Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 111


__ADS_3

Usai makan rujak tumbuk bersama-sama, Toto membuka kelapa dan Indra membantu menuangkan air kelapa ke baskom, Dita dan Asna mengeruk daging kelapa muda, sedangkan Siti pergi ke dapur untuk melarutkan gula merah, untuk campuran kelapa muda.


Ibu-ibu yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing, tentu saja sambil membawa jatah nasi tumpeng, rujak tumbuk dan juga amplop pemberian Indra. Ya.... Indra sengaja membuat amplop masing-masing 200ribu an perorang sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantu ibu mertuanya masak-masak sejak ba'da subuh.


Tidak ada yang pulang dengan muka masam, atau nggerundel, semua wajah nampak tersenyum sumringah karena mendapatkan rejeki nomplok. Biasanya ibu-ibu yang membantu itu hanya akan diberi jatah nasi tumpeng dan ucapan terimakasih saja, namun kali ini mereka pulang juga.membawa amplop yang isinya bisa buat belanja kebutuhan dapur, tentu saja mereka semua merasa senang.


" Kenapa ibu-ibu itu tidak ikut nungguin es kelapa mudanya jadi, kan kita metiknya cukup banyak Pak", gumam Indra.


" Mereka sudah capek mungkin, mau istirahat dulu, sejak subuh sudah disini, belum lagi siang hari biasanya suami mereka pulang dari sawah, jadi sebagai istri yang baik ya harus melayani suaminya yang pulang bekerja".


Indra manggut-manggut mendengar penjelasan bapak mertuanya. " Kalau sawah bapak kira-kira berapa minggu lagi itu panennya?, Indra lihat tadi sudah keluar padinya, tapi daunnya masih hijau", tanya Indra yang memang tidak tahu urusan tanam menanam padi.


" Paling dua minggu lagi sudah bisa dipanen, besok pas kalian balik ke Jakarta, bapak bawakan beras satu karung ya, biar nanti nyuruh tukang giling padi kesini, untuk menggilingkan gabah kering hasil panen sawah satunya lagi. Gabah masih baru metik dua minggu yang lalu, kalau di giling pasti nasinya enak banget", gumam Toto.


Tapi ART di rumah Indra sudah terbiasa beli beras super di supermarket, jadi pasti sama saja rasanya. Hanya saja untuk menghormati bapak mertuanya Indra mengangguk- anggukkan kepalanya tanda setuju.


" Terimakasih banyak Pak, malah jadi merepotkan", ujar Indra.


" Nggak merepotkan sama sekali, lah wong itu hasil dari sawah kamu. Cuma bawa sekarung, yang di gudang itu numpuk puluhan karung gabah belum bapak jual", ujar Toto, karena sejak panen kemarin Toto terus sibuk, bahkan harus ke Jakarta untuk menghadiri acara 7 bulanan Dila.


Siti nampak keluar membawa baskom berisi gula merah yang sudah larut ditambah es batu yang cukup banyak. " Sudah ngupas kelapanya Pak?, ini gulanya sudah siap, sudah Tek masukin es batunya juga banyak, biar cepet dingin, seger", ujar Siti sambil meletakkan baskom di meja.


Dita dan Asna pun memasukkan daging kelapa muda yang sudah di keruk kedalam baskom, dan Indra juga memasukkan air kelapa muda ke dalam baskom yang sama.

__ADS_1


" Itu di sisain sedikit di gelas ini", Siti menyerahkan gelas ke Indra meminta air kelapa muda yang masih murni. " Ayo diminum Dil, ini air kelapa muda kata orang dulu itu bagus untuk ibu hamil yang janinnya sudah besar seperti kamu, biar bayinya pas keluar putih bersih dan berseri karena sering diminum air kelapa muda".


" Biasanya dokter kandungan juga menyarankan seperti itu kan?", Siti menyerahkan gelas berisi air kelapa muda murni pada Dila. Dila pun langsung meminumnya hingga tandas.


" Bukan dokter sih yang nyaranin, tapi sempat baca-baca di artikel memang seperti itu, air kelapa muda bagus diminum sama ibu hamil, karena mengandung banyak kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan", ujar Dila.


" Dan kalau masalah bayinya lahir putih bersih dan berseri, itu sih keturunan Bi Siti, kalau bapak ibunya kulitnya item, mana ada anaknya lahir jadi bersih dan berseri-seri, tentu saja tetap item", gumam Asna, tidak setuju dengan ibunya Dila.


" Nggak juga Mba As.... dulu waktu aku jengukin Mba Eka lahiran, pas lahir anaknya putiiiih banget kayak susu, sampai aku berpikiran negatif, kok bisa bapak ibunya item anaknya putih. Eh tapi... makin kesini, itu bayi jadi makin tambah besar, lama-lama anaknya ikut ke bapak ibunya jadi item. Pasti itu efek ibunya kebanyakan minum air kelapa pas hamil, lahirannya jadi bersih banget bayinya. Tapi yang namanya gen orang tua ya tetep aja turun ke anak, makanya tetep lama-lama berubah item", Dita ikut-ikutan berkomentar.


" Kalau Mba Dila sih sudah dari brojol nya putih, Mas Indra juga, tentu saja keponakan aku bakalan jadi putih, bersih, kayak El ya sayang...". ucap Dita sambil gemes pada El.


