
Tentang El, biar lah itu dibahas nanti saja, saat ini Dila paham benar bagaimana perasaan Indra, pasti sangat sedih, sangat kecewa, marah, khawatir, dan berbagai rasa yang menyesakkan dada.
Dila tidak mau Indra terus teringat pengkhianatan Kayla yang sudah berhasil dikuburnya dalam-dalam akan muncul kepermukaan lagi. Tapi Dila yakin, pasti Indra tetap akan kembali teringat masa kelam dalam hidupnya akibat ulah mantan istrinya itu.
" Mas juga harus makan, aku pesankan makan siang dari kantin rumah sakit ya Mas?, kemarin pas nungguin mas di rumah sakit ini, masakan kantinnya cukup enak kok".
Dila mengambil telepon rumah sakit yang ada di meja kecil di samping ranjang nya, dan memesan menu makan siang untuk Indra.
" Kamu itu memang istriku yang sangat baik, meski sedang sakit, kamu masih kepikiran untuk melayaniku, memesankan makan siang. Aku sangat beruntung karena bertemu denganmu, menjadi suamimu adalah sebuah keberuntungan besar dalam hidupku".
" Seandainya kamu ingin sesuatu, sampaikan saja sama Mas, pasti akan Mas carikan. Kata orang-orang kalau orang hamil itu akan pingin sesuatu yang kadang aneh-aneh keinginannnya, yang penting jangan minta perpisahan, Mas tidak akan bisa hidup tanpa kamu Dil. Kamu dan calon anak kita adalah alasan aku masih bisa menahan amarahku sampai saat ini".
Indra meletakkan tempat makan Dila yang sudah habis di depan kamar rawat Dila, agar petugas bisa mengambil tanpa perlu masuk kedalam, Indra kembali duduk di samping Dila dan mendekatkan gelas berisi air putih untuk Dila minum.
" Untuk sementara waktu, kamu tidak usah mengkhawatirkan tentang El, ibu sudah disana dan menjaganya, ada ayah dan ibu kandungnya juga...", ucapan Indra terpotong, seolah suaranya tercekat di tenggorokan, sulit untuk keluar.
Indra mengira jika Dila belum tahu tentang kebenaran bahwa El bukanlah putra kandungnya. Sejak El mengalami kecelakaan, dan saat kehabisan banyak darah, sampai kejadian kehabisan stok darah, semuanya terjadi saat Dila juga dirawat di IGD.
Meski Indra belum tahu, darimana Kayla dan keluarganya mendapatkan kabar jika El mengalami kecelakaan, dan membutuhkan banyak darah. Yang Indra tahu, saat darahnya di tes dan tidak cocok dengan darah El, tiba-tiba Kayla datang dan meminta dokter juga memeriksa darahnya.
Seolah Kayla sudah sangat yakin dan tahu jika darah Indra tidak akan sama dengan darah El. Itu berarti Kayla juga sudah tahu sejak dulu bahwa El bukanlah putra kandung Indra.
Lalu mengapa dirinya meninggalkan El di rumah Indra, kenyataan bahwa dirinya menelantarkan anak kandungnya sendiri di rumah suami yang bukan ayah dari anaknya.
Indra memang sangat penasaran, laki-laki mana yang sudah berani tidur dengan mantan istrinya itu. Tapi di satu sisi ada El yang tergeletak lemah disana, jika Indra ke IGD dan mengenal siapa ayah kandung El, bukankah itu akan lebih menyakitkan lagi.
Dua penghianat yang ternyata orang-orang terdekat Indra. The real 'musuh dalam selimut', atau bisa disebut 'duri dalam daging'. Entah apa pribahasa yang tepat untuk situasi ini. Yang jelas saat ini Indra memilih tetap bertahan dan berada di kamar Dila agar bisa meredam emosinya. Agar otaknya tetap waras.
