
Setelah Intan keluar dari kamarnya, Dila langsung mengambil baju ganti dan peralatan mandi, Dila bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sore ini cuaca cukup cerah, namun tidak dengan suasana hati Dila yang sedang galau mempertimbangkan tawaran Intan untuk menerima atau menolak bekerja menjadi seorang baby sitter.
Karena cuaca cerah Dila memilih untuk mencuci baju kotornya dan menjemur ke atap gedung, lagi-lagi Dila duduk ditepian atap sambil melamun, seperti dejavu Evan yang juga baru selesai mandi dan mencuci baju, hendak menjemur bajunya di atap gedung.
" Apa duduk disini itu bisa membuat kamu lebih tenang Dil?, hobi kok duduk di tepian atap".
Suara Evan membuat Dila kaget.
" Kamu sebenarnya kenapa sih Dil?, sejak kemarin-kemarin aku perhatikan, kamu sering ngelamun, kayak lagi nyimpen sesuatu".
" Coba cerita sama aku, tenang saja, aku nggak akan kasih tahu siapa-siapa kok, kita teman kan?".
Dila menatap Evan bingung, menimbang-nimbang hendak cerita atau tidak pada Evan.
" Apa ada hubungannya dengan kedatangan cewek yang tinggal disebelah kamar kamu ke kamarmu tadi?". Evan memang langsung berpikir negatif karena selama hampir 7 bulan Evan tinggal di sana, tidak sekalipun wanita malam itu menyapa tetangga kontrakan, tapi tiba-tiba saja dia keluar dari kamar Dila, itu justru membuat Evan sangat khawatir.
" Kamu itu jangan menilai orang dari luarnya saja Van, dia itu justru tadi nawarin pekerjaan sama aku", jawab Dila.
" Nawarin pekerjaan?, ngapain dia nawarin kamu pekerjaan?, tadi aku ketemu Asri dibawah, dia bilang habis diantar ke PT tempat dia akan ditempatkan senin besok. Bukankah kamu juga dari PT yang akan menjadi tempat kamu bekerja Dil?. Ngapain wanita malam itu nawarin kamu pekerjaan, jangan-jangan pekerjaan nggak bener", tebak Evan.
Dila menghembuskan nafas panjang. " Makanya kamu dengerin dulu penjelasan aku Van".
" Sebenarnya aku memang lolos seleksi sampai ikut pelatihan kerja di LPK sampai hari ini, tapi usiaku belum cukup umur untuk masuk dan bekerja di PT atau pabrik besar, aku masih harus nunggu sampai usiaku 18 tahun".
" Jadi kamu belum 18 tahun?, kok bisa sih kamu berangkat merantau padahal umur saja belum cukup", celoteh Evan, memotong penjelasan Dila.
" Aku nggak tahu, nggak di kasih tahu sama pihak BKK yang menyalurkan aku kesini", ucap Dila.
" Terus 18 tahunnya berapa bulan lagi Dil?, jadi kamu mau cari kerjaan lain sebelum kamu disalurkan ke PT, begitu?".
" Tapi kenapa wanita malam tetangga sebelah kamar kamu itu bisa tahu kalau kamu lagi nyari pekerjaan?, sedangkan aku nggak tahu apa-apa". Evan merasa kecewa karena merasa tidak tahu apa-apa tentang Dila.
" Ceritanya panjang Van, nggak sengaja Kak Intan tahu kalau aku lagi nyari kerja".
" Tadinya sempat terfikir mau pulang kampung saja, aku belum dapat kerjaan, disini apa-apa mahal, sedangkan uang saku dari orang tuaku semakin menipis, tapi aku sudah pamitan sama semua tetangga, kalau baru seminggu aku disini terus pulang, apa kata orang nanti, aku malu Van".
Evan paham dengan perasaan Dila, " Nanti akan aku tanyakan ke kenalanku, siapa tahu ada yang butuh tenaga kerja, terus berapa bulan sampai usiamu genap 18 tahun Dil?".
" Masih setahun lagi Van, karena besok usiaku baru genap 17 tahun".
Jawaban Dila membuat Evan melongo.
" Kamu serius Dil?, baru 17 tahun besok?, jadi kamu belum punya KTP?"
Dila mengangguk mengiyakan.
" Ini sih kamu memang harus nyari kerjaan kalau kamu harus nunggu setahun sampai ditempatkan di PT".
__ADS_1
" Kalau boleh tahu, kamu ditawarin kerjaan apa sama tetangga kamar kamu?", tanya Evan penasaran.
" Jadi baby sitter, ngurus anak umur 3 tahun, kata kak Intan gajinya sebulan 5 juta Van, menurut kamu gimana?, diterima apa di tolak?, aku bilang mau kasih jawaban besok".
