
Esok hari usai pertemuan tak disengaja yang terjadi di kafe depan kantor Indra. Dila mendapatkan pesan singkat dari Kunto, ternyata Kunto tidak mau mengulur waktu untuk bertemu dengan Dila.
Kunto menanyakan kapan Dila punya waktu senggang, dan esok harinya mereka berdua bertemu, tepatnya saat Dila habis mengantar El ke sekolah.
~Di taman kota, jam 8~
Itu balasan yang dila tulis untuk untuk Kunto.
Tepat jam 8 Dila sampai di taman, Kunto sudah lebih dulu sampai di depan taman kota.
" Lama nunggunya Mas?". Dila masuk ke dalam taman dan Kunto mengikutinya, Dila sengaja duduk di kursi taman yang berada di tempat agak tersembunyi dibalik tanaman pagar dan pepohonan yang rindang.
" Aku juga baru sampai", jawab Kunto sambil mendudukkan dirinya di samping Dila.
Dila meletakkan dua botol air mineral di meja, Dila memang sengaja membawa minuman, siapa tahu nanti ada yang hatinya panas setelah sesi ngobrol.
Suasana taman sangat sepi, karena hari masih pagi, anak-anak kecil dan anak remaja yang biasa main ke taman itu tak terlihat, karena memang sedang jam masuk sekolah, Dila sengaja memilih tempat yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Bukan sengaja agar bisa berduaan saja dengan Kunto, Dila sengaja mencari tempat yang nyaman, lebih agar apa yang akan mereka berdua bicarakan jadi mudah di cerna karena apa yang akan Dila sampaikan pasti akan menguras emosi Kunto.
" Jadi kita mau mulai dari mana ngobrolnya?, sangat banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu Dil, kalau di ungkapkan mungkin akan ada lebih dari 100 pertanyaan".
Kunto masih menatap Dila dengan tatapan yang sama seperti dulu, terakhir mereka bertemu di depan minimarket.
Tatapan penuh cinta dan harapan, tatapan yang tidak bisa diwakili hanya dengan kalimat i love you dan semacamnya, karena saking dalamnya perasaan yang Kunto pendam pada Dila selama ini.
" Terserah Mas Kun mau tanya apa, maka akan berusaha aku jawab dengan jujur".
Kunto mengernyitkan keningnya, ucapan Dila barusan seolah-olah menandakan jika hanya dirinya yang ingin tahu apa saja yang terjadi pada Dila, sedangkan Dila tidak punya pertanyaan untu di ajukan pada Kunto.
" Kamu tidak ingin tahu tentang bagaimana kehidupanku selama ini Dil?". Kunto hendak meraih tangan Dila yang menyandar diatas meja, namun Dila dengan cepat menarik tangannya. Kunto merasa Dila seperti memjaga jarak dengannya, seperti sengaja memasang pagar pembatas diantara mereka berdua.
" Dil... aku kembali ke desa, bekerja dan kuliah disana agar aku menjadi orang yang sukses, agar aku bisa membuat kamu bangga menjadi istriku nantinya, bahkan apa kamu tahu Dil?, Sarah sudah bercerai dengan suaminya, beberapa bulan setelah Sarah melahirkan, dia memohon untuk kembali bisa bersamaku, dia mengatakan dirinya sudah salah menentukan pilihannya. Tapi aku tidak bisa, aku sudah berhasil melupakannya dan menguburnya dalam-dalam bersama dengan luka yang dia torehkan di hatiku".
" Semua karena kamu Dil, kamu yang sudah menguatkan aku".
Dila melihat Kunto begitu berapi-api saat menceritakan tentang mantan kekasih yang mengkhianatinya dulu.
__ADS_1
" Maafkan aku Mas, aku sama seperti Mba Sarah, aku bukan wanita yang baik buat kamu, kamu pasti akan sangat membenciku saat kamu tahu kebenaran jika aku sudah menikah dengan laki-laki lain".
