Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 93


__ADS_3

Indra menemui dokter yang sudah memeriksa Dila, kata sang dokter Dila mengalami kecapekan dan juga stress berat, sehingga asam lambungnya naik, keadaan itu memicu Dila merasa pusing dan lemas. Posisi Dila yang saat itu sedang berdiri membuatnya limbung dan roboh.


" Untung saja ada Pak Bram di dekatnya, seandainya Dila berjalan sendirian mungkin dia akan jatuh ke lantai dan meninggalkan luka di salah satu bagian tubuhnya", ujar sang dokter.


Indra mengangguk mengerti, memang benar semuanya hanya kebetulan, karena Indra mengkonfirmasi bagian IGD 10 hari yang lalu Bram masuk IGD karena mengalami kecelakaan mobil, dan baru diperbolehkan pulang ke rumah hari ini.


Itu berarti apa yang dikatakan Bram semuanya benar, dan entah Dila datang ke rumah sakit minggu lalu untuk menjenguk teman yang mana karena Dila sekarang punya banyak teman sejak kuliah di kampus merah putih, dan juga menjadi wali murid untuk El.


Indra kini berusaha percaya dengan apa yang dikatakan Dila dan Bram.


Saat Indra kembali ke bilik Dila, Dila baru saja menyimpan ponselnya, entah apa yang habis Dila lakukan.


" Eh, Mas.... aku baru saja meminta tolong ibu untuk menjemput El di sekolah, dan menjaganya, sebentar lagi sudah waktunya El untuk pulang. Pasti tadi El mencari-cariku, aku juga sudah mengabari di grup ibu-ibu wali murid kalau aku dirawat dan menitipkan El pada mereka".


Dila mencoba menjelaskan sebelum Indra bertanya, meski Dila menjelaskan seperlunya saja, karena chat paling banyak sudah dihapusnya, chat nya pada Bram meminta agar Bram menyimpan kertas hasil tes DNA milik Indra dan El tadi, dan bahkan Dila meminta Bram untuk membakar kertas itu demi keamanan dan kerahasiaan hasil tes tersebut.


Setelah dipikirkan matang-matang, memang sebaiknya tidak ada yang tahu dengan kebenaran jika El bukan putra Indra, karena hanya kesedihan dan kesedihan saja yang akan datang.


Tidak akan ada yang tahu tentang rahasia ini, karena jika pun El besar di tidak perlu Indra sebagai wali nikahnya, karena El laki-laki, berbeda ceritanya jika El adalah perempuan, semua kebenaran ini harus diberitahukan kepada semua.


Biarlah tetap menjadi rahasia, karena bagaimanapun Dila dan keluarga Indra sudah benar-benar menyayangi El dan menganggap El bagian dari mereka. Berbanding terbalik dengan ibu dan ayah kandung El yang justru tidak mempunyai rasa kasih sayang dan perhatian yang sangat dibutuhkan oleh El selama ini.


" Iya sayang, kamu memang selalu saja menjadikan El prioritas kamu, padahal kamu sendiri sedang sakit dan butuh di rawat, tapi kamu malah kepikiran hal lain. Kata dokter kamu kecapekan dan stres berat, memangnya apa yang sedang kamu pikirkan sampai kamu stress?". Indra mengusap rambut Dila dengan penuh perasaan.


" Bukankah skripsi sudah selesai, tinggal nunggu wisuda, apa gara-gara kita belum bisa punya anak sehingga kami terus kepikiran?, mas nggak pernah mempermasalahkan hal itu kok sayang... toh sudah ada El bersama kita, jadi jangan terlalu dipikirkan. Jika sudah tiba waktunya di kasih momongan pasti Allah akan kasih". Indra mengecup kening Dila dan duduk di kursi yang tadi di tempati Bram sebelumnya.


