
Setelah Indri kembali ke Malaysia suasana rumah Bu Fatma kembali sepi, dan Bu Fatma lebih sering menghabiskan waktunya ke rumah Indra untuk membantu mengurus Arsy.
Tak terasa waktu cepat berlalu hingga tau-tau Arsy sudah bisa berjalan dengan lancar. Ya... Arsy termasuk anak yang aktif dan cepat bisa, baru berusia 9 bulan Arsy sudah bisa berjalan. Karena itulah saat melakukan video call dan orang tua Dila dikampung, mereka sangat senang dan ingin bertemu langsung dengan cucu pertamanya itu.
Toto dan Siti meminta Dila agar mengatur jadwal untuk segera pulang ke kampung.
" Belum bisa sekarang-sekarang ini Pak, sebentar lagi ada ujian akhir semester, jadi Dila lagi sibuk mempersiapkan murid-murid Dila agar siap mengerjakan soal ujian nanti. Kalau tidak ada halangan, selesai ujian akhir semester, Dila pulang kampung sama Mas Indra dan El juga". Dila akhirnya memilih waktu yang senggang agar bisa lama di kampung.
Dua bulan berlalu dengan cepat, saat ini usia Arsy sudah 11 bulan, dan dia sudah lancar berjalan. Dila mengajaknya untuk pertama kali melakukan perjalanan jauh pulang kampung bersama ayah dan Kakak El.
El sudah semakin besar dan kemarin sudah mendapatkan raport kenaikan kelas. El naik kelas 2 SD dengan mendapatkan rangking pertama.
Semua orang menganggap wajar dengan pencapaian El itu, sebagai putra seorang ibu yang menjadi guru dan ayah pengusaha, sudah sewajarnya El terlahir menjadi anak yang cerdas dan pintar.
Meski kenyataan yang sebenarnya tidak ada yang tahu. Mungkin juga kecerdasan El itu turunan dari ayah kandungnya yang seorang dosen di universitas terkenal. Meski tak ada yang tahu kenyataan yang sesungguhnya.
El dan Arsy terus bermain-main di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, meski Dila merasa mengantuk, tapi dia tidak bisa tidur karena harus menjaga putri kecilnya.
Entah berapa kali mobil harus berhenti di rest area sekedar untuk beristirahat. Dan mereka sampai di kampung jam 4 sore karena perjalanan yang santai.
" Aduh... cucu nenek yang cantik akhirnya sampai di sini juga", Siti langsung menggendong Arsy saat mereka turun dari mobil.
Arsy yang baru pernah melihat Siti merasa takut saat tiba-tiba dirinya digendong oleh orang yang teihat asing baginya. Arsy pun langsung menangis sambil memberontak dari gendongan sang nenek.
" Cup...cup...cup... sayang, ini kan nenek sayang... aduh pasti Arsy takut karena baru pernah lihat nenek ya?", Siti merasa sedih dengan keadaan itu.
" Biar sama Dila dulu Bu, nanti pelan-pelan juga kalau sudah beberapa kali lihat Arsy nggak takut lagi".
Dila menarik Arsy dari gendongan ibunya. Namun anehnya saat Dita mengajak Arsy bermain dan mencoba mengajaknya, Arsy langsung nyelonong dan berpindah ke pelukan Dita. Mungkinkah karena wajah Dita yang mirip. dengan ibunya?.
__ADS_1
" Wah... ternyata ponakan Tante mau ikutnya sama Tante, nih padahal Tante masih bau asem baru pulang kerja", Dita tertawa sendiri karena memang dia belum sempat mandi sepulang kerja.
Dita memang sudah bekerja di salah satu rumah sakit, dan dia bertugas di bagian pendaftaran. Selesai ujian Dita memang bingung untuk melanjutkan kuliah dimana, dan saat sedang menemani bapaknya berobat di rumah sakit saat bapak terkena batuk berkepanjangan, salah satu kakak kelasnya yang sudah kuliah dan dulu sama-sama mengikuti ekskul PMR bertemu dengan Dita disana.
Mereka ngobrol dan saling bertukar cerita, akhirnya Dita memutuskan akan melanjutkan sekolah ke jurusan administrasi rumah sakit, karena saat itu sedang dibuka lowongan kerja dibagian itu, Dita iseng-iseng menitipkan lamaran pada kakak kelasnya, dan Dita diterima bekerja di bagian pendaftaran rumah sakit dengan ijasah SMA nya.
Namun tentu saja Dita tetap harus melanjutkan kuliah dan Dita mendaftar di kampus yang ada kelas non regulernya. Jadwal Dita berangkat kuliah dihari sabtu dan minggu saat pekerjaan di rumah sakit libur. Namun sampai hari ini Dita belum memulai kuliahnya karena kegiatan belajar baru mulai dua minggu lagi.
" Bagaimana kabarmu?, betah kerja di rumah sakit?".
Dila dan Dita berjalan masuk beriringan dengan tangan Dila yang merangkul pundak Dita. Dita masih menggendong Arsy dan menuntun El masuk kedalam rumah.
" Betah lah Mba, disana banyak orang baik. Jadi Dita betah kerja disana, kerjaannya juga gampang, cuma memasukkan data orang yang sakit ke form yang sudah ada, itu sih mudah banget".
Meski baru bekerja satu bulan, tapi Dita mengatakan sudah senang dan cocok dengan pekerjaannya.
