Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 136


__ADS_3

Dila menunjukkan undangan dari Lita kepada Indra saat mereka sedang bersama di kamar.


" Kita datang bersama kesana ya Mas?, bagaimanapun Lita kan pernah jadi adik ipar kamu, nggak lama juga nggak papa, hanya memberikan hadiah dan juga ucapan selamat. Setelah itu kita bisa pulang ke rumah. Pakai saja alasan takut Arsy rewel.di tinggal kelamaan. Mas mau kan?", rayu Dila pada sang suami yang ekspresinya nampak datar sejak tadi.


" Minggu depan mas ada pertemuan di luar kota, mungkin pulangnya sampai malam. Kamu datang saja sendiri ke sana, mas titip salam saja buat Lita". Indra memang tidak mungkin melarang Dila jika dia sudah mempunyai kemauan untuk pergi. Tapi Indra sangat malas untuk ber urusan dengan keluarga mantan istrinya lagi.


Mencari jalan keluar Indra lebih baik berbohong dan mengatakan ada meeting di luar kota, meski sebenarnya itu hanya alasan saja, karena tidak ada agenda meeting di luar kota minggu depan.


Sejak Dila membujuknya tadi, Indra terus berpikir dan mencari solusi terbaik. Indra tahu keluarga besar Lita sampai saat ini masih belum berhubungan baik dengannya, apalagi calon suami Lita adalah Kunto. Laki-laki yang pernah berkelahi dengannya di taman, karena berani peluk-peluk Dila dengan memaksa.


Tentu saja dua alasan yang membuat dirinya sangat tidak ingin hadir di acara pernikahan itu. Hubungan tidak baik dengan keluarga mempelai wanita, juga hubungan tidak baik dengan mempelai pria.


" Mas tidak melarang kamu datang kesana, kalau tidak nyaman datang sendirian, kamu ajak saja Ari untuk nemenin kamu. Ari kan kenal dengan Lita dan juga keluarga mereka, setidaknya Ari juga yang nantinya nganterin kamu ke acara itu".


Indra enggan berdebat dan merebahkan dirinya di kasur, kemudian tidur dengan membelakanginya Dila yang ada di sebelahnya.


Arsy memang sudah tidur sejak tadi, dan sudah di pindah di box bayi yang ada di samping ranjang mereka.


" Kok Mas tidurnya membelakangi aku sih... apa Mas marah?", tanya Dila sensitif.


Indra langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dila. " Bukan marah, cuma menghindari kalau tiba-tiba pengen makan kamu. Lihat itu ****** kamu yang nggak pakai bra menyembul, kalau kamu rebahan dan mas melihat kamu seperti itu, dengan body kamu yang menurut mas semakin berisi dan semakin membuat Mas ingin makannya. Bukankah lebih baik Mas tidur membelakangi mu. Dari pada batin Mas tersiksa karena harus menahan diri sampai kamu selesai datang bulan".


Dila langsung menutup mulutnya menahan tawa. Ternyata suaminya tidur membelakanginya bukan karena sedang marah, melainkan justru sedang tersiksa karena menahan keinginannya untuk melakukan penyatuan dengan Dila.


Sejak Dila selesai nifas dan mengikuti anjuran bidan untuk KB implan selama 3 tahun, bentuk tubuhnya memang jadi padat berisi, meski sedang menyusui Arsy, tapi Dila tidak serta Merta menjadi gendut seperti ibu-ibu menyusui pada umumnya, bentuk tubuh Dila bisa kembali normal seperti saat masih gadis, hanya saja ukuran payudara dan bokongnya yang tetap besar.


" Owh begitu... ya sudah Mas hadap lagi kesana nggak papa. Dari pada menghadap sini tapi Mas tersiksa karena melihat ku". Dila mendorong sang suami untuk kembali membalikkan badannya menghadap ke arah sebaliknya.


Waktu pun berjalan dengan cepat, seminggu berlalu, tibalah waktu dimana Dila akan menghadiri acara pesta pernikahan Lita dan Mas Kunto.

__ADS_1


Seperti biasa pagi hari Indra berangkat ke kantor, dan Dila mengajar ke SD negeri, karena hari Jum'at, jadi Dila tidak perlu ijin tidak mengajar, karena sekolah pulang jam 11 siang. Sedangkan acara pesta pernikahan dimulai jam 1 siang.


Dila masih punya waktu untuk pulang ke rumah terlebih dahulu usai mengajar, istirahat, makan siang dan juga menyusui Arsy. Masih sempat juga ber-make up tipis karena mau menghadiri acara pesta pernikahan Lita.


Ari pulang ke rumah usai sholat Jum'at dan menjemput Dila untuk mengantarkannya ke gedung yang di jadikan tempat resepsi Lita dan Kunto.


" Kamu ikut masuk kan Ar?", Dila yang hendak turun lebih dulu bertanya pada Ari.


" Aku malas bertemu dengan keluarga mereka Dil, rasanya perut langsung enek melihat wajah-wajah menyebalkan itu", gumam Ari.


Namun bukan Dila namanya jika tidak bisa membujuk Ari untuk ikut masuk ke dalam.


" Ayolah Ar... temani aku ikut masuk sebentar saja, masa kamu tega biarin aku masuk seorang diri ke sana, please...", Dila terus memohon. Mau tidak mau Ari akhirnya ikut masuk, untuk tadi habis jum'atan, sudah memakai kemeja rapi dan wangi aroma parfum, jadi tidak masalah masuk ke acara pesta seperti itu.


