
" Kalau begitu sekarang aku pulang dulu, kalian bicarakan secara baik-baik masalah rumah tangga kalian, aku akan pulang ke kos-kosan sekarang, dan aku minta kamu ceritakan dan jelaskan semuanya sama aku saat kamu ada waktu Dil" .
" Selama ini aku kira aku adalah sahabat kamu, orang terdekat kamu, dan yang paling mengerti tentang kamu. Tapi ternyata pemikiran ku salah besar, pengetahuanku tentang kehidupan pribadi kamu adalah nol, bahkan aku tidak tahu selama ini kamu sudah menikah".
Lita nampak sangat sedih karena ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang Dila.
" Sahabat macam apa aku ini, bagaimana bisa aku tidak pernah melihat dan mengecek status perkawinan kamu di KTP".
" Pantas saja kamu tidak pernah tertarik pada cowok manapun, begitu banyak mahasiswa yang mengagumi kamu, belum lagi pelanggan toko yang sengaja datang kesini biar bisa lihat kamu. Dan yang paling penting, sepupuku Bram, seorang pengusaha muda dan sukses juga meminta padaku untuk membuatnya dekat sama kamu".
" Oh Dila.... seandainya aku tahu status kamu adalah istri orang, aku pasti tidak akan membiarkan laki-laki manapun mendekati kamu".
" Sori Dil, aku sudah pamit sejak tadi, tapi aku masih tetap ada disini, sepertinya aku begitu terkejut, sampai kepalaku rasanya mau meledak dengan beribu pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Kalau begitu sampai jumpa dilain kesempatan, bye Dil, bye Mas Indra, maaf mengganggu malam pertemuan kalian".
Lita langsung keluar dari ruko dengan langkah cepat dan masih terus bergumam sepanjang jalan seperti orang stress.
" Apa Lita bisa sampai kos-kosannya dengan selamat, sambil terus ngomong sendiri seperti orang gila seperti itu Dil?", Indra merasa kasihan pada Lita.
" Tentu saja bisa Mas, kos-kosan nya Deket dari sini, jalan lima menit juga sampai. Dia memang begitu bawaannya. Tapi dia itu pinter loh, kuliahnya saja di UGM, nggak kaya aku, yang nggak mampu masuk UGM karena nilainya pas-pasan. Hanya saja Lita itu ceplas-ceplos, anaknya ekspresif banget, jadi ya nggak punya banyak teman, kadang kan ada tipe orang yang gampang tersinggung, sedangkan Lita ya seperti itu, ceplas-ceplos dan mudah menyinggung lawan bicara, tapi dia sendiri tidak sadar kalau ucapannya bisa menyinggung orang lain".
" Ternyata selama ini aku berteman dengan mantan adik ipar kamu Mas, dunia memang sangat sempit , jauh-jauh ke Jogja masih saja bertemu dengan orang-orang yang mengenal kamu", gumam Dila.
" Dan apa kamu tahu tentang yang dikatakan Lita tadi Dil?, bahwa Bram minta tolong sama Lita untuk mendekatkan kalian berdua?, Bram itu sepupunya Keyla, mantan istriku", ujar Indra.
" Bohong kalau aku tidak tahu Mas Bram menyukaiku, tapi aku sudah menjelaskan padanya bahwa sudah ada laki-laki lain di hatiku, aku tidak pernah menerima cintanya Mas, hanya sepertinya Mas Bram belum tahu kalau aku ini istri kamu. Aku memang tidak pernah bercerita tentang hubungan kita pada siapapun. Karena setahuku, kamu sudah menyetujui permintaan yang aku tulis di suratku dulu, aku kira kita sudah bercerai Mas, maaf", ucap Dila sambil menunduk.
" Bram sudah tahu siapa kamu Dil, dia pernah datang ke kantorku dan melihat foto kita bertiga, foto dimana ada aku, kamu dan El, yang aku pajang di dinding ruang kerjaku. Mungkin Bram sengaja tidak memberi tahu mu jika kami saling kenal, karena dia ingin menjadikanmu miliknya".
