
" Bener sih kata Bibi, Mba Asna jangan asal ngomong, Mas Indra itu cemburuan banget orangnya, itu kata ibunya Mas Indra sih, kalau mba Dila mah diem diem bae.... nggak pernah ngomongin kekurangan suaminya", Dita memberi bocoran pada Asna.
" Kok kamu bisa tahu dari mertuanya Dila sih Dit", tanya Asna penasaran.
Dita berdiri dan pindah di sebelah Asna. " Tentu tau dong Mba Asna, dulu kan pas mba Dila wisuda di Jakarta aku ikut kesana, nginep di sana cukup lama, diajakin jalan-jalan ke Monas, Dufan, dan ke ragunan sama mertuanya mba Dila. Orangnya baik banget, meski beliau ibu mertua. Tapi nggak jahat kaya di cerita-cerita sinetron, aku aja di ajak nyobain hampir semua wahana di Dufan, di gratisin, mau jajan dan makan apa saja disana tinggal pilih sama Bu Fatma di bayarin, di pokoknya baik banget orangnya".
" Beda sama calon ibu mertua mba Asna, pelit dan cerewet. Kemarin saja pas aku kesana buat narik sumbangan buat acara pengajian di masjid malam minggu yang lalu, ibunya Mas Wowo cuma ngasih 30 ribu saja, padahal orang kaya, angkot punya banyak, kebon jeruknya luas, belum lagi sawahnya juga luas, tapi nyumbang cuma 30 ribu, pelit banget", cibir Dita, menceritakan ibunya Wowo. " Untung dulu mba Dila nggak jadian sama Mas Wowo, untung... untung....".
Asna langsung mencubit pipi Dita, " Kamu itu kalau ngomong nyebelin banget, nggak di saring dulu". Asna nampak kesal, tapi sejenak berpikir dan melanjutkan kalimatnya.
" Tapi memang seperti itu sih karakter ibunya Wowo, mau gimana lagi, kan aku mau nikah sama anaknya, bukan sama ibunya, lagian kalau kita menikah juga kan bakalan tinggal dirumah aku, aku anak tunggal, sedangkan Wowo masih punya saudara, otomatis setelah menikah, kita tinggal di rumah ku dong", gumam Asna.
" Kalau aku sih nggak mau punya mertua yang pelit dan cerewet, mau yang baik hati dan penyayang kayak mertuanya mba Dila", ucap Dita lagi.
" Kamu nya saja cerewet, pasti punya mertua juga cerewet kayak kamu, biar klop, biar pas. Kalau Dila kan beda... dia baik, jadi dapat mertuanya juga baik, seperti pribahasa, apa yang kamu tanam itu yang akan kamu panen. Betul kan Dil?".
Dila hanya terkekeh mendengar kedua saudaranya itu saling berdebat. Seperti seekor kucing dan anjing, yang satu mengeong dan satu menggonggong, tapi begitulah mereka berdua, bicara apa adanya, itulah yang Dila sukai dari saudara-saudara nya itu, tidak lain di mulut lain di hati.
" Lagi ngobrolin apa sih, sejak tadi cuma bertiga, tapi rame banget?", Siti keluar sambil membawa bahan-bahan rujak yang akan dibuatnya.
Siti memang ingin membuat rujak tumbuk, beda dengan rujak pada umumnya, rujaknya di tumbuk di lumpang ( tempat untuk menumbuk) bukan di cobek, bumbu rujaknya tanpa kacang tanah yang digoreng, hanya cabai mentah, bawang mentah, garam, dan gula merah . Namun isian rujak itu sangat bermacam-macam, ada mengkudu muda, pisang muda, tunas kecombrang, ubi jalar, ada berbagai macam jenis buah juga seperti jambu, kedondong, timun, belimbing, bengkuang, nanas, dan masih banyak lagi buah lainnya.
__ADS_1
Kepercayaan oleh orang jaman dulu di kampung Dila, katanya jika ibu hamil memakan rujak tumbuk itu akan terhindar dari mual muntah saat hamil. Harusnya Dila sudah dibuatkan rujak tumbuk sejak dirinya ketahuan hamil, sayangnya keberadaan mereka yang saling berjauhan membuat Siti tidak bisa membuatkan rujak tumbuk untuk Dila.
Dila, Asna, ibunya Asna, Dita, dan beberapa ibu-ibu lain membantu Siti, ada yang memotong-motong buah agar lebih mudah ditumbuk, ada yang mengupas bawang putih, ada juga yang menumbuk buah.
" Rujak tumbuk itu paling enak dibuat rame-rame seperti sekarang ini, dan dimakan rame-rame juga, agar langsung habis. Ini termasuk jenis makanan yang harus dimakan saat masih fresh/ baru jadi, kalau terlalu lama dibiarkan, rujak akan berubah warna dan berubah rasa".
" Dulu waktu ibu hamil Dila, almarhumah neneknya Dila juga membuatkan rujak tumbuk seperti ini buat ibu, karena itulah ibu tidak mengalami yang namanya mual-mual atau muntah-muntah seperti orang hamil pada umumnya".
