Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 63


__ADS_3

Dila sudah mengirim pesan pada kedua karyawannya semalam, namun pagi ini baru berhasil terkirim, karena signal baru masuk pagi ini saat hujan mulai reda.


Hana membalas pesan Dila dan memberi tahu bahwa dirinya dan Mia sudah berangkat dan sampai di ruko, mereka juga sudah masuk dengan kunci cadangan, ada ayam yang tergantung di pintu besi ruko, pasti penjual ayam yang mengirimkan pagi tadi.


Hana dan Mia meminta resep ayam suwir pada Dila, dan mengatakan akan mencoba memasak nasi dan ayam sendiri, sudah nanggung karena mereka berdua sudah sampai di ruko, juga sudah ada ayam di sana.


Akhirnya Dila menelepon Hana dan memberi tahu apa saja yang harus dilakukan. Jam 9 pagi, Hana dan Mia baru selesai memasak. Dan mereka baru buka toko sekitar jam setengah 10 setelah semua sudah selesai dimasak.


Dila masih berada di penginapan karena Indra masih terus dan terus kembali mengajaknya bercinta meski pagi telah tiba. Rasanya Dila sampai kelelahan dan remuk semua anggota tubuhnya.


" Mas Mba Hana dan Mia tetap jualan hari ini, katanya sayang karena sudah ada ayam di depan ruko tadi. Apa Mas sudah kabari ibu dan El kalau kita nggak bisa anter sarapan ke penginapan?", Dila memang istri yang sangat perhatian bukan hanya pada suaminya saja, tapi juga pada anak dan mertuanya.


" Iya, kamu tenang saja, ibu sudah tahu kalau kita ada di penginapan yang jauh. Kata ibu suruh kita berdua bersantai saja, ibu dan El sudah sarapan, dan sekarang malah katanya lagi keluar, mau jalan-jalan sendiri, ketemuan sama kenalan lama Ibu", ujar Indra.


Siang hari Indra dan Dila baru pulang ke ruko, Dila masih saja merasa sangat lelah karena terus di gempur Indra entah sampai berapa kali. Rasanya tubuhnya remuk dan begitu banyak bekas tanda kemerahan di sekujur tubuhnya. Karena itulah Dila sengaja mampir membeli baju panjang terlebih dahulu untuk menutupi bekas merah di sekujur tubuhnya yang dibuat oleh Indra.


" Siang mba Hana, mba Mia, maaf banget ya, kalian jadi masak-masak dulu karena aku nggak bisa pulang semalem". Dila duduk di kursi tamu, sambil menyenderkan kepalanya di meja.


" Nggak papa Dil, malah seneng kita jadi tahu resep ayam suwir apa saja. Kamu pasti capek banget ya Dil?, memangnya kalian habis perjalanan ke mana? luar kota?", tanya Mia yang selalu kepo.


Dila menggeleng, " nggak tahu tadi namanya daerah mana, semalam cuma ngikutin jalan saja, eh sampe nyasar nggak tahu lagi dimana, mana sudah malam, hujan deras, nggak ada signal, mau pulang nggak bisa deh, takut makin nyasar", ucap Dila.


Indra meletakkan dua cangkir kopi di meja, dan duduk di samping Dila.


" Minum kopi dulu biar nggak lemes banget begitu", Indra mengusap rambut Dila yang berantakan, karena sengaja Dila gerai, untuk menutupi beberapa tanda merah di lehernya.


Dila kembali duduk dengan posisi tegap dan meraih kopi yang sudah Indra buatkan untuk dirinya.


" Waaah.... suami Dila perhatian banget, tahu istrinya lagi kecapekan langsung di buatkan kopi, andai saja ada laki-laki yang seperti mas Indra lagi, mau dong di kenalin", Mia memang kadang begitu, tidak pandang tempat dan waktu, masih saja melakukan usaha, maklum sudah umur 25 tahun, pengin nikah tapi belum ada pasangan.


Indra hanya tersenyum saja mendengar ucapan karyawan Dila yang berani menggodanya di depan sang istri. Namun Dila nampak biasa-biasa saja, tidak tersirat sedikitpun kecemburuan di wajahnya, karena Dila tahu Mia hanya bercanda saja.


