
Setelah memandikan putri Dila dan Indra, kedua suster yang tadi memakaikan pakaian dan mendandani si kecil hingga terlihat sangat cantik dan menggemaskan, sejak kemarin si kecil baru dimandikan, karena kemarin saat lahiran noda darah dan lainnya hanya di lap saja.
Aroma khas bayi kini tercium memenuhi ruang kamar Dila. Bau minyak telon yang segar, dan juga parfum bayi.
" Adik bayi sudah selesai dimandikan, nanti tunggu dokter visit kesini, mungkin Bu Dila bisa segera pulang kerumah kalau kondisi semuanya baik. Melahirkan secara normal memang lebih cepat masa pemulihan nya, karena itulah, kadang paling hanya sehari atau dua hari saja ibu persalinan normal menginap di rumah sakit".
" Nanti juga akan dibawakan obat dan vitamin untuk sang ibu jika diperbolehkan untuk pulang".
Keterangan dari suster membuat Dila berwajah sumringah. Memang Dila sudah sangat ingin pulang kerumah, karena berada di rumah sakit terasa kurang nyaman baginya. Selain merepotkan yang lain, Dila juga lebih merasa nyaman tidur di kamarnya sendiri.
" Makasih untuk informasinya suster, makasih juga sudab mandiin si kecil, nanti saya diskusikan lagi dengan Dila tentang nama untuk putri kami", ujar Indra sambil mengantar dua suster itu keluar dari kamar Dila di rawat.
" Serius kalian berdua belum punya bakal nama buat cucu nenek yang cantik ini?. Uluh.... uluh.... kasian banget cucu nenek yang cantik belum di buatkan nama", gumam Fatma sambil kembali menggendong si kecil.
Sedangkan Siti memilih ke kamar mandi dan mencuci baju kotor si kecil yang bekas dipakai tadi.
" Mau di kasih nama siapa sayang?, apa kamu ada keinginan untuk memberi nama siapa pada putri kita?", tanya Indra sambil duduk di samping Dila.
" Aku juga belum ada rencana nama, cuman waktu aku dengar nama Arsyila di sekolah, itu nama salah satu teman El di TK, sepertinya cantik nama itu, anaknya juga cantik dan sangat sopan, selebihnya aku serahkan sama Mas, mau di beri nama panjang siapa", ujar Dila.
" Wah... bagus itu nama Arsyila, bisa dipanggil Arsy, atau ila, tinggal pilih, yang jelas nama belakangnya harus ada nama Pambudi, biar semua orang tahu, dia ini putri Indra Pambudi, dan cucu dari Rizal Pambudi", gumam Fatma.
" El saja yang bukan cucu kami, kami beri nama belakang Pambudi, apalagi ini benar-benar cucu kandung kami, jadi harus memakai nama belakang keluarga", batin Fatma.
" Saya juga setuju, bagus itu nama Arsyila, di kampung juga belum ada, kalau nak Indra bagaimana?", tanya Siti yang sudah selesai mengucek baju si kecil dan selesai menjemurnya.
Indra nampak berpikir, dan mulai mengetik di ponselnya, mencari tahu dari internet, apa arti dari nama Arsyila.
~ Adapun Arsyila berasal dari bahasa Arab yaitu jalan penghidupan yang tenteram, merdeka, bahagia dan sempurna ~
" Wah, ternyata bagus juga artinya, tentu saja aku setuju. Arsyila Savina Pambudi, Bagaimana?. Savina itu artinya wanita yang baik hati dan cantik, seperti sebuah doa yang baik untuk putri kecil kita yang cantik, semoga menjadi wanita yang baik hati". ujar Indra.
__ADS_1
Dila langsung mengangguk, begitu juga dengan Bu Fatma dan Bu Siti, semuanya setuju dengan nama yang tadi disebutkan oleh Indra.
Saat mereka masih berdiskusi di kamar Dila, Dokter dan beberapa perawat melakukan pemeriksaan ke kamar Dila. Memeriksa keadaan Dila dan juga bayinya.
" Selamat siang Bu Dila, Pak Indra, waduh ramai sekali disini, ada nenek dari adik.bayi ya, keduanya sama-sama jagain, beruntungnya. Sekarang kita coba cek kondisi tubuh dan kesehatan dari Bu Dila dan adik bayi dulu....".
" Dilihat dari roman wajahnya, sepertinya semuanya nampak sehat dan bahagia. Tapi mari kita periksa secara menyeluruh".
Perawat pun memeriksa Dila dari tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan masih banyak lagi yang di cek oleh sang perawat. Dokter hanya membaca hasil cek kesehatan Dila sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Hasilnya semuanya bagus, bahkan ASI dari Bu Dila sudah keluar banyak, akan sangat membantu mempercepat tumbuh kembang si kecil", ujar sang dokter.
" Dok, tadi pagi si kecil sudah buang air besar, itu tandanya semuanya normal, begitu juga dengan keadaan Bu Dila yang sehat", imbuh sang suster, mencoba memberi informasi pada sang dokter.
" Bagus kalau begitu, berarti setelah menyelesaikan administrasi, siang ini sudah boleh langsung pulang ke rumah. Karena baik keadaan ibu maupun bayinya semuanya sehat", ujar sang dokter.
