Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 11


__ADS_3

Serentetan kegiatan di LPK hari ini bisa Dila lewati dengan lancar. Kegiatan terakhir adalah psikotes, ternyata Dila seperti mengikuti sebuah ujian, semua peserta masuk ke dalam gedung dan duduk sendiri-sendiri, ada beberapa lembar soal yang harus di jawab, dengan waktu selama dua jam.


Jika saat ujian di SMK dua jam di gunakan untuk mengerjakan satu pelajaran, kali ini waktu selama dua jam di gunakan untuk mengerjakan soal dari berbagai macam pelajaran. Ada soal matematika, ada penalaran, hafalan, logika, dan berbagai pertanyaan lainnya yang menurut Dila sangat mudah dikerjakan, karena dari semua pertanyaan itu adalah dari pelajaran yang Dila sukai .


Jam 3 sore kegiatan psikotes berakhir, peserta menunggu hasil penilaian dari soal-soal yang sudah dikerjakan tadi. Para peserta terlihat bergerombol dengan teman dari daerah masing-masing. Begitu juga dengan Dila dan kesembilan temannya yang duduk bergerombol di pelataran LPK.


" Teman-teman, kalau nanti ada salah satu dari kita yang nggak lolos gimana?, apa harus pulang ke kampung?, kan malu sudah pamitan sama tetangga tapi nggak jadi kerja, dan pulang ke kampung dengan tangan kosong", ucap Mia salah satu teman Dila yang merasa tidak percaya diri dengan jawaban dari psikotes tadi.


" Kita berdoa saja, semoga kita semua lolos seleksi, kalaupun ada yang nggak lolos seleksi ya... berarti belum rejeki kita", ucap Dila.


Tapi dalam hati Dila juga memikirkan jika ucapan Mia ada benarnya. Keluarga dan tetangga di kampung pasti mengharapkan jika anak-anaknya sukses di perantauan. Jika pulang dengan tangan kosong setelah menghabiskan banyak biaya, pasti akan sangat malu.


Panitia dari LPK memanggil para peserta untuk berkumpul, dan memajang daftar nilai dari psikotes tadi.


Semua berkerumun untuk melihat apakah nama mereka tercantum di daftar itu atau tidak. Dila masih duduk di kursinya mencoba untuk tenang, teman-teman yang lain sudah berdiri dan ikut melihat hasil penilaian di kertas yang menempel di papan putih.


" Kamu nggak penasaran pengen lihat hasil psikotes tadi?", salah satu mentor dari LPK yang sejak awal sudah memperhatikan Dila sengaja mendekat dan bertanya.


" Penasaran dong Pak, tapi nanti saja lihatnya, kasih kesempatan yang lain untuk melihat terlebih dahulu, lagian pada berjubel, takut malah jatuh karena kedorong-dorong", jawab Dila santai.


" Hasil psikotes kamu mendapat nilai terbaik, tapi mohon maaf, kami belum bisa menyalurkan kamu ke PT atau pabrik", ujar sang mentor.


Deg....


Seperti sebuah pukulan keras menghantam di dada Dila.


" Maksud bapak apa?".


" Kamu lolos seleksi dengan nilai terbaik Karina Nadila, sejak awal saya sudah bisa melihat semangat kamu yang patut untuk diacungi jempol".


" Tapi untuk sementara kamu harus beristirahat di rumah, atau mencari kerja part time dulu, karena usia kamu belum cukup umur untuk bekerja di PT atau perusahaan besar yang mengharuskan karyawan dan karyawati nya berusia minimal 18 tahun kurang 3 bulan".


" Saat saya membaca resume kamu, ternyata kamu baru lulus SMK tahun ini, dan bahkan usia kamu belum genap 17 tahun".


Ucapan sang mentor sudah cukup jelas bagi Dila, tapi Dila kurang terima dengan keputusan tersebut.


" Maaf Pak, saya ikut LPK ini, dan saya memasukan resume saya sejak saya masih di kampung, kalau memang usia saya tidak mencukupi, kenapa saya di berangkatkan ke sini?".


" Saya sudah keluar biaya banyak loh pak untuk sampai di tahap ini, memang bukan untuk membayar biaya training di LPK ini, tapi untuk biaya hidup saya selama disini, karena saya dari kampung, saya butuh tempat tinggal dan makan selama disini"


" Apa bapak bisa bantu saya cari pekerjaan apa saja disini, saya butuh pekerjaan secepatnya, agar saya bisa mendapat pemasukan. Uang saku yang orang tua saya kasih sudah semakin berkurang".