" Apanya yang 5 juta Dil?", Dila dan Evan kaget melihat Kunto sudah ada di belakang mereka.
" Kalian dari tadi aku cariin, ternyata ada disini. Lagi ngobrolin apa sih, gaji 5 juta, banyak dong, seperti gaji kita kalau kita lembur weekend, iya kan Van", ucap Kunto.
" Iya, itu gaji yang terlalu besar untuk seorang baby sitter, apa kamu nggak curiga kenapa gaji baby sitter sebesar itu, jangan-jangan bukan cuma ngurus satu anak Dil", tebak Evan.
" Siapa yang mau jadi baby sitter?, kamu Dil?, siapa yang nawarin kerjaan itu?", Kunto yang datang telat jadi ketinggalan informasi.
" Kak Intan yang nawarin, tadi dia tiba-tiba saja masuk kamar aku, katanya denger pembicaraan kita Mas, terus nawarin aku jadi baby sitter di Jakarta Timur, kalau rumahnya tepatnya di mana belum tahu", ujar Dila.
" Terus kamu terima tawaran itu?".
" Belum, tadi aku bilang mau pikir-pikir dulu, dan besok baru aku kasih jawaban. Menurut kalian gimana?, aku terima apa enggak?", Dila meminta pendapat kedua pemuda yang kini menjadi tetangganya itu.
" Sebenarnya aku nggak yakin sih dengan pekerjaan itu, masa iya jadi baby sitter gajinya sebulan 5 juta, lebih gede dari gaji kita yang karyawan PT di sini".
Kunto curiga, ada kemungkinan Dila ditipu oleh wanita malam itu. Bagaimana jika ternyata Dila dijual di rumah bordil, kan Dila masih perawan dan terlalu polos, Kunto justru tidak percaya dengan tawaran yang diberikan pada Dila.
" Terus gimana, apa aku tolak saja?, aku juga belum pernah ke Jakarta. Aku sebenarnya takut kalau kak Intan nggak jujur. Tapi aku juga butuh pekerjaan secepatnya, uangku sudah mulai menipis, nggak mungkin terus-terusan hidup jadi pengangguran" ucap Dila.
" Gimana kalau misal kita minta alamat tempat tinggal calon majikan kamu itu, kita lihat kebenarannya, besok Sabtu kan aku sama Kunto libur, jadi kita bisa nemenin kamu kesana, gimana Dil?". Evan sebenarnya juga kurang yakin dengan pekerjaan bergaji tak wajar yang di tawarkan kepada Dila.
" Aku sih setuju saja, anggap saja besok kita jalan-jalan sambil merayakan ulang tahun kamu yang ke 17. Kasihan banget kamu Dil, sweet seveenten bukannya dapat hadiah dan kejutan dari keluarga dan orang terdekat, tapi malah lagi pusing nyari kerjaan".
Dan benar saja, usai maghrib semua berkumpul di depan kamar, saat itu Joko yang baru pulang kerja, ikut bergabung usai mandi.
Asri yang paling kaget saat mendengar cerita Dila, berulang kali Asri tidak percaya dengan penjelasan Dila, tapi akhirnya percaya juga saat Dila menunjukkan ijazah SMK nya. Di sana tertulis tempat tanggal lahir Dila yang memang benar baru 17 tahun besok.
" Aku kira aku sama kamu tuh tua an kamu Dil, bukan karena wajahnya, melainkan tingkah laku, dan cara kamu bersikap itu sudah jauh lebih dewasa dari aku".
" Tapi ternyata kamu setahun lebih muda dariku, aku hampir tidak percaya dengan yang kulihat, apalagi besok kamu baru 17 tahun, padahal aku sudah 18 tahun lebih sebulan", ujar Asri.
" Jadi pertama besok aku bilang mau nerima tawaran pekerjaan dari kak Intan, terus minta alamat lengkap dari calon majikan aku, terus kalian temenin aku ke sana ya, soalnya aku belum pernah ke Jakarta, kita ngecek bareng-bareng kebenarannya".
Asri mengangguk setuju.
" Aku juga boleh gabung nih?", tanya Joko .
" Tentu saja boleh, semakin banyak teman, jadi lebih baik", ujar Dila.
" Oke, kalau begitu kita kesana jam berapa?. Kan tetangga kamu pulang nya biasanya sampai pagi, berarti kita kesana agak siangan ya".
Dila setuju dengan usul Joko.
" Gimana kalau malam ini kita jalan-jalan, nggak jauh dari sini kan ada mall cukup besar tuh, kita main ke time zone di mall itu yuk".
