
Dila sampai di hotel dengan diantar oleh Ari, Ari mengantar Dila sampai di lorong yang mirip dengan yang dilewati Indra di Video.
" Sori banget Dil, aku cuma bisa nganter kamu sampai disini, nomer kamarnya kamu tahu sendiri kan, terlihat jelas di video itu. Selamat berjuang ya Dil, maaf aku nggak bisa nemenin kamu kesana".
Ari putar balik menuju lift hotel untuk kembali pulang, Ari memang tidak mau ikut campur dan terlibat dalam konflik rumah tangga bos nya, namun saat sampai di lobi Ari menghentikan langkahnya dan kembali berfikir, merasa kasihan pada Dila, karena Ari tahu bagaimana Dila akan hancur dan sakit hati saat melihat suaminya sedang bercumbu dengan perempuan lain.
Saat ini Ari pun merasa dilema, satu sisi dia ingin dirinya aman, dan tidak dipecat dari pekerjaan karena mengantarkan istri bosnya ke hotel tempat bos-nya mencari kepuasan.
Namun disisi lain, hati naluri Ari merasa kasihan pada Dila, karena tahu, Dila sebenarnya rapuh, dia masih sangat muda, dan hidupnya diambang kehancuran.
Akhirnya Ari berhenti di lobi hotel. Saat ini jam menunjukkan pukul 11 malam, berarti sudah 15 menit Ari menunggu di lobi, tapi Dila belum juga menampakkan batang hidungnya. Ari sedikit khawatir, dan terpaksa kembali ke lorong tempatnya tadi meninggalkan Dila disana.
Ari berjalan cepat saat Dila sudah tidak ada di lorong itu, namun ada kegaduhan dari salah satu kamar, yang kemungkinkan besar adalah kamar yang di tempati Indra dan Tania bercinta.
Perlahan Ari mengintip ke dalam kamar karena pintunya tidak tertutup sempurna, terlihat Dila tanpa ekspresi berdiri sambil membangunkan Indra yang tidur dengan lelapnya tanpa busana. Disampingnya juga ada Tania yang dalam keadaan sama, tanpa busana, mereka berdua hanya tertutup selembar selimut yang juga berantakan.
" Mas, kita pulang sekarang, ayo bangun, kalau kamu sudah puas bermain dengan perempuan itu, sekarang kita pulang, El sejak tadi menunggumu, ayo bangun mas", suara keras Dila tak juga membangunkan Indra.
Tania menyeringai jahat, " Dia baru saja tidur, jadi nggak bakalan bangun, lu pulang sendiri gih...!, besok juga kalau bangun, gue suruh Indra pulang ke rumah, lu tenang aja, paling sebentar lagi lu bakalan disuruh buat tanda tanganin surat cerai".
" Nggak usah nangis begitu, simpen itu air mata buaya lu buat besok, pas Indra sudah bangun, sekarang Indra lagi dalam fase nge-fly menikmati kepuasannya, nanti juga paling pas bangun, bakalan minta ngelakuin yang kaya tadi lagi".
" Makanya lu jadi bini tuh yang jago muasin laki lu, biar Indra puas dan nggak nyari gue buat puasin dan mengikuti semua keinginannya".
" Tapi nggak papa juga sih, Indra itu hot banget, dia paling tahan lama dan paling kuat dibanding yang lain. Gue bisa paham kenapa dia nggak puas sama elu, paling elunya udah kecapekan pas Indra masih 'On', makanya Indra nyari yang sama-sama kuat dan bisa diajakin pake gaya apa aja kayak gue".
Dila sangat paham dengan semua yang Tania sampaikan, dia sudah bukan gadis kampung yang tidak tahu belaian seorang lelaki. Dila menyadari bahkan terakhir kalinya dia melakukan pemanasan dengan Indra, masih tetap tidak bisa gol, karena lagi-lagi Dila ketakutan, dan Indra tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Karena itulah Dila tak menjawab kalimat sindiran yang dikatakan Tania kepadanya. Mungkin benar seperti kata Ari tadi, ini akibat dari kesalahannya, karena Dila tidak bisa memuaskan Indra, karena trauma yang dialaminya.
Ari yang hanya mengintip dari celah pintu kamar hotel semakin merasa kasihan pada Dila, karena melihat air mata Dila yang tak berhentinya menetes, meski tidak ada suara tangisnya. Dan anehnya saat dia direndahkan oleh Tania si wanita murahan, justru Dila diam saja tak membalas.