" Andai saja kamu tahu mbak..., yang bikin aku lemes dan capek juga mas Indra, tentu saja dia yang harus kembali memulihkan tenaga aku yang terkuras habis", batin Dila.


Saat Dila sedang menikmati kopi buatan Indra, El dan Bu Fatma datang ke toko.


" Loh kalian sudah pulang?, ibu pikir kalian mau bersantai di penginapan", Fatma berjalan menghampiri Dila dan mengusap kepala Dila dengan lembut, rambut Dila yang lembut dan sangat wangi membuat Fatma tersenyum puas, pasti putranya sudah berhasil membuat Dila takluk dan menyerahkan diri kepadanya.

__ADS_1


El langsung memeluk Dila dan dibalas Dila dengan mencium kening El cukup lama. El menatap Dila dengan seksama.


" Apa ibu nggak bisa tidur karena semalam tersesat?, lihatlah mata Bu Dila seperti panda", ucap El dengan polosnya. El berpindah melihat leher depan Dila yang nampak sedikit noda merah. " Pasti di jalan banyak nyamuk juga... lihatlah leher Bu Dila sampai merah-merah begitu, nyamuknya nakal".


Dila hanya meringis dan menutupi bekas merah di leher depan yang nampak sedikit.


Fatma sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, ulah cucunya membuatnya tak tahan untuk menahan tawa yang sejak tadi ingin dilakukannya.


" Iya nyamuknya segede ayah kamu, memang bener bener nakal, sudah dibilang jangan gigit, tetap saja menggigit, sudah dibilang jangan buat tanda di bagian yang terbuka, tetap saja nyolong kesempatan saat ibu tidak bisa mengontrol diri", lagi-lagi Dila hanya bisa membatin saja.


" Nggak ada nyamuk kok di mobil, mungkin Bu Dila alergi karena dingin, jadi merah-merah begitu, semalam kan hujan deras, makanya Bu Dila kedinginan", jawab Indra sambil cengengesan.


" Oh iya, katanya ibu tadi habis ketemu dengan teman lama, memangnya ibu punya teman di Jogja?", Indra sengaja mengganti topik pembicaraan.


Fatma mengangguk sambil mendudukkan diri di depan Indra, " Tadi ibu sudah bertemu dengan teman lama ibu, tapi dia sibuk dan ada urusan lagi, makanya ibu balik cepet, El juga kurang nyaman di restoran tadi, makanya ibu langsung pulang saja, nggak jalan-jalan dulu".


" Teman apa Bu?, orang Jogja juga?", tanya Indra masih penasaran.


Fatma menggeleng, " dia dari Jakarta, tapi lagi di Jogja, makanya ibu nggak bisa lama ngobrol sama dia", Fatma tetap tidak menyebutkan siapa nama teman lamanya itu. Sungguh membuat Indra penasaran sekaligus curiga.


Saat di penginapan, Indra pun meminta ibunya untuk bicara jujur, siapa yang ditemui ibunya tadi. Fatma hanya mengatakan bertemu dengan teman lama. Dan tidak mau menyebut nama.


Indra akhirnya menyerah dan kembali ke ruko, saat Indra sampai di ruko justru El sedang bercerita pda Dila di dalam kamar, jika neneknya tadi bertemu dengan seorang om-om tampan, tapi El tidak tahu namanya. El mengatakan neneknya marah-marah di restoran pada om-om itu, sebab itulah El merasa tidak nyaman berada di restoran dan meminta pada neneknya untuk segera pulang.


Dila menanyakan ciri-ciri om-om yang di temui nenek Fatma tadi , El pun bercerita, jika om itu setinggi ayah, tampan, dan pernah El lihat di kantor ayah beberapa waktu lalu. Dila tetap tidak mengerti dan mengira mungkin yang ditemui ibu adalah salah satu karyawan di perusahaan Indra.


Berbeda dengan Indra yang langsung paham, pasti ibunya menemui Bram, karena El mengatakan neneknya marah pada om om itu. Bagaimana ibunya bisa tahu Bram sedang ada di Jogja?.


Dan Indra menemukan jawabannya. Ternyata semalam Lita mengambil HP Dila dan memfoto keberadaan mereka berempat yang semalam di kafe dengan caption, 'kalau jadi aku, kamu pilih yang mana?'. Dasar gadis iseng, dan usil, tapi mau bagaimana lagi, pasti sudah banyak yang melihat status Dila.