" Saya juga tidak bisa membuat orang tua saya kecewa gara-gara saya harus pulang kampung dengan tangan kosong. Saat hendak berangkat kesini, saya sudah pamitan pada tetangga-tetangga saya, kalau belum ada seminggu, tapi saya harus pulang karena gagal bekerja, saya malu Pak", ucap Dila jujur.


Dari raut wajah sang mentor, bisa terlihat wajah kasihan dan juga prihatin yang ditunjukkan pada Dila.

__ADS_1


" Ya sudah, kalau begitu, kamu bisa berangkat dan mengikuti pelatihan kerja disini mulai besok, toh kamu sebenarnya lulus semua seleksi dengan sangat baik, hanya usia kamu saja yang belum mencukupi, nanti kita cari jalan terbaik bersama-sama".


Sang mentor pergi meninggalkan Dila yang masih termenung sendiri.


" Woy...!. Ngapain ngelamun Dil?. Jangan bilang kamu nggak lolos seleksi". Asri merasa khawatir karena ekspresi Dila yang murung.


" Tapi tadi dari daerah kita aku lihat semuanya lolos kok Dil, aku yakin nggak salah lihat".


" As... coba kamu carikan namaku 'Karina Nadila' di papan, ada apa nggak?", ucap Dila sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja.


Tak lama kemudian Asri kembali menghampiri Dila sambil menepuk bahu Dila cukup keras. " Wah gila, kamu keren banget Dil, ada di peringkat pertama, nggak nyangka ternyata teman sekamar aku ini multi talenta. Tapi melihat kamu lulusan dari SMK mana sudah bisa di tebak sih kalau kamu pinter, hanya saja aku nggak ngira kamu se pinter itu".


Dila menegakkan tubuhnya dan berjalan kedepan melihat namanya, Dila sempat memfoto daftar yang tertulis nama dirinya. Ternyata benar, dirinya lolos dengan nilai terbaik. Tapi apa gunanya nilai terbaik, jika dirinya harus menunggu satu tahun sampai bisa ditempatkan bekerja di PT atau pabrik besar.


Sore ini Dila dan teman-temannya pulang dengan naik bus, karena merasa lelah dan cuaca mendung, takutnya akan turun hujan.


" Alhamdulillah ya... kita semua lolos seleksi, aku bersyukur banget, apalagi Dila, kamu keren banget Dil, dapat peringkat pertama, selamat ya!", ujar Yani saat di dalam bus.


Teman-teman yang lain juga memberi selamat untuk Dila, semua bahagia dengan kelulusan mereka, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya Dila rasakan saat ini. Dila tidak bahagia, hatinya sedih dan mendung seperti cuaca sore ini.


Dan benar saja, saat mereka turun dari bus, hujan ikut-ikutan turun dengan derasnya, mendung yang sudah tertahan sejak pagi, akhirnya tak kuasa melepaskan rintik hujan di sore hari.


Dila dan teman-temannya berlarian menuju kontrakan, karena baju basah kuyup, mereka semua langsung mandi. Dila pun langsung mencuci pakaiannya dan menjemur di depan kamar karena di luar hujan.


menyimpan didalam tasnya.


" Nggak ah, aku mau di kamar saja, rasanya dingin banget, males keluar-keluar", jawab Dila.


Sore yang kelabu, dengan rintik hujan yang semakin deras, kepergian Asri membuat Dila merasa sendiri, tak ada yang bisa diajak bicara, membuat Dila semakin tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.


" Aku harus tenang dan berpikir jernih, apa yang harus aku lakukan?, untuk saat ini aku harus cari kerja part time, tapi kerja apa?, aku bingung", Dila bermonolog, seperti orang tidak waras yang terus bicara sendiri.


" Kamu di dalam Dil?, bisa keluar dari kamar?, aku habis beli seblak nih, mumpung masih anget, kita makan bareng-bareng yuk?", suara Kunto terdengar dari kamar sebelah.


Dila langsung membuka pintu kamarnya, " dipikir-pikir lumayan juga jika makan gratisan, untuk menghemat pengeluaran", pikir Dila.


" Lantai depan kamarku basah, banyak jemuran bajuku, makannya di kamar kamu saja yang nggak basah, terus di kamar kamu kan ada mangkok, sendok dan piringnya, di kamar aku belum punya peralatan makan apa-apa", ujar Dila.


Kali ini Dila sudah berani masuk kamar sebelah, tentu saja dengan pintu kamar yang dibuka lebar, Dila tidak mau menimbulkan fitnah karena berduaan di dalam kamar bersama laki-laki. Meski mungkin disini tidak ada yang peduli dengan kehidupan orang lain.