" Baguslah, dari dulu kamu kan selalu bingung kalau ditanya cita-cita kamu apa, atau mau lanjutkan kuliah dimana, eh... sekarang malah langsung dapat jalan, pekerjaan yang kamu suka dan kuliah di bidang yang akan mendukung pekerjaanmu".
Bapak dan Indra juga sedang mengobrol di ruang tamu bersama Ari. Entah apa yang mereka obrolkan terlihat serius dan terkesan bisik-bisik. Mungkin sedikit privasi sehingga ngobrolnya lirih.
" Bagaimana hubungan kamu sama Nino?, apa dia serius menunggu kamu sampai sekarang Dit?".
Dita mengangguk," kemarin pulang kerja aku dijemput sama dia, terus dijalan kami ngobrol, dia bilang mau melamar secepatnya, dan kalau bisa menikah secepatnya juga. Menurut mba Dila gimana?"
Dila tersenyum sendiri, memikirkan adiknya yang baru lulus SMA langsung ada yang melamar dan mengajak menikah.
" Itu sih terserah kamu, jodoh, rejeki, dan kematian itu kan rahasia Allah, siapa tahu mungkin jodoh kamu memang dekat, kalau memang iya ya di syukuri saja. Kan kalau nikah sama Nino, otomatis kamu akan menjadi ibu kades".
" Keren kan... ibu kades yang masih sangat muda, ibu kades kerjanya di rumah sakit, dan baru mau mulai kuliah. Tinggal kamu pinter-pinter bagi waktu saja. Kalau kamu menikmati setiap peran kamu, semuanya pasti akan terasa ringan dan menyenangkan".
__ADS_1
Dita mengangguk mengerti, tak mereka sadari selama mereka mengobrol di ruang tengah, ternyata El dan Arsy tidur sendiri di kasur yang ada di depan televisi. Sepertinya kedua bocil itu kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, karena selama di mobil mereka berdua terus bercanda dan tak ada yang tidur.
" Lihatlah anak-anak mu Mbak... mirip sekali sama kamu, Nemu kasur bisa langsung tidur nyenyak seperti itu", Dita terkekeh sendiri melihat kedua keponakannya begitu mudah tidur sendiri dan sudah pules pula.
Dila hanya tersenyum, " Mereka berdua terus bercanda di sepanjang perjalanan, pantas saja kalau mereka langsung tidur, pasti mereka kecapekan".
" Dit, kalau memang Nino mau melamar kamu, suruh datang secepatnya, mumpung mba lagi disini, jadi kan mba sama Mas Indra bisa menghadiri acara lamaran kamu".
Dita nampak berpikir, " Mba serius dengan ucapan mba barusan?, tapi kan Dita baru sebulan lulus SMA, masa langsung dilamar begitu, apa nggak kecepetan Mba?, nanti apa kata tetangga?, dikira Dita kenapa-kenapa lagi... kalau ada yang mengira Dita hamil duluan gimana?".
Dila menepuk pundak Dita lumayan keras. " Kamu jangan ngaco kalau ngomong, memangnya apa yang sudah kamu dan Nino lakukan sampai kamu berpikir sampai ke sana?, yang penting kan kalian memang belum ngapa-ngapain, atau... kamu sudah ngapain sama Nino?", Dila bertanya dengan tatapan menyelidik.
" Ih....mba apaan, nggak lah, belum ngapa-ngapain, berani blak-blakan ketemu dan pergi bareng saja setelah Dita lulus sekolah, berarti kurang lebih baru sebulanan ini".
" Mana bisa waktu sebulan sudah ngapa-ngapain, memangnya Mba belum paham sudah pacaran dengan Mas Nino lumayan lama, cowok diam dan kalem begitu berani ngapain?, pegang tangan saja pas dimobil sampai keluar keringet dinginnya".
Dita jadi tertawa sendiri waktu mengingat pertama kali Nino ijin untuk menggenggam tangannya. Terasa tangan Nino yang dingin gemetar dan peluh langsung membanjiri keningnya.
Dila mengangguk mengiyakan. Memang benar yang dikatakan Dita, Nino itu tipe laki-laki pemalu, dan sangat menghormati perempuan. Selama dirinya dekat dulu juga paling jauh hanya bergandengan tangan saja, benar-benar laki-laki yang sopan.
" Kalau kalian sudah sama-sama suka, dan sudah sama-sama siap, bukankah lebih cepat lebih baik, mau nunggu apa lagi?", ucap Dila.
Tak bertele-tele, Dita langsung menelepon Nino, dan baru dering sekali Nino sudah langsung mengangkat panggilan dari Dita, benar-benar gerak cepat.
Dita pun menyampaikan apa yang tadi dikatakan Dila. Nino yang memang sudah sangat siap baik secara fisik maupun mental, sudah sangat siap baik secara jasmani maupun rohani, dan juga secara materi langsung setuju untuk datang ke rumah Dita secepatnya, guna melakukan lamaran.
" Bagaimana kalau nanti malam aku datang ke rumahmu bersama orang tuaku?", Suara Nino terdengar keras karena Dita me load speaker HP nya.
" Ya nggak malam ini juga Mas, mba Dila dan Mas Indra baru saja sampai, mereka butuh istirahat. Bagaimana kalau besok saja datangnya?".
__ADS_1
" Oke". Nino langsung setuju untuk datang ke rumah besok.
Dila sampai tertawa sendiri melihat sikap Nino yang begitu gerak cepat. Pengalaman pacarnya di tikung orang membuatnya kini menjadi gesit dan gercep. Tidak mau bertele-tele dan mengulur waktu.