
Acara makan-makan dadakan berjalan dengan lancar, meski tidak direncanakan dan hanya di musyawarah kan sebentar, tapi tidak mengurangi keceriaan dan kebahagiaan semua yang ikut. Baik ibu-ibu maupun anak-anak kecil.
El juga menjadi pusat perhatian semua orang saat itu karena tingkahnya yang begitu menggemaskan, anak usia 6 tahun yang berinisiatif maju ke depan dan mengucapkan selamat atas kelulusan ibu sambungnya. Tak lupa di depan semua orang El juga menyampaikan harapan dan keinginan nya agar ayah dan ibunya segera dikaruniai adik bayi yang lucu.
Semua yang hadir baik teman-teman Dila, pemilik beserta karyawan rumah makan, juga pengunjung rumah makan yang lain ikut mengamini doa El.
Dila begitu terharu dan bangga kepada putranya itu, " Ya.... dia adalah putraku, entah ada hubungan darah ataupun tidak, El adalah putra sulung ku yang paling menggemaskan", batin Dila
Setelah acara makan-makan selesai, semua ibu-ibu beserta putranya kembali ke kediaman masing-masing, ada yang berulang kali mengucapkan terimakasih pada Dila, ada juga yang langsung pulang karena harus berangkat kerja lagi, dan mengucapkan terimakasih melalui grup chat ibu-ibu wali murid.
Grup chat langsung ramai dan dipenuhi foto-foto.yang masuk saat di rumah makan tadi, ya begitulah ibu-ibu sosialita jaman sekarang, kapan saja dan dimana saja, semuanya sangat aktif ber foto ria.
Puluhan foto masuk dan tersimpan di galeri ponsel Dila. Selama ini memang belum pernah ada foto dari para ibu-ibu wali murid yang berkumpul bersama seperti itu, bahkan foto saat semua berdiri dan bejajar di depan rumah makan dijadikan foto profil grup yang baru.
Dila hanya bisa tersenyum mengetahui kesigapan ibu-ibu yang menjadi admin grup wali murid.
" Apa kita mau langsung pulang Bu?", tanya El saat Dila menggandeng tangan nya berjalan menuju motor mereka di parkiran rumah makan.
" Ibu mau ke kantornya Om Bram, apa El mau ikut?", tanya Dila menawarkan pada El mau ikut atau tidak. El langsung mengangguk setuju untuk ikut.
Di kantor Dila langsung disambut dengan hangat oleh sekertarisnya Bram, " Mau minum apa Bu Dila?, Pak Bram nya masih meeting dengan para manager, mungkin sebentar lagi selesai. Bu Dila di suruh menunggu sebentar di ruangan beliau".
Dila mengangguk, " Minum apa saja yang ada, saya masuk ya Mba", ujar Dila sambil mengajak El masuk ke ruangan Bram.
Ini memang bukan pertama kalinya Dila datang ke kantor Bram, karena sebelum pindah di Jakarta, saat Dila masih kuliah di Jogja dulu, Dila sudah beberapa kali datang, belum lagi setiap kali ada yang harus di bahas urusan pekerjaan, kadang Dila juga datang ke kantor Bram, atau kadang bertemu di luar seperti di kafe atau tempat nongkrong lainnya.
" Sudah lam nunggunya Dil?".
Dila yang sedang bercanda dengan El di sofa ruang kerja Bram menengok ke arah pintu. Menatap Bram yang datang bersama sekertarisnya sayang membawakan nampan berisi dua cangkir teh manis dan segelas susu coklat untuk El juga cemilan di toples.
" Belum, itu minumannya saja baru jadi, sekitar 5 menitan lah duduk-duduk disini".
" Makasih ya Mba, jadi ngrepotin", ujar Dila pada sekertarisnya Bram yang sangat seksi, mirip gaya berpakaian Tania mantan sekertaris Indra dulu.
__ADS_1
" Sudah jadi tugas saya Bu, silahkan di nikmati", sang sekertaris pamit keluar setelah meletakkan semua gelas dan cemilan di meja.
" Ada kabar penting apa sampai nyuruh aku datang kesini?", Dila menghadap Bram yang duduk di sebelah kirinya.
" Ini ada beberapa pengajuan untuk membuka outlet baru di daerah lain yang belum ada outlet nasi cup ayam suwir. Sebenarnya masih aku pilih-pilih yang sekiranya strategis, karena pengajuan pembukaan outlet baru sekitar 14 titik. Aku pikir kalau terlalu banyak akan sangat merepotkan kita, apalagi ini daerahnya semakin jauh dari Jakarta. Ada yang di Bogor dan Bandung....", ujar Bram mulai menjelaskannya.
Dila memperhatikan setiap penjelasan yang Bram sampaikan dengan seksama. Sedangkan El sibuk bermain game di ponselnya.
" Kalau aku pikir pembukaan outlet baru pilih lokasi yang sekiranya banyak terdapat orang yang malas masak, atau tidak sempat masak, entah itu disekitar kampus, SMA, atau tempat semacam rumah sakit dan tempat rekreasi", imbuh Dila.
Setelah merasa diskusi mereka mencapai kesepakatan tujuan. Bram menyudahi perbincangan serius urusan pekerjaan dengan Dila.
" Apa kerjasama dengan supplier beras dan ayam berjalan dengan lancar Mas?", tanya Dila.
Bram tersenyum lebar, " Kenapa Dil?, kamu mau tanya kabar tentang Kunto sama aku?. Dulu kamu ada rasa ya sama dia?".
