Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 117


__ADS_3

Siang itu cuaca mendung, angin berhembus cukup kencang, dan awan hitam menghalangi sinar matahari yang masih terus berusaha menyinari bumi.


Dila sudah menata pakaian miliknya dan El, yang harus di bawa kembali ke Jakarta. Ari juga sudah sampai di rumah Dila sejak jam 10 pagi tadi, Ari sudah sempat tidur selama dua jam, dan sudah makan siang bersama keluarga Dila.


" Kita berangkat sekarang Pak?", tanya Ari setelah memasukkan barang-barang yang hendak dibawa ke Jakarta.


" Langit sangat mendung, apa tidak papa kalau hujan saat kita melakukan perjalanan?, kamu sudah cukup tidurnya?", Indra balik bertanya.


" Sudah cukup, dua jam tidur siang sudah sangat lama bagi saya, apalagi tadi sudah dibuatkan kopi juga sama Bu Siti, pasti tidak akan ngantuk lagi Pak", terang Ari.


Memang waktu pulang kampung kemarin Ari kembali ke Jakarta karena ada urusan sendiri, Indra tidak mempermasalahkan hal itu, namun saat hendak kembali ke Jakarta, Ari kembali ke kampung untuk menyetir mobil majikannya.


" Mas Ari, hati-hati menyetir mobilnya, sepertinya sebentar lagi hujan turun, pelan-pelan saja bawa mobilnya. Pelan asal selamat sampai rumah", Ucap Dita berpesan.


" Iya Dit, tentu saja aku akan sangat hati-hati, apalagi bawa ibu hamil", jawab Ari.


Ari memang sudah lumayan akrab dengan Dita, sejak Dita ke Jakarta saat wisuda Dila beberapa bulan yang lalu.


" Ya sudah, kami berangkat sekarang Pak, Bu", Dila sungkem pada bapaknya dan berpelukan dengan ibunya, dan juga memeluk Dita.


" Jaga diri kalian, jaga kesehatan, bapak dan ibu jangan kerja terlalu capek, sawah dan ladang bisa nyuruh orang lain buat mengelola kalau bapak merasa capek".


Toto dan Siti hanya mengangguk-angguk tanpa bersuara, momen paling menyebalkan adalah saat-saat seperti sekarang ini. Dimana harus berpamitan, dan melakukan perpisahan lagi dan lagi.


" Dita harus jaga bapak dan ibu, patuhi kata-kata mereka, karena itu untuk kebaikan kamu sendiri, kamu paham kan dengan maksud kakak?".


Dita mengangguk mengerti dengan maksud ucapan Dila.


" Kakak juga, jaga diri di Jakarta, perut kakak sudah semakin besar, jangan kecapekan, segera kabari kami kalau kakak sudah mau melahirkan, aku pasti akan langsung ajak ibu dan bapak ke Jakarta", ujar Dita.


Indra dan El juga berpamitan pada Toto, Siti dan juga Dita. Merekapun memulai perjalanan menuju ke Jakarta saat jam menunjukkan pukul 2 siang.


Hujan mulai turun saat mobil Indra mulai melaju membelah jalanan kampung.

__ADS_1


Terlihat Dita melambaikan tangan melepas kepergian kakaknya beserta keluarga. Sesuai pesan Dita tadi, Ari melajukan mobilnya dengan pelan, kecepatan 40 km/jam, selain jalanan licin, hujan juga semakin lebat, dan mengganggu penglihatan mata.


Cuaca mendung seperti sudah sore hari, padahal baru jam 2 siang.


" Tidur saja kalau kamu ngantuk, tadi kan kamu belum tidur siang sayang" ujar Indra menepuk pundaknya agar Dila bersandar kepadanya.


Indra duduk di sebelah Dila, sedangkan El duduk di depan, bersama Ari, El sedang sibuk bercerita entah membahas apa dengan Ari, tapi sejak tadi El terus bercerita. Itu bagus, biar Ari tidak merasa ngantuk dan bosan. Apalagi mereka akan melakukan perjalanan yang cukup lama, selama 6 jam.


Kalau tidak berhenti dan tidak ada kendala, jam 8 malam mereka sudah sampai di Jakarta. Dila pun memilih untuk memejamkan mata sebentar.


Namun baru 3 jam perjalanan, El mengeluh mau ke kamar mandi karena perutnya terasa mulas. Ari pun menepikan mobil, beruntung saat itu mereka menemukan rest area dan pom bensin yang tidak terlalu jauh.


Hujan masih saja turun dengan derasnya. El buru-buru turun dari mobil dengan di temani Indra yang memayunginya. Saat ini Indra memang lebih sering mengurus El karena perut Dila yang semakin besar, dan membatasi setiap gerakannya.


Indra mengantar El ke WC umum yang tersedia di rest area tersebut, tepat bersebelahan dengan mushola kecil.


" Mas Ari, aku mau turun juga disini, sudah jam 5, sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib, tapi aku belum sholat asar. Aku ke mushola dulu sebentar ya".


Ari mengangguk, namun dirinya tetap menunggu di mobil sambil mengantri untuk mengisi bahan bakar. 10 menit kemudian Dila sudah kembali ke mobil, namun El dan Indra belum juga kembali.


Dila akhirnya menuju toilet umum. Benar El dan Indra masih berada di sana, El masih nongkrong di dalam kamar mandi, sedangkan Indra menjaga didepan pintu kamar mandi.


" Masih lama Mas?", Dila menghampiri Indra, karena toilet wanita dan pria bersebelahan.


" Tadi si udahan, tapi pas baru keluar, katanya mules lagi, sepertinya El sakit perut, padahal setahuku, El nggak makan yang aneh-aneh hari ini", Indra nampak mengingat apa saja yang El makan, hari ini dan juga kemarin.


