
Ari masih mondar-mandir di depan ruang bersalin, seorang suster menghampiri Ari dan mengajaknya bicara, " Maaf apa anda suami dari Bu Dila?", tanya Suster itu dengan ramah.
" Bukan Sus, saya cuma supir suaminya", jawab Ari jujur.
Evan dan Bima berjalan cepat menghampiri Ari setelah mereka berdua sama-sama kebingungan di dalam mobil tadi, melihat Dila kesakitan perutnya, ditambah keringat Dila yang bercucuran, juga wajah Dila yang menjadi pucat, menjadi satu perpaduan yang sempurna untuk membuat ketiga bujangan itu merasa panik dan spitchles.
" Gimana Ar, apa Dila beneran mau melahirkan?".
Ari mengangguk, namun kemudian menggeleng, karena Ari sendiri belum tahu bagaimana keadaan Dila di dalam, Ari pun bertanya pada sang suster, " Bagaimana suster, apa sekarang Dila mau melahirkan?", tanya Ari pada suster yang tadi bertanya padanya. Karena jujur Ari sendiri juga masih bingung.
Suster itu mengangguk, " Benar, tapi baru pembukaan 4, jadi masih harus nunggu sampai pembukaan penuh, jadi yang mana suaminya Bu Dila?, saya hanya berharap suaminya bisa masuk ke dalam, dan menemani, serta memberi support kepada Bu Dila di dalam".
" Pembukaan 4?, nunggu pembukaan penuh?, maksud kalimat suster itu apa?", Ketiga pemuda itu memang tidak tahu menahu tentang proses melahirkan, karena itulah mereka bingung mendengar penjelasan dari sang Suster. Tapi yang mereka tahu Dila memang mau melahirkan.
Semuanya menggeleng karena memang mereka bukan suami Dila, semua hanya rekan kerja saja.
" Suaminya masih dalam perjalanan Sus, nanti kalau sudah sampai disini akan langsung saya suruh masuk", ujar Ari.
" Jadi ketiga laki-laki yang datang bersama dengan Bu Dila justru bukan suaminya ", batin Suster sambil menatap ketiga laki-laki di depannya dengan tatapan aneh, yang seorang mengaku supir suaminya Dila, dan yang dua lagi memakai seragam kemeja putih dan bawahan celana hitam, sangat formal seperti orang yang baru saja melamar kerja, sama seperti Dila yang memakai atasan putih dan bawahan hitam juga, namun tak lama suster itu mengangguk dan kembali masuk ke ruang bersalin. Tidak mau berspekulasi tentang pemuda yang menunggu Dila di depan ruang bersalin.
Tak lama kemudian Indra tiba di rumah sakit, dengan berlari cepat, Indra mencari ruang bersalin di rumah sakit Medika. Untung saja Indra melihat Ari dan kedua rekan guru Dila ada di depan sebuah ruangan sedang berdiri dan nampak mendiskusikan sesuatu hal.
" Gimana Dila, Ar?", Indra langsung bertanya, masih dengan nafas tersengal karena Indra berlari dari parkiran hingga depan kamar bersalin.
" Langsung masuk saja bos, kata suster tadi Dila memang mau melahirkan, sudah pembukaan 4, tadi suster nyari in suaminya", jawab Ari.
Indra mengangguk dan langsung masuk ke kamar bersalin. Indra langsung bisa melihat Dila yang terbaring di atas ranjang dengan posisi miring ke kiri serta terlihat menahan sakit pada perutnya.
" Sayang, apa sakit banget?", Indra mengelus kening Dila yang penuh keringat.
__ADS_1
Indra ingat saat dulu menemani Kayla hendak lahiran. Kayla langsung minta di cesar saja karena tidak mau merasakan sakitnya orang melahirkan. Indra tentu saja setuju dengan keinginan Kayla, dan tanpa menunggu sampai Kayla kontraksi, operasi Caesar langsung dilaksanakan saat usia kandungan Kayla masuk 9 bulan. Karena itulah Indra tidak merasakan ketegangan seperti saat ini bersama Dila.