Seolah di todong Dila langsung angkat tangan dan menggeleng. " Mas Kun itu sudah aku anggap saudara, aku hanya menanyakan soal pekerjaan dan kerja sama kita dengan mereka", ujar Dila.
" Kok cuma mas Kun yang disebut, si Fino nggak?". Lagi-lagi Bram memancing Dila.
" Lita ?, kok Lita bisa tahu?", Dila justru merasa aneh karena setahu Dila dirinya belum pernah cerita masalah adu jotos antara Indra dan Kunto.
" Loh.... kamu nggak tahu kalau apartemen Kunto ada di lantai 11 gedung yang sama dengan apartemen Lita?, cuma beda satu lantai".
" Sepertinya sekarang mereka berdua juga semakin sering jalan bareng", ujar Bram.
" Serius Mas?", tanya Dila masih kaget.
" Serius.... dua rius malahan, kemarin pas jenguk aku ke rumah sakit, Lita ngajak Kunto, sama Kayla juga, mereka datang bertiga".
Ucapan Bram membuat Dila makin kaget. " Kenapa saat aku ke apartemen nya dia nggak ngasih tahu aku kalau apartemen kunto ada di sana juga?", pikir Dila penasaran.
" Indra memang masih sama seperti dulu, emosian dan suka main kekerasan. Aku kira dia sudah mulai berubah saat kenal kamu, ternyata masih sama saja, malah makin cemburuan, cinta banget kayaknya Indra sama kamu", ujar Bram.
__ADS_1
" Dulu waktu aku pernah kebablasan mainin hati cewek, dia yang merasa seperti nggak terima dan hampir nonjok aku, padahal cewek itu bukan siapa-siapa".
" Aku juga ingat seberapa marah dan cemburunya Indra waktu kita jalan-jalan di kafe Jogja bareng Lita, aku yakin dia sudah berusaha sangat keras untuk menahan emosinya, sampai tidak menghajar ku di tempat", kenang Bram sambil meringis merasa lucu.
" Itu sih Mas Bram saja yang sudah tau bagaimana Mas Indra tapi masih sengaja mancing-mancing emosinya", ucap Dila.
Bram menghembuskan nafasnya panjang, " Kayla sialan.... dia yang sudah membuat kamu jadi memilih Indra ketimbang aku".
" Pakai menipu semua orang kalau El anak Indra, tapi yang membuat aku penasaran, kamu punya ide mengecek DNA mereka dari mana sih Dil?, apa kamu tahu siapa ayah kandung El?", kali ini Bram sengaja mengecilkan volume suaranya, agar El tak mendengar percakapan mereka berdua.
" Aku juga nggak tahu", gumam Dila sengaja berbohong, karena Dila memang belum pernah mengecek DNA El dengan Pak Faris, ini masih dugaan.
" Aku yakin kamu tahu sesuatu yang tidak seorangpun tahu, kamu itu selalu saja menjadi wanita yang misterius, membuat orang lain penasaran dengan isi kepala kamu". Bram duduk mendekat ke Dila.
" Coba aku ingin melihat reaksi kamu, ada beberapa laki-laki yang sering bertemu dengan Kayla, meski saat itu Kayla sudah menikah dengan Indra, karena waktu Indra sangat sibuk merintis karirnya, dan waktu itu Kayla butuh teman ngobrol dan teman jalan".
" Faris.... Niko.... Andrew...", Bram sengaja menyebut nama teman-teman Kayla dengan perlahan, memperhatikan ekspresi Dila, siapa tahu saat menyebut salah satu nama laki-laki itu Dila terlihat berbeda, namun ekspresi Dila sama saja saat Bram menyebutkan semua nama itu.
" Banyak juga yang dekat dengan Mba Kayla, padahal Mas Indra nggak pernah dekat dengan perempuan lain", ujar Dila.
" Siapa bilang..., Indra dulu juga selalu pergi kemana-mana bersama Tania, mereka dulu dikabarkan sering tidur bersama, karena mereka harus meeting di luar kota dan menginap di hotel saat awal membangun usahanya".
Dila jadi teringat kenangan buruk saat dirinya melihat dengan mata kepala sendiri Indra tidur tanpa busana di kasur yang sama dengan Tania.
" Kenapa ekspresi kamu jadi seperti itu?, kamu juga pernah dengar tentang kabar itu ya?", tebak Bram.
Dila hanya meringis, " Bukan sekedar mendengar, tapi juga pernah melihat, itulah yang membuat aku minggat dari rumah dulu", namun tentu saja Dila hanya mengucapkan dalam hatinya saja, sambil menggelengkan kepalanya.
" Ya sudah kalau urusan pekerjaan sudah selesai, aku permisi dulu ya Mas, sudah hampir sore, mungkin sebentar lagi Mas Indra sudah pulang dari kantornya".
Dila memilih menyudahi percakapan dengan Bram, dan berpamitan pulang.
" Kemarin, beberapa minggu yang lalu aku ketemu Kak Intan, dia sudah berubah jadi lebih baik sekarang, apa Mas Bram tahu Kak Intan sudah menikah?".
__ADS_1
Bram menggeleng, " aku juga sudah sangat lama tidak datang ke tempat karaoke, dimana Intan bekerja disana, sejak ketemu kamu aku jadi insyaf Dil".
" Makanya buruan cari istri, biar bisa melakukan hubungan yang halal", kalimat Dila yang terakhir diucapkan saat keluar dari ruangan Bram sambil menggandeng tangan El keluar dari ruang kerja Bram.