Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 97


__ADS_3

Tiga hari setelah mengirimkan berkas persyaratan lamaran, Dila mendapat panggilan interview dari sekolahan. Dila datang pagi-pagi ke sekolah dengan pakaian rapi, biasanya Dila mengantarkan El dan langsung pulang, kini Dila berpindah menunggu di ruang tamu sekolahan. Dengan mengenakan atasan kemeja putih dan bawahan celana panjang hitam, juga sepatu pantofel hitam.


Awalnya Dila menutupi pakaiannya dengan memakai sweater rajut di luar kemeja, namun setelah sampai di ruang tamu sekolah, Dila melepas sweater rajut itu dan menyimpan di tasnya.


Sudah ada beberapa pelamar lain yang juga berada di sana, kebanyakan dari mereka terlihat sangat nervous dan gelisah, mereka yang gugup mungkin karena baru pernah mendaftar pekerjaan seperti Dila. Namun ada juga yang terlihat tenang, yaitu mereka yang sepertinya sudah pernah mengajar sebelumnya di sekolah lain, namun ingin mendaftar di sekolah tersebut karena gaji pengajar di sekolah tersebut memang dikenal lebih besar dari sekolah-sekolah yang lain, tentu saja, karena biaya bulanan, biaya gedung dan sebagainya dari siswa juga lebih mahal dari sekolah lain.


Para pelamar kerja masuk satu persatu ke dalam ruang kepala sekolah yang dijadikan ruang interview. Dila mendapat urutan ke 4, tidak terlalu awal, juga tidak terlalu akhir.


Saat melihat ekspresi tiga pelamar sebelumnya Dila tidak bisa menebak apa yang ditanyakan oleh kepala sekolah, karena beliau yang meng-interview para calon pengajar secara langsung.


Dan saat tiba giliran Dila masuk, Dila dipersilahkan duduk oleh pak kepala sekolah di kursi yang berada tepat dihadapannya. Setelah saling menyapa satu sama lain, karena sebelumnya mereka saling kenal sebagai kepala sekolah dan wali murid, Pak kepala sekolahpun memberikan pertanyaan yang ternyata jauh dari perkiraan Dila.


" Bu Karina Nadila, sebagai seorang ibu dari salah satu murid di sekolah ini, putra anda termasuk salah satu murid yang berprestasi disini, menurut anda metode apa yang seharusnya dilakukan seorang guru pengajar agar anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran ?".


Dila pun menjawab sesuai dengan sudut pandangnya sebagai wali murid dari El. Tentu saja kepala sekolah tersenyum mendengar jawaban Dila yang sepaham dengan metode cara mengajarnya.


" Apa sebelum ini anda pernah mengajar ?".


Dila mengangguk, " Saya pernah mengajar, hanya saja bukan di sekolahan resmi seperti ini, saya dulu mengajar ngaji di TPQ, saat itu saya masih SMA, dan itu menjadi kegiatan saya tiap sore, yaitu mengajar di TPQ. Sebenarnya saya suka anak-anak kecil, karena itulah saya ingin sekali menjadi pengajar".


" Saya juga pernah mengajar siswa SD, di daerah Bekasi, saat itu si sebenarnya adalah salah satu kegiatan saat saya sedang KKN, tapi hanya sekitar satu bulan".


Lagi-lagi Pak kepala sekolah mengangguk- anggukkan kepalanya.


" Seandainya Bu Dila diterima disini, berapa besar perkiraan gaji yang Bu Dila pikir akan Bu Dila terima, guru itu gajinya tidak besar seperti seorang pengusaha", gumam Pak kepala sekolah.


" Wah... saya sendiri belum tahu dan belum memperkirakan berapa gaji seorang pengajar, jujur dulu waktu mengajar di TPQ, nggak ada bayaran sama sekali Pak, kami mengajar suka rela, karena memang mereka yang mengaji juga datang tanpa di pungut biaya. Hanya saja kadang ada orang dermawan yang memberikan sedikit rejeki, dan diberikan kepada kami sekedar untuk membeli sabun", ujar Dila.


" Kalau menurut saya, menjadi guru itu seperti panggilan hati, bukan membicarakan pekerjaan yang bergaji besar. Lagian saya sudah punya usaha sendiri, saya mendaftar karena saya butuh kegiatan yang positif dan juga yang saya sukai, karena menjadi guru adalah cita-cita nya saya sejak kecil", gumam Dila.

__ADS_1


Kepala sekolah nampak tersenyum lebar. " Baiklah kalau begitu, sesi interview hari ini cukup sekian, terimakasih atas kontribusi Bu Dila ikut menjadi pelamar di sekolah ini, semoga saja hasil maksud", ucap Pak kepala sekolah sambil menjabat tangan Dila.


Dila keluar dengan raut wajah tak bisa di artikan, membuat peserta interview lainnya menjadi penasaran dengan pertanyaan apa saja yang diajukan.


" Dil..!".


Dila menengok ke arah suara, ternyata dari depan ruang guru, ada Bima yang melambaikan tangannya di sana.


" Kenapa?".


Bima mendekat ke Dila. " Gimana interview nya, lancar?, yakin nggak sama jawaban kamu?".