Kesehatan Dila dan bayi dalam kandungannya kini menjadi prioritas utama Indra, tidak perduli dengan pengkhianatan Kayla dan bajingan yang tidur bersamanya. Yang paling penting setelah El sadar dan sembuh nanti, Indra sudah bertekad untuk mempertahankan El tetap berada disisinya.
Meski mungkin akan menyakitkan melihat El sebagai wujud nyata hasil dari perselingkuhan mantan istrinya. Namun El hanyalah korban, dia anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Selama ini Indra dan keluarganya lah yang merawat dan membesarkan El. Dan yang El tahu pasti Indra lah ayahnya.
__ADS_1
Jika sampai orang tua kandungnya mengajukan tuntutan atas hak asuh El. Indra sudah siap untuk pasang badan dan menyewa pengacara terbaik untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Ya... karena ada Niko, salah satu sahabat Indra saat SMA yang kini menjadi seorang pengacara hebat, Niko juga yang mengurus semua urusan hukum menyangkut perusahaan Indra selama ini.
Dan sayangnya Indra benar-benar tidak tahu jika Kayla, sang mantan istri bukan hanya pernah tidur dengan Faris saja, tapi dengan Niko juga. Hanya saja pertemuan dengan Niko tidak seintens dengan Faris saat itu, hanya pernah beberapa kali di klub malam.
Beda dengan pertemuan Kayla dan Faris yang lebih sering dan lebih banyak berhubungan ranjang.
Entah persahabatan macam apa yang mereka miliki, rasa persahabatan yang erat, rasa saling memiliki satu sama lain, ternyata membuat sahabat-sahabat Indra juga mempunyai rasa memiliki istri Indra, sehingga dengan mudahnya tidur dan bercinta dengan istri sahabatnya sendiri. Sungguh miris...
Atau mungkin trouble bukan hanya pada sahabat-sahabat Indra saja, karena setiap adanya perselingkuhan itu terjadi karena kedua belah pihak sama-sama setuju untuk 'bermain belakang', itu berarti trouble juga terjadi pada Kayla, sang mantan istri Indra.
Karena bukan hanya satu sahabat Indra yang tidur bersama nya, itu berarti memang mantan istri Indra yang trouble.
Berbeda dengan Dila yang tetap setia meski pada awal pernikahan dirinya tidak mencintai Indra, karena pernikahan mereka yang dilakukan setelah terjadinya sebuah insiden. Namun Dila akhirnya jatuh cinta pada Indra karena tinggal bersama dan mulai terbiasa saling melengkapi satu sama lain.
Dila akhirnya mendengar kalimat dimana Indra menyebut 'ayah dan ibu kandungnya El', meski hanya sebatas itu, karena tiba-tiba Indra kembali terdiam. Dila paham, Indra pasti sangat sedih.
Indra hanya mengangguk tanpa bersuara. Indra sudah mengira Dila akan tetap menyayangi El, meski El bukan putranya.
Tapi yang membuat Indra merasa sedikit aneh, mengapa Dila nampak biasa-biasa saja, dan tidak kaget dengan kenyataan bahwa El adalah orang lain.
" Apa kamu sudah mengetahui....kalau.....".
Dila mengangguk mendengar kalimat Indra yang terputus-putus. " Yang paling penting sekarang, kita harus mendoakan agar El segera sadar dan sembuh, dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua kerumitan yang terjadi pada para orang dewasa".
" Jangan libatkan El dalam permasalahan antara Mas dan Mba Kayla. Dia tidak tahu apa-apa. Cukup kita saja yang tahu kebenarannya", ujar Dila mengingatkan.
Suara ketukan pintu kamar kembali terdengar, Dila dan Indra sama-sama terdiam, tak melanjutkan percakapan mereka, ternyata yang mengetuk pintu adalah salah satu karyawan dari kantin yang mengantar pesanan makan siang untuk Indra.
Setelah menerima makan siang dan melakukan pembayaran, Indra pun meletakkan makan siangnya di meja.