" Tadi pagi kan katanya sarapan bubur ayam sama Dita, di taman desa, apa mungkin karena bubur ayam itu?, soalnya kalau yang bikin mules makanan dari rumah yang dimasak ibuku, pasti kita juga ikutan mules kan?", ujar Dila.


" Biar aku cari obat di minimarket yang dekat", Dila keluar dari toilet umum menuju minimarket yang berada di samping mushola.


" Maaf mba, apa ada obat sakit perut untuk anak-anak dijual disini?". Dila langsung bertanya pada kasir yang berjaga.


" Adanya obat sakit perut untuk orang dewasa Bu, kalau mau nyari obat yang lengkap ke apotik saja, sekitar 300 meter dari sini ada apotik di sebelah kiri jalan Bu".

__ADS_1


" Oh, begitu ya Mba, kalau begitu terimakasih banyak untuk informasi nya", Dila keluar dari minimarket dan melihat El yang sedang dibopong oleh Indra dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang payung.


" Apa ada obat sakit perutnya?".


Dila menggeleng, " kata mbak kasir 300 meter dari sini ada apotik, coba kita jalan lagi Mas Ari, pelan-pelan saja, sambil nyari apotik di kiri jalan kata Mba kasir".


Mobil pun kembali melaju dengan pelan sambil mencari apotik yang dimaksud, hingga Dila menemukan apotik yang kebetulan masih buka.


" Biar aku saja yang turun, jalanan licin, kamu tetap disini", ujar Indra sambil keluar dari mobil dan berlari ke apotik. Setelah membeli obat untuk El, dan menyempatkan mampir di toko kue yang ada disebelah apotek, Indra kembali masuk ke dalam mobil.


" Makan roti dulu sayang, sebelum minum obat", Indra menyerahkan roti dan susu murni pada El untuk dimakan, setelah itu baru El diberi obat sakit perut yang tadi dibelinya.


" Sebenarnya apa yang sudah El makan, sampai sakit perut seperti itu?", Dila berusaha mencari tahu penyebab El sakit perut, setelah El meminum obatnya.


El terdiam dan menunduk, seperti takut jika Dila memarahinya, karena dirinya merasa bersalah sudah jajan di pasar sembarangan tadi pagi.


" Nggak papa cerita saja, ibu cuma tanya, nggak akan marah kok sama El", ujar Dila berusaha membuat El bercerita.


El menggeleng, " Habis makan dua mangkok bubur ayam, El makan cilor dan srabi, sudah itu saja. Tapi nggak tahu kenapa perutnya tiba-tiba sakit, padahal El nggak jajan sembarangan".


Dila tersenyum mendengar ucapan El yang mengaku tidak jajan sembarangan namun ternyata membeli cilor dan srabi.


" Ya sudah nggak papa, yang penting kan sekarang El sudah baikan, cuman lain kali ibu pesen sama El, jangan beli jajan yang menggunakan perasa, atau pewarna makanan sembarangan. Biar El nggak sakit perut lagi", ucap Dila berpesan. El nampak mengangguk masih terdiam. Perut El memang lebih sensitif dari anak seumurannya, mungkin karena terbiasa makan makanan sehat dari masih bayi. Sekalinya kemasukan makanan yang mengandung banyak penyedap rasa, El bisa langsung sakit perut.


Yang saat ini El pikirkan, mungkinkah Tante Dita juga sakit perut sepertinya?, padahal El tahu, tadi pagi Tante Dita sudah janjian akan berkunjung ke rumah Pak Kades.


Meski kenyataan nya Dita ternyata tetap di rumah, tidak pergi ke rumah Nino, karena malas berdebat dan mendapat ceramah panjang lagi dari sang bapak.


Meski ada seseorang yang ternyata merasa kecewa karena Dita membatalkan janjinya untuk datang kerumahnya, justru digantikan oleh orang lain. Ya... siapa lagi kalau bukan Nino. Kades muda yang kembali melihat sosok gadis yang dulu di sukai nya dalam diri adik gadis itu.


Sekilas Nino berfikir jika mungkin dirinya akan mencoba membuka hati dan mendekati Dita, gadis yang karakter dan wajahnya sangat mirip dengan Dila. Namun malam ini dirinya dibuat kecewa, karena Dita sepertinya justru berusaha menjaga jarak darinya. Apa karena dirinya mantan kekasih sang kakak?, atau karena usianya jauh lebih tua dari Dita?, berbagai spekulasi pun akhirnya muncul.


Nino pikir setelah jadi kades, dia akan mudah mendekati gadis manapun, secara dirinya masih muda berpenghasilan dan mempunyai jabatan, serta pengaruh yang kuat di desa itu. Namun kenyataannya mungkin hidup tidak semudah yang dibayangkan.

__ADS_1


Cukup banyak gadis yang sengaja datang sambil mendekati dirinya dan juga keluarganya, namun hati Nino tidak tergerak sedikitpun. Dan saat tadi pagi melihat Dita sedang senam, seperti dejavu, Nino seperti melihat sosok Dila yang kembali. Jantung nya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Tapi justru Dita membuat jarak dengannya.


Haruskan dirinya melakukan pendekatan terlebih dahulu seperti yang dilakukan pada Dila dulu, menunggu setahun sampai Dita lulus SMA, dan mendapat ijin untuk berpacaran oleh sang ayah. Seperti mengulang kisah lama. Namun dalam hati Nino, kali ini dia tidak akan membiarkan gadis yang disukainya pergi merantau, karena Nino trauma dirinya ditikung orang lain, saat sang kekasih berada jauh darinya, di perantauan.


__ADS_2