Dila dan Indra saling berpandangan dalam diam, " Iya Dit, kayak El yang mirip ayah dan ibunya yang putih, tebakan kamu tepat", batin Dila sambil meringis.


Ternyata jam 3 sore ibu-ibu tetangga kembali datang ke rumah, mereka lanjut memasak untuk membuat besek bagi yang ikut ngaji malam nanti. Ikan gurame untuk isian besek sudah di goreng pagi tadi, tinggal masak nasi, dan lauk pelengkap yang lain, Siti juga membuat pecak ikan gurame, karena setiap acara tujuh bulanan, usai membaca Alquran hingga khatam dalam semalam, para tamu undangan yang ikut mengaji juga dipersilahkan untuk makan malam bersama, kemudian biasanya mereka akan dapat jatah pecak ikan satu orang satu ekor untuk dibawa pulang.


Indra tidak tahu jika akan ada acara ngaji bapak-bapak juga, karena itu Indra tidak membawa baju muslim untuk ganti, untung Toto punya banyak baju muslim, meski postur tubuh Indra lebih tinggi dari Toto, tapi ukuran tubuhnya hanya beda sedikit, jadi baju muslim Toto yang jika dipakainya kebesaran, terlihat ngepas di badan Indra. Indra terlihat sangat tampan malam itu memakai baju muslim warna putih.


" Apa El boleh sama ayah di depan?", tanya El pada Dita yang sedang bersamanya, saat melihat sang ayah menjemput tamu undangan yang mulai hadir.


" Tentu saja boleh, tapi nanti Tante Dita jadi sendirian nggak ada temannya kalau El sama ayah", Asna memang pamit pulang terlebih dahulu saat maghrib, untuk mandi dan ganti pakaian, karena itu kini Dita sendirian, karena Dila juga masih dikamar berganti pakaian muslim.


" Wah.... selamat ya Pak Toto, sudah mau punya cucu, lebaran kemarin Dila pulang karena resepsi pernikahan, lebaran tahun depan Dila pulang sudah bawa anak", gumam salah seorang tamu undangan.

__ADS_1


" Alhamdulillah dipercaya sama Yang Maha Kuasa, nggak harus nunggu terlalu lama, sudah mau diberi cucu. Memang dasarnya Dila sudah sangat cukup umur untuk punya momongan, begitu juga dengan suaminya", gumam Toto seraya tertawa pelan.


Saat semua tamu undangan sudah hadir, acara pembacaan ayat suci Al-Quran oleh masing-masing tamu undangan pun dimulai, setiap orang mendapat jatah 1 juz, karena Toto sengaja mengundang 30 orang, agar dalam semalam bisa langsung khataman.


" Wah... cantik banget mbak Dila, pakai baju gamis putihnya ibu, untung muat", ucap Dita sambil memutar-mutar Dila ke kanan dan ke kiri saat Dila keluar dari kamarnya sudah memakai gamis dan jilbab putih.


" Baju gamis memang besar, makanya kalau orang berhijab biasanya nggak kelihatan lagi hamil, ketutup sama hijabnya", gumam Siti yang sejak tadi mondar-mandir mempersiapkan presmanan di meja makan.


" Betul juga, yang ibu katakan. Ini kok Mba Asna nggak datang-datang, padahal acara sudah mau dimulai", Dita menengok pintu samping, tetap Asna belum juga kelihatan.


" Lagi dandan kali Dit, kan Mas Wowo diundang, jadi Asna harus tampil cantik didepan pacarnya", canda Dila.


Namun ternyata tebakan Dila sangat benar, baru saja selesai bicara, Asna mengucap salam dan masuk melalui pintu samping, memakai baju gamis warna merah dan juga kerudung merah, semuanya serba merah membara.


" Widih.... total banget yang pacarnya mau datang buat ngaji, pake lipstik merah, kayak habis ngisep darah saja mbak Asna". Dita terkekeh, karena make up Asna yang agak berlebihan.


" Diem ah Dit, kamu bikin mood Mba, jadi rusak saja. Mana mas Wowo nya sudah datang belum?", tanya Asna sambil melongok ke ruang tamu yang sudah dipenuhi bapak-bapak tamu undangan.


" Sudah tuh, yang duduk di samping pintu yang mau ke mari, tuh pakai baju koko warna navy, samperin tuh, biar nggak sia sia sudah dandan cantik begitu, ketemu sama ayang". Dita sengaja mengompor-ngompori Asna.


" Nanti saja nyamperin nya, kalau sudah selesai ngaji. Sekarang acara sudah mau dimulai As", ucap Dila mengingatkan.


Asna pun mengangguk dan memilih bantu-bantu Siti menata presmanan untuk makan para tamu undangan usai ngaji nanti.

__ADS_1


" Kamu nggak ikut bantuin ibu?, sana sama Mba Asna", ujar Dila pada Dita yang sejak tadi tetap duduk meski ibunya sibuk mondar-mandir. " Biar El sama aku dulu, kamu bantu ibu siapin semuanya.


Dita pun mengikuti Asna ke dapur untuk membantu sang ibu, karena sejak tadi ingin membantu tapi El sendirian, kasihan jika di tinggal, makanya Dita memilih menjaga El saja agar tidak keluar dan gaduh. Karena tamu yang datang cukup banyak. Khawatir justru El mengganggu jika dibiarkan berkeliaran.


__ADS_2