Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 114


__ADS_3

Dita berjalan cepat mengimbangi El yang lari pelan, jalanan di hari minggu pagi memang sangat ramai. Apalagi yang menuju ke pasar. Bukan hanya pejalan kaki saja yang berlalu lalang, tapi pengendara motor, becak, dan juga ojek juga sangat ramai.


Semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu ke pasar badog. Dimana ada sebagian dari mereka yang menjadi pembeli, ada juga sebagian dari mereka yang menjadi pedagang.


Semua fokus dengan urusan mereka masing-masing, ada yang mencari makanan, ada juga yang berjualan makanan. Dita dan El sampai di pasar badog setelah berlari pelan selama 20 menit, tentu saja melalui jalan terobosan agar tidak terlalu memutar.


Padahal kabut pagi masih tebal dan matahari saja belum menampakkan diri, tapi suasana di pasar badog sudah begitu ramai. El menatap takjub dengan suasana ramai dan berisik di pasar yang menggunakan penerangan ala kadarnya.


" Tante Dita, ternyata pasar itu lebih ramai daripada mall, lihatlah penjual itu, bahkan sampai tidak kelihatan grobogan dagangannya karena di kerubut oleh anak-anak kecil dan juga orang dewasa", El menunjuk penjual kue srabi yang pembelinya ramai dan tengah mengantri menunggu serabi pesanan mereka matang.


" Apa El mau beli itu?, kita mulai dari penjual yang paling ujung gimana?", tanya Dita menawarkan pertama-tama membeli serabi. Karena penjual serabi mangkal di posisi paling pinggir.


" Mau, mau Tante, sepertinya enak", El menghirup aroma gurih dari serabi yang sedang di ambil dari wajan kecil oleh si penjual serabi, kemudian penjual serabi menaruh adonan baru di wajan yang sama setelah mengoleskan minyak menggunakan semacam kuas kecil yang dibuat dari serabut kelapa. Seperti bubur putih, kemudian dituang lagi seperti bubur coklat diatasnya. Aroma gurih kembali tercium membuat El nampak ingin segera mencicipinya.


" Oke kita pesan dulu", Dita langsung ikut mengantri di penjual serabi.


" Mbah, beli serabinya 10 ribu".


Si penjual serabi yang seorang nenek-nenek tua mengangguk, " sabar ya neng cantik, ini buat Mas yang ini dulu, sudah nunggu sejak tadi".


Dita mengangguk mengerti.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, kini Dita mendapatkan serabi yang dipesannya. El menikmati saat-saat mengantri serabi, sambil melihat si penjual itu membuat serabi dengan sangat cekatan, apalagi aroma gurih setiap kali si penjual serabi mengambil serabi yang matang dan menuang kembali adonan, ada sensasi nikmat tersendiri menunggu sampai pesanan mereka siap.


" Sudah dapat jajan yang pertama, di makan nanti sebentar lagi ya El.... soalnya masih panas, nunggu agak dingin, biar mulutnya nggak kebakar. Habis ini kita beli apa lagi, itu disebelah sana ada cilor(aci telor), apa El mau?".


Lagi-lagi El menatap penjual yang ditunjukkan oleh Dita, disana juga banyak anak kecil sedang mengantri. El berpikir, setiap pembeli disini semuanya ramai, pasti makanan dan jajanan disini enak-enak. El pun mengangguk setuju.


" Bang cilor nya dua, lima ribuan ya bang, satu pakai rasa jagung manis, yang satu balado pedas", ucap Dita memesan jajan keduanya.


" Oke mba, ditunggu sebentar", jawab sang penjual cilor.


Tak lama kemudian cilor matang, tinggal di Eri bubuk tabur dan penyedap sesuai selera pembeli. Dita membubuhi color miliknya dengan banyak bubuk balado dan bubuk cabai, sedangkan punya El hanya diberi bubuk jagung manis dan penyedap rasa.


" Sudah dapat dua jajan, sekarang mau apa lagi nih?, apa El mau sarapan dulu?, tadi pagi kan makan nasinya sudah agak lama, Tante Dita juga laper banget, kita makan bubur ayam dulu gimana?". El nampak menggelengkan kepalanya, El memang masih merasa kenyang karena sudah makan, tapi karena Dita lapar, akhirnya mereka berdua tetap ke tenda penjual bubur ayam.


