Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 112


__ADS_3

Acara tadarus bersama selesai jam 7 malam, tepat saat adzan Isa berkumandang. Para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati suguhan presmanan untuk makan malam. Baru mereka diperbolehkan untuk pulang dengan membawa besek dan juga pecak yang sudah di taruh di cobek tanah liat satu-satu tiap orang.


Ada tamu yang langsung pulang ke rumahnya, ada juga yang memilih untuk tetap di rumah Toto, untuk mengobrol dan bersantai.


" Dit, As, kalian beresi piring kotor dan gelas kotor yang ada di depan, bawa ke belakang, itu ibu-ibu sudah siap buat cuci piring dan gelas kotor", gumam Siti yang sedang membereskan bekas meja prasmanan.


Dita dan Asna pun langsung kedepan dan menumpuk piring dan gelas kotor bekas dipakai orang-orang makan tadi. Sekalian membereskan sampah kulit buah dan bekas snack juga.


Asna sesekali curi pandang dan tersenyum pada Wowo yang masih di ruang tamu rumah Toto bersama bapak-bapak lain tengah membahas urusan pekerjaan.


Asna tahu Wowo sesekali menatap foto pernikahan Dila dan juga foto wisuda Dila yang dipajang di dinding ruang tamu dengan ukuran cukup besar.


Toto dan Siti memang sengaja mencetak foto tersebut dengan ukuran yang besar, agar setiap tamu yang datang kerumah tahu, bahwa putri sulungnya sudah selesai kuliah, sudah menjadi sarjana, juga sudah menikah dan bersuami.


Karena dengan seperti itu, tidak ada lagi pemuda-pemuda yang datang kerumah dan menanyakan tentang Dila lagi.


" Suruh masuk ke ruang tengah saja Mba Asna , kalau mau ngobrol sama Mas Wowo nya. Jadi nggak kaya pacarannya anak kecil, yang cuma berani saling pandang dan senyum-senyum nggak jelas". Dita yang baru SMA kelas 11 justru mengajari Asna yang sudah lebih dewasa. Padahal Dita sendiri belum punya pacar. Karena peraturan Toto yang melarang putrinya berpacaran saat sekolah juga berlaku pada Dita, agar sama-sama adil.


" Nanti dong Dit, kan aku lagi bantu-bantu kamu dulu, masalah ketemuan nanti gampang. Baru jam 7 lebih, masih banyak waktu sampai jam 9 malam, hehe".


Asna terkekeh, karena teringat jam malam Dila dulu, tiap kali jam 9 malam, pasti Dila dicari-cari oleh Toto dan disuruh pulang kerumah. Kecuali Toto tahu jika Dila sedang kumpulan atau acara resmi lainnya, kalau Toto tahu Dila sedang ngobrol santai, pasti Dila langsung disuruh pulang.


Disiplin, itu sebenarnya tujuan Toto membuat jam malam untuk putrinya. Perempuan memang akan terlihat kurang baik dan kurang terjaga jika masih berkeliaran di luar saat malam sudah larut.


Dila memilih masuk ke kamar Dita untuk menemani El tidur, karena El sudah terlihat sangat mengantuk sejak tadi, mungkin efek kecapekan seharian begitu banyak acara, ditambah tidak sempat tidur siang, karena itulah malam ini El tidur lebih awal.

__ADS_1


Saat El sudah mulai terlelap, Dita dan Asna ikut masuk ke dalam kamar menghampiri Dila.


" Besok siang mba sudah harus pulang ke Jakarta. Karena hari senin harus berangkat pagi ke sekolah. Kamu kalau mau ngajak El pergi-pergi besok, sekiranya jam 2 siang sudah dirumah ya Dit". Dila sengaja memberi tahu Dita, karena tadi sempat mendengar Dita berniat mengajak El untuk jalan-jalan besok.


" Kok cepet banget balik ke Jakarta nya Dil?, memangnya kamu sudah kerja di sana?". Asna memang belum tahu jika Dila kini mengajar di SD. Yang Asna tahu Dila memang sudah di wisuda beberapa bulan yang lalu.


" Iya As, aku harus ngajar anak-anak didikku, di Sekolah Mulia, tempat El sekolah juga, tapi aku ngajar anak kelas 5 SD, kalau El kan belajar di TK nya" , gumam Dila memberi tahu.


" Jadi kamu sekarang sudah jadi guru Dil?, wah kamu memang menginspirasi banget, begitu gigih mengejar cita-cita, hingga kamu berhasil mewujudkan nya".


" Sebenarnya, yang membuat aku lebih salut lagi sih karena kamu masih pingin jadi guru, padahal semua kebutuhan sudah dipenuhi oleh suami kamu, bahkan mungkin besar uang bulanan dari suamimu ketimbang gaji kamu jadi guru".


Ucapan Asna memang sangat benar, tapi kalau sudah cita-cita, dan sebuah kesenangan dan kebahagiaan bagi Dila untuk bisa berbagi ilmu, mau bagaimana lagi, mungkin sikapnya bisa dibilang aneh, tapi dari pada tidak melakukan apa-apa, bukankah lebih baik mengajar anak-anak kecil calon generasi penerus bangsa.


Apalagi di sekolah yang Dila ajar, kebanyakan murid disana memang anak orang kaya, dan kebanyakan dari mereka yang lulus dari SMA Mulia bahkan melanjutkan kuliah diluar negeri, banyak yang jadi pengusaha sukses, entah merintis usaha sendiri, atau meneruskan usaha orang tuanya. Banyak juga yang menjadi orang sukses di bidang lain.


