Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 47


__ADS_3

Usai makan siang, Dila mengajak El untuk berjalan-jalan menuju jembatan yang menjorok ketengah pantai. Di sana Dila sengaja mengambil banyak foto dirinya bersama El. Spot nya sungguh luar biasa untuk ber foto.



Dila yang memakai baju atasan putih panjang, bentuk kerah kotak dan ujung lengan berkerut, dengan bawahan rok hitam polkadot selutut terlihat sangat cantik siang itu. Indra sampai begitu terpesona dengan gaya feminim Dila, diam-diam Indra mengambil banyak foto anak dan istrinya itu.


" Ayah kemali sebental, sini kita foto baleng-baleng", El meminta tolong pada orang yang sedang lewat untuk mengambil gambar mereka bertiga, dengan beberapa kali gaya.


Indra sangat bersyukur putranya begitu cerdas dan pengertian, sejak tadi Indra juga ingin berfoto dengan mereka, tapi Dila seolah tidak menginginkan hal yang sama, karena tidak mengajaknya ber foto juga.


" Makasih Tante baik", ucap El pada perempuan yang tadi dimintai tolong untuk mengambil gambar mereka bertiga.


El menerima ponsel dari perempuan yang dimintai tolong tadi, dan mengambil foto Ayah dan ibunya dari jarak agak jauh, tanpa sepengetahuan siapapun.


Foto pertama saat Indra menatap Dila sedangkan Dila menatap ke pantai lepas, rambut Dila berterbangan mengenai wajah Indra yang menatapnya dengan penuh cinta, dan foto kedua saat Dila melambai menyuruh El untuk mendekat, dan ayah Indra juga ikut melambaikan tangan.


" Ini ponsel ayah, jangan ada yang dihapus loh, nanti El mau cetak semua foto itu", ucap El.


" Oke sayang, sekarang matahari semakin tinggi, rasanya panas banget berdiri disini, sudah jam 2 siang, bagaimana kalau kita pulang sekarang?, kan El belum bobo siang", ujar Indra.


Dila mengangguk setuju. Namun El justru tidak mau pulang, El masih betah berada di pantai. Akhirnya mereka bertiga hanya menepi, duduk di kursi sambil berteduh dibawah payung besar yang menyatu dengan meja yang ada ditengah-tengah.


" Ayah bilang mau beliin El es klim, El mau sekalang", ucap El.


Indra sampai lupa tadi tidak memesan es krim saat di restoran, saking salting karena Dila sebentar-sebentar melirik ke arahnya dengan tatapan yang membuatnya serba salah.


" Baiklah, ayah ke minimarket dulu sebentar, kalian tetap disini ya, jangan kemana-mana".


Indra berlarian menuju minimarket terdekat, saat Dila sedang asyik ngobrol berdua dengan El, suara yang sedikit familiar menyapa Dila.


" Dila...!".


Dila menengok ke arah suara.


" Bu Titin !", Dila langsung berdiri dan menyalami Bu Titin dengan senyum yang mengembang. " Apa kabar Bu?, ayo duduk dulu sini, lagi panas banget, berteduh disini biar nggak kepanasan", Dila menyuruh Bu Titin untuk duduk disampingnya.


Bu Titin menyetandar sepedanya dan menuruti ajakan Dila.


" Ibu tentu saja baik, apa ini putramu?, wah ganteng sekali, pasti bapaknya juga ganteng ya?", goda Bu Titin, sambil mengelus pipi El, namun El reflek mundur, tidak membiarkan pipinya di sentuh, bahkan El berdiri dan bersembunyi di belakang Dila, sambil menggandeng tangan Dila, karena belum mengenal Bu Titin.


" Aduh budak kasep..., jangan takut atuh..., ini teh Nini Titin, teman ibu kamu", ujar Titin.

__ADS_1


Namun El tetap terlihat takut karena bahasa yang Bu Titin gunakan tidak El mengerti.


" Sayang ini nenek Titin, teman ibu, jadi El Salim sama nenek, kasih salam, jangan begini, ayo sayang", Dila menarik El untuk menyalami bu Titin. El pun terpaksa menurut.


" Saya sebenarnya pergi kesini juga salah satu tujuannya pengen ketemu Bu Titin dan beruntung banget ketemu ibu disini", ucap Dila.