Ari masuk ke dalam kamar hotel itu, menerobos begitu saja, dan memakaikan kemeja dan celana Indra. Lalu Ari menggendong Indra di punggungnya. membawanya keluar dari kamar itu. Padahal Tania melarangnya dan mencoba menahan Indra tetap tidur disana, tapi bagi Ari, cara Indra tidur itu tak wajar, bagaimana bisa dia tetap tidak bangun padahal Dila sudah menggoyang-goyang tubuhnya, bahkan suara sindiran Tania pada Dila yang cukup keras juga tak membangunkannya.
Ada kemungkinan Indra diberi obat tidur, dan tentang hubungan ranjang dengan berbagai gaya seperti yang diceritakan Tania tadi, bagi Ari itu hanya bualan, dan tentang Indra yang tahan lama dan sangat perkasa juga karangan Tania, karena hubungan ranjang itu sepertinya tidak pernah terjadi, Ari yang memakaikan kemeja dan celana Indra. Tubuh Indra masih wangi, tak ada bau keringat seperti seseorang yang habis bergerak aktif dengan berbagai gaya, juga tak ada aroma bekas bercinta di tubuh Indra, Ari paham hal itu.
__ADS_1
" Pulang Dil, kamu nggak perlu dengerin omongan wanita murahan dan gila kayak Tania".
Ari kembali berjalan keluar sambil membawa Indra, Dila mengikuti Ari sampai parkiran. Setelah memasukkan Indra di bangku belakang, Dila duduk di bangku depan di samping Ari yang menyetir mobil.
" Nggak perlu nangis karena kamu nggak lihat suami kamu beneran lagi ngegoyang Tania kan?, pas kamu masuk, Indra sudah tidur pules kan Dil?".
" Kalau menurut aku sih apa yang dikatakan Tania sama kamu itu bulshit, aku yakin semuanya direncanakan sama Tania, dia sengaja ngejebak si bos, saat tahu aku ijin nggak masuk kerja. Dasar wanita licik !, wanita murahan!, nggak tahu diri!", Ari kini tersulut emosi.
Sepanjang jalan Dila hanya diam, setelah merebahkan Indra di kamarnya, Ari pamit pulang, karena waktu sudah larut malam.
Dila terus termenung semalaman tidak bisa tidur memikirkan ucapan Tania tadi.
" Apa benar aku istri yang tidak bisa memuaskan suamiku sendiri, aku bukan istri yang baik, bahkan sampai suamiku menyalurkan keinginannya dengan wanita lain".
Dila terus berpikir dan menyalahkan dirinya sendiri, hingga jam 3 pagi, Dila memutuskan untuk berkemas, dan pergi dari rumah itu.
Jika dipikirkan, tetap berada di rumah itu hanya akan membuat hidup Indra tersiksa karena Dila tak bisa melayaninya sebagai seorang istri.
Saat ini El sudah semakin besar dan mudah di atur, mungkin Indra akan mencari pengasuh baru untuk El setelah kepergiannya, dan Dila berharap pengasuh itu akan menyayangi El seperti dirinya.
Ya.... Dila memutuskan untuk minggat, bukan pulang ke kampung halamannya, bukan pula pergi ke Cibitung tempat dimana teman-temannya berada. Dila sengaja pergi ke kota lain dimana tidak ada yang akan tahu keberadaannya.
" Maafkan aku Mas, aku tidak bisa jadi istri yang baik gara-gara traumaku dengan malam kelam itu", hanya itu yang bisa Dila katakan saat pamit pada Indra yang masih tidur pulas.
Saat pagi tiba dan semua penghuni rumah terbangun, mereka semua mencari keberadaan Dila karena El menangis mencari Dila, barang-barang dan baju Dila masih banyak di lemari, karena Dila hanya membawa beberapa baju saja, bahkan saat Indra menelepon Dila, mereka semua kaget karena ponselnya ada di kamar, mereka menemukan ponsel Dila diatas nakas, dan dibawah ponsel ada 3 surat yang tertulis nama yang berbeda-beda, dan juga ATM berwarna hitam.
El yang pertama mengambil surat dengan namanya. El sudah bisa membaca, dan El pun membaca surat itu dengan perlahan.
*Putraku El yang sangat ibu sayangi, jadilah anak yang baik, anak yang tangguh, yang mandiri dan berhati mulia. Maafkan ibu tidak bisa terus di samping El, karena suatu alasan, ibu harus pergi dari rumah, bukan karena Ibu tak sayang sama El, tapi karena sesuatu hal lain yang tidak bisa ibu ceritakan. Ibu harap El tidak kecewa dan marah sama ibu, peluk dan cium dari jauh*.
