Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 48


__ADS_3

Perjalanan pulang agak lama karena jalanan macet dan Indra harus menyetir dengan pelan.


Dila pun mulai mengajak Indra ngobrol, karena Indra terlihat mengantuk saat menyetir.


" Bagaimana kalau kita mampir di masjid yang terlewati Mas, waktu sholat maghrib itu cuma sebentar, takutnya nggak keburu saat sampai di rumah sudah adzan Isa".


Indra langsung menatap Dila dengan senyum mengembang, " jadi datang bulan kamu sudah selesai?, cepet juga cuma 4 hari".


" Baiklah, kita mampir di masjid depan sana, apa kamu bawa mukena juga?", tanya Indra.


Dila menggeleng, " kalau di masjid pasti biasanya ada banyak mukena yang disediakan untuk jama'ah yang mampir saat perjalanan jauh seperti kita".


Indra mengangguk paham, dan membelokkan setir mobilnya ke pelataran masjid. Indra dan Dila turun dari mobil, meninggalkan El yang masih tidur dengan sangat pulas di dalam mobil.


Baru selesai sholat maghrib, ternyata sudah ada yang datang untuk melakukan adzan Isa, jadi Indra dan Dila langsung ikut berjamaah sholat Isa di masjid itu.


Indra dan Dila segera keluar saat imam mengucap salam. Karena mereka sudah meninggalkan El cukup lama di mobil, takut El terbangun dan menangis mencari mereka. Namun ternyata saat sampai di mobil, El masih tidur dengan nyenyaknya, pasti El kecapekan karena bermain seharian di pantai, membuat tidurnya sangat nyenyak.


" Sekarang kita langsung pulang saja, El sepertinya akan tidur sampai pagi, padahal tadi belum makan malam, tapi El sudah menghabiskan 3 contong es krim, mungkin kandungan gulanya cukup mengenyangkan sampai pagi", ujar Dila.


Indra pun melajukan mobilnya dan akhirnya mereka sampai di rumah. Ternyata bi Ana, bi Darsih, dan mang Santo sedang menunggu mereka di teras rumah sambil mengobrol santai.


" Wah akhirnya sampai rumah juga den El, kami khawatir terjadi apa-apa, wong berangkat pagi, bisa pulang sampai malam".


Indra mengeluarkan tas besar dari bagasi dan menyerahkan pada mang Santo untuk dibawa masuk kedalam, sedangkan dirinya mengambil El, dan menggendongnya menuju kamar.


" Dil, liburan kemana saja sampe seharian?", tanya bi Ana yang selalu kepo.


" Main di pantai seharian bi, lihat nih sampai gosong begini kulitnya, sejak siang, El diajak pulang nggak mau, akhirnya sampai malem begini, lihat tuh El kecapekan dan tidur pules banget saking capeknya".


" Aku ke kamar dulu ya bi, mau ikut istirahat juga, capek banget", ujar Dila.


" Memang nggak mau makan malam dulu Dil?", tanya bi Darsih.


" Enggak bi, masih kenyang", jawab Dila sambil berlalu menuju kamar El.


Indra sudah merebahkan El di ranjang, namun masih berdiri di samping ranjang menatap wajah putranya dengan seksama.


Dila pun hendak ikut merebahkan diri di samping El, namun Indra melarangnya.


" Tidur di kamar kita saja, El sudah tidur ini, nggak bakalan nyariin kamu", ujar Indra.


Dila yang sudah lelah dan mengantuk tak berusaha mendebat, Dila langsung berjalan menuju kamar Indra dan merebahkan diri di ranjang king size itu, dan memejamkan matanya.


Indra mengikutinya masuk kamar, menutup pintu dan menguncinya. Indra berganti pakaian santai dan merebahkan diri di samping Dila yang sudah memejamkan matanya. Tangan jahil Indra mengusap bibir Dila yang terlihat sangat seksi. Sejak melihat Dila makan es krim tadi, bibir Dila terus menjadi pusat perhatian Indra. Hanya saja Indra bisa menahan diri, dan tidak melahapnya sejak tadi.


Saat ini suasana begitu mendukung, hanya ada mereka berdua dikamar dan Dila bahkan sudah tidur dengan nyenyak.


" Bukan masalah kan jika aku mencium istriku sendiri, toh dia lagi tidur, mana mungkin dia keberatan", pikir Indra.


Indra pun mendekatkan wajahnya ke wajah Dila, hingga deru nafas Dila yang sudah teratur itu menerpa wajahnya. Indra menempelkan bibirnya di bibir Dila, Dila masih saja tidur, hingga Indra tak bisa menahan lagi ingin melakukan hal yang lebih. Indra pun melakukan ciuman yang lebih lama dan lebih dalam. Tangannya reflek memeluk tubuh Dila, hingga badan mereka kini sudah menempel begitu dekat.


Dila membuka mata saat merasa ada yang menggigit bibirnya. Namun Indra yang sedang memejamkan mata menikmati setiap ciumannya tak menyadari hal itu.

