
Ari kembali ke perusahaan tempat bosnya bekerja. Sampai di parkiran Ari mengirim pesan pada bosnya jika tugasnya membeli HP baru sudah dilaksanakan. Ari memilih bersantai di parkiran hingga Indra membalas pesannya.
~ Kamu serahkan HP baru, beserta HP lama yang rusak ke Dila, nanti jemput aku jam 7, sepertinya banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini~
Ari pun langsung melajukan mobilnya pulang menuju ke rumah. Sampai di rumah Ari melihat Dila sedang bermain-main di gazebo yang berada di taman samping rumah bersama El.
" El.... ayo kita buat gambar rumah El yang besar, Kak Dila sudah bawa pensil warna dan kertas gambarnya". El mengambil kertas itu dari tangan Dila, namun tiba-tiba menyobek kertas itu menjadi potongan kecil-kecil.
Dila begitu kaget dengan sikap El yang cepat marah.
" Kenapa di sobek-sobek kertasnya?, apa El nggak suka menggambar?", Dila menatap mata El yang terlihat penuh amarah.
" El mau cali ibu, ibu malah sama El, dan pelgi", ucap El dengan suara keras dan nada membentak.
" Siapa yang bilang ibu marah sama El?". Dila berusaha mencari tahu dari mana asalnya El menjadi pemarah dan terus mencari ibunya, Dila yakin pasti ada penyebabnya.
" Tante Tania yang bilang ".
" Siapa itu Tante Tania?, Kak Dila belum kenal sama Tante Tania, coba El cerita sama Kak Dila". Dila menemukan nama baru di hari pertamanya menjadi baby sitter.
El pun bercerita dengan logat anak kecilnya, El bercerita jika kata Tante Tania, ibunya El pergi karena El anak yang nakal, dan El harus mencari ibunya agar ayahnya tidak marah, jika El tidak bisa membawa pulang ibunya, maka ayahnya juga akan pergi meninggalkan El, seperti ibunya.
Padahal Tania tahu persis jika ibu kandung El saat ini berada di Jerman. Tidak mungkin El akan bertemu dengan ibunya jika hanya mencari di sekitaran komplek.
Tania juga mengatakan, jika El masih belum menemukan ibunya, maka Tania yang akan menjadi ibunya El. Tania sebenarnya adalah sekertaris Indra di perusahaan. Kadang jika harus mengambil berkas ke rumah, Indra menyuruh Tania yang mengambilkan.
Namun El tidak menyukai Tania yang sok baik dan suka cari muka di depan ayahnya saja. Jika tidak ada ayahnya seperti beberapa bulan yang lalu, saat El di titipkan pada Tania di kantor karena neneknya sedang keluar kota. Tania marah-marah karena El tak sengaja menjatuhkan vas kesayangannya yang ada di meja kerja, selain itu Tania terus sibuk bermain-main dengan ponselnya, dan mengacuhkan El. Sampai tidak sadar jika El keluar dari ruangannya dan berkeliling di kantor ayahnya.
Saat Indra pulang dari meeting di luar kantor, suasana kantor menjadi heboh karena mencari El yang menghilang.
Dengan polosnya El mengatakan tidak mau punya ibu seperti Tante Tania.
Mendengar cerita El, Dila bisa mengerti apa penyebab El terus mencari ibu yang belum pernah dilihatnya. Ternyata dia tidak mau jika Tania menjadi ibunya.
" El dengarkan Kak Dila bicara, apa El tahu, ayah El itu sangat menyayangi El, meski El tidak membawa pulang ibu kerumah, ayah El tidak akan pernah pergi meninggalkan El sendiri".
" Jika selama ini ayah jarang di rumah dan jarang bermain bersama El, itu bukan karena ayah membenci El, tapi karena ayah sibuk harus mengurus perusahaannya".
" Ada banyak pekerjaan yang harus Ayah El selesaikan, jadi mulai sekarang El tidak perlu lagi marah dan minta keluar untuk mencari ibu El, karena ibu El itu ada di tempat yang sangaaaat jauh, jika El mau ketemu sama ibu, dan berjalan terus sampai disana El sudah sebesar Kak Dila. Itu karena tempat ibu El berada sangat jauh dari sini".
