Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 122


__ADS_3

Esok harinya saat Dila berangkat ke sekolah, Bima langsung menghampiri nya dan menanyakan perihal ijin dari Indra.


" Gimana?, dapat lampu hijau, atau merah dari suami?", tanya Bima sambil duduk di kursi depan meja Dila.


" Ck.... kamu itu pagi-pagi sudah langsung jadi wartawan dadakan. Tentu saja dapat lampu hijau, kan Mas Indra itu suami yang baik hati. Meski ada syaratnya, soalnya aku nggak boleh kecapekan", ujar Dila.


Bima nampak tersenyum lebar, " Bagus lah kalau kamu dapat ijin dari suami kamu, kita bisa langsung buat akun, dan daftar hari ini juga. Untuk persyaratan dan mekanisme pelaksanan nanti kita pelajari bersama. Aku mau masuk ke kelas dulu Dil, biar nanti sebelum istirahat bisa kembali ke sini dan mempelajari alur pendaftaran CPNS", ujar Bima.


" Jadi Dila dibolehin sama suaminya?, kita maju bareng ya... aku juga mau nyoba adu nasib", ujar Evan yang baru saja datang.


" Kita lanjut nanti Van, sekarang aku mau ke kelas dulu, istirahat kita kumpul di sini". Bima pergi dan keluar dari kantor guru.


" Semangat banget Bima, apa kamu nggak masalah lagi besar begitu perutnya Dil?", Evan menduduki kursi yang tadi di duduki Bima.


" Nggak papa, aku masih bisa kalau cuma ikut tes dan ujian semacam itu. Lumayan kan kalau bisa lolos, kedepannya kita bisa dapat lebih banyak jaminan. Hanya saja mungkin kita akan di tempatkan di sekolah yang berbeda", ujar Dila.


" Apa temen kamu yang waktu itu ikut jenguk aku ke rumah sakit juga ikut seleksi?", tanya Dila, yang tiba-tiba teringat teman wanita Evan . " Siapa namanya, aku lupa", ujar Dila.


" Namanya Mesi, aku nggak tahu dia daftar apa nggak, belum ketemu dan sudah lama nggak ketemu dan nggak ngobrol juga. Kami benar-benar cuma berteman Dil. Justru aku rencananya mau ikut daftar CPNS tapi yang penempatan nya di kampung kelahiran ku Dil. Bukan yang di Jakarta. Aku rindu orang tuaku, aku ingin kembali hidup di desa yang dekat dengan orang tua. Rasanya menjadi anak rantau sudah hampir 10 tahun membuatku merindukan kampung halaman".


Ucapan Evan tadi di ruang guru membuat Dila terus kepikiran. Benar sekali, tempat yang paling nyaman adalah di kampung halaman yang dekat dengan orang tua. Akan lebih mudah menjenguk orang tua jika bisa tinggal dekat dengan mereka. Saat ini Dila sudah tidak pernah berpikir jika dirinya bisa kembali tinggal di tanah kelahirannya di desa.


Pernikahan nya dengan Indra, membuatnya tidak berani menginginkan untuk kembali tinggal di kampung. Status Dila yang dulunya gadis perantau, kini sudah berubah menjadi warga Jakarta, sejak resepsi pernikahannya tahun lalu di kampung. Indra yang pergi sendiri ke kantor kelurahan dan mengurus semua persyaratan untuk Dila pindah. Tidak ada lagi Dila gadis perantau. Yang ada kini adalah, Dila istri pengusaha muda sukses dari Jakarta. Rasanya tidak mungkin kembali hidup di kampung.


Semua bayangan masa kecil Dila tiba-tiba terlintas, dimana Dila kecil dulu sering mandi bersama-sama dengan teman-temannya di sungai, berpetualangan di sawah sekedar mencari kacang tanah, buah timun atau apapun sisa hasil panen petani yang tertinggal. Dan akan memakan bersama-sama dengan teman-temannya di gubug atau pinggiran sawah.


Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan yang hanya akan menjadi cerita di masa depan. Karena entah anak-anak Dila akan merasakan petualangan semacam itu atau tidak, karena hidup di Jakarta berbeda, anak-anak kecil di kota besar jalan-jalannya di taman atau di mall, mandinya di kolam renang dan itu sangat berbeda jauh dengan kehidupan masa kecil Dila yang sangat berkesan.

__ADS_1


" Bu guru, kami sudah selesai mengerjakan 10 soal yang Bu guru berikan", seru salah seorang murid Dila, membuat Dila tersadar dari lamunannya.


Dila mengangguk dan berdiri. " Baiklah, sekarang coba kita koreksi jawaban kalian, geser buku ke samping kanan 5 hitungan. Kita koreksi jawaban teman-teman kalian. Sintia, Haikal, Okti, maju kedepan dan kerjakan nomor 1, 2, dan 3 di papan tulis, nanti kita koreksi bersama-sama ya...".


Pelajaran matematika memang paling tak disukai sebagian besar anak-anak kecil, namun dengan metode belajar yang Dila terapkan, anak-anak didik Dila mulai menyukai pelajaran matematika, Dila yang cara penyampaian nya mudah dimengerti, membuat mereka yang membenci matematika kini mulai menyukai pelajaran itu.


