Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 55


__ADS_3

Dila yang mengetahui jika Indra mengejarnya langsung naik tangga menuju ke atas, berniat masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Kepanikan Dila saat melihat Indra secara tiba-tiba membuat otaknya berpikiran sempit. Dila memang belum siap bertemu dengan Indra, Dila tahu bahwa dia pergi tanpa pamit, bisa dibilang dirinya minggat.


Dila takut Indra akan memarahinya dan menuntutnya. Karena memang kesalahannya pergi dari rumah tanpa berpamitan. Mengakhiri hubungan mereka tanpa meminta persetujuan. Dila berjalan begitu cepat naik ke lantai atas, Indra melangkah lebih cepat dari langkah Dila, kedua pegawai Dila bahkan sampai bingung melihat sikap bosnya. Dan terus menatap Indra yang berlari mengejar Dila.


" Siapa laki-laki itu?, sepertinya baru pernah datang kemari, aku kira tadi dia pembeli biasa, tapi kenapa Dila langsung lari saat melihat Dia?", tanya Hana, karyawan pertama.


" Apa mungkin Dila punya utang sama laki-laki itu, tapi masa iya, Dila kan gadis muda yang sukses, atau mungkin Dila pernah bikin salah di masa lalu, kok bisa Dila langsung lari begitu melihat wajah laki-laki itu", kali ini Mia, karyawan kedua ikut mengira-ngira.


Sampai di lantai atas Dila langsung masuk ke kamarnya dan hendak menutup pintu kamarnya, namun tangan Indra lebih cepat bergerak dan mendorong pintu kamar Dila membuat Dila terjerembab ke belakang jatuh ke lantai kamar.


" Aw.....!", Dila kesakitan karena pinggangnya membentur lantai. Indra masuk dan berniat membantu Dila berdiri, tapi Dila menolak.


" Aku bisa sendiri", ucap Dila sambil berdiri dan duduk di tepian ranjang.


" Kenapa kamu pakai lari segala sih Dil, kan jadi jatuh begini", Indra ikut duduk di tepian kasur tempat tidur Dila setelah menutup dan mengunci pintu kamar Dila.


" Ngapain sih Mas Indra ikut masuk, aku nggak mau ketemu sama Mas lagi", ucap Dila masih memegangi pinggangnya yang sakit.


Indra yang sejak tadi terus menatap Dila tetap diam tak berkata-kata, justru Indra tiba-tiba mencium bibir Dila, sambil memeluk Dila erat, Dila berusaha memberontak, tapi tidak Indra biarkan. Indra terus mencium Dila, semakin lama semakin dalam, hingga Dila hampir kehabisan nafas.


" Aku sangat merindukan kamu Dil, kamu adalah istriku, aku tidak pernah menceraikan kamu selama ini, aku mencintaimu Dil".


Indra merengkuh kembali tubuh Dila, menarik tubuh Dila ke ranjang, dan kembali ******* bibir Dila dengan begitu semangat. Rasanya kerinduan yang ditahan selama 2 tahun ditumpahkan saat itu juga.


Dila yang baru tahu jika selama ini dirinya masih menjadi istri sah Indra, merasa senang sekaligus sedih, entah apa yang dirasakan Dila saat ini, semuanya bercampur aduk menjadi satu.


Sentuhan Indra di tubuhnya membuat sekujur tubuh Dila me remang. Dila juga merindukan sentuhan itu, bahkan meski sudah 2 tahun lamanya mereka tak bersama, Dila tidak bisa melupakan bagaimana Indra begitu sabar menahan keinginannya karena trauma yang Dila rasakan.


Dila yang sejak awal berusaha melawan akhirnya pasrah, toh Indra mengatakan dirinya masih istri sahnya, jadi apa yang mereka lakukan bukanlah dosa, justru kepergian Dila selama ini lah yang salah, dia tidak bisa jadi istri dan ibu yang baik.


Indra terus melakukan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh Dila, ciumannya juga mendarat di hampir semua bagian tubuh Dila, membuat tubuh Dila sampai bergetar hebat. Kenikmatan yang sudah sangat lama tidak dirasakannya, hari ini bisa dirasakannya kembali.


" Apa kamu masih marah sama aku, kamu begitu cemburu melihat aku di kasur yang sama dengan Tania dan tidak memakai apapun ?".


" Bahkan sampai kamu pergi meninggalkan aku dan El, suami dan anakmu sampai dua tahun lamanya. Aku sampai stres harus mencari kemana kamu pergi Dil".