__ADS_1
" Kok nggak langsung dimakan Mas?, nanti keburu dingin nggak enak", Dila memang sengaja memesan soto karena makan di situasi yang kurang menyenangkan pastilah tidak selera. Jadi harus makan sesuatu yang berkuah, agar lebih mudah menelannya.
" Iya sayang, Mas akan makan, nanti setelah dari kamar mandi", ujar Indra sambil masuk kedalam kamar mandi.
Saat Indra berada di kamar mandi, Dila langsung menghubungi ibu mertuanya. Sengaja menunggu Indra saat tak berada disisinya, dan momen saat ini adalah yang paling tepat.
Dila menanyakan bagaimana keadaan El, sudah sadar atau belum, dan bagaimana keadaan di IGD.
Fatma pun langsung menjawab semua pertanyaan Dila. El masih belum sadar, tapi semua luka sudah dibersihkan dan dijahit, ada sobekan di kepalanya, hingga tadi banyak darah yang keluar. Namun masa kritisnya sudah berlalu, dan sekarang kata dokter keadaan El sudah stabil. El belum terbangun karena efek obat tidur yang di suntikkan di tubuhnya saat menjelang akan dilakukannya operasi ringan tadi.
Kata Fatma keadaan di IGD sekarang sudah sepi, Kayla, Lita dan juga Faris sudah pergi dari IGD karena permintaan Fatma. Meski kesal dan marah, tapi Fatma tetap bisa bicara sopan pada Kayla dan yang lain. Dan meminta mereka untuk segera meninggalkan rumah sakit untuk kebaikan bersama.
Bagaimana pun Fatma sudah menganggap El sebagai cucunya, dan hubungan darah tidak akan mengubah apapun. Keadaan akan masih tetap sama, Fatma hanya berusaha agar suaminya tidak mengetahui kenyataan jika El bukan cucu kandungnya.
Rizal bisa sangat murka dan menghancurkan siapa saja yang sudah menipunya. Fatma paham betul dengan karakter suaminya.
Demi kebaikan bersama, Kayla, Lita dan Faris pun pamit. Ada rasa khawatir yang terlihat di mata Faris saat dirinya bertemu dengan Bu Fatma. Namun Fatma tidak banyak bicara kepada mereka, hanya meminta mereka pergi agar Indra tidak perlu tahu kalau ternyata Faris lah ayah El. Faris sahabatnya sejak SMA, tentu saja Fatma tahu itu, karena keempat sahabat Indra sangat sering menginap di rumah jaman masih muda dulu.
Fatma hanya tidak menyangka jika ternyata sahabat-sahabat Indra dan mantan istrinya adalah orang-orang yang menjijikan.
Fatma mengabarkan pada Dila jika dirinya saat ini sendirian di IGD menemani El, sebentar lagi El akan dipindah ke kamar rawat. Tapi Fatma meminta agar kamar El dan Dila harus terpisah.
Itu demi kebaikan semuanya, baik El maupun Dila harus segera sembuh, jika berada di kamar yang sama, dan El melihat Dila dirawat, pasti El akan bersedih, begitu juga sebaliknya, jika Dila melihat keadaan El, Dila pasti akan kepikiran dan tida bisa beristirahat dengan tenang.
Dila mengakhiri panggilan pada ibu mertuanya saat Indra keluar dari kamar mandi.
" Telepon siapa?", tanya Indra yang melihat Dila baru saja meletakkan ponselnya.
" Telepon ibu Mas, cuma menanyakan bagaimana keadaan El. Kata ibu keadaan El sudah stabil, meski masih tertidur efek dari obat tidur dari dokter. Sekarang Mas makan dulu ya", ujar Dila terus mengingatkan agar Indra tidak telat makan.
Indra mengangguk sambil duduk di sofa panjang yang ada di depan ranjang Dila. Dan membuka menu makan siangnya, makan siang yang tertunda karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1