Karena Dila berbeda, dia justru menginginkan melahirkan anaknya secara normal. Indra sudah pernah menanyakan kepada Dila sebelumnya tentang proses persalinan anaknya nanti, dan Dila tetep kekeh mau melahirkan secara normal. Karena posisi bayi, air ketuban, dan lainnya semuanya baik, jika bisa Dila ingin merasakan rasanya melahirkan secara normal.
Tanpa Dila tahu, ternyata rasanya seseorang yang melahirkan itu begitu 'nikmat', perutnya seolah ingin mengejan sendiri, tanpa dirinya mengejan, namun oleh sang suster Dila dilarang mengejan, karena baru pembukaan 4, itu membuat Dila berusaha menahan diri agar tidak mengejan.
Karena itulah keringat mengucur dengan derasnya di kening Dila. Usahanya untuk menahan diri agar tidak mengejan membuatnya sesekali melenguh.
" Apa mau Cesar saja sayang?, biar nggak sakit begini", Indra memang panik melihat Dila yang sangat pucat.
" Maaf Tuan, ini sudah pembukaan 7, tinggal tunggu sebentar lagi juga akan pembukaan penuh, dan Bu Dila boleh mengejan sekuat tenaga untuk mendorong bayi agar keluar lewat jalannya".
" Keputusan Bu Dila untuk melahirkan secara normal memang tidak salah, karena keadaan baik ibu maupun bayinya semua dalam kondisi baik. Selain itu persalinan normal akan mempercepat proses penyembuhan setelah persalinan".
Indra sudah tidak perduli lagi dengan yang diucapkan oleh sang suster karena melihat Dila terus beristighfar dan berusaha mengatur nafasnya.
" Jadi lakukan sesuatu dong Sus, jangan dibiarkan saja seperti ini istri saya sudah sangat pucat dan kesakitan", Indra merasa emosi karena sejak tadi suster dan dokter hanya mengintip jalan lahir jabang bayi, dan kembali pergi sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Bahkan beberapa suster itu asyik mengobrol sendiri tanpa melakukan tindakan apapun terhadap Dila.
" Dok sepertinya sudah penuh, kita lakukan tindakan sekarang?", tanya Suster. Dokter pun mengintip ke jalan lahir, dan mengangguk.
" Sekarang sudah boleh mengejan Bu Dila, kalau bayinya sedang ngajak ngejan, Bu Dila langsung saja mengejan sekuat tenaga ya, biar bayinya kedorong keluar", ucap sang Dokter.
" Anda bisa memilin ****** istri Anda untuk memberi rangsangan pada bayi agar berusaha keluar Tuan", saran sang dokter
Indra pun langsung melakukan apa yang disuruh oleh dokter. Apa saja yang dokter suruh agar dia lakukan, maka akan Indra lakukan selama itu masih bisa dilakukannya.
Satu kali Dila mengejan, sudah nampak rambut bayinya, dua kali mengejan, kepala bayi semakin keluar, dan mengejan ketiga kalinya seluruh kepala bayi sudah berhasil keluar melewati jalan lahir, suster menarik bayi dan membopongnya.
" Ea.......ea....ea......" tangis suara bayi seketika langsung pecah memenuhi ruang bersalin. Indra sampai gemetar melihat bayi mungil penuh dengan lumuran darah segar.
__ADS_1
Ya anak pertamanya yang sesungguhnya.... baru saja keluar ke dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin perempuan itu terlahir dengan bobot 3,2 kilogram dengan panjang 50 cm.
Dila langsung tersenyum melihat putri cantiknya lahir dengan selamat. Indra terus menciumi Dila bertubi-tubi, sambil terus mengucapkan terimakasih.