Di dalam Dila bisa melihat keluarga Lita yang sedang mengobrol dengan para tamu di dalam. Dila sengaja langsung maju kedepan mencari keberadaan Lita dan Kunto untuk memberi selamat.


" Di sana itu Dil, belum mulai acara pemberian selamat, mungkin masih menunggu panggilan dari MC, mumpung belum naik ke atas panggung, kita samperin saja ke sana", ajak Ari pada Dila saat melihat Lita yang tengah duduk di kursi dengan riasan ala-ala pengantin yang sangat cantik.


Dila langsung menuju tempat dimana Lita berada, namun Ari berjalan lambat dan menjaga jarak dari Dila dan berdiri agak jauh dari posisi Dila saat ini.


" Lita.... selamat ya sayang, akhirnya kamu menemukan pelabuhan terakhirmu juga. Semoga kalian sakinah mawadah warahmah ya, langgeng hingga maut memisahkan", ucap Dila saat sampai dan memeluk Lita dengan erat.


Dila juga menyalami Kunto yang duduk di samping Lita dan memberinya selamat.


" Semoga kalian cepet dikasih momongan ya, biar anak kita bisa sepantaran, nggak kejauhan jarak umurnya", gumam Dila.


Kunto dan Lita hanya meringis tak berkomentar. Karena sesungguhnya pernikahan mereka direstui karena Lita sudah sedang hamil sekitar 3 bulan.


Benar, tidak mungkin keluarga Lita yang materialistis itu menerima Kunto seorang pemuda dari daerah yang hanya mempunyai usaha kecil, jika tidak ada alasan lain yang membuat mereka mau tidak mau harus menerima dan merestui pernikahan putri bungsu nya.

__ADS_1


Namun Dila tidak tahu tentang hal itu. Karena sudah cukup lama juga Dila dan Lita tidak ngobrol berdua dan saling curhat. Apalagi semenjak kehamilan Dila besar, mereka sudah sangat jarang bertemu. Dan sekarang Dila sudah sangat sibuk untuk membagi waktu antara pekerjaan dan juga si kecil Arsy. Tidak bisa lagi ketemuan atau jalan dengan teman seperti dulu.


" Oh iya, kalau kalian tidak sedang sibuk, minggu depan, sabtu malam datanglah ke rumah ku, ada acara surprise party ulang tahun El, seperti kejutan kecil-kecilan. Tapi pasti kalian lagi sibuk-sibuknya ya, secara pengantin baru, pasti mau honeymoon".


" Kalau bisa datang, tapi kalau tidak sempat ya tidak papa, aku hanya mengabari saja".


Suara pembawa acara memanggil kedua mempelai untuk naik ke panggung karena acara pemberian selamat akan segera di mulai.


" Naiklah ke panggung, tapi aku minta maaf nggak bisa lama-lama disini, soalnya nitipin Arsy ke bi Ana, jadi nggak bisa kelamaan. Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua".


Dila berpamitan terlebih dahulu, padahal acara sesungguhnya baru saja akan dimulai.


" Makasih ya Dil, buat kehadiran kamu, dan doa dari kamu, kamu memang sahabat terbaikku". Dila dan Lita saling berpelukan sebelum mereka berpisah.


Di dalam mobil Ari langsung menceritakan apa yang di dengarnya dari pembicaraan para tamu undangan yang menghadiri acara pesta pernikahan Lita tadi.


" Kamu serius Ar?", Dila nampak terkejut saat mendengar cerita tentang Lita yang sudah hamil tiga bulan dari Ari.


" Itu yang aku dengar tadi Dil, makanya pas aku mau hampirin ke arah kalian dan dengar kamu lagi mendoakan mereka untuk cepet punya momongan aku memilih berhenti dan menjauh. Pasti Lita ingin memberi tahu mu, tapi tidak sempat. Lita kan sahabat baikmu, yang biasanya selalu cerita apa saja sama kamu".


Dila jadi tak enak hati karena takut ucapannya tadi dikira sindiran buat Lita, padahal Dila benar-benar tidak tahu menahu tentang kehamilan Lita kalau saja Ari tidak bercerita kepadanya.


" Sahabat macam apa aku ini, malah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Lita", Dila merasa sangat bersalah.


" Pantas saja ibunya Lita merestui hubungan mereka, anaknya sudah terlanjur bunting duluan, kalau belum bunting pasti nggak bakalan hubungan mereka di restui, Bu Mirna itu kan matre pakai banget... Pak Indra saja yang sudah kaya raya dan sukses begitu masih nyuruh anaknya buat ninggalin. Lihat saja sampai berapa bulan hubungan Lita dan Kunto bertahan. Pasti Bu Mirna lagi-lagi akan ikut campur dan membuat konspirasi agar anaknya segera bercerai".


Mendengar ucapan Ari, Dila langsung menepuk bahu Ari dengan keras, " Kamu itu kalau doain orang yang bagus-bagus, ini malah pikiran kamu jahat banget, kasih doa kok jelek begitu, nggak baik doain orang jelek begitu, pamali, doa itu bisa kembali ke yang mendoakan tahu", ujar Dila kesal.


Ari manyun, " Aku bukan lagi doain Dil, cuma lagi menebak, dan kita lihat saja bersama-sama apa tebakanku itu tepat atau tidak", gumam Ari.

__ADS_1


" Semoga saja tebakanmu salah Ar, Lita itu tidak semenurut Kayla ke ibunya. Lita itu biasa membangkang dan membuat keputusan sendiri, karena itu aku berharap pernikahannya dengan Mas Kun akan langgeng dan berjalan mulus", Dila berharap pernikahan sahabatnya akan baik-baik saja.


__ADS_2