Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 100


__ADS_3

Indra bisa tidur dengan nyenyak malam harinya, mungkin efek obat yang diminumnya ada kandungan obat tidur, sehingga Indra langsung tidur hingga pagi.


Namun saat Dila sedang sholat subuh di samping ranjang, Indra tiba-tiba terbangun dan berlari ke kamar mandi, lagi-lagi dirinya merasa mual dan muntah-muntah.


Dila pun buru-buru melipat mukena dan sajadahnya. Dan ikut ke.kamar mandi, membantu Indra sambil memijit tengkuk lehernya.


" Apa mas mual lagi?, padahal semalam Mas bisa tidur nyenyak, kenapa paginya malah mual-mual seperti ini?", Dila menjadi bingung dan kembali menelepon dokter Andrew setelah merebahkan Indra di kasur kembali.


Dokter Andrew menyuruh Dila untuk segera membawa Indra ke rumah sakit, karena masih subuh, Dila membawa Indra ke IGD, saat ini Indra semakin lemah dan pucat, karena tadi terus-menerus muntah.


Sampai di IGD dokter jaga langsung memasang selang infus, karena Indra sudah banyak kehilangan cairan, karena terus muntah.


Saat membawa Indra dari kamar ke mobil tadi untung Mang Santo dan dirinya bersama bi Ana kuat bareng-bareng menggotong. Indra yang cukup tinggi dan tubuhnya berisi membuat berat badannya juga cukup merepotkan saat harus digotong.


Dila menelepon Ari, namun Ari tak kunjung mengangkat teleponnya, karena itulah Dila membawa mobil sendiri menuju rumah sakit.


Melihat kondisi Indra yang sudah lemah tak berdaya membuat Dila tak bisa mengukur waktu hanya untuk menunggu Ari sang supir yang tidak bisa dihubungi.


" Sejak kapan suaminya muntah-muntah Bu?".


" Semalam muntah, tapi muntah nya sudah berhenti setelah meminum obat dari dokter Andrew, tapi pagi ini tiba-tiba muntah-muntah lagi", ujar Dila menjelaskan.


Dila disuruh menunggu diluar bilik, agar dokter bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Duduk sendiri di kursi kayu yang ada di lorong IGD, Dila sungguh merasa bingung harus bagaimana, namun tak lama kemudian Dila bisa melihat Fatma dan Rizal berjalan cepat menuju ke arahnya. Mungkin salah satu ART di rumah yang memberi tahu keadaan Indra.


Dila sampai lupa untuk mengabari sang ibu dan ayah mertua bahwa Indra sedang sakit.


" Indra kenapa Dil?, kamu kok nggak ngabarin ibu, padahal Indra sakit sejak semalam". Fatma duduk di kursi kayu panjang samping Dila. Sedangkan Rizal tetap berdiri.


" Belum tahu penyebabnya Bu, tapi Mas Indra katanya nggak enak badan dan mual, kemarin sore muntah-muntah, tapi setelah diperiksa sama dokter Andrew, semalam Mas Indra bisa tidur dengan nyenyak", terang Dila.


Dila bisa melihat Bu Fatma yang terlihat sangat khawatir. " Semoga saja Mas Indra tidak kenapa-kenapa", batin Dila terus berdoa.


Setelah dipasang infus dan beberapa tindakan, Indra sudah tidak terus muntah-muntah lagi, sekitar jam 10 pagi Indra sudah bisa berpindah ke kamar rawat.


Untung saja Indra harus dirawat saat libur akhir pekan, setidaknya Dila tenang di rumah sakit, karena El tetap di rumah dan tidak perlu berangkat sekolah.

__ADS_1


Setelah dilakukan cek lab, dan beberapa pemeriksaan organ dalam, ternyata Indra seperti itu karena keracunan makanan.


Hari kemarin Indra memang ada pertemuan dengan klien di restoran jepang yang tak jauh dari kantornya. Tapi Indra memesan menu dengan menu seafood mentah yang ternyata ada salah satu ikan yang mengandung pengawet. Dan mungkin Indra memakan dalam keadaan mentah, sehingga sangat berdampak pada kesehatan Indra.


Semua bisa bernafas lega setelah mengetahui penyebab Indra merasa sakit di tubuhnya.


Rizal yang sejak tadi terus diam dan duduk di sofa karena merasa sangat khawatir dengan keadaan putranya, kini mulai bisa bernafas lega. " Kalau begitu ayah dan ibu pulang dulu. El pasti bingung karena sendirian di rumah".


Dila mengangguk mengerti, keadaan Indra sudah tidak mengkhawatirkan seperti tadi pagi. Wajahnya mulai bersemu merah dan tidak pucat.


Saat jam makan siang Andrew yang bekerja di rumah sakit itu sengaja menjenguk Indra ke kamar rawat.


" Keracunan bro...?, kamu selalu saja seperti itu, sudah diberi tahu jangan makan ikan laut mentah, masih saja suka pergi ke restoran jepang". Andrew duduk di kursi yang ada di samping ranjang Indra.


" Untung buru-buru dibawa ke rumah sakit, kalau nggak bisa bahaya, kamu nggak cuma muntah, tapi juga diare parah". Andrew nampak melirik ke Dila yang sedang membereskan bekas makan siang Indra.


" Klien yang minta ketemu di restoran Jepang, jadi mau tidak mau sekalian makan disana. Aku kira biasanya aku baik-baik saja makan menu yang sama, tapi ternyata jadi seperti ini", gumam Indra.


Dila mendekati Indra, " Mas, aku mau sholat ke mushola dulu ya, kamu kan lagi ditemani dokter Andrew, cuma sebentar aku kembali lagi", pamit Dila sambil mengangguk juga pada Andrew berpamitan.