" Seharusnya kamu tanya dulu, apa yang sebenarnya terjadi malam itu, aku bersumpah tidak pernah melakukan apapun pada Tania, dia menjebak aku Dil, memasukkan obat tidur di minumanku, tanpa sepengetahuan ku".

__ADS_1


" Bahkan aku tidak sedang bersama Tania saat itu, yang aku tahu aku sedang ngobrol santai bersama salah satu klien di kafe usai meeting. Tapi tiba-tiba aku merasa pusing dan tak sadarkan diri. Cerita selanjutnya seperti yang kamu lihat, Tania membawaku ke kamar hotel dan melucuti semua pakaian ku, bahkan saat itu aku juga sudah tidak tahu apa-apa, aku bersumpah Dil".


" Aku hanya mencintai kamu, dan hanya menginginkan kamu, bahkan aku rela harus menunggu kamu bisa menerima aku sepenuhnya. Aku rela menahan keinginanku hingga saat ini, aku bisa menahannya Dil".


Dila tahu, dan bisa merasakan jika Indra sudah 'turn on', karena saat ini Indra memeluknya dengan sangat erat. Bahkan Indra sudah berhasil membuatnya mencapai puncak kenikmatan hanya dengan sentuhan lembut dan ciuman di sekujur tubuhnya. Dila sadar ini tidak adil.


Tapi saat tadi Indra menyentuhnya lagi, Dila tidak merasa takut dan mengingat malam kelam itu, apa waktu sudah mengobati trauma yang Dila rasakan?.


" Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu Mas, kamu butuh seseorang yang bisa membuatmu bahagia lahir dan batin. Aku merasa aku tidak bisa, sudah berulang kali kita mencoba, tapi selalu saja tidak bisa berhasil hingga akhir" ujar Dila jujur.


" Nggak papa Dil, aku tidak masalah dengan hal itu, aku bukan hanya membutuhkan kamu sebagai teman ranjang, tapi sebagai pertner hidup hingga tua nanti", ujar Indra.


" Kamu disini, El sama siapa Mas?", Dila menatap Indra lekat.


" Kamu memang ibunya El, bahkan saat seperti ini yang kamu pikirkan adalah putramu".


" El melihat fotomu di portal berita online, dia langsung merengek meminta untuk datang kemari dan menjemputmu pulang. Aku berjanji akan mempertemukan kamu dengannya di akhir pekan. Tapi aku sendiri sudah tidak bisa fokus bekerja saat tahu kamu tinggal disini, aku hanya ingin datang dan bertemu dengan kamu, aku sangat sangat sangat rindu sama kamu Dil", lagi-lagi Indra mempererat pelukannya.


" Mas kamu membuat aku tak bisa bernafas. Junior kamu juga sudah bangun, jangan di tekan-tekan seperti itu, aku sakit", ujar Dila.


" Bolehkah aku mencobanya kali ini Dil?, aku akan berhenti kalau memang kamu masih tidak bisa melanjutkan, tapi aku ingin mencobanya lagi kali ini, siapa tahu trauma kamu sembuh setelah sekian lama kita tidak saling bertemu", Indra terus merayu Dila agar diperbolehkan melanjutkan aksinya.


Dan ketukan kamar Dila membuat suasana penuh kerinduan itu harus berakhir, karyawan Dila mengatakan jika semua makanan sudah terjual habis dan hendak menutup toko.


" Iya mba, tutup saja, nanti saya turun ikut beres-beres!", teriak Dila dari dalam kamarnya.


" Maaf Mas, aku mau bantu beres-beres dulu di bawah, kalau kamu masih capek, tidur saja dulu disini, biar aku turun".


Dila pun keluar dari kamarnya, tak lupa merapikan rambut dan pakaiannya terlebih dahulu sebelum keluar kamarnya.


" Maaf Dil, apa laki-laki tadi masuk kamar kamu?", tanya Hana.


Dila mengangguk, " Aku mau kasih tahu satu hal pada kalian berdua, tapi ini rahasia", ujar Dila, Hana dan Mia langsung mendekat karena suara Dila yang lirih seperti berbisik.


" Dia suamiku ", ujar Dila pelan.


Hana dan Mia langsung melotot tak percaya, selama ini Hana dan Mia tahunya jika Dila masih sendiri, apalagi selama ini memang Dila tidak pernah membahas atau menyebut tentang suaminya itu.