Indra langsung merengkuh Dila kedalam pelukannya, Indra tidak ingin kehilangan Dila lagi, cukup dua tahun mereka berpisah.
" Jangan muram begitu, dari dulu sampai sekarang aku masih tetap milikmu Mas", Indra tersenyum, sejak dulu istrinya memang sangat dewasa dan bijaksana, pemikirannya jauh lebih tua dibanding umurnya.
__ADS_1
" Mas, kunci pintu dulu, jangan main peluk begini, kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?", Dila melepas pelukan Indra dan mengunci pintu rukonya.
" Apa mau main Tom and Jerry lagi seperti pertemuan pertama kita kemarin?, kamu jadi Jerry lari ke atas, biar aku jadi Tom, yang mengejar kamu dan aku tangkap", gumam Indra sambil terkekeh.
" Nggak mau ah main kejar-kejaran, capek juga naik tangga sambil lari", ucap Dila, sambil menaiki tangga satu persatu menuju kamarnya dengan pelan.
Indra yang sudah tidak sabaran langsung mengangkat tubuh Dila dan membawanya keatas dengan langkah cepat. Indra langsung merebahkan Dila di kasurnya, dan tak mengulur waktu, Indra langsung melakukan pemanasan terlebih dahulu bersama Dila, sebelum akhirnya mereka sampai di gerakan inti dari olahraga malam yang kini menjadi hobi baru mereka berdua.
Seandainya saja Dila tidak perlu merasakan trauma di masa lalu, mungkin saat ini mereka sudah dikaruniai keturunan, mungkin El sudah punya adik yang lucu, tapi keadaan memaksa mereka berdua untuk bersabar terlebih dahulu, hingga akhirnya saat ini mereka berdua bisa sama-sama menikmati malam indah bertabur bintang bermandikan cahaya rembulan yang menerobos melalui jendela kaca kamar Dila yang tidak sempat mereka tutup tirainya.
Saat ini Indra dan Dila sama-sama tengah mengatur nafas, usai pergulatan ranjang yang mereka lakukan, menikmati kepuasan batin yang sangat luar biasa.
Berulang kali Indra mengecup kening Dila, berulang kali juga Indra mengatakan i love you pada istrinya itu.
" Apa aku harus pindah kesini agar bisa bersama dengan kamu setiap waktu?", Indra kembali mengecup kepala Dila.
Setelah melalui malam indah bersama, rasanya menunggu bertemu kembali di akhir pekan itu sangat lama, Indra tidak mungkin setiap hari pulang pergi dari Jakarta ke Jogja, pekerjannya kadang sampai malam, dan itu membuatnya sangat kewalahan membagi waktu.
" Terus perusahaan kamu gimana Mas?, pekerjaan kamu punya tanggung jawab besar, kamu memimpin perusahaan, dan nasib ribuan orang tergantung pada setiap keputusan kamu".
" Tapi aku membutuhkan kamu Dil, bahkan setelah mengetahui keberadaan kamu, aku semakin membutuhkan kamu untuk berada di sisiku, sebagai istriku".
Dila paham dengan maksud ucapan Indra barusan, karena Dila juga merasakan hal yang sama, Dila kini merasa bahagia tiap kali Indra menyentuh dan mencumbunya, membuatnya merasa menjadi wanita yang paling di inginkan, menjadi wanita spesial dan sangat dicintai.
" Apa aku yang harus pindah lagi ke Jakarta?, masih bolehkah aku melanjutkan kuliahku di sana?".
" Aku sudah memulainya, tinggal setengah jalan hingga aku menjadi sarjana, sebentar lagi aku harus KKN, bisakah sampai saat itu kita sedikit lebih bersabar Mas?, kemarin-kemarin kita bisa melaluinya, aku yakin kedepannya kita juga bisa melaluinya lagi".