El mendengarkan penjelasan Dila dengan seksama, Dila semakin gemes dengan tatapan polos El yang sejak tadi memperhatikannya.
" Apa El tahu, meski ibu tidak ada, tapi di rumah masih ada Ayah, ada Nenek, ada kak Dila, dan semua yang tinggal di rumah ini itu sangat menyayangi El, kalau El sering marah atau menangis sampai teriak-teriak, semua orang jadi ikut bersedih".
__ADS_1
" Jadi mulai sekarang, El harus jadi anak yang baik, El kan sudah besar, nanti Kak Dila akan coba bicara sama Ayah, agar El ikut belajar di Bimba, biar El jadi bisa belajar bernyanyi, menari, dan juga menggambar, di Bimba juga ada banyak teman, El akan dapat banyak teman di Bimba, apa El setuju?".
" Kalau El setuju, nanti kak Dila akan bicara sama Ayah El, minta ijin agar El ikut belajar di Bimba".
El mengangguk setuju, meski belum terlalu paham apa yang dikatakan Dila, tapi El menangkap kalimat El akan dapat banyak teman, itu sudah cukup membuat El tertarik dan setuju.
Tanpa Dila sadari sejak tadi Ari terus memperhatikan bagaimana Dila meng-handle El dengan sabarnya.
" Eh Mas Ari, sini Mas, main sama El, apa mas Ari bisa menggambar rumah?, El mau belajar menggambar rumah, tapi Kak Dila nggak pinter gambar, jadi Mas Ari yang kasih contoh El gimana cara gambar rumahnya".
Ari mendekat dan meletakkan paper bag berisi handphone Dila di dekatnya.
" Sini Mas Ari kasih contoh cara menggambar rumah yang paling mudah".
Ari mulai menggambar di atas kertas putih itu, kemudian memberi warna hingga terlihat menarik. El jadi semakin bersemangat melihat gambar rumah yang berwarna-warni itu.
" Sekarang coba El gambar rumah seperti yang Mas Ari gambar tadi, di kertas yang baru".
El menerima kertas yang masih bersih dari Dila, dan mulai menggambar rumah, sambil mencontoh gambar yang Ari buat tadi.
Ari menyerahkan paper bag itu pada Dila.
" Itu HP kamu Dil, masih retak layarnya, belum diperbaiki. Soalnya bos yang nyuruh aku beli yang baru, yang lebih bagus, tapi tenang saja, semua data di ponsel kamu sudah di pindah di HP yang baru.
Dila mengangguk mengerti, " Iya nggak papa, bilang sama Tuan saya ucapkan terimakasih banyak, padahal ganti layar saja kan bisa, malah di belikan yang baru, saya jadi merasa nggak enak".
" Sudah santai saja, anggap ini rejeki kamu, toh yang rusakin HP kamu juga anaknya, diterima saja".
" Oh iya sini Dil, kita coba kamera di HP kamu yang baru, kata mas-mas yang jualan sih kameranya bagus banget".
Ari mengarahkan kamera HP baru Dila ke arah mereka bertiga dan melakukan wefy bersama.
" El, lihat ke kamera , 1...2...3... katakan chiis"
El dan Dila menurut mengatakan chiis...
ckrek....
" Wah sales-nya nggak bohong, lihat tompel kamu kelihatan banget di foto ini Dil", Dila melihat foto itu. Dia baru sadar sejak pagi dia memakai kacamata tebal dan tompel palsu di pipi kirinya.
" Jadi seperti ini tampilan ku sekarang", Dila tersenyum sendiri melihat hasil foto dirinya.
" Beda banget kan dengan wajah aslimu".
__ADS_1
Kalimat Ari membuat Dila bengong.
" Bukannya tadi kamu belum sempat lihat wajah asliku?, keburu HP nya jatuh dan retak".
" Aku sudah lihat kok tadi..., di galeri foto di ponsel kamu Dil".
" Kamu cantik banget, kenapa sih si bos nggak suka kalau pembantunya cantik, padahal kan nggak semua gadis cantik itu genit seperti Fifi".