El kembali menangis saat tahu Dila pergi meninggalkannya. Begitu juga bi Ana dan bi Darsih, yang juga menangis saat membaca surat untuk mereka. Isinya tentang Dila yang meminta maaf, dan menitipkan el pada mereka berdua.
__ADS_1
Sedangkan Indra hanya menatap nanar surat yang ditulis untuknya, isinya permintaan maaf Dila karena tidak bisa menjadi istri yang baik, Dila takut traumanya tidak bisa di sembuhkan, dan selamanya tidak bisa melayani Indra di ranjang, sebagai seorang istri yang baik.
Indra mengecek ponsel Dila, mencari tahu mungkin Dila memesan tiket melalui online atau chat ke seseorang. Tapi justru yang ditemukannya adalah hal mengerikan yang tak pernah diduganya. Indra melihat videonya sendiri bersama Tania yang dikirimkan oleh nomor baru di ponsel Dila.
Yang ada semalam Dila menelepon Ari, dan Indra langsung menyuruh Ari datang kerumah, padahal seharusnya Ari libur karena akhir pekan.
Tak lama kemudian Ari datang dengan wajah bingung, karena semua penghuni rumah nampak bersedih. Bahkan El masih menangis di gendongan Bi Ana.
" Tolong jelaskan apa yang terjadi semalam, pinta Indra pada Ari.
Awalnya Ari meminta maaf terlebih dahulu pada bos-nya, lalu Ari pun menceritakan semua yang dia lihat dan dia dengar tentang kejadian semalam.
Indra begitu kaget dan murka mendengar semua hal itu. Kemarahannya pada Tania sudah tidak bisa di cegah, saat itu juga Indra memecat Tania, meski sedang libur akhir pekan.
Ari jadi merasa bersalah, karena semalam dia sudah mengatakan hal tak menyenangkan pada Dila. Tak sekalipun bos-nya pernah menceritakan tentang hubungan ranjang dengan istrinya, Ari hanya asal bicara, namun ternyata yang dikatakan oleh nya adalah sebuah kenyataan.
Ada rasa menyesal karena seperti sudah memprofokasi Dila yang sedang dalam keadaan mental down. Kini kemana mencari Dila?, karena Indra memberi tahu jika dalam surat yang ditulis oleh Dila, Dila mengatakan tak pulang ke kampungnya. tak juga ke Cibitung. Dila mengatakan akan memulai hidup baru di tempat baru. Bahkan Dila meminta pada Indra untuk segera menceraikannya dan jangan pernah mengharapkan Dila untuk kembali.
***
Di lain tempat tepatnya di salah satu gerbong kereta api Dila duduk sambil menatap ke luar jendela, semua tumbuhan den gedung itu terlihat berkejar-kejaran.
Hari ini Dila memulai hidupnya yang baru, bahkan dirinya meninggalkan semua yang diberikan Indra padanya, tak ada satupun barang pemberian Indra yang dibawa bersamanya, kecuali sebuah cincin kawin yang dipakaikan oleh Bu Fatma di jari tangannya, cukup itu kenangan yang ingin Dila bawa.
Uang cash yang dikumpulkan dari gaji bulanan, dan sisa uang saku El setiap hari ternyata mencapai 40 juta. Dila berniat mulai membuka usaha kecil- kecilan dari modal yang sedikit itu.
Mungkin keputusannya hari ini akan membuat semua orang kecewa, bukan hanya penghuni rumah Indra, tapi orang tuanya dan orang tua Indra juga pasti akan sangat kecewa.
Dila hanya menyimpan beberapa kontak dari anggota keluarga dan temannya di kampung. Dila akan menceritakan semua pada kedua orang tuanya, tapi tentu saja bukan sekarang, menunggu waktu yang tepat.
Jam 12 siang kereta api berhenti di stasiun Tugu, Yogyakarta. Dila terbangun karena salah satu petugas kereta api membangunkannya. Ternyata semalaman tidak tidur membuat dirinya merasa mengantuk dan tertidur begitu pulas di dalam kereta.
Dila keluar dari gerbong sambil membawa tas miliknya, dan menatap keramaian di stasiun tugu Yogyakarta.
" Welcome to the new life", ucap Dila dalam hatinya.
__ADS_1