Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 124


__ADS_3

Ari sampai di rumah dan mengabari orang rumah jika Dila sudah melahirkan di rumah sakit Medika. Semuanya sungguh heboh dan nampak bahagia atas kabar yang baru saja disampaikan oleh Ari. Sayangnya El sedang di rumah Fatma, karena tadi pagi Dila menitipkan El pada Fatma saat Dila hendak berangkat mengikuti seleksi CPNS tahap akhir.


" Bi Ana tolong ambilkan koper di lemari Dila, Dila bilang sudah disiapkan, tinggal diambil dan dibawa rumah sakit", Ari menyampaikan pesan yang disampaikan oleh Dila kepadanya.


Bi Ana mengangguk, " iya, kamu tunggu disini dulu Ar, biar aku ambilkan di kamar . Oh iya Ar, anaknya cewek apa cowok ?", tanya Bi Ana sambil berjalan menuju kamar Indra.


" Cewek Bi", jawab Ari singkat, karena tiba-tiba ada telepon masuk dari Dita.


Bi Ana mengangguk-angguk, " Pasti cantik banget kayak Dila, syukur alhamdulilah kalau sudah lahiran".


" Kamu makan saja dulu Ar, bibi tadi pagi masak banyak ini, malah orangnya pada di rumah sakit", ujar Bi Darsih menyuruh Ari untuk makan siang.


" Enggak Bi, ini mau langsung kerumah sakit lagi, memang belum makan siang sih, tapi nanti saja gampang, takut ditunggu ini barang-barang Dila dan Dede bayi.


Ari pun mengangkat panggilan masuk dari Dita.


~ Kenapa Dit ?~ tanya Ari singkat, karena Dita memang sering menghubungi nya jika nomer Dila susah dihubungi.


Ternyata Dita memang habis menghubungi Dila, namun tidak diangkat-angkat. Karena tas dan ponsel Dila tertinggal di mobil, sedangkan mobil tadi masih terparkir di depan rumah.


~ Mbak Dila kok susah di hubungi Mas?, ini aku dan ibu, bapak, besok jadi mau ke Jakarta, mau nanya siapa tahu Mbak Dila pengen dibawakan sesuatu~


Ari baru saja teringat jika ponsel Dila ada di mobil, dan dirinya belum mengabari siapa-siapa tentang kabar Dila yang baru saja melahirkan.


~ Kamu langsung kesini saja Dit, Dila baru saja melahirkan di rumah sakit Medika, ini aku lagi di rumah, disuruh ambil perlengkapan bayi, alhamdulilah bayinya cewek, dan semuanya sehat. Sudah dulu ya Dit, sementara itu dulu, aku juga mau mengabari nyonya Fatma~


Ari menutup telepon dengan Dita, padahal Dita masih ingin menyampaikan banyak pertanyaan. Sayangnya waktu Dita hendak menelepon Ari lagi, ponsel Ari sedang sibuk dengan panggilan lain. Karena ternyata Ari langsung menelepon Fatma dan mengabari jika Dila sudah melahirkan.


Fatma yang sedang bersantai sambil mengamati El yang sedang menggambar di ruang tengah pun langsung memarahi Ari karena Ari baru mengabari dirinya setelah bayinya keluar.


Karena sebenarnya Fatma ingin sekali mendampingi Dila disaat Dila melakukan persalinan. Apalagi Fatma menganggap Dila seperti putrinya sendiri. Jadi Fatma ingin Dila merasa jika dirinya diperhatikan.


Fatma pun langsung mengabari Rizal yang saat ini masih ada di kantor, bahwa cucu mereka telah lahir. Rizal yang kebetulan sedang meeting hanya bisa bahagia dan menahan keinginannya untuk menemui cucu barunya. Dan mengatakan pada Fatma akan segera menyusul Fatma saat meeting selesai.


" El, ayo kita sekarang ke rumah sakit. Adik bayi yang lucu sudah keluar dari perut Bu Dila, El mau lihat kan sekarang ?", ajakan Fatma langsung membuat El berjingkrak kegirangan. Dan mengemasi semua peralatan menggambarnya ke dalam Tas.


" Kita berangkat ke rumah sakit sekarang Nek?", El langsung berlari keluar mencari supir pribadi Fatma agar mengantarkan mereka ke rumah sakit.

__ADS_1


Pak supir sampai tergopoh-gopoh mengikuti langkah El yang berlari sambil menarik tangannya.


" Ke rumah sakit mana memangnya Bu ?", tanya supir saat mereka sudah keluar dari pintu gerbang rumah.


" Rumah sakit Medika Pak, tapi nanti mampir dulu ke toko bunga dan toko buah, saya belum bawa buah tangan apa-apa untuk Dila", ujar Fatma yang begitu bersemangat ingin menengok cucu barunya di rumah sakit.


Begitu juga dengan Siti dan Toto dikampung, mereka berdua langsung bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta, setelah Dita mengabari jika ternyata Dila sudah lahiran.


" Untuk kita sudah mengemas beberapa baju ganti lebih awal, bagaimana kabar Dila sekarang, dia baik-baik saja kan Dit?", Siti tengah mondar-mandir mengumpul barang yang akan mereka bawa ke Jakarta.


Dita nampak tenang sambil memesan tiket kereta api secara online, dan akan ada keberangkatan setengah jam lagi, Dita pun buru-buru memesan mobil online yang akan mengantarkan mereka ke stasiun. Rencana mereka dari awal memang hendak naik kereta api agar segera sampai di Jakarta.


Tapi keberangkatan kereta terdekat setengah jam lagi, Dita harus buru-buru menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta.


