ini terlalu mahal untukku, kita berdua kan baru kenal", Dila tetap merasa tidak enak dengan kado mahal dari Intan, sepasang anting emas yang sangat cantik.
" Sebenarnya itu juga pemberian orang, sudah lama sekali, dan aku lupa dari siapa, kamu pakai saja, aku nggak beli sendiri kok, dan aku ikhlas ngasihnya ke kamu".
" Oh iya, kamu kesini mau kasih jawaban dari tawaran aku kemarin itu ya?, gimana kamu mau kan?". Intan duduk di kasur spring bed dan menarik Intan untuk duduk disampingnya.
" Iya Kak, aku mau, tapi sebelum mulai bekerja, apa boleh aku minta alamat rumah tempat kerjaku dulu Kak?", Dila berusaha mengatur kalimatnya agar Intan tidak tersinggung.
" Iya, nanti aku kirimkan alamatnya ke kamu, lewat pesan singkat. Jadi kapan kamu bisa mulai kerja?, biar aku sampaikan sama kenalan aku, kalau kamu mau nerima tawaran jadi baby sitter anak temannya".
" Kalau besok mulai kerjanya, gimana Dil?".
Dila langsung menggelengkan kepalanya, karena dia belum mengecek rumah tempatnya bekerja.
" Kalau hari Senin gimana Kak?, besok aku ada janji sama teman-teman soalnya", terpaksa Dila berbohong untuk mencari alasan.
" Ya sudah, biar aku sampaikan ke kenalanku dulu ya".
Dila mengangguk.
" Kalau begitu saya pamit dulu Kak, hari ini diajak jalan-jalan sama teman-teman. Sekali lagi terimakasih banyak Kak Intan".
Dila keluar dari kamar Intan dan langsung di hadang oleh ke empat temannya.
" Sudah dikirimkan alamatnya, aku mandi dulu, habis ini kita langsung cari alamat rumah yang akan jadi tempat kerjaku", bisik Dila, yang lain mengangguk setuju.
Namun Evan dan Kunto melihat Dila dengan tatapan aneh. Seperti ada sesuatu yang beda dari Dila, yang jelas Dila terlihat semakin cantik saat keluar dari kamar Intan, entah apa yang beda, mereka berdua belum menyadarinya.
__ADS_1
Pukul 7 pagi, semua sudah siap untuk memulai perjalanan menuju Jakarta. Pertama-tama mereka berlima menaiki bus yang menuju terminal pulau gadung.
Bis pintu dua yang sudah membawa penumpang cukup banyak, mereka berlima harus duduk berpencar karena mencari bangku yang masih kosong.
Dila duduk berdua dengan Asri. Evan duduk di bangku seberang bersama orang asing, Kunto dan Joko duduk agak jauh, dua bangku di belakang Dila.
" Neng cantik mau kemana?" tanya kernet bus.
" Ke Pulo gadung Bang", jawab Dila.
" Bayar ongkosnya 6.500 per kepala".
Dila langsung mengambil uang dari saku celananya dan membayar ongkos untuknya dan Asri.
" Nanti pulangnya gantian aku yang bayar", bisik Asri.
Dila hanya tersenyum menanggapi ucapan Asri, Dila baru pernah akan pergi ke Jakarta. Dan ini perjalanan pertamanya dengan teman-teman barunya.
Ternyata perjalanan dari Cibitung ke Pulo gadung cukup lama, Dila sampai tertidur saat di dalam bus. Belum lagi kemacetan yang terjadi di beberapa titik, membuat perjalanan semakin lama.
Hinga akhirnya mereka sampai di Pulo gadung sekitar jam 9 pagi, hampir 2 jam perjalanan.
Dila dan Asri turun dari bus, begitu juga dengan yang lain.
" Habis ini kita langsung menuju ke alamat yang dikirimkan oleh Intan. Tapi sebelumnya kita nyari sarapan dulu ya, tadi pagi cuma makan cake, jam segini perut mulai protes nih", rengek Joko.
Akhirnya mereka berlima masuk ke warteg yang ada di sekitaran terminal. Di dalam warteg Dila sengaja bertanya-tanya pada pemilik warteg tentang alamat yang sedang di carinya itu.
" Maaf Bu, apa ibu sudah lama jualan disini?", tanya Dila berbasa-basi.
" Sudah 7 tahun Mbak, mbaknya orang Jawa juga ya?, logatnya agak mirip sama saya", ucap si pemilik warteg.
" Iya Bu, saya asli Jawa, lagi nyari alamat nih Bu, kalau mau ke alamat ini, naiknya angkutan yang mana ya Bu?, ibu tahu nggak?".
Pemilik warteg membaca alamat yang Dila tunjukkan. " Oh, kalau ini sih nggak jauh-jauh amat dari sini, mbak nya tinggal naik angkot merah pilih yang 'kw 15', itu bakal lewatin daerah sini, paling cuma 10 menitan sudah sampai".
" Tapi angkotnya cuma lewat saja, nggak bakal masuk ke perumahannya sih Mbak, ini kan perumahan elit, jadi biasanya hanya pemilik rumah dan kerabat atau tamu yang diperbolehkan masuk ke komplek perumahan itu".
Asri yang mendengar jawaban pemilik warteg langsung menyenggol lengan Dila.
" Maaf Bu, kalau boleh tahu, ini komplek perumahan elit dan isinya rumah pribadi kan Bu?, bukan tempat semacam hotel, motel atau penginapan begitu?", tanya Dila berusaha meyakinkan diri.
" Tentu saja bukan Mbak, disana akses masuknya saja terbatas, wong perumahan orang-orang kaya, yang biaya keamanannya saja mahal, nggak sembarangan orang bisa masuk".
Jawaban pemilik warteg bisa terdengar oleh Dila dan yang lain.
Salah satu pembeli di warteg ikut angkat bicara. "Neng, kalau lu jadi pembantu di sono, neng nya beruntung, soalnya disono orang-orang berduit semua, rumah gedong gede, tapi kebanyakan pemiliknya sibuk dengan kerjaan, rumah cuma jadi tempat istirahat aja. Soalnya gua denger dari tetangga yang bini nya kerja di sono nyuci sama nyetrika, sehari itu dibayar cepe, mana baju yang dicuci katanya masih bersih dan masih wangi, kan seneng banget kalo kerja di sono".
Dila mengangguk, " Makasih informasinya Bang".
" Bu kita sudah makannya, semua jadi berapa?".
Dila menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
__ADS_1
" Ini kembalinya Mbak, kalau jadi kerja di sana, sering-sering mampir kalau lewat sini".
Dila menerima kembalian sambil mengucapkan terima kasih.