__ADS_1
Dila dan Asri saling menatap, bukannya mereka berdua tidak mau main ke mall, tapi mereka berdua sedang menghemat pengeluaran.
" Tenang saja, nanti kita bertiga yang beli koin, kalian berdua tinggal ikut main saja", ucap Evan.
Dila dan Asri setuju, dan mereka berlima akhirnya keluar bersama malam itu menuju mall terdekat. Hanya dengan naik angkot selama 10 menit, mereka berlima sampai di mall itu.
Evan memandu mereka untuk pergi kelantai 2 dimana time zone terletak disana. Berbagai macam permainan mereka mainkan, Dila dan Evan mencoba permainan memasukkan bola basket kedalam ranjang, Kunto dan Joko mencoba permainan balapan, sedangkan Asri memilih bermain pukul tikus. Dari permainan awal, mereka berpindah mencoba permainan yang berbeda. Setelah hampir satu jam bermain-main, dan hampir semua permainan mereka coba.
Terakhir Evan mengajak yang lain masuk ke dalam photo box. Meski sempit, tapi mereka berlima masuk ke dalam photo box dan berfoto bersama disana. Hasil foto itu mereka bagi satu-satu untuk disimpan.
Keluar dari mol, mereka berlima berjalan menuju pasar yang terletak tak jauh dari mall itu, dan tetap buka sampai malam.
" Dil, kamu pengen buah apa?", Evan coba menawarkan Dila untuk memilih buah, saat melewati penjual buah yang menjual berbagai buah sangat lengkap.
" Nggak ah, kita balik saja, kalau panas-panas sih enaknya makan semangka, tapi kan sekarang malam hari, nggak usah beli buah", jawab Dila.
" Nanya nya jangan ke Dila doang dong Van, tanya sama aku juga, nanti aku kasih tahu pengen apa, ini nih... kalau mau beliin mangga yang ini Van, kayaknya manis banget", ujar Asri sambil memegang mangga dan mencium aroma mangga yang manis.
" Tinggal ambil As, terus jangan lupa bayar sendiri" , ucap Evan sambil memilih semangka untuk di timbang.
Sikap Evan membuat semakin memperjelas jika dirinya begitu perhatian pada Dila. Kunto dan Joko memilih untuk berjalan dan menunggu di depan pasar sambil merokok.
Dila juga mengikuti Kunto dan Joko berjalan keluar dari pasar. Meninggalkan Evan dan Asri di lapak penjual buah.
" Apa Evan sudah mengatakan suka sama kamu Dil?, jelas banget terlihat dia itu suka sama kamu", Joko langsung bertanya pada Dila tanpa basa-basi.
" Enggak kok, lagian kita semua kan berteman, kamu ini kok malah nanya gitu sih", sangkal Dila .
" Itu sih cuma pengamatan ku sebagai sesama cowok, kamu setuju nggak Kun?", tanya Joko sambil menghisap rokoknya." Melihat cara dia bersikap sama kamu, cara dia menatap kamu, dan perhatian yang diberikan ke kamu, itu jelas banget kelihatan pakai hati".
Dila diam dan tak lagi menjawab.
Namun tiba-tiba Kunto yang menjelaskan.
" Dila sudah ada yang punya di kampung, jadi nggak berani jawab. Sudah sih, jangan ikut campur perasaan orang lain, kalau Evan gentle dan nggak pengecut, dia pasti bakalan ngomong suka sama kamu, nggak lama lagi, tinggal lihat tanggal mainnya", ucap Kunto sambil membuang puntung rokok dan menginjaknya.
Terlihat Evan dan Asri yang sedang berjalan keluar dari pasar menghampiri mereka.
" Nih Dil, aku beliin semangka, bisa kita makan besok pas panas-panas, aku bawain sampai kontrakan, soalnya berat", ucap Evan.
" Nih, bawain mangga aku juga", Asri mengulurkan kantong plastik berisi mangga yang dibelinya.
" Sini biar aku yang bawain", Joko mengambil kantong plastik dari tangan Asri, Asri hanya nyengir kuda.
" Makasih Van, maaf ngrepotin, padahal nggak usah beli juga nggak papa", ujar Dila.
" Nggak papa, kan besok juga bakal kita makan bareng-bareng di kontrakan".
Kunto langsung menghentikan angkot yang lewat dan masuk ke dalam angkot di ikuti yang lain.
__ADS_1
Mungkin jalan-jalan bersama malam ini akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan oleh mereka berlima.
Di dalam angkot, hanya suara Asri yang terdengar, karena Asri terus bercerita bagaimana tadi dia berhasil menawar mangga yang semula harganya 24 ribu perkilo, berhasil ditawar hingga 18 ribu perkilo.