Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 41


__ADS_3

Dila tertidur di samping El saat pikirannya tengah menimbang-nimbang hendak bagaimana dia memberi tahu kepada Nino ataupun Kunto tentang statusnya sekarang. Bukan maksud Dila untuk menjadi gadis jahat yang melukai hati laki-laki baik yang dengan tulus mencintainya.


Tengah malam Dila terbangun dari tidurnya, Dila beranjak dari kasur, mengambil air wudhu, bersujud dan bersimpuh pada Yang Maha Kuasa agar diberikan pertolongan untuk tidak menyakiti hati siapapun.


" Entah sekenario apa yang Engka tuliskan untuk ku ya Allah, insyaallah aku ikhlas menjalaninya, tapi tolong..., jangan biarkan ada hati yang tersakiti karena jalan yang ku pilih ini".


Dila menangis ditengah doa yang dia panjatkan. Memang Dila gadis baik yang tidak ingin menyakiti hati orang lain. Saat Dila selesai berdoa El terbangun karena seperti mendengar suara isak tangis seseorang didekatnya.


" Ibu Dila kok nangis, apa Bu Dila sakit?", El turun dari tempat tidur, dengan polosnya El menempelkan telapak tangannya di kening Dila, mengikuti kebiasaan Dila yang melakukan hal seperti itu jika El sakit, untuk menetahui suhu tubuh.


" Nggak sakit kok sayang, Ibu sangat sehat, tadi cuma lagi meminta sama Allah biar doa ibu dikabulkan", jawab Dila.


" Memangnya ibu minta apa sama Allah?, kan El sudah jadi anak baik, ayah juga sudah nggak pelnah malah-malah lagi sama ibu".


Dila tersenyum mendengar ucapan El. " Ibu meminta sesuatu hal yang lain, kalau ibu cerita sekarang, El pasti belum paham. Tunggu El sudah besar, baru ibu bisa cerita", Dila mengecup kening El dan mengajaknya kembali ke ranjang setelah melipat mukenanya.


Tanpa Dila sadari sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka.


" Kita tidur lagi yuk?, kan masih gelap, El bisa ngantuk di Bimba besok kalau jam segini El sudah bangun", ujar Dila.


" Tapi El mau mimi susu dulu Bu Dila, El lapel".


Dila mengangguk dan menggendong El untuk ikut ke dapur membuat susu, El tidak mau ditinggal di kamarnya sendirian karena takut masih gelap katanya.


" Loh masih larut malam kok El malah bangun, apa mau makan malam?, pasti lapar karena tadi nggak makan malam ya?".


El mengangguk saat ditanya bi Darsih yang juga terbangun karena mau ke kamar mandi.


" El minta bikin susu Bi, tapi biar saya yang buatin, bibi tidur lagi saja".


Setelah susu rasa coklat itu habis diminum oleh El, Dila dan El kembali ke kamarnya. Dila melirik sepintas ke kamar Indra, lampunya padam, jadi dimana Indra tengah malam seperti ini. Indra biasanya tetap menyalakan lampu jika tidur, tapi kamarnya kali ini gelap.


Dila menatap ruang kerja di lantai 2 yang ternyata menyala terang, terlihat dari sorot lampu yang keluar dari fentilasi pintu.


" Dia kan sedang sakit, kenapa jam segini malah masih di ruang kerja ?", pikir Dila.


El kembali tidur setelah diusap-usap punggungnya oleh Dila. Karena penasaran Dila akhirnya pergi ke ruang kerja Indra di lantai dua. Dila langsung masuk keruang kerja setelah mengetuk pintu.


Benar Indra ada disana sedang duduk menyandar di kursi kerjanya.

__ADS_1


" Kenapa belum tidur?, Mas kan harus istirahat biar cepat pulih, dan panasnya segera turun", Dila kembali menempelkan tangannya dikening Indra.


" Aku sudah mendingan", Indra menggenggam tangan Dila yang sedang mengecek panas tubuhnya, " aku juga sudah tidur, baru bangun tadi pas kamu lagi sholat. Apa El sudah tidur lagi?".


Dila mengangguk sambil menarik tangannya, " Dia tadi terbangun karena lapar, minta dibuatkan susu", jawab Dila.


Indra mengangguk mengerti.


" Dil, apa permintaanku sama kamu tadi terlalu memberatkan mu ?, apa kamu sangat mencintai laki-laki yang berjanji akan menikahi mu itu?".


Dila sendiri tidak tahu dengan perasaannya saat ini, yang Dila tahu dia tidak ingin menyakiti siapapun.


" Aku tidak tahu... selama ini perasaanku biasa-biasa saja, mungkin aku belum pernah benar-benar menyukai seseorang. Dan belum pernah juga membenci seseorang, baru sama kamu Mas, aku sangat membenci kamu karena kamu sudah menyakitiku, menyakiti hati, pikiran, dan juga tubuhku", ujar Dila dengan suara gemetar.


" Maafkan aku Dil, padahal kamu adalah orang yang aku sayangi, tapi justru aku menyakitimu. Apa kamu ingin menghukum ku sebagai balasan atas kesalahan yang sudah aku lakukan?".


" Dengan senang hati aku akan melakukan hukuman itu, asal kamu tetap bersamaku, menjadi istriku dan menjadi ibunya El".


Dila diam dan tak menjawab, karena tiba-tiba saja perutnya terasa sakit, seperti kram.


" Aku ke kamar mandi dulu Mas". Dila berlari kebawah menuruni tangga dengan cepat, padahal di ruang kerja Indra ada kamar mandinya, tapi Dila malah berlari ke kamar Indra.