Dita memesan satu porsi untuknya sendiri, dan setengah porsi untuk El.


" Ayo El sayang... coba di cicipi dulu, nanti kalau tetap nggak suka, biar Tante Dita yang habiskan, perut Tante masih muat kok buat menampung setengah porsi bubur ayam yang lezat ini", Dita terus meminta El untuk mencicipi bubur ayam dari mangkok di depannya.


El memang nampak enggan untuk makan bubur ayam yang ada di hadapannya, namun saat mencicipi di suapan pertama, ternyata bubur ayam yang dimakannya rasanya sangat gurih dan enak. Entah apa bedanya dengan yang ada di kantin sekolahnya, kadang saat istirahat makan siang El beli bubur ayam di kantin sekolah, tapi tidak se enak bubur ayam yang sedang dimakannya saat ini.


" Gimana?, enak kan....?", Dita kembali menyuapkan sendok berisi bubur ayam ke dalam mulutnya.

__ADS_1


El pun melakukan hal yang sama hingga bubur ayam di mangkuknya habis dimakan hingga bersih.


Dita terkekeh karena tadi El menolak untuk sarapan, namun setelah mencicipi bahkan bubur ayamnya habis terlebih dahulu.


" Mau lagi?", El nampak masih melihat ke mangkuk bubur miliknya yang tinggal sedikit, seperti masih mau nambah lagi.


" Apa Tante Dita nggak habis bubur ayamnya?, kalau begitu biar El habiskan".


Kata-kata semakin membuat Dita tertawa lepas. " Bang setengah porsi lagi pakai kecap saja", gumam Dita pada penjual bubur ayam.


Mangkok kedua sudah terhidang di depan El, El kembali memakan bubur ayam dengan lahap, sampai terdengar bunyi sendawa karena El merasa kekenyangan.


" Sudah kenyang?".


El mengangguk sambil malu-malu, awalnya dia menolak untuk sarapan, tapi pada akhirnya menghabiskan dua mangkok bubur ayam, meski sebenarnya hanya semangkok saja karena porsinya yang setengah-setengah.


" Bubur punya Tante itu sudah dikasih sambal, jadi pedes, kalau El makan bubur punya Tante dijamin El nggak suka, makanya mending Tante pesenin lagi, yang baru. Tante kira nggak bakalan habis, tapi ternyata El pinter banget makanya", puji Dita, agar El melupakan rasa malunya.


" Sudah kenyang, pasti buat jalan jadi susah, kita duduk-duduk di taman yang ada di seberang jalan sana ya El... tuh disana ada taman, ada tempat bermain-main anak-anak kecil juga, ada ayunan, ada perosotan, ada jungkat-jungkit juga. Apa El mau kita kesana dulu?", tanya Dita minta persetujuan.


Saat ini perutnya sudah kenyang, belum lagi hari masih cukup pagi, baru jam 7. Mau pulang sayang, sebentar lagi biasanya ada senam gratis di pelataran depan taman. Dita pengen nonton, dan ikut senam juga, mumpung hari cerah.


" Apa El mau ikutan senam pagi di sana?".


Terdengar beberapa operator sedang melakukan cek sound. Dita dan El keluar dari tenda penjual bubur ayam setelah membayar bubur ayam yang mereka makan, berjalan menyebrang jalan menuju taman yang ada di depan pasar.


Mungkin karena letaknya yang strategis tepat di depan taman, pasar badog menjadi sangat ramai setiap minggunya. Dari jam 5 pagi, usai subuh, hingga jam 10 siang, biasanya masih ramai dengan pengunjung.


" Tante pergi saja kalau mau ikut senam, El tunggu sambil duduk disini, sambil makan jajan yang dibeli tadi", ujar El sambil menatap bungkusan di plastik yang dibawa Dita.


Dita setuju dan meninggalkan El sendiri duduk di kursi taman, menikmati cilor miliknya. Meski sudah kenyang, namun rasa penasaran karena aroma cilor dan serabi yang terus menyeruak keluar dan tercium hidung El, membuat El penasaran ingin mencicipinya.