__ADS_1


Dila yang sudah mulai membuka hati untuk Indra pun membalas ciuman Indra. Membuat Indra kaget dan membuka mata saat bibir Dila ikut bergerak mengimbangi ciumannya.


" Kamu bangun", Indra melepas ciumannya untuk mengambil nafas. Senyuman merekah di bibirnya saat tahu Dila tidak menolak dicium olehnya, bahkan Dila mencoba membalasnya, meski terasa masih sangat kaku.


Dila mengangguk, " kau mengigit bibir ku mas, bagaimana aku tidak terbangun".


Ucapan Dila membuat Indra terkekeh. Namun seketika mata mereka kembali saling bertemu, tatapan penuh damba dari mata Indra, bagaimana tidak, gadis secantik Dila dan masih sangat fresh, membuat jiwa kelelakiannya meronta-ronta. Indra tak ingin menyia-nyiakan kesempatan nya kali ini, Dila terlihat begitu cantik dan mempesona. Indra kembali melanjutkan ciumannya. Bahkan kini tangannya mulai menelusup ke dalam baju Dila dan menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh Dila.


" Emphh......." .


Dila menggeliat kegelian karena Indra memilin ujung putingnya. Dan entah sejak kapan, posisi Indra sudah berada diatas Dila.


" Bolehkah aku melanjutkannya?", Indra meminta persetujuan Dila terlebih dahulu, nafas mereka saat ini sudah tak beraturan.


Dila hanya mengangguk, karena sentuhan lembut yang Indra lakukan di bagian sensitif tubuhnya membuat Dila merasakan glenyeran aneh di sekujur tubuhnya, ada rasa geli namun nikmat, itu tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


Indra terus melakukan sentuhan demi sentuhan hingga Dila merasa ada sesuatu yang basah dibawah sana.


Mereka berdua terus bergumul di atas ranjang besar itu, namun saat Indra ingin melakukan penyatuan, Dila melihat junior Indra dan bergidik ngeri, dia takut merasakan sakit yang sama dengan malam itu.


" Tenang sayang.... aku akan pelan-pelan, kamu pasti akan menyukainya" rayu Indra.


Namun baru saja bagian sensitif mereka saling menyentuh, Dila seperti orang yang trauma dan mendorong Indra kesamping.


Indra yang keinginannya sudah sampai di ujung tanduk, tapi Dila mendorongnya merasa malam ini tidak akan berhasil.


Terpaksa Indra lari ke kamar mandi dan menuntaskannya di sana. Dila tahu Indra sangat kecewa padanya, tapi mau bagaimana..., Dila masih saja takut untuk melakukannya lagi.


" Maafkan aku Mas", ucap Dila dengan ekspresi penuh penyesalan.


Indra menghembuskan nafas panjang, " sudahlah, kamu sudah berusaha, kita berdua sama-sama berusaha, tapi mau bagaimana lagi, kalau memang belum bisa menyelesaikan sampai akhir".


Sepertinya Indra tak begitu marah dan kecewa pada Dila, karena Dila sudah mau membuka hatinya dan mencoba menerima dan melayani Indra, meski tidak sampai tahap akhir.


" Sekarang tidur saja lagi, kamu pasti sangat lelah, maaf ya mengganggu tidur nyenyakmu", Indra memiringkan badannya menghadap ke Dila, meletakkan kepala Dila di lengan tangannya.


Hingga pagi pun tiba, seperti biasa Dila menyuapi El terlebih dahulu sebelum dia sendiri sarapan pagi.


" El sayang, nanti ayah dan ibu pergi keliling komplek perumahan ya, ayah mau ajari ibu nyetir mobil, biar ibu bisa anter El ke Bimba nya naik mobil biar nggak kepanasan, El dirumah nanti main sama bi Ana dan bi Darsih dulu, nanti kalau Bu Dila sudah mahir menyetirnya, El bisa ikut naik sama kami".


El mengerti dan paham apa yang dikatakan oleh ayahnya.


" Tapi El mau lihat Bu Dila latihan nyetil mobil, apa boleh El tunggunya di depan lumah?".


Dila dan Indra saling bertatapan menimbang-nimbang. Lalu Indra mengangguk.


" Iya, boleh, tapi di jagain sama bi Ana dan nggak boleh lari ketengah jalan, El harus duduk anteng di pinggir jalan dan nggak boleh ngejar kendaraan yang melintas, paham?".


El mengangguk setuju. Dan Indra mengeluarkan mobil merah yang ukurannya tidak terlalu besar seperti dua mobil lain miliknya. Mobil merah yang pernah Ari ceritakan pada Dila, mobil hadiah ulang tahun Kayla di ulang tahun pertama setelah pernikahan. Dila ingat betul dengan cerita itu.


Setelah mobil berhenti di depan rumah, Indra menjelaskan semua kegunaan dari tiap bagian dan tombol di dashboard mobil. Dila memperhatikan dengan seksama.


Awalnya Dila ragu waktu Indra memintanya duduk di bangku kemudi.