Dila keluar dari kamar Indra dirawat menuju mushola rumah sakit. Momen itu dimanfaatkan Andrew untuk menanyakan tentang Kayla pada Indra.


" Apa kamu sudah ketemu sama Kayla Ndra?, aku dengar dari Faris, Kayla sudah balik dari Jerman, sekitar sebulan yang lalu mungkin. Masih disini apa sudah balik ke Jerman aku nggak tahu, aku nggak sempet ketemu".


" Kata Faris, Kayla mau married sama orang asli Indonesia yang kerja di Jerman. Apa kamu sungguh nggak ketemu sama dia barang sekali saja?".


Indra hanya mengangkat kedua bahunya. " Aku sudah nggak peduli lagi dengan dia, mau balik, mau kawin sama orang Jerman, mau mati, mau nyemplung ke laut, aku sudah tidak perduli !", ucap Indra ketus.


" Perempuan sialan...!, sudah di kasih hati, malah menyia-nyiakan begitu saja. Apa kamu tahu seberapa keras perjuangan aku untuk menjadi sukses seperti sekarang ini, semua karena ucapan Tante Mira, ibunya yang sangat meremehkan aku, dia pikir aku tidak selevel dengan Kayla. Sudah sampai jungkir balik membesarkan bisnis agar tidak terus menerus dihina oleh orang tuanya, setelah aku sukses dia malah kabur". geram Indra.


" Belum lagi dia tidak pernah sekalipun menanyakan kabar anaknya sendiri, wanita gila, yang tidak punya hati. Aku sudah sangat malas untuk membahas tentangnya".


" Bagaimana bisa dulu aku memperjuangkan dia, hanya karena sebuah gengsi". gumam Indra.


Andrew tertawa lepas. " Sabar bro.... aku jadi ingat dulu kita taruhan buat menaklukkan si Kayla yang sombong itu, dan kamu begitu bangga karena menjadi pemenangnya. Sekarang kamu bahkan menyesal sudah pernah menikahinya".


" Ini semua gara-gara kalian, aku jadi terjerumus pada hubungan yang dilandasi rasa gengsi, bukannya cinta", ungkap Indra.

__ADS_1


" Tapi kamu beruntung sih si Kayla minggat, setidaknya sekarang kamu sudah menemukan gadis yang sangat cantik dan seksi, baik hati dan penyabar seperti Dila. Perfect !", ucap Andrew sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


" Aku dengar istri barumu menjadi partner bisnis si Bram, awas hati-hati, si Bram itu player sejati. Nanti lihat istri kamu seksi dan menggiurkan seperti itu malah nikung kamu lagi", Andrew sengaja memanas-manasi.


Indra hanya tersenyum sinis.


" Jaga itu mulut kalau ngomong, Dila itu gadis baik-baik, nggak pernah macem-macem, dijamin bisa menjaga diri, karena aku yang pertama kali mengambil mahkotanya".


" Nggak kaya mantan istriku yang tidak pernah aku tahu kapan dia dijebol oleh laki-laki lain, awalnya aku menerima keadaannya, aku pikir sekarang semua perempuan memang seperti itu, sama saja sudah bolong. Tapi ternyata istri ku Dila itu beda, she is mine !".


Indra terdengar begitu bangga menyebut Dila adalah miliknya. Miliknya seutuhnya.


" Serius bro...?, wah jaman sekarang jarang loh Nemu cewek yang masih orisinil. Mau dong yang kayak Dila, satu saja", canda Andrew.


" Ck... tinggal bilang sama mami penginapan tempat kamu langganan, minta yang masih gadis, pasti juga di carikan, cuman dengar kabar kalau masih perawan itu mahal bayarannya". Indra sengaja menggoda Andrew.


" Kamu kok tahu Ndra, jangan-jangan kamu pernah ke penginapan langgananku", tuduh Andrew.


" Sori ya bro, aku nggak level ke tempat seperti itu, aku cuma denger-denger dari beberapa rekan bisnis aku yang kadang datang kesana sekedar mencoba dengan pasangan yang lain. Aku sudah cukup sama Dila, seperti ucapan kamu, she is Perfect !".


" Awas loh jangan lirik-lirik istri ku, sekarang pergi sana, bukannya kamu harus kerja disini, enak banget cuma ngobrol-ngobrol dibayar mahal". Indra mengusir Andrew dari kamarnya, padahal Dila belum kembali dari mushola.


Saat Dila sampai di kamar Indra, Dila mencari-cari keberadaan Andrew, " apa sudah pergi dari tadi dokter Andrew nya?".


Indra menggeleng, " baru saja pergi, apa nggak ketemu di depan?".


Dila menggeleng. Aku mampir kantin beli makan siang dulu, sama jus melon, ini katanya bisa bikin perut adem, diminum ya Mas. Aku makan siang dulu sebentar", Dila menyerahkan jus melon pada Indra, dan dirinya membuka nasi *** yang dibelinya di kantin rumah sakit.


" Apa mas mau makan siang lagi?" , Dila menawarkan, namun Indra menggeleng.


" Cukup minum jus melon ini, kalau habis juga pasti aku akan kekenyangan, gelasnya segede ini, apa cuma beli satu?".


Dila menunjuk plastik lainnya, " masih ada satu untukku, itu jus mangga, apa mas mau coba jus mangga nya?".


Indra menggeleng. " Makan yang banyak sayang... biar kamu sehat dan kuat untuk merawatku yang sedang tidak berdaya ini".


Dila mengangguk pelan sambil tersenyum, " memang begitu seharusnya, akulah yang merawat kamu Mas, karena akulah istrimu", batin Dila

__ADS_1


__ADS_2