Damn......
Kunto begitu kaget sekaligus kesal mendengar pengakuan Dila barusan.
" Kamu nggak lagi becanda kan Dil?, aku nggak suka lelucon seperti itu", Kunto masih belum percaya ucapan Dila.
Dila menunjukkan foto resepsi pernikahannya di kampung kemarin, foto di HP nya, saat dirinya berdua dengan Indra di pelaminan.
" Dia suamiku, Mas Indra namanya, mantan majikan ku dulu". Dila kembali mengambil ponselnya sesaat setelah Kunto menatap layar ponsel itu dengan penuh amarah.
" Mantan majikan kamu?".
" Mas Indra?, orang yang aku lihat di depan minimarket saat aku berpamitan sama kamu untuk kembali ke kampung dulu?"
" Jadi dia dulu berbohong saat mengatakan kamu kabur dari rumahnya?, apa agar aku tidak kembali mencari mu ke sana lagi?". Kini suara Kunto sedikit gemetar menahan emosi yang muncul dari dalam hatinya.
" Dia tidak berbohong Mas, aku memang pergi tanpa pamit dari rumahnya, beberapa bulan setelah pernikahan kami".
Kunto berusaha mengontrol emosi nya.
" Kenapa kamu menikah dengannya?, apa kamu mencintainya Dil?, apa dia lebih baik dariku?".
Dila mengangguk dan menggelengkan kepalanya hampir bersamaan. " Dia tidak lebih baik darimu Mas, karena awalnya aku takut kepadanya, selain karena usia kami berjarak cukup jauh, dia juga pendiam dan sikapnya dingin pada semua orang, tapi aku menyayangi putranya... El, anak asuhku membutuhkan sosok ibu untuk menjadi pengganti ibu kandungnya yang pergi. Dan aku terima permintaan anak itu, untuk menjadi Ibunya".
" Dulu setelah menikah..., makin hari sikap Mas Indra menjadi lebih hangat dan baik padaku, dia mengatakan bahwa dia mulai mencintai ku, dan lama kelamaan aku mulai merasakan hal yang sama, maafkan aku jika aku mengecewakan kamu". Dila menunduk tak berani menatap Kunto secara langsung.
" Mungkin benar pribahasa jawa yang mengatakan witing tresno jalaran soko kulino, sayangnya kenapa aku justru meninggalkan kamu dan kembali ke kampung halamanku waktu itu, selalu saja seperti itu, dulu dari kampung meninggalkan kekasih pergi ke perantauan berjuang untuknya, justru di kampung dia berkhianat dan hamil dengan laki-laki lain, lalu di perantauan bertemu sama kamu, dan aku pulang kampung halaman untuk memantaskan diri, kamu juga sama saja, menikah dengan laki-laki lain".
" Apa kamu juga sudah punya anak dari pernikahanmu dengan suamimu?", Kunto merasa dirinya begitu apes, dua kali mencintai wanita, namun ditinggal menikah terus, justru saat dirinya sedang berjuang. Miris...
" Baru ada El , aku sendiri belum punya anak yang keluar dari rahimku", jawab Dila singkat.
" Namun dulu aku sudah tidak suci lagi Mas, mungkinkah kamu akan menerima aku yang sudah tidak perawan karena Mas Indra", kalimat itu hanya diucapkan Dila dalam hatinya, Dila tidak mau ada seorangpun yang tahu tentang masa kelamnya dulu. Jangan sampai orang lain tahu bahwa dirinya pernah menjadi korban.
__ADS_1
" Jadi kesalahanmu tidak se fatal Sarah, tapi tetap saja kamu membuat aku sakit hati Dil, sekarang usaha keluargaku sudah lancar, aku sudah lulus sarjana pertanian, dan usiaku juga sudah cukup untuk menikah, kemarin saat bertemu dengan kamu, aku pikir Tuhan menjawab doaku dengan mempertemukan kita kembali. Namun ternyata dugaan ku meleset, Tuhan kembali membuat aku jatuh dan terpuruk".