Waktu pun cepat berlalu, bel istirahat berbunyi, dan Dila kembali ke ruang guru untuk istirahat selama 15 menit. Bima dan Evan langsung berkumpul di meja Dila. Masing-masing membawa laptopnya sendiri.


" Aku sudah mempelajari alur pendaftaran CPNS, sekarang kita siapkan persyaratan nya saja dulu. Berkas-berkas kita ada di ruang kepala sekolah, kita bisa meminjamkannya untuk persyaratan pendaftaran, setelah selesai bisa kita kembalikan", ujar Bima.


Dila dan Evan hanya mengangguk, dan mengikuti Bima yang memang masih saudara dengan kepala sekolah. Memudahkan mereka mendapat ijin.


Hanya menunggu beberapa menit Bima sudah keluar dari ruang kepala sekolah dengan beberapa berkas di tangannya. Berkas miliknya dan milik Dila serta Evan.


Setelah memfoto, mengcopy dan mengirim berkas persyaratan pendaftaran mereka bertiga tersenyum bersamaan.


" Tinggal kita tunggu, lolos seleksi administrasi atau tidak, semoga kita semua bisa lolos dan lanjut proses selanjutnya", ujar Bima.


Untung di sekolahan ada alat fotocopy dan lain-lain, sehingga pengumpulan berkas persyaratan bisa di lakukan dengan cepat, hanya dalam waktu 15 menit saat istirahat jam pertama.


Bel masuk kembali berbunyi. Mereka bertiga bubar, dan masuk ke kelas masing-masing. Bima yang bertugas mengembalikan berkas ke kantor kepala sekolah.


Sejak hari itu hingga tanggal diumumkannya seleksi administrasi CPNS, Dila, Bima dan Evan jadi sering ngobrol bertiga saat istirahat.


Ternyata mereka bertiga berhasil lolos seleksi tahap pertama, tentu saja Dila merasa sangat senang. Apalagi Dila sengaja belum memberi tahu orang tuanya, Dila memang ingin mengabari orang tuanya jika Dila sudah benar-benar lolos hingga seleksi tahap akhir.


Perut Dila sudah semakin dekat dengan tanggal perkiraan melahirkan. Sebulan lagi hingga hari perkiraan lahiran.

__ADS_1


Dila harus mengikuti seleksi tahap ke dua, seleksi kompetensi dasar di salah satu kampus negeri di Jakarta, tentu saja bersama dengan Evan dan Bima.


Untung hasilnya keluar tidak selama tahap pertama. Dila dan kedua temannya kembali lolos seleksi.


Tinggal tahap terakhir yaitu seleksi kompetensi bidang. Dila sudah memasuki bulan melahirkan, tinggal menunggu siang atau malam saja untuk merasakan kontraksi rahim. Dila masih sempat mengikuti seleksi tahap akhir bersama Bima dan Evan.


Dan saat Dila keluar dari ruang seleksi. Mungkin karena lelah dan capek seharian pergi ke beberapa tempat sekaligus, Dila merasa perutnya seperti kram.


" Ar, kita mampir rumah sakit terlebih dahulu ya, aku khawatir bayiku kenapa-kenapa, nggak papa kan Van, Bim ?", tanya Dila sambil menengok ke belakang, dimana Evan dan Bima duduk di sana.


Dila nampak pucat dan keringat dingin keluar dari keningnya. Saat itu Bima dan Evan bersama dengan Dila di mobilnya, ada Ari juga yang mengemudikan mobil. Saat tiba-tiba Dila merasa perutnya sangat sakit dan air ketubah mengalir dari jalan lahir.


" Apa kamu mau melahirkan Dil?" Ari langsung panik karena rembesan air ketuban yang membasahi jok mobil yang diduduki Dila.


" Sepertinya iya, padahal hari perkiraan lahiran nya masih 4 hari lagi. Mungkin bayinya sudah pingin keluar", ujar Dila dengan meringis kesakitan.


" Buruan bawa mobilnya ke rumah sakit. Jangan lupa kabari Mas Indra Mas Ari", ujar Evan yang khawatir melihat Dila yang sudah semakin pucat.


Ari menyerahkan ponselnya pada Evan untuk menghubungi Indra, dan dia sendiri fokus menyetir dan membawa mobil dengan cukup cepat.


" Sepertinya Indra sibuk, yang mengangkat sekertarisnya, gimana nih mas Ari?", tanya Evan panik melihat Dila terus memegangi perutnya dengan keringat mengucur di kening.


" Bilang saja istri nya mau lahiran, posisi di rumah sakit Medika".


Ari sudah berhasil membawa mobil memasuki pelataran IGD dan langsung turun sambil berteriak minta bantuan pada perawat untuk membawa tandu. Dila sudah tidak kuat untuk sekedar berdiri karena sebentar- sebentar Dila merasakan kontraksi di perutnya.


Saat perawat menggotong Dila keruang bersalin, Ari mendapat telepon dari Indra.

__ADS_1


" Ya bos?. Dila sudah masuk ruang bersalin bersama dokter dan perawat, disini saya malah bingung, soalnya tadi pas kontraksi lagi di jalan, saya masih menunggu di luar ruang bersalin".


Baru mengatakan hal itu telepon sudah terputus, mungkin Indra sedang buru-buru keluar kantor dan hendak datang menghampiri ke rumah sakit.


__ADS_2