Dila tersenyum sendiri, " aku butuh pekerjaan ini, kalau tuan Indra ilfil lihat wajah asliku dan tiba-tiba mecat aku, aku pasti akan sangat bingung nyari kerja dimana lagi", Dila mengatakan alasannya.
" Di Jakarta itu banyak banget lowongan kerja Dil, apa lagi buat gadis secantik kamu, kamu nggak perlu bingung kalau sudah punya modal wajah cantik".
Dila hanya nyengir kuda, " Tapi memang beresiko kalau hanya modal wajah cantik tapi nggak punya keahlian apa-apa. Bisa disalah gunakan oleh oknum tertentu, mungkin dijual di rumah bordil atau jadi korban laki-laki hidung belang seperti Fifi".
" Aku sudah menyukai pekerjaanku Ar, aku juga sudah menyayangi El, meski baru bertemu dengannya. Jadi aku akan melanjutkan pekerjaan ini dengan wajah ini. Sampai tiba saat aku siap untuk berhenti kerja, baru aku akan menunjukkan wajahku yang sesungguhnya", ucap Dila.
" Tapi bagaimana jika bos berubah pikiran dan memaklumi pembantu yang cantik tinggal di rumahnya, apa kamu akan memperlihatkan wajah aslimu ?" tanya Ari penasaran.
" Tentu saja, lagian aku juga kurang nyaman dengan kacamata tebal dan tompel palsu ini, lebih nyaman tidak menggunakan aksesoris berat ini di wajahku", jawab Dila.
" Kak Dila, El sudah selesai gambal lumah yang besal".
Dila kembali fokus pada El, dan menyudahi percakapannya dengan Ari.
" Wah... ternyata gambar rumah yang El buat bagus banget, ini sih harus di kasih lihat ke ayah, pas ayah pulang kerja nanti".
El tertawa kegirangan mendapat pujian dari Dila.
Malam pun tiba, Dila sedang tidak sholat, jadi saat maghrib Dila tetap menemani El di kamarnya. El sudah makan nasi dengan sup ayam yang dimasakkan oleh Bi Darsih.
Bi Darsih dan bi Ana berasal dari kampung, sama seperti Dila, mereka berdua menjadi pembantu sejak masih gadis. Sekarang mereka berumur sekitar 38 tahunan, sepantaran dengan ibunya Dila, tapi Bi Darsih dan Bi Ana sudah punya cucu di kampung. Mereka menikah muda dan anak mereka pun melakukan hal yang sama.
Satu lagi seorang tenaga kebersihan taman dan kebersihan luar rumah adalah Mang Santo, beliau suaminya Bi Darsih. Sedangkan bi Ana sudah menjadi janda sejak empat tahun lalu.
Darsih dan Ana langsung menyukai Dila di hari pertama Dila datang, karena Dila berhasil membuat El lebih tenang dan tidak terus-menerus menangis dan marah-marah seperti sebelumnya.
Terutama Ana sang tenaga kebersihan, biasanya tiap hari Ana sibuk membereskan mainan El yang berantakan dimana-mana, belum lagi jika El marah dan membanting apapun yang ada dihadapannya. Ana yang harus membersihkan.
Namun hari ini setelah El bermain-main, Dila selalu mengajari El untuk mengembalikan mainan di kotak penyimpanan mainan. El juga tidak marah-marah dan membanting barang yang ada di depannya.
" Padahal masih sangat muda, tapi bisa ngatur anak kecil jadi nurut sama dia, yang jadi suaminya kelak pasti sangat beruntung, sayang wajahnya tidak terlalu cantik karena ada tompel di pipinya", Ana yang sudah selesai bekerja sering ngobrol dengan Darsih di dapur, kadang membantu Darsih mencuci sayur yang akan dimasak.
" Nanti Pak Indra pulang kantor jadi bisa istirahat tenang karena El sudah makan tadi, biasanya kan harus nyuapin El makan malam dulu pulang kerja. Kasihan ya masih muda, jadi duda ditinggal minggat sama istrinya". Darsih dan Ana memang sering kasihan melihat Indra yang sudah capek di kantor, tapi di rumah harus capek lagi urus anaknya.
__ADS_1