" Pengen ketemu?, kok bisa pengen ketemu ibu lagi?", Titin merasa lucu dengan sikap Dila.


" Iya, Dila mau ngucapin terimakasih atas nasehatnya beberapa hari yang lalu, berkat nasehat Bu Titin, sekarang Dila dan Mas Indra sudah nggak salah paham lagi", ucap Dila.


" Waaah... bagus kalau begitu, terus dimana suaminya neng?", Bu Titin nampak mencari-cari di sekitaran.


Dila yang melihat Indra sedang berjalan sambil membawa kantong plastik berisi banyak es krim, menunjukkan pada Bu Titin, " itu suami saya Bu, yang pakai kacamata hitam lagi jalan menuju kesini".


Titin terkesima, " waduh.... meni kasep pisan suamina !".


" Nggak kelihatan sudah tua atuh, di sandingin sama kamu masih pantes. Ibu kemarin bayangin nya, suami kamu itu duda kaya, sudah jauh lebih dewasa dari kamu, dengan perut buncit, eh ternyata meni kasep pisan, ibu mah juga setuju pisan kalau putri ibu menikah dengan duda macem begitu".


Ucapan Bu Titin membuat Dila tersenyum sendiri, karena menurut Dila yang dikatakan Bu Titin itu lucu.


Indra menyerahkan kantong plastik pada El yang sudah kegirangan sejak melihat kedatangan Indra tadi, tentu saja El menantikan es krim yang dibawa ayahnya. Tatapan Indra berpindah pada ibu-ibu yang duduk disamping Dila, kemudian menatap sepeda berisi barang dagangan Bu Titin yang berada tak jauh dari posisi mereka.


" Apa kamu mau beli air minum Dil?, tadi kenapa nggak nitip sekalian, kalau di minimarket kan ada yang dingin", ucap Indra, mengira Dila hendak membeli air mineral.


Indra hanya mengangguk sambil melepas kacamata hitamnya dan menggantung di antara kerah bajunya.


" Ya sudah ibu mau ngider lagi, kalian nikmati liburan disini, mumpung cuaca sangat cerah, ibu permisi dulu ya Dil", Bu Titin memilih berpamitan, karena merasa kehadirannya mengganggu kenyamanan acara liburan keluarga kecil itu.


Dila hanya tersenyum kikuk, merasa tidak enak pada Bu Titin, karena sikap Indra dan El yang kurang ramah pada orang yang baru mereka kenal.


El terlihat begitu menikmati es krim contong rasa coklat yang menjadi favorit nya, es krim yang mengingatkan Dila pada kenangannya bersama Kunto, selalu saja teringat pada nya tiap kali melihat es krim berwujud seperti itu.


Ingin sekali Dila menghukum dirinya sendiri yang pikirannya tidak bisa fokus pada anak dan suami yang sedang berada dihadapannya saat ini.


Sudah pasti Dila bersalah jika masih memikirkan laki-laki lain yang bukan siapa-siapa nya, karena dirinya sudah menjadi istri sah Indra. Dila marah pada dirinya sendiri yang hatinya terlalu lemah dan tak berpendirian teguh.


" Kamu nggak makan juga?, nanti meleleh loh, sayang kan sudah beli banyak", ucap Indra sambil menikmati es krim di tangannya.


Dila hanya tersenyum kikuk dan mengambil satu es krim contong rasa coklat kesukaannya.


Indra bisa menyadari perubahan sikap Dila yang begitu tiba-tiba, Dila berada di hadapannya tapi pikirannya seperti ada di tempat lain.

__ADS_1


" Kamu kenapa Dil?, maaf kalau tadi aku keterlaluan, aku hanya bercanda dengan El, nggak bermaksud memanfaatkan El dan mencari kesempatan dalam pertandingan kerang tadi". Indra mengira jika Dila masih marah karena akal bulus Indra yang menyuruh El meminta adik pada Dila. Namun bukan itu yang membuat Dila berubah drastis, Dila sedang menyalahkan dirinya sendiri karena masih memikirkan laki-laki lain saat dirinya sudah bersuami.


" Bukan, bukan karena itu, aku nggak papa kok Mas, aku tahu kamu cuma bercanda, jika itu bukan bercandaan pun itu hal yang wajar, karena akulah ibunya El, akulah istrimu, jika El meminta adik padaku yang sudah menjadi ibunya, itu adalah hal yang wajar dan bisa dimaklumi. Justru akan jadi aneh, kalau El minta adiknya sama orang lain", Dila meringis berusaha tersenyum.