" Mas sudah....malu diliatin dokternya, tolong di adzanin Dede bayinya dulu, aku nggak papa kok, aku sehat", ujar Dila yang sejak tadi terus diam, akhirnya bersuara juga karena Indra terus menciuminya didepan semua orang. Indra terlihat begitu bahagia karena Dila berhasil melakukan persalinan anaknya secara normal dan cepat.
Indra mengangguk dan mendekati bayi yang kini sudah bersih dan berpakaian serba putih yang di gendong seorang suster.
" Mau di adznin sama ayahnya ya?, biar saya letakkan di box bayi terlebih dahulu Tuan", ujar sang suster, karena awalnya ingin menyerahkan pada Indra, tapi Indra belum siap, dan masih takut menggendong bayi yang masih sangat kecil dan lembek.
Dila meminta suster meletakkan bayinya di atas tubuhnya setelah Indra selesai mengadzani.
" Taruh sini saja sus", pinta Dila sambil menepuk dadanya. Suster mengangguk dan membantu si bayi tengkurap di dada Dila. Terlihat si bayi langsung mencari-cari sumber kehidupannya, ya... mencari ****** ibunya. Bahkan bayi pun secara naluri langsung berusaha mencari sumber kehidupannya, sungguh menakjubkan.
Untuk sementara waktu Dila sampai lupa belum mengabari keluarganya. Keadaan saat kontraksi Dila tadi sangat mendadak dan semua yang sedang bersamanya langsung panik, tak ada yang bisa berpikir jernih. Padahal Dita meminta agar dirinya segera mengabari saat merasakan kontraksi. Namun sampai bayi sudah keluar Dila bahkan belum mengabari keluarganya satupun.
Apalagi kelahiran sang bayi maju 4 hari dari tanggal perkiraan melahirkan, karena itulah keluarga Dila dari kampung rencananya baru akan datang besok, khawatir Dila melahirkan lebih cepat, dan ternyata yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi. Dila melahirkan maju dari tanggal perkiraan.
" Mas, minta tolong sama Ari untuk mengambil baju ganti untukku dan dede bayi, semuanya sudah disiapkan di koper yang ku simpan di lemari atas, suruh bi Ana untuk ambilkan", gumam Dila.
Dila mengira teman-temannya sudah pulang, ternyata mereka menunggu di depan. Saat tahu Dila sudah melahirkan, Evan dan Bima minta ijin untuk masuk dan mengucapkan selamat atas kelahiran putri pertama Dila dan Indra.
Bima dan Evan ikut pulang saat Ari hendak kembali ke rumah mengambil koper baju ganti untuk Dila dan bayinya.
Di dalam mobil ketiga pemuda yang tadi semobil dengan Dila langsung gaduh, sisa bau ketuban Dila yang merembes di jok mobil membuat aroma di dalam mobil sedikit aneh.
" Gila... aku baru pernah melihat orang mau melahirkan seperti itu, aku sampai nggak bisa berkata-kata. Aku jadi kangen dengan ibuku, pasti dulu beliau juga dengan susah payah melahirkan aku", gumam Bima.
" Bener Bim, saat melihat Dila mau melahirkan tadi, entah kenapa pikiranku langsung tertuju pada ibuku di kampung. Aku sangat merindukannya. Semoga saja kita bertiga lolos seleksi CPNS, dan aku akan di tempatkan di daerah kampung halamanku. Aku akan tinggal dekat lagi dengan bapak dan ibuku. Tidak terus menerus menjadi seorang perantau", gumam Evan.
__ADS_1
Ari tetap Diam, karena jujur Ari bahkan tidak terlalu mengingat wajah ibunya, selain dari foto masa muda Ibunya yang masih Ari simpan. Ari memang ditinggal sang Ibu saat masih kecil, Ibunya sakit dan tidak berhasil diobati. Tuhan lebih sayang kepada ibunya dan memanggilnya terlalu cepat.
" Semoga keinginan kalian berdua akan terkabul, aamiin", ucap Ari sambil membelokkan setir mobil masuk menuju jalan kecil menuju kontrakan Evan terlebih dahulu.