El duduk masih dengan pengawasan mata Dita yang terus memperhatikannya. Meski sambil melakukan gerakan senam, tapi Dita tetap fokus melihat ke arah dimana El duduk.


Ada seorang laki-laki tampan yang menghampiri El secara tiba-tiba. Saat itu Dita masih mengawasinya.


" Hai anak tampan, boleh berkenalan?, aku teman ibu kamu, kenalkan, aku Nino", Nino mengulurkan tangannya mengajak El bersalaman.


El nampak menatap Nino dengan seksama.


" Om yang waktu resepsi pernikahan ibu, membuat ibu menangis ya?", ternyata waktu itu diam-diam El memperhatikan mereka.


" Wah... anak sekecil kamu tapi ingatannya sudah sangat tajam, sepertinya betul tebakan mu, apa boleh Om duduk disini?", tanya Nino yang masih berdiri dan mengulurkan tangan karena sejak tadi El belum meraihnya.

__ADS_1


" Duduk saja, ini kan tempat umum", jawab El masih cuek dan fokus menikmati cilor yang dimakannya.


" Om nggak jahat sama ibu kamu, Om juga nggak tahu kenapa ibu kamu menangis saat itu, Om minta maaf, apa mau berteman dengan Om?", lagi-lagi Nino mengajak El bersalaman.


" Maaf Pak Kades, senam sudah akan selesai, setelah ini acara dimulai, dan Pak Kades harus maju ke depan dan menyampaikan sambutan untuk peresmian akan dimulainya pembangunan pasar badog".


Nino mengangguk, " iya, saya akan maju saat nanti dipanggil, tidak apa kan kalau sekarang saya menunggu di sini?".


" Baik Pak Kades, kalau begitu saya permisi untuk memulai acara".


Ternyata yang tadi menemui Nino adalah salah satu panitia dari desa yang akan menjadi pembawa acara peresmian pembangunan pasar badog.


Memang saat ini pasar badog masih sangat berantakan dan belum teratur, karena itulah akan di bangun agar menjadi lebih tertata rapi.


" Jadi Om orang penting disini?, kenapa Om mau berteman dengan El?, apa karena El anak Bu Dila?", tanya El dengan polosnya.


" Kalau kamu berfikir seperti itu, boleh juga menjadi alasan", ujar Nino.


" El tidak berteman dengan orang tua, Om berteman dengan Bu Dila saja, tapi jangan pernah buat ibu Dila menangis lagi, atau El akan membenci Om juga", ucap El sambil membelakangi Nino.


" El nggak boleh bicara seperti itu sama orang yang lebih tua..., harus bicara yang sopan, seperti yang di sampaikan Bu Dila. Nanti kalau Bu Dila tahu El seperti itu, pasti Bu Dila kecewa".


" Maafkan El Mas Nino, dia masih kecil, dan belum tahu inti permasalahannya".


Ternyata Dita sudah berada di sana beberapa saat lalu, karena senam sudah selesai.


" Nggak papa Dit, namanya saja anak-anak, justru menggemaskan melihat tingkah polos mereka", jawab Nino sambil tersenyum." Ternyata kamu sudah semakin besar Dit, dulu waktu aku sering main kerumah, kamu masih kecil, kamu mirip dengan mbak Kamu waktu jaman masih SMA dulu".


Nino menatap Dita yang memang mirip dengan Dila semasa mereka dekat dulu.


" Kan saya adiknya, ya nggak salah kalau mirip sama mbak sendiri, Mas Nino ini lucu juga....".


" Bagaimana keadaan mbak kamu?, apa sehat?".


~ Kepada Bapak Kades, waktu dan tempat, kami persilahkan....~


Terdengar suara pembawa acara yang memanggil Nino untuk maju kedepan.


" Sehat Mas, maaf itu Mas Nino sudah dipanggil ke depan".


Nino mengangguk, " kalau nggak lagi buru-buru bisa nanti ngobrol sebenar Dit?".


Dita mengangguk, tentu saja tidak enak menolak ajakan bapak kades, lagian memang dirinya sedang tidak buru-buru, tapi apa yang mau di obrolin oleh Mas Nino dengannya, apa tentang Dila?.

__ADS_1


__ADS_2