Dila langsung buru-buru keluar kamar mandi dan mengambil celana dan pembalut dari dalam tasnya.


" Kamu kenapa Dil?, apa mau ke rumah sakit?", Indra begitu khawatir melihat Dila yang tadi buru-buru lari kebawah karena perutnya kram.


Dila tersenyum, " Nggak papa Mas, semua aman terkendali", jawab Dila dengan wajah sumringah.


Indra bingung melihat raut wajah Dila yang berubah secara drastis.


Dila keluar dari kamar mandi setelah berganti celana.


" Kamu terlihat sangat senang, kenapa Dil?, bukannya tadi kamu bilang perutmu kram?".


Dila kembali tersenyum, " Aku datang bulan Mas, itu berarti, kesalahan yang kita lakukan malam itu tidak membuatku hamil. Alhamdulillah, aku tidak mengandung anak hasil hubungan tak halal".


Mendengar ucapan Dila justru membuat Indra terlihat kecewa dan takut, " jika Dila tidak hamil, berarti hanya 6 bulan waktu untukku menjadi suaminya, tidak... aku tidak mau, aku tidak mau hubungan ini berakhir", batin Indra.


" Kenapa kamu seperti tidak senang Mas?, apa kamu berharap aku hamil karena kesalahan malam itu?", tanya Dila menyelidik.

__ADS_1


" Tidak, bukan begitu, aku juga senang karena kamu tidak hamil, akibat kesalahan yang ku perbuat. Hanya saja aku berharap keinginan kamu untuk berpisah dariku setelah 6 bulan pernikahan, karena kamu tidak hamil, itu bisa kamu rubah".


" Aku tidak ada keniatan untuk melepaskanmu Dil, aku ingin pernikahan kita untuk selamanya", lagi-lagi Indra mengatakan hal yang sama.


Dila menatap Indra lekat.


" Berusahalah membuatku jatuh cinta sama kamu Mas, aku sudah bisa sedikit memaafkan kamu karena aku tidak hamil. Rasa benciku sama kamu sudah sedikit berkurang. Tapi aku juga belum sepenuhnya memaafkan kamu".


" Karena sebenarnya aku juga ingin menjadi ibunya El hingga akhir hayat ku", ucap Dila sambil berlalu, keluar dari kamar Indra menuju kamar El untuk kembali tidur.


Kalimat terakhir Dila memberikan secercah harapan untuk Indra, Indra pun akhirnya bisa tersenyum lega.


" Aku harus cari cara bagaimana menaklukkan hati seorang gadis, aku harus bisa membuat istriku jatuh cinta padaku, bantu aku ya Allah".


Indra langsung menyalakan laptop yang ada di kamar, sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, Indra melakukan browsing di internet tentang cara menaklukkan hati wanita.


" Wah, banyak sekali cara yang bisa dilakukan, mau pakai yang mana ya?, tapi untuk gadis seperti Dila, cara mana yang paling cocok", Indra membaca satu persatu cara jitu menaklukkan hati wanita.


" Memberikannya hadiah yang disukainya..., tapi apa yang disukai Dila?".


" Begitu banyak barang-barang yang belum Dila miliki. Tas, sepatu, baju bagus, perhiasan, Dila belum memiliki semua itu, bahkan saat menikah kemarin aku tak memberinya apa-apa, karena acara yang mendadak dan tanpa persiapan, hanya cincin pernikahan yang Dila terima dari ibu, sebagai tanda pengikat saat pertemuan keluarga waktu itu".


" Baiklah untuk meringkas semua itu, hanya ada satu hal yang perlu aku berikan".Indra mengambil kartu sakti miliknya, kartu berwarna hitam, yang bisa digunakan untuk belanja apapun tanpa batas limit.


" Ini dia, aku harus memberikan ini pada Dila besok, pasti Dila akan sangat senang", pikir Indra.


Dan keesokan harinya, usai sarapan, Indra langsung memberikan kartu sakti itu pada Dila.


" Ini bisa kamu pakai untuk belanja apapun yang kamu mau, kalau mau ambil uang cash juga bisa ke ATM. Sekarang kamu sudah jadi istriku, tapi selama ini aku belum memberi nafkah untukmu. Tolong din terima ya Dil, karena ini sudah jadi hak kamu, dan juga kewajiban aku".


Dila menatap kartu yang sedang Indra berikan kepadanya. Dila bukan gadis bodoh yang tidak tahu kartu apa itu, karena sudah beberapa kali Dila menemani Indra belanja keperluan El, dan membayarnya memakai kartu yang sama seperti itu.


" Apa Indra benar-benar sudah menganggap aku menjadi istrinya. Dia memberikan kartu tanpa batas limit itu kepadaku, apa aku harus menerimanya?, tapi untuk apa?, aku makan dan tidur juga disini, aku tidak butuh kartu itu", batin Dila.


" Sudah diterima saja, jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan untuk belanja seperti saat membeli hadiah untuk keponakan baru kita di Malaysia, kamu bisa pakai ini, jika kamu ingin belanja kebutuhan pribadimu, beli tas, baju, perhiasan atau apapun yang kamu inginkan, pakai saja kartu ini".


Indra menyerahkan kartu itu dan menggenggamkan nya di tangan Dila.


" Pin nya tanggal lahir El, kamu hafal kan?".

__ADS_1


Dila mengangguk masih dengan ekspresi tidak percaya. " Apa aku sekarang sudah menjadi istri orang kaya?", Dila masih merasa tidak percaya dalam hatinya, seperti mimpi.


__ADS_2