Tapi anehnya Dila tidak nampak sibuk bermain HP nya, apa Dila tidak menyimpan banyak nomor kontak di ponselnya?. Indra penasaran, tapi tidak mungkin menanyakan hal itu saat ini, bisa terulang lagi perang dunia yang terjadi semalam.


Siang ini Dila dan El tidur bersama di kamar Dila, Indra sudah memesan tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta secara online.


Penerbangannya nanti sore sekitar jam 5, dan sekarang sudah jam 2 siang, sebentar lagi Indra harus kembali ke Jakarta, rasanya masih berat meninggalkan Dila saat dirinya sedang merasa begitu menyayangi Dila.


Tapi mau bagaimana lagi, Indra sudah mengatakan akan berusaha bisa bersabar, karena Dila masih harus kuliah dan mengurus usahanya.

__ADS_1


Indra ikut merebahkan dirinya di kasur bersama El dan Dila. Layaknya keluarga kecil yang berbahagia, begitulah yang akan dilihat oleh orang lain tentang keluarga ini. Indra melingkar kan tangannya di perut Dila, Dila yang sudah sangat lelah dan mengantuk bahkan tidak merasa ada yang sedang memeluknya. Dila tidur begitu lelap.


_


_


Jam 5 Dila mengantar Indra, El dan Bu Fatma ke bandara. El nampak enggan untuk berpisah dengan Dila, waktunya bersama dengan Dila baru sebentar. Dan rasanya belum ikhlas untuk berpisah lagi, apalagi ayahnya El, nampak sangat berat melepas pelukannya pada Dila saat di bandara.


" Hati-hati dijalan ya sayang, harus terus patuh pada ayah dan nenek, ingat kita pasti akan bertemu lagi saat ada waktu luang, ibu janji", Dila mencium kening El, " kalau kangen video call saja sama ibu, oke?".


El mengangguk dan melepas pelukan Dila, karena sang ayah mengingatkan jika sebentar lagi pesawat akan segera terbang.


" Jaga diri kamu baik-baik disini secepatnya Mas akan datang lagi untuk menemui mu". Indra mengecup bibir Dila secara tiba-tiba, Dila sampai menunduk malu karena itu dilakukannya di tempat ramai.


Dila keluar dari bandara setelah El dan yang lain sudah masuk ke dalam pesawat. Di luar bandara Dila bertemu dengan Bram yang ternyata sejak tadi terus mengikutinya.


" Dil, aku perlu ngomong sebentar sama kamu", ujar Bram.


Dila mengikuti Bram dan masuk ke mobilnya menuju salah satu kafe yang terletak tak jauh dari bandara.


" Kenapa tidak di bicarakan semalam?", tanya Dila.


" Ada Indra dan Lita disana, aku tidak bisa membahas urusan pekerjaan dengan orang yang tidak berkepentingan", jawab Bram beralasan. Dila hanya mengangguk berusaha percaya dengan alasan yang Bram katakan.


Mereka masuk ke kafe yang cukup cozy dan bernuansa modern. Bram memesan minuman untuk mereka berdua, karena Dila menjawab terserah Bram mau memesan apa.


" Jadi apa yang mau dibicarakan?", tanya Dila langsung to the poin.


" Bisakah kamu pindah ke Jakarta dan tinggal di Jakarta lagi?, disana banyak cabang yang harus kamu cek kualitas produknya, untuk yang di Jogja aku harap kamu bisa mencari orang kepercayaan yang bisa menghandle outlet kamu yang baru ada beberapa", ujar Bram.


Dila merasa aneh dengan permintaan Bram barusan. Pindah ke Jakarta?.


" Aku juga masih harus kuliah disini, tapi akan aku pikirkan lagi, karena Mas Indra juga meminta aku untuk tinggal di Jakarta lagi. Mungkin aku akan pindah kampus. Tapi nunggu semester ini selesai", jawab Dila.


Mereka berdua menjeda percakapan saat pelayan menyajikan pesanan mereka.


" Baguslah jika Dila sendiri berencana untuk pindah, aku jadi tidak perlu terlalu membujuknya susah payah, demi mengabulkan keinginan wanita tua yang cerewet itu", batin Bram.

__ADS_1


__ADS_2