" Kapan kalian menikah?, bukannya umurmu baru 20 tahun?, dan kamu juga masih kuliah?", kini Mia semakin penasaran.

__ADS_1


" Kami menikah dua setengah tahun yang lalu, di Jakarta, dan kalau kalian tidak percaya, akan ku tunjukkan foto pernikahan dan juga buku nikah kami yang ada di galeri ponselku", tiba-tiba Indra turun dan menjawab pertanyaan kedua karyawan Dila, dan menunjukkan foto pernikahan serta buku nikah mereka berdua.


" Wah... jadi Dila itu menikah muda, kok bisa kalian tinggal sendiri-sendiri...".


Hana langsung membekap mulut Mia karena terus bertanya, kepo dan penasaran dengan kehidupan pribadi Dila.


" Maaf Dil, Mia memang suka begitu, rasa penasarannya berlebihan, ya sudah karena sudah selesai, kami berdua pamit pulang dulu ya Dil", Hana langsung menyeret Mia keluar dari toko.


" Kamu itu, tahu suami istri sudah lama nggak ketemu mau kangen-kangenan malah nanya mulu, nggak peka banget jadi orang...." Hana terus menyeret Mia keluar sambil ngomel sepanjang jalan.


Namun justru perkataan Hana membuat Dila merasa malu. Benar pasti Indra sangat merindukannya, sudah dua tahun mereka tak bertemu.


Dila menutup tokonya secara keseluruhan, tak lupa mengunci pintu besi dan kembali masuk ke dalam. Indra masih terus menatapnya sambil berdiri di samping tangga.


" Jangan menatapku seperti itu Mas". Dila merasa malu dan salah tingkah karena sejak tadi Indra terus menatapnya.


" Baru jam 8, tapi toko kamu sudah tutup, wah ini sih rejeki buat aku yang datang kesini jauh-jauh, sebagai seorang istri yang baik, kamu seharusnya menjamuku dengan jamuan yang special, tadi aku belum makan nasi cup nya, tapi malah sudah diberesin sama karyawan kamu, sekarang aku lapar", ujar Indra.


Dila menuju dapur dan melihat persediaan bahan makanannya, " Cuma tinggal bumbu-bumbu, aku jarang masak sih Mas, tiap hari masaknya ayam suwir sama sambelnya, adanya ini, aku masakin mie instan mau?", tanya Dila sambil menunjuk mie instan di dalam lemari.


" Meski cuma mie instan, tapi kalau kamu yang masak pasti jadi spesial", gombal Indra.


Dila menyalakan kompor dan merebus air, kemudian memotong sayuran sebagai campuran mie rebus. Dila begitu kaget ketika tiba-tiba Indra memeluknya dari belakang sambil mengecup tengkuknya, sekujur tubuh Dila langsung merinding.


" Hentikan Mas, aku lagi masak dulu, itu airnya sudah mendidih, biar aku masukkan telor sama sayurnya", Dila menggeser posisinya mendekati panci, memasukkan telor, sayur dan juga mie instan. Indra masih tetap memeluk Dila sambil ikut bergeser.


" Kamu jangan seperti ini dong Mas, aku jadi susah masaknya", Dila membalikkan badan, namun justru Indra langsung ******* bibir Dila membuat Dila begitu kaget. Dila pelan mendorong tubuh Indra.


" Mas aku masak dulu, kamu duduk di sana, kita makan bersama, stelah makan, aku pesankan mobil online buat anter kamu ke bandara, El pasti nungguin kamu pulang".


Dila mendorong Indra agar duduk di kursi. Mematikan kompor dan menuang mie yang sudah matang ke mangkok yang sudah dituang bumbu.


" Kita makan sekarang", ujar Dila.


" Aku nggak mau pulang malam ini, biar aku telepon ibu mengatakan aku tidur di kantor, beberapa hari yang lalu El juga aku tinggal tidur di kantor saat pekerjaan menumpuk, dan El setuju, dia baik-baik saja bersama neneknya, sekarang El sudah jadi anak yang nurut", ujar Indra.


" Maksud kamu, kamu mau tidur disini Mas?", tanya Dila meminta penjelasan.


Indra langsung mengangguk cepat, " kan yang tadi bersambung, aku rasa kali ini kamu bisa menerimaku Dil, tadi aku bisa merasakan tubuhmu menerima setiap sentuhan ku", jawab Indra dengan jujur, justru kini Dila yang malu, hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


__ADS_2