" Lalu kenapa tiba-tiba kamu murung, sejak sampai tadi kamu sangat bahagia, apa ada yang dikatakan ibu-ibu penjual keliling tadi itu?", kini Indra membuat kemungkinan dari sisi lain.


" Bukan juga mas, aku hanya teringat masa lalu, saat aku melihat es krim coklat yang bentuknya seperti ini....", jawab Dila jujur.


" Memangnya ada kenangan apa dengan es krim ini?, jangan bilang bibirmu disentuh laki-laki lain, saat kamu makan es krim ini terus belepotan", Indra terlihat tidak senang saat membayangkan hal itu terjadi pada Dila.


Dila tahu Indra cemburu dengan apa yang dibayangkan tentang dirinya.


" Bukan juga Mas... jadi aku dulu mau beli es krim seperti ini itu belum mampu, harganya mahal, sayang kalau duit yang sudah dikumpulin tapi buat beli es krim semahal ini. Tapi sekarang kamu beli es krim ini sangat banyak, aku hanya merasa saat ini aku menjadi orang yang sangat beruntung", kilah Dila, mencoba mencari alasan yang tepat dan masuk akal.


Dan sama seperti putranya, Indra percaya begitu saja apa yang Dila katakan. Justru hal itu membuat Dila semakin merasa bersalah, dan menyesal telah membuat alasan palsu.


Dila berharap dirinya tidak lagi mengatakan kebohongan pada dua insan dihadapannya saat ini, dua orang asing yang kini menjadi keluarganya, menjadi orang terdekat, dan sangat mempercayai semua ucapannya.


Setelah menghabiskan semua es krim yang Indra beli, tak terasa matahari sudah mulai condong ke barat. Suasana pantai yang tadi terasa panas cetar membahana, kini berubah menjadi pemandangan alam yang sangat indah.


Langit berubah warna bersemu jingga, burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya. Dan air laut memantulkan cahaya jingga dari langit sore itu. Seperti lukisan alam yang sangat sempurna.


" Sepertinya El sudah sangat lelah bermain disini seharian penuh, langit sudah mulai gelap, apa kita akan pulang sekarang?", Indra menggendong El yang terlihat sangat lelah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang ayahnya.


" Iya, aku juga sudah capek, pengin istirahat, kita pulang sekarang saja, terimakasih banyak ya Mas, sudah menuruti keinginanku untuk datang kemari", Dila berjalan sambil membawa tas besar dan mengikuti langkah Indra yang menggendong El menuju ke mobilnya.


Indra menengok menatap Dila.


" Terimakasih juga sudah membuat El sangat bahagia seharian ini", senyuman Indra begitu berkharisma dan membuat Indra terlihat sangat tampan.


Sampai di mobil El sudah tidur dengan pulas. Indra merebahkan El di kursi belakang, tentu saja dengan memasang kasur angin yang selalu dibawa di mobilnya, untuk persiapan jika El tidur saat bepergian seperti sekarang.


" Kita pulang sekarang, kamu duduk didepan ya Dil".


Dila mengangguk dan duduk disamping Indra.


" Besok aku masih libur, apa kamu mau belajar nyetir mobil bersamaku ?, biar kalau kamu bepergian jauh sama El, terus El tidur jadi nggak bahaya kalau bawanya mobil, atau pas lagi hujan kamu bisa bepergian dengan membawa mobil sendiri, biar nggak kehujanan", ujar Indra.


Dila nampak berpikir, baginya sebenarnya itu tidak perlu, tapi ada benarnya juga ucapan Indra, bagaimana pun membawa El yang tidur sambil bawa motor itu sangat berbahaya.


" Baiklah Mas, tapi El gimana?, aku baru latihan, kalau Mas yang melatihku, El sama siapa?", tanya Dila yang selalu memikirkan El.

__ADS_1


Indra tersenyum, " Kita titipkan sama bi Ana dan bi Darsih, kan nggak jauh latihannya, kita muter-muter komplek perumahan saja, disana jarang ada kendaraan lewat, apalagi weekend biasanya pada pergi berlibur bersama keluarga mereka".


Dila mengangguk setuju.


__ADS_2