Sayangnya saat mobil online itu sampai di depan rumah Toto, ban mobil tiba-tiba kempes karena lobang jalan yang tak terlihat karena genangan air, dan ada benda seperti paku tajam di dalam lobang itu.


Dita dan Siti yang sudah menjinjing tas besar mereka terpaksa harus menurunkan tas lagi di teras rumah.


" Biar aku order mobil yang lain saja Bu, sepertinya akan lama jika menunggu mobil itu ganti ban, keburu kereta yang akan kita naiki berangkat".


Baru saja Dita akan memesan mobil lagi, ada mobil Avanza berhenti di depan rumah.


Nampak Nino turun dari mobil dan masuk ke pelataran rumah Toto. " Assalamualaikum, Pak Toto, maaf apa boleh saya yang mengantar keluarga bapak ke stasiun?, kebetulan tujuan saya juga mau ke stasiun disuruh ibu untuk menjemput Pakde yang datang dari Surakarta". Nino menawarkan tumpangan.


Dita nampak sumringah, meski Toto kelihatan hendak menolak.


" Terima saja Pak, kereta api nya berangkat 25 menit lagi, perjalanan dari sini ke stasiun saja sudah 20 menit, kalau nunggu mobil online ganti ban luar dalam kelamaan, keburu keretanya berangkat. Apa mau nunggu 3 jam lagi buat ke Jakarta?, kelamaan Pak. Aku sudah nggak sabar pengen liat keponakan aku yang lucu", ujar Dita berusaha membujuk sang bapak.


Toto akhirnya terpaksa menurut dan memasukkan barang-barang bawaan ke dalam bagasi mobil milik Nino.


Nino juga membantu memasukkan tas Dita dan Bu Siti kedalam bagasi. Mereka semua langsung masuk kedalam mobil Avanza hitam yang baru dibeli Nino beberapa minggu yang lalu.


Suasana perjalanan menuju stasiun sepi, di dalam mobil tak ada satupun yang bicara. Nino pun berusaha memecahkan keheningan.


" Ini Pak Toto sekeluarga apa mau menjenguk Dila ke Jakarta?", tanya Nino berbasa-basi.


" Iya". Jawaban Toto begitu singkat, selama ini memang Toto sengaja menjaga jarak dengan Nino, selain karena dia merasa bersalah karena putri sulungnya sudah mengingkari janji kepada Nino. Toto juga tidak mau mempersulit keadaan Dila dengan terus dekat dengan Nino maupun keluarganya.

__ADS_1


Toto tahu betul Nino anak yang baik, dari keluarga baik-baik juga, namun jika takdir belum berkehendak menyatukan keluarga mereka, apa mau dikata. Toto lebih memilih menjaga jarak, untuk menjaga hati semua orang.


" Mbak Dila baru saja melahirkan Mas, ini kita baru dikabari, dan langsung kau kesana, sudah rencana mau kesana sejak kemarin, mumpung saya lagi liburan kenaikan kelas, jadi bisa tinggal di Jakarta agak lama".


" Kebetulan Mas Nino mau jemput Pakde nya, jadi bisa nebeng. Makasih buat tumpangannya ya Mas", ucap Dita menjelaskan.


Memang Dita yang duduk di bangku depan, di samping Nino, karena Toto dan Siti langsung memilih duduk di bangku belakang.


" Kalau begitu tolong sampaikan ucapan selamat untuk Dila dan suaminya atas kelahiran anak pertama mereka, tapi maaf saya baru tahu, jadi belum membawa hadiah, maupun bingkisan apa-apa", ujar Nino sambil sesekali melirik ke arah Dita. Sesekali juga mengintip kedua orang tua Dila dari kaca spion.


" Oh, iya tentu saja, nanti kalau sudah sampai pasti disampaikan", Dita berusaha untuk tidak terlalu spaneng seperti kedua orang tuanya.


Entah mengapa perjalanan selama 20 menit justru terasa begitu lama, sampai Nino bingung mau ngobrol apa lagi, karena suasana kembali hening, Nino memilih memutar musik dari mobilnya.


🎶 Aku tresno karo kowe


Nanging aku iso opo


Ngerteni kowe uwes nyanding uwong liyo


Aku kudu iso nerimo


Snadyan ati loro rasane


Mungkin kabeh iki wes dalane


Sepurane aku wes tresno sliramu


Snadyan aku iki dudu pilihanmu


Mending 'tak ikhlasno


Daripada cidro


Mugo kowe bahagia karo wong liyo 🎶


Lagu dengan bahasa daerah yang dinyanyikan oleh salah satu pedangdut wanita terkenal, seolah mewakili perasaan Nino terhadap Dila. Lagu yang liriknya mengatakan jika seseorang harus menerima jalan hidupnya, meski sakit hati yang dirasakan karena orang yang dicintainya lebih memilih orang lain menjadi pasangannya, dan tidak memilihnya, namun orang tersebut tetap mendoakan agar sang pujaan hati bisa bahagia bersama pasangan pilihannya. Sungguh lagu yang sarat akan makna.

__ADS_1


Mobil sampai di stasiun 5 menit sebelum keberangkatan kereta menuju Jakarta. Toto, Siti dan Dita langsung turun dari mobil Nino sambil mengucapkan terimakasih, dan langsung masuk kedalam stasiun.


" Makasih Mas Nino, nanti akan aku sampaikan ucapan selamatnya buat Mbak Dila", ucap Dita, sambil melambaikan tangan masuk ke dalam stasiun sambil menjinjing tas besarnya. Sedangkan Nino menuju tempat pemberhentian kereta, mencari keberadaan Pakde nya yang akan di jemput.


__ADS_2