Kalau Dila bisa menjadi bagian dari perjalanan kesuksesan dari beberapa anak itu, tentu saja akan ada rasa bangga karena sudah menjadi guru yang bisa membawa anak muridnya menuju kesuksesan.


" Jadi guru itu kan kamu sendiri tahu, sudah jadi cita-cita aku sejak dulu As...., dan saat kita punya kemampuan untuk mencapai cita-cita kita, kenapa tidak kita wujudkan, meskipun keadaan sudah berubah, tapi yang namanya cita-cita mah kudu tetap di kejar", ujar Dila. " Kita keluar yuk, El sudah nyenyak tidurnya, takut malah bikin berisik kalau kita ngobrol disini", ajak Dila.


Asna dan Dita menurut saja, keluar dari kamar Dita, mengikuti Dila.


" Kalau kamu aku ingat dulu kepingin jadi designer kan As?, kenapa kamu nggak terusin saja itu bakat kamu menggambar baju-baju. Siapa tahu sekolah kamu di SMK tata busana bisa membawamu menuju kesuksesan. Allah kan selalu punya jalan untuk hambanya yang bersungguh-sungguh", gumam Dila.


Asna nampak berfikir. Dirinya hanya lulusan SMK tata busana, dan sekarang bekerja di salah satu pabrik konfeksi besar, itu sudah dapat gaji lumayan, karena Asna kini sudah menjabat sebagai kepala bagian. Jadi Asna tidak terlalu memikirkan cita-citanya lagi. Bagi Asna, penghasilannya sudah lebih dari cukup. Dan untuk menjadi designer Asna masih kurang banyak pengalaman dan pengetahuan mengenai bidang itu.

__ADS_1


" Nggak deh Dil... umurku sudah 23, sekarang aku tinggal nunggu kapan Wowo mau melamar aku, setelah itu kita menikah, tabunganku sudah lumayan banyak jika hanya untuk menggelar pesta pernikahan. Habis itu tetap kerja, sampai hamil dan punya anak. Nanti anakku aku titipkan ke ibuku, setelah aku selesai cuti melahirkan aku berangkat kerja lagi. Seperti itu sih yang selama ini aku bayangkan".


" Sudah tidak berniat mengejar cita-cita, mungkin karena sudah merasa nyaman dengan pekerjaan saat ini", gumam Asna.


Dita hanya diam mendengarkan kedua wanita yang lebih dewasa darinya saling berargumen. Dita sendiri sampai saat ini belum tahu apa yang menjadi cita-cita nya. Karena dulu ekonomi keluarganya sangat rendah, dan karena alasan itu Dita tidak berani untuk punya cita-cita. Untuk apa bercita-cita jika tidak punya biaya untuk mewujudkannya, itu yang ada di pikiran Dita.


Mungkin mulai sekarang Dita harus mencontoh kakaknya, menentukan cita-cita apa yang di inginkan nya, mungkin kedua orang tuanya akan mendukung, terutama Kak Dila yang selalu mensupport dirinya jika itu adalah untuk hal kebaikan.


Belum terlambat kan menentukan cita-cita saat sudah SMA kelas 11?, masih ada waktu 2 tahun untuk membuat ancang-ancang mau dibawa kemana masa depan dirinya. Dita jadi sadar harus membuat nilai yang bagus agar bisa mendaftar di universitas yang akan jadi pilihannya.


" Kenapa kamu malah bengong Dit?", Dila menepuk Dita yang sedang bengong sendiri.


Asna sudah pergi menemui Wowo di ruang tamu, dan mengajak Wowo ngobrol diruang tengah, namun tidak bergabung dengan Dila dan Dita, agar lebih privasi.


" Nggak papa Mba, cuma lagi mikir, apa ya cita-cita aku?, apa mba punya pandangan aku ini jago di bidang apa?, biar aku mulai memikirkan masa depan, mau kuliah dimana, jurusan apa, aku bener-bener belum kepikiran sampai kesitu".


" Kalau suka sama anak kecil, tentu saja suka, sama seperti Mba Dila. Tapi kalau pengen jadi guru, sepertinya enggak deh... Dita itu nggak se sabar mba Dila, jadi pasti kalau ngajar anaknya nggak mudeng-mudeng pasti bisa emosi jiwa".


" Ketrampilan juga Dita nggak pinter di bidang apa-apa, jadi apa ya cita-cita Dita?", gumam Dita bermonolog. Membuat Dila jadi tertawa sendiri melihat tingkah adiknya.


" Coba kamu pikirkan perlahan, apa bidang yang kamu suka, jadi kita teruskan apa yang sekiranya membuat kita bahagia, begitu Dit. Jangan sampai cita-cita kita justru menyiksa dan menuntut kita untuk sengsara".


" Misal otak pas-pasan, tapi pengen jadi dokter, yang kuliahnya saja harus menghafal banyak kosa kata baru. Belajarnya tiap hari, dan kurang istirahat, itu sama saja menyiksa. Karena itulah, kamu tentukan cita-cita itu adalah sesuatu yang bisa membuatmu nyaman dan bahagia. Jadi saat kamu belajar pun akan menikmatinya, nggak jadi beban", ujar Dila.


Sejak tadi Dila dan Dita asyik ngobrol, begitu juga dengan Asna dan Wowo yang duduk di pojokan ruang tengah. Entah apa yang sedang di bahas oleh pasangan itu, sepertinya sangat serius, nampak dari ekspresi Wowo dan Asna.

__ADS_1


__ADS_2