" Kalau Mas ada waktu datanglah kemari, jika aku yang ada waktu, aku akan datang ke Jakarta", gumam Dila.
" Baiklah, kita coba jalani hubungan jarak jauh ini, semoga saja jarak yang jauh ini bisa membuat kita lebih saling percaya satu sama lain, dan membuat kita semakin sayang satu sama lain".
__ADS_1
" Sekarang kita tidur saja, kalau kamu tidak tidur tidur, aku akan membawamu terbang sekali lagi", goda Indra sambil cengengesan.
Dila hanya menepuk lengan kekar Indra yang saat ini melingkar di perutnya. " Aku sudah capek banget mas, aku mau tidur, awas saja kalau berani sekali lagi", ucap Dila di bibirnya, karena jika Indra melakukan lagi berkali-kali pun mungkin Dila akan tetap dengan senang hati melayani suaminya itu. Lelah memang Dila rasakan, tapi rasa bahagia tiap Indra mencumbunya membuat rasa lelah itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi Dila.
Pagi pun tiba, akhirnya semalam Dila dan Indra melakukan pergulatan lagi hingga beberapa kali penyatuan, bukan hanya di ranjang kamarnya, bahkan saat jam 3 pagi di dapur, Indra kembali mencumbu Dila yang sedang menghaluskan bumbu ungkep untuk ayam suwir nya, saat Dila hendak mandi besar di kamar mandi sebelum subuh pun Indra kembali menerjang Dila, seolah mereka berdua seperti pengantin baru yang sedang ganas-ganasnya melakukan hubungan suami istri. Menikmati pergulatan di manapun berada, karena hanya mereka berdua yang ada di ruko itu. Indra seolah berusaha memanfaaatkan waktu saat bersama untuk terus bercinta.
" Nanti kita carter mobil sekalian ya sayang, biar bisa buat jalan-jalan ke tempat yang agak jauhan ", ucap Indra saat mereka berdua memasukkan masakan ke dalam wadah untuk di bawa ke penginapan.
Dila mengangguk setuju, " Gimana kalau kita ajak El ke Gembira loka zoo, kemarin El kelihatan bete waktu jalan-jalan di Malioboro".
" Kalau dulu pas pergi ke ragunan El terlihat sangat senang Mas, aku ingat betul hari itu", ujar Dila.
" Hari dimana kamu ketemuan sama cowok-cowok yang pedekate sama kamu itu?", ungkap Indra nampak cemburu.
" Hem... sudah lewat juga masih cemburu, Mas ini sudah nggak pantes cemburu- cemburuan kaya ABG begitu". Dila tersenyum begitu cantik pagi ini.
"Jangan tersenyum seperti itu, kamu jadi terlihat sangat cantik, nanti aku makan lagi mau?", goda Indra.
" Semalam juga sudah berulang kali, apa masih kurang juga Mas?", ucap Dila sambil manyun.
Tapi lagi-lagi Indra mencium bibir Dila, menekan tubuh Dila dan menikmati sarapan pagi yang kenyal dan beraroma mint itu.
Dila sedikit mendorong tubuh Indra karena mendengar suara pintu yang hendak dibuka.
" Ada yang datang Mas", ucap Dila sambil mengambil nafas dan merapikan lipstik yang berantakan akibat ulah Indra.
Benar saja, kedua karyawan Dila sudah sampai di ruko, Dila berpamitan pada kedua karyawannya karena sabtu ini tidak bisa bantu-bantu di toko.
" Iya nggak papa Dil, selamat bersenang- senang ya", ucap Hana.
" Jangan lupa oleh olehnya juga ya Dil", gumam Mia sambil cengengesan.
__ADS_1
Dila hanya tersenyum sambil mengangguk.
" Kalau ada yang nyari bilang saja lagi ada acara keluarga ya Mba, makasih", ucap Dila sambil berjalan keluar dari rukonya bersama Indra menuju penginapan.