Dila tersenyum mendengarkan cerita masa lalu ibunya sambil memotong-motong bengkuang agar lebih mudah di tumbuk.
" Ibu dengar dari mertua kamu, awal ketahuan hamil, kamu pernah di opname di rumah sakit selama seminggu, gara-gara tiap pagi muntah-muntah. Tapi kamu itu tidak pernah mau cerita sama ibu kalau kamu pernah opname, seharusnya waktu itu kamu cerita, biar ibu ke sana dan membuatkan kamu rujak tumbuk seperti sekarang ini".
Siti memang selalu nelangsa jika membahas jarak diantara dirinya dan putri sulungnya. Tidak terlalu jauh, tapi Dila jarang jujur jika sedang dalam keadaan tidak sehat. Dila selalu saja mengabari orang tuanya jika dirinya baik-baik saja. Seolah Dila tidak ingin orang tuanya kepikiran tentang keadaannya jika sedang tidak baik di Jakarta.
" Semuanya sudah berlalu Bu..., lagian dulu dikasih obat mual sama dokternya, jadi Dila cepat sembuh, nggak muntah-muntah lagi pas pulang ke rumah", ujar Dila mencoba menjelaskan dengan pelan.
" Iya Mba Siti, dokter sekarang kan hebat-hebat, apalagi yang di Jakarta, kota besar. Nggak perlu repot-repot bikin rujak tumbuk seperti ini, tinggal minum obat, Dilanya sudah sembuh", salah satu tetangga sengaja memberi dukungan kepada Dila. Dila merasa bersyukur karena ada yang paham maksudnya.
Saat rujak tumbuh selesai di buat, Dila dan yang lain langsung menikmati rujak segar itu. Indra, El, dan Toto yang baru pulang juga kebagian rujak tumbuk itu.
" El nggak mau nek, pedes, El nggak suka", ujar El mengembalikan rujak jatahnya kepada Siti.
__ADS_1
" El nggak suka pedes ya?, aduh nenek lupa nggak buatkan versi manisnya buat El, ya sudah ini El makan buah yang belum dipotong saja ya, mau yang mana?", Siti menunjukkan ranjang isi buah yang sudah dicuci bersih tadi.
El melihat ke dalam dan mengambil jambu air yang menarik perhatiannya karena warnanya yang merah merona, " Yang ini saja nek, apa ini manis?", tanya El penasaran. El mengira jambu air itu manis karena warnanya merah, dan ternyata perkiraannya tepat. El pun mengambil beberapa buah jambu air.
Sedangkan Indra berusaha memasukkan suapan pertama berisi rujak tumbuk yang menurutnya rasanya aneh, dari baunya saja sudah aneh, bahkan banyak biji mengkudu di rujak itu.
" Sepertinya ini makanan sehat, tapi baunya aneh sekali", batin Indra sambil mencicipi rujak tumbuk itu.
" Gimana Mas?, aneh ya rasanya?", tanya Dila yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Indra saat mencicipi rujak tumbuk itu.
" Em.... lumayan seger, ada bau tunas kecombrang, dan nanas yang cukup menyengat, jadi menutupi bau mengkudu muda, lumayan segar sih rasanya, hanya saja masih sangat aneh di lidah", Indra seperti seorang chef yang sedang memberi komentar pada peserta lomba memasak yang seperti di televisi.
" Ini itu makanan sehat yang banyak manfaat dan khasiatnya nak Indra, cuman ya jarang ada yang buat, karena prosesnya lama dan repot. Harus dikerjakan rame-rame seperti sekarang ini", jelas Siti pada menantunya itu.
" Iya ini pasti sangat banyak khasiatnya, semua bahan mentah, asli dari alam, tanpa pengawet, pewarna makanan, apalagi penyedap rasa, semuanya masih alami, dan berisi berbagai macam buah, sampai ada mengkudu nya juga, pasti sangat banyak manfaatnya", ujar Indra setuju dengan ibu mertuanya.
" Kalau begitu dihabiskan ayo nak Indra, soalnya kalau kelamaan nanti rujaknya berubah warna kehitaman, dan rasanya juga sedikit berubah", gumam Siti.
Ibu-ibu lain yang ada di sana melihat Siti begitu baik dan perhatian pada putra mantunya itu. Pasti Siti sangat menyayangi Indra, pengusaha kaya, meski duda berumur, tapi wajahnya seperti sepantaran dengan Dila. Dan bahkan anaknya juga tampan dan sangat baik. Tidak ada masalah menjadi istri duda kaya seperti itu.
Belum lagi saat ibu-ibu lain tahu jika sawah dan pekarangan luas dekat rumah dibeli oleh menantunya Siti, dan diserahkan pada Siti dan Toto, para tetangga hanya bertanya-tanya, sekaya apa Indra yang sebenarnya. Pantas Dila meninggalkan Nino sang kades muda tampan. Ternyata suaminya lebih segala-galanya dibanding Nino yang hanya seorang kades.
__ADS_1
Tapi padahal bukan itu alasan Dila menerima Indra, tak ada seorangpun yang tahu alasan yang sebenarnya, bahkan orang tua Dila sekalipun. Hanya Dila, Indra dan kedua orang tua Indra yang tahu kebenarannya.