Sejak Dila masuk ke kamarnya, Kunto terus menatap Dila lekat. Rambut Dila yang masih basah membuat Dila terkesan fresh, seksi dan sangat cantik, menimbulkan perasaan aneh yang tiba-tiba merasuk di pikiran Kunto.


" Kamu habis nangis lagi?", tanya Kunto di sela makannya.


" Lagi?, maksud kamu?", Dila bingung dengan ucapan Kunto".

__ADS_1


" Semalam kamu nangis juga kan pas di telepon teman sesama guru ngaji itu. Apa sekarang masih kangen dengan murid-murid kamu di kampung?", Kunto tidak menutupi jika semalam dirinya menguping pembicaraan Dila dan Wowo.


" Haruskah aku cerita sama Kunto apa yang membuat aku tak tenang, memang sepertinya Kunto pemuda yang baik, mungkinkah dia bisa bantu aku nyari pekerjaan", batin Dila.


" Evan dimana?, bukankah dia berangkat shift malam?, kok nggak ada di kamar?", Dila mengalihkan pembicaraan.


" Dari tadi pagi aku berangkat kerja, sampai aku pulang, Evan nggak ada, mungkin tidur di kontrakan temennya", jawab Kunto santai.


" Jadi kamu kenapa nangis lagi?, nggak papa kok kalau kamu mau cerita sama aku, dijamin aman", ujar Kunto meyakinkan.


Dila terlihat berpikir, " Mas Kun, kamu punya kenalan orang yang membutuhkan tenaga kerja nggak?, atau siapa tahu Mas Kun pernah lihat ada lowongan pekerjaan gitu...". ujar Dila antusias.


" Kenapa?, apa kamu nggak lolos seleksi hari ini?", tebak Kunto.


Dila membuka galeri foto di ponselnya,dan menunjukkan pada Kunto. " Aku lolos seleksi, bahkan diperingkat pertama".


Kunto menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Dila. Dan menatap layar ponsel Dila dengan seksama.


" Benar kamu peringkat pertama, keren, selamat ya", ucap Kunto sambil tersenyum dan mengusap kasar rambut Dila bagian depan.


" Tapi... kenapa kamu minta sama aku untuk di carikan pekerjaan?", tanya Kunto heran.


Dila menipis tangan Kunto yang mengacak poninya. " Aku baru keramas, dan tangan Mas Kun itu kotor, lagi makan seblak, please ya jangan ngacak-ngacak rambut aku yang sudah wangi!", Dila merasa kesal rambut basahnya diacak-acak.


" Eh iya maaf maaf, tadi tangannya reflek begitu saja. Ayo dilanjut mau ngomong apa tadi...?", Kunto merasa semakin aneh karena jantungnya kini justru berdetak semakin kencang saat menyentuh rambut Dila tadi.


" Carikan pekerjaan yang bisa menerima anak-anak yang belum punya KTP", ucap Dila kesal, karena Kunto semakin tidak fokus.


" Anak-anak belum punya KTP?, buat siapa Dil?", tanya Kunto bingung.


" Ya buat aku lah Mas Kun, buat siapa lagi", ucap Dila kesal.


" Kamu... kamu belum punya KTP?, kok bisa sih kamu kesini, di PT atau pabrik kan boleh kerja kalau sudah 18 tahun, serius kamu belum punya KTP?", Kunto cukup kaget karena selama ini mengira usia Dila sekitar 18 tahunan.


" Hari Sabtu besok usiaku baru genap 17 tahun Mas, mana aku tahu kalau di PT besar usia minimal karyawan 18 tahun, kalau aku tahu nggak akan aku ikut kesini".


" Lagian BKK nya nggak tahu gimana, aku sudah isi resume saat masih di kampung, masih saja di ikut sertakan ke sini"


" Ah.... aku jadi bingung, tadi salah satu mentor bilang sama aku, kalau aku bisa disalurkan kerja kalau usiaku sudah 18 tahun, itu berarti setahun lagi dong".


" Terus selama setahun itu aku mau ngapain disini?, nggak mungkin kan aku hidup lantang lantung nggak jelas, nggak mungkin juga aku pulang kampung, kemarin sudah pamitan sama semua tetangga, malu dong pulang kampung nggak jadi kerja".


" Gimana ya Mas, kasih masukan dong..."


Dila akhirnya mengungkapkan semua unek-uneknya pada Kunto.

__ADS_1


__ADS_2