" Kalau dulu kamu yang menjadi tempatku bersandar, sekarang harus pada siapa aku bersandar Dil?, aku sudah benar-benar mencintai kamu". Kunto menarik paksa tangan Dila dan menggenggamnya, namun Dila kembali menarik tangan nya.
Dirinya sudah menjadi istri Indra, tidak sepantasnya untuk bersentuhan dengan laki-laki lain, meski hanya berpegang tangan.
" Aku minta maaf Mas, aku istri orang, tidak sepantasnya kita berpegang tangan seperti tadi, dan satu hal lagi, aku harap masalah pribadi diantara kita berdua tidak berpengaruh dengan kerja sama kita sebagai partner bisnis".
Dila tahu mungkin kedepannya dia tidak lagi menemui Kunto untuk urusan di luar pekerjaan, karena menjaga kebaikan untuk semua.
" Aku pamit dulu kalau begitu Mas, aku hanya ingin menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan sejak lama, dan saat ini adalah kesempatan untukku mengakhiri ketidak pastian hubungan ini".
" Maaf tidak bisa lama-lama ngobrolnya, tidak baik kalau terlalu lama berdua di tempat seperti ini". Dila berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Kunto, tapi entah kebiasaan atau sudah menjadi kegemarannya Kunto mengejar Dila dan memeluk Dila secara paksa.
" Diamlah beberapa saat saja Dil, anggap ini pelukan perpisahan kita, aku tidak akan memaksamu lagi kedepannya, karena aku tahu kamu sudah menjadi istri orang, tapi biarkan kali ini aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya",
Dila masih saja memberontak, karena meski hanya sesaat, tetap saja pelukan itu adalah sebuah kesalahan. Dila tidak mau mengkhianati Indra suaminya.
" Mas lepas Mas, kamu tidak boleh seperti ini, aku bukan Dila yang dulu, aku sudah bersuami!", Dila tetap meronta, namun Kunto semakin erat memeluknya, hingga tarikan kuat dan bogem mentah mendarat di wajah Kunto.
Dila sangat kaget melihat Indra ada disana, "Sejak kapan Mas Indra ada disini?". Dila begitu takut melihat kemarahan Indra yang menghajar Kunto dengan membabi buta, begitu juga dengan Kunto yang sejak tadi sudah sangat emosi dan sakit hati atas pengakuan Dila.
Adegan saling memukul, menendang, dan menghajar pun tidak ter-elakan, disana hanya ada Dila yang tidak berani melerai kedua laki-laki yang sama-sama sedang dalam keadaan marah dan emosi.
Dila berlari ke luar taman, berharap ada petugas jaga atau petugas kebersihan taman yang bisa membantu melerai Indra dan Kunto.
" Pak, tolong di dalam ada yang lagi berkelahi, tolong bantu di pisahkan Pak!", suara Dila bercampur isak tangis ketakutan karena melihat Indra dan Kunto yang sudah terluka di beberapa bagian tubuhnya, bahkan darah mengalir di wajah mereka.
" Dimana mba?".
Dila langsung menunjuk ke arah taman.
Tukang sapu taman pun memanggil beberapa teman sesama petugas kebersihan untuk masuk dan melerai keduanya.
Perkelahian berhasil di lerai oleh beberapa petugas kebersihan taman. Indra dan Kunto awalnya hendak di bawa ke kantor polisi karena berkelahi di tempat umum, tapi Dila memohon agar urusan ini diselesaikan secara kekeluargaan.
__ADS_1
" Terimakasih Pak atas bantuannya, kami akan menyelesaikan masalah ini sendiri, tanpa ke kantor polisi". Dila sudah gemetar ketakutan jika masalah itu sampai menjadi besar, Indra bukan warga biasa, akan jadi berita hangat jika berita dirinya berkelahi di Taman di bawa ke kantor polisi, dan diketahui publik.