Suster yang tadi pagi memandikan si kecil juga ada di sana, " Jadi apa sudah menemukan nama yang bagus untuk si kecil?", tanya Suster itu pada Indra.
" Baiklah, bisa diulang Pak Indra, biar saya catat ke dalam buku", ujar sang suster. Indra pun mengulang nama lengkap dari putri kecilnya.
Setelah dokter keluar dari kamar Dila, Indra menelepon rumah, dan bicara pada Bi Ana agar mempersiapkan kamar mereka, rencananya nanti siang Dila dan yang lain akan kembali ke rumah.
Bi Ana langsung membereskan kamar Indra, menata boks bayi yang sudah dibeli beberapa waktu lalu dan juga lemari baju si kecil di samping lemari besar.
Untung kamar Indra luas, dan masih banyak tempat yang bisa masuk barang-barang lain. Dila memang tidak mau tidur terpisah dari anaknya, sebelum lahiran Dila sudah mengatakan terlebih dahulu pada Indra, jika dirinya akan tidur bersama bayinya.
Indra yang tidak mau tidur terpisah dari Dila pun mempersilahkan Dila untuk membeli keperluan si kecil dan memasukkan ke dalam kamar mereka. Toh bayi mereka memang harus tidur bersama ibunya.
Pasti hanya sementara waktu saja mereka tidur bersama putri kecil mereka, setelah sang putri sebesar El, atau bahkan belum sebesar itu, Indra akan meminta Dila mengatur ulang kamar mereka, Indra akan membuatkan kamar tidur sendiri untuk Arsyila.
Siang hari Dila beserta rombongan sampai di rumah. Semua berebut ingin melihat Arsyila, namun Dila membatasi mereka.
__ADS_1
" Liat Arsy nya gantian ya, kalau rame-rame bisa buat Arsy kurang nyaman", ujar Dila.
Semua pun menurut dan melihat Arsy secara bergantian, pertama tentu saja yang pertama masuk ke dalam kamar adalah El dan Dita, beberapa menit kemudian Bi Darsih dan bi Ana, baru lanjut Pak Toto dan Mang Santo.
Sementara mereka baru bisa melihat Arsy sebentar-sebentar saja. Dila memang tidak mau karena mereka semua mengerumuni Arsy, Arsy menjadi rewel dan panas.
Penghuni rumah juga memaklumi permintaan Dila, demi kebaikan si kecil Arsy.
" Tante Dita, lihatlah Arsy mirip nggak sama El?", tanya El sambil mendekat-dekatkan wajahnya ke wajah Arsy.
Dita mengerutkan keningnya. " Kok nggak mirip ya?, soalnya Arsy cantik, sedangkan El kan ganteng", ujar Dita sambil cengengesan, karena berhasil menggoda El yang wajahnya nampak manyun karena dikatakan tidak mirip.
" Tante Dita nggak tahu sih, Arsy itu mirip sama El, karena El kakaknya !", El merajuk dan pergi meninggalkan kamar ayahnya, masuk ke kamarnya sendiri dan mengurung diri disana.
" Sudah biarkan saja, sebentar lagi juga keluar sendiri", ucap Dila menahan Dita yang hendak mengejar El ke kamarnya.
Dita mengangguk, " Selamat ya mba, sekarang sudah jadi ibu yang sesungguhnya. Seneng banget lihat Arsy kecil, mirip banget foto mba Dila yang disimpan ibu di album foto yang ada di lemari kamar", gumam Dita.
Dila hanya tersenyum mendengar ucapan Dita, yang lain sedang makan siang, namun Dita memilih menemani Dila di kamarnya, katanya belum lapar karena tadi nonton kartun bareng El sambil ngemil.
" Mbak Dila, ada salam dan ucapan selamat dari Mas Nino", bisik Dita lirih.
Dila menatap Dita, " Kok dia cepet banget denger info kalau aku sudah lahiran?".
Dita mengangguk, " Aku yang kasih tahu, karena Mas Nino yang nganter aku dan bapak-ibu ke stasiun, ada gangguan teknis waktu mau kesini, ban mobil online yang kami lesan bocor, eh pas mas Nino lewat dan nawarin tumpangan, karena itulah Mas Nino jadi tahu kalau Mba Dila sudah lahiran", terang Dita. Yang kemudian ekspresinya nampak tengah berpikir.
" Kenapa lagi?", tanya Dila yang paham dengan gerak-gerik Dita yang mencurigakan.
" Mas Nino kan disuruh ibunya jemput Pakdenya yang datang dari Surakarta, Mba Dila tahu kan kalau Pakdenya cuma punya dua orang putra, tapi aku lihat Pakdenya datang bersama ibu-ibu paruh baya dan juga gadis cantik di stasiun. Mungkin gadis itu mau dikenalkan sama mas Nino, dan sebentar lagi Mas Nino akan menyusul menikah seperti Mba Dila, kasihan juga nasibnya di tinggal nikah sama Mba Dila", ujar Dita merasa kasihan pada Nino.
Bukan karena apa, tapi memang diantara pria yang mendekati Dila, Nino lah yang paling baik pada keluarganya sejak dulu.
__ADS_1
" Syukurlah kalau begitu, dia memang harus menemukan gadis lain yang lebih baik dariku", ujar Dila sambil meringis.