__ADS_1


" Ayo, pasti kamu bisa Dil, semangat berlatih, kalau sudah nyoba pasti bisa, ini kan mobil matic, jadi pengaturannya gampang, nggak ribet banget".


Dila mencoba dari menyalakan mobil, kemudian mulai menginjak gas, hingga mobil melaju pelan.


Indra terus memberi arahan pada Dila apa yang harus dilakukan saat hendak belok kanan, belok kiri, dan lainnya.


Memang ternyata tidak terlalu sulit, mungkin bagi Dila masih lebih sulit saat belajar naik sepeda saat Dila masih kecil.


Siang harinya Dila sudah berani mengajak El ikut naik ke dalam mobil, hanya saja El dipangku ayahnya agar tidak mengganggu saat Dila mengemudi.


Belajar mobil sehari, Dila sudah bisa menyetir dengan lancar. Hanya saja saat Indra mengajaknya ke jalan raya yang ramai, Dila masih belum berani.


" Besok lagi saja Mas, sekarang sudah sore, sebaiknya belajar nyetirnya kita sudahi".


Dila akhirnya mengajak Indra dan El pulang ke rumah. Seharian berada diatas mobil belajar menyetir, hanya sebentar istirahat saat makan siang dan sholat Dzuhur membuat Dila merasa lelah.


Hari berlalu dengan cepat, siang hari Dila masih rajin belajar menyetir keliling komplek ditemani El, hingga satu bulan kemudian, tepatnya jum'at sore Dila mencoba keluar dari komplek perumahan, melatih keberanian menyetir di jalan raya yang ramai.


" El jangan berisik ya, kita akan coba menyetir sampai di kantor ayah, apa El setuju?, kita buat kejutan untuk ayah", ujar Dila yang sengaja membawa mobil ke kantor Indra.


Kali ini kedatangan Dila dan El disambut dengan hangat dan senyuman manis dari satpam jaga." Selamat datang Nyonya, selamat datang tuan muda".


Dila hanya mengangguk dan mengajak El masuk. Langsung naik lift menuju lantai 20 dimana ruang Indra berada. Dila tersenyum sumringah ketika melihat sekertaris Indra seorang pemuda yang sopan dan rapi.


" Apa Mas Indra di dalam?", tanya Dila.


Sekertaris itu langsung mengenali Dila dan El, karena foto mereka dipajang dengan ukuran besar di ruang kerja Indra.


" Maaf Tuan Indra sedang meeting di luar Nyonya, dan ruangannya kosong".


Dila mengangguk mengerti, " apa masih lama pulangnya?".


" Sekitar satu jam lagi".


Dila akhirnya pamit keluar dulu, " sebaiknya kita pulang saja El, ayah masih lama pulangnya", ajak Dila.


Dan setelah Dila dan El di rumah, sampai jam 10 malam Indra belum pulang juga. El baru saja mau tidur karena sejak tadi menunggu ayahnya pulang, tapi tak kunjung pulang, Dila jadi khawatir, karena Indra tak mengabari apa-apa padanya, biasanya kalau telat pulang Indra akan mengabari Dila, tapi hari ini berbeda. Bahkan saat Dila menghubungi nomer Indra, nyambung, tapi tidak diangkat.


Dila lupa tidak meminta nomor telepon sekertaris barunya Indra. Hingga sebuah video singkat dikirimkan oleh nomor baru pada Dila. Di video itu menampakkan Indra merangkul seorang perempuan seksi yang tak lain adalah Tania. Mereka masuk ke kamar hotel sambil berpelukan sepanjang jalan. Dan video berakhir saat Indra dan Tania masuk ke kamar hotel dan menutup pintunya.


Entah apa yang Dila rasakan sekarang, marah, kesal, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Mungkin Dila cemburu, karena Indra adalah suaminya, tapi Dila tidak begitu saja percaya dengan video amatir yang dikirimkan padanya.


" Aku harus mencari Indra, tapi di hotel mana dia berada, hotel di Jakarta begitu banyak", Dila teringat pada Ari dan minta Ari datang kerumah.


Dila menunjukkan video singkat yang dikirim ke ponselnya. " Apa kamu tahu ini hotel mana?, dari lorongnya atau seragam cleaning servis, mungkin kamu pernah mengantar Indra ke hotel ini".


Ari berusaha mengingat, " sepertinya aku tahu, apa sekarang kita akan ke sana dan memergoki suamimu bersama perempuan lain?, itu beresiko untukku kalau aku ikut campur rumah tangga kalian, bisa-bisa aku dipecat Dil".


" Kamu juga sih, sudah jadi istrinya tapi nggak pernah mau kasih servis ke suami, wajar saja suami kamu minta diservis sama perempuan lain".


Dila melotot ke Ari, bagaimana Ari bisa tahu masalah rumah tangganya sampai ke urusan ranjang, apa mungkin Indra suka curhat?.


" Kamu antar saja aku ke sana, pakai mobil yang merah, setelah itu kamu pulang cari ojek online, aku bisa cari Mas Indra sendiri, dan bisa pulang bawa mobil sendiri !", ujar Dila begitu kesal.

__ADS_1


__ADS_2