Dila nampak berpikir sambil berjalan melewati lorong menuju gedung kelas El berada. " Nggak tahu deh, aku kira mau ditanya soal pelajaran, tapi ternyata bukan, untung semalam aku mau belajar nggak jadi, hihihihi", Dila terkikik sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


" Mana ada interview ditanya soal pelajaran, kamu ini ada-ada saja Dil, ini interview pekerjaan, bukan tes kelulusan", Bima menepuk lengan Dila lirih.


" Ish, apaan sih kamu Bim, maksud aku, kan aku daftar menjadi guru SD kelas 5, jadi aku pikir akan di suruh jawab soal anak-anak kelas 5 SD, begitu, seperti uji kelayakan menjadi seorang guru, begitu....", gumam Dila.


" Kok kamu tahu Bim?", Dila duduk di depan kelas El agak ke belakang, di samping taman bermain tepatnya.


Bima masih berdiri karena tujuannya adalah ke kelas 3, dimana kelas tempatnya mengajar.


" Ya tahu, kan aku juga waktu mau daftar kesini di interview juga, kamu ada-ada saja Dil".


Dila mengangguk, " benar juga yang kamu katakan, kenapa aku tidak kepikiran kesitu, dan bertanya terlebih dahulu sama kamu apa saja yang ditanyakan, aku nggak kepikiran ada kamu disini", Dila nyengir kuda.


" Kamu itu memang selalu lola (loading lama), kalau urusan seperti ini. Ya sudah aku ke kelas dulu, jangan lupa makan-makan kalau kamu diterima", ujar Bima seraya pergi meninggalkan Dila menuju kelas tempatnya mengajar.


" Memang ada acara apa Bu Dila ?, pak Guru Bima sampai ngajak makan-makan?", tanya salah seorang wali murid yang mendengar.

__ADS_1


" Nggak papa Bu, belum jelas jadi apa nggak, masih nunggu pengumuman besok", ujar Dila, masih tetap merahasiakan pada semua tentang pendaftaran yang sudah dilakukan nya.


" Mau dong ikut makan-makan, kan sudah hampir dua minggu Bu Dila sudah diwisuda".


Benar juga, ibu-ibu itu bahkan patungan untuk membuat hampers besar dan dikirimkan kepada Dila.


" Bagaimana kalau nanti siang pulang sekolah, kita mampir ke rumah makan yang ada di depan sekolahan?", tanya Dila.


" Wah, setuju banget, apalagi kalau di traktir sama Bu Dila".


Dila tersenyum sambil mengangguk, " Tentu saja, anggap sukuran, perayaan kecil-kecilan setelah wisuda kemarin".


" Yeee....., makan-makan !", sorak para Ibu yang lupa mereka sedang menunggu di depan kelas anaknya, pasti sorakan mereka membuat tanda tanya besar untuk anak-anak yang masih belajar di dalam.


Dan seperti yang sudah direncanakan, saat pulang sekolah, Dila dan beberapa ibu-ibu wali murid sekaligus bersama anak-anak mereka semua masuk kerumah makan yang ada di depan sekolahan. Sungguh sangat ramai karena hampir semua hadir, bahkan ibu-ibu yang tidak menunggui anaknya ikut makan-makan karena diberi tahu akan di traktir Dila saat menjemput anaknya oleh wali murid yang lain.


Suasana rumah makan seketika berubah menjadi rame pengunjung, dari ibu-ibu dan juga anak-anak kecil sepantaran El.


Dila sengaja memesan paket nasi dan ayam bakar yang sama, agar semuanya mendapatkan makanan yang sama, dan tidak menimbulkan ketidak seimbangan. Dan paket fried chicken untuk anak-anak kecil nya.


Semua langsung mencari tempat duduk yang tersedia, untung rumah makan itu cukup luas, sehingga bisa menampung 20 ibu-ibu plus anak-anak mereka.


Suara canda, tawa, langsung memenuhi rumah makan itu, ada juga yang menggosip dan menceritakan cerita sinetron yang mereka sukai. Dila sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, dan hanya bisa tersenyum sambil memohon maaf pada pemilik rumah makan jika kehadiran rombongannya membuat berisik.


" Tidak apa mba, memang begitu kalau ibu-ibu sudah kumpul, rame dan berisik", ujar salah seorang pramusaji yang sedang menyajikan es teh manis terlebih dahulu sembari menunggu makanan utama siap.


Pemilik rumah makan juga mengatakan hal yang sama, " Memang seperti itulah kalau ibu-ibu sudah kumpul, rame banget Mba, nggak papa kok, saya malah seneng".


Dila pindah ke bagian kasir dan menghitung berapa jumlah yang harus di bayar, untung saja rumah makan itu menerima pembayaran melalui kartu debit, kalau tidak Dila harus pergi ke ATM terlebih dahulu untuk mengambil uang cash, karena di dalam dompet Dila saat ini hanya tersimpan yang 200 ribu saja.

__ADS_1


" Total semua satu juta delapan ratus ribu rupiah, itu sudah sama minuman dan juga gratis mainan di setiap paket fried chicken nya Mba", ujar sang Kasir. Dila hanya mengangguk sambil menyerahkan kartu debit miliknya.


" Makasih banyaknya Mba...", ujar sang Kasir tersenyum ramah pada Dila sambil mengembalikan kartu milik Dila kembali.


__ADS_2