Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 81


__ADS_3

Kunto masuk ke dalam apartemen milik Lita, itu kali pertama Kunto masuk ke apartemen perempuan yang bukan saudaranya, ternyata apartemen Lita adalah apartemen dengan tipe studio seperti apartemen miliknya, yang kamar, ruang tamu, ruang tengah, dan dapur menjadi satu ruangan. Jadi segala aktivitas bisa dilihat jika berada di apartemen itu.


" Kamu sekarang duduk disini biar aku buatkan kopi dan aku ambilkan es batu untuk mengompres luka kamu".


Lita langsung menyalakan kompor listrik dan merebus air sebanyak dua gelas, membuka dua kemasan kopi instan dan menyeduhnya. Aroma kopi, krimer, gula, dan susu yang dia seduh langsung menyebar ke seluruh bagian apartemen Lita. Lita meletakkan dua cangkir kopi di meja, dan mengambil es batu dari kulkasnya, memasukkan es batu itu ke wadah untuk mengompres.


" Pakai ini di bagian tubuh dan wajahmu yang memar, biar cepet sembuh", Lita menyerahkan kantong berisi es batu pada Kunto.


" Sekarang sambil kamu ngompres dan nunggu kopi agak dingin, coba kamu cerita gimana kejadiannya, kok kamu sampai babak belur begini?", Lita langsung duduk dan menatap dan memasang telinganya untuk mendengarkan cerita dari Kunto.


" Kamu ini.... aku sedang sakit, bibirku saja bengkak, gigiku sampai copot, buat ngomong itu susah, aku cerita besok-besok saja, sekarang aku yang ingin mendengar cerita tentang