" Kata dokter setelah infusan kamu habis, kita bisa pulang ke rumah, nggak perlu opname, karena kamu cuma butuh istirahat cukup dan makan yang banyak dan bergizi. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, bagiku kesehatan kamu itu yang paling penting".

__ADS_1


Dila mengangguk mengerti.


" Seandainya saja aku tidak ke kampus dan mendengar percakapan Kayla dan Pak Faris saat di kampus waktu itu, pasti aku tidak akan penasaran dan terus kepikiran, sampai melakukan pengecekan DNA antara kamu dan El . Kenapa aku harus dengar percakapan mereka, apa maksud dan tujuan Mu membuatku mendengar percakapan mereka ya Allah?", batin Dila masih terus bergejolak.


Setelah mendapat makan siang dan juga infus yang diberikan pada Dila sudah habis, Dila diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Indra pun menggandeng Dila menuju tempat parkir mobil, awalnya Indra mengambilkan kursi roda untuk membawa Dila ke parkiran, siapa tahu Dila masih sangat lemah, namun Dila menolak, dan meminta bergandengan tangan saja sampai parkiran.


Sampai di mobil Indra memposisikan kursi jok mobil agar Dila merasa nyaman selama perjalanan. " Pokoknya sampai rumah nanti kamu harus santai, nggak boleh mikirin apa-apa, baik pekerjaan ataupun El, kamu harus istirahat total di kamar, boleh keluar sih tapi untuk menghirup udara segar, El sudah semakin besar, dia bisa melakukan semuanya sendiri, jadi kamu harus fokus pada kesehatan kamu sayang", Indra begitu rewel dan banyak bicara, dia memang sangat menghawatirkan kesehatan Dila.


Dila mengangguk mengerti.


Saat sampai di rumah semua penghuni rumah langsung diberi tahu Indra tentang apa yang terjadi, tidak ada satu orang pun yang boleh membuat Dila kecapekan, termasuk El, dan El sementara akan dibantu oleh Bi Darsih dan bi Ana jika mengalami kesulitan.


Semua bisa mengerti kekhawatiran Indra, karena baru pernah seumur-umur Dila sampai pingsan seperti itu, semua mengira Dila sudah sangat kecapekan dan butuh istirahat total.


Selama seminggu kedepan Fatma yang akan mengantarkan El ke sekolah, dan Bu Fatma langsung setuju. Indra juga meminta bi Darsih untuk memasak makanan sehat dan bergizi agar Dila cepat pulih. Selama seminggu itu juga Indra selalu menyempatkan pulang ke rumah saat istirahat jam 12 siang, kembali ke kantor dan pulang lebih awal setiap hari sampai di rumah jam 4 sore.


Karena Dila sibuk mengikuti gladi resik di kampus, maka El dan Bu Fatma yang mengajak Dita dan kedua orang tua Dila berkeliling Jakarta saat akhir pekan, agar tida merasa bosan di rumah. Mereka mengunjungi Monas, Dufan, dan juga ragunan, selama dua hari berturut-turut. El seolah menjadi pemandu wisata bagi keluarga Dila.


Untung saat ini Dila sudah sehat dan baik-baik saja, karena sebelum mengikuti upacara wisuda, Dila juga harus sering datang ke kampus mengikuti latihan dan gladi resik untuk hari H wisuda esok.


Entah mengapa Dila jadi hilang respect pada pak Faris yang sangat digadang-gadang menjadi dosen favorit mahasiswa tahun ini. Awalnya Dila juga setuju dengan teman-teman seangkatannya jika Pak Faris adalah dosen terbaik, apa lagi dia adalah teman Indra. Namun setelah mendengar percakapan Faris dan Kayla, rasa kagum dan respect Dila menghilang, bahkan bagi Dila, julukan dosen favorit untuk Pak Faris seketika sangat tidak pantas di sandang Pak Faris.


Mana ada dosen favorit yang mempunyai tabiat buruk di belakang, bahkan bermain gila dengan istri orang lain sampai mempunyai anak. Dan yang lebih menjengkelkan tidak adanya inisiatif untuk mengetahui El adalah putranya atau bukan, bahkan dia bersembunyi dibalik topeng kebaikannya. Menutupi kejahatannya yang sudah sangat parah.


Jika memang itu semua hanya kesalahan di masa muda mereka, bukankah sekarang mereka semua sudah tidak muda lagi?, sudah sepantasnya mereka mengetahui kebenaran dan memperbaiki kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Tapi apa yang mereka lakukan?, tidak ada inisiatif untuk berusaha jujur dan mengatakan perselingkuhan mereka di masa lalu. Bahkan perselingkuhan gila yang berlanjut pada kebohongan besar.


" Kamu kenapa sih Dil?, sejak tadi aku perhatikan kamu kayak orang lagi bad mood banget, lagi datang bulan apa?", tanya Ninda yang kini duduk disampingnya sambil menyodorkan air mineral pada Dila. " Ternyata melelahkan juga mengikuti acara gladi resik untuk wisuda", keluh Dila.

__ADS_1


Dila menggeleng, " Nggak kok, bahkan aku sudah lama nggak datang bulan, hampir 4 bulan ini sejak bulan puasa kemarin. Kata dokter hormon tubuhku yang sedang penyesuaian", ujar Dila menjelaskan.


" Nggak lagi hamil kan?, atau jangan-jangan kamu hamil Dil, wah seneng banget kalau udah wisuda tahu-tahu hamil, dapat rejeki nomplok itu namanya", ucap Ninda antusias.


Dila membungkam mulut Ninda, " kalau ngomong begitu jangan terlalu keras, baru perkiraan nanti malah jadi bahan gosip kalau ada orang lain yang dengar gimana?", ujar Dila protes.


Ninda melepas tangan Dila yang membungkam mulutnya, " iya sori... sori... Dil, tadi cuma keceplosan saja, seharusnya kamu nggak usah protes begitu, tinggal di aminin saja, siapa tahu jadi doa baik".


" Iya... aamiin, semoga dikabulkan sama Allah, semoga ada malaikat yang lagi lewat dan ikut meng-aamiini doa kamu". ujar Dila.


Ninda hanya cengengesan sambil mengelap keringat yang mengucur di keningnya.


" Nih tisu buat ngelapin keringet kamu Nin", ucap Bima sambil menyerahkan tisu kepada Ninda.


" Tumben baik banget.... lagi ada angin apa nih tiba-tiba perhatian sama kita?", ujar Ninda sambil menerima tisu dari tangan Bima.


" Angin topan dan angin ribut !, aku emang dasarnya tiap hari baik kan?, iya kan Dil?", Bima meminta dukungan Dila.


" Iya...iya.... kamu tiap hari baik banget, dia kan sudah jadi pak guru di SD tempat El sekolah Nin", ucap Dila memberi tahu.


" Oh ya?, wah keren keren keren, aku kasih dua jempol deh buat Pak guru Bima, belum wisuda sudah dapat pekerjaan, nggak kaya aku yang masih bingung mau nyari kerja dimana", gumam Ninda.


" Nih, daftar di perusahaan milik suaminya Dila saja, kan cocok tuh sama jurusan kamu, bisnis manajemen. Punya kenalan orang dalam juga, pasti bakalan diterima", ujar Bima.


" Ish.... apa apaan sih kamu Bim, jangan memanfaatkan pertemanan menjadi ladang untuk mencari pekerjaan, nanti bisa jadi merusak hubungan baik tahu", justru Ninda jadi merasa tidak enak pada Dila.


" Nggak papa lagi Nin, coba saja daftar, siapa tahu rejeki kamu disana", ucap Dila.

__ADS_1


" Nanti aku jadi anak buah suami temen aku dong kalau di terima, rasanya kok malah aneh gitu ya", ujar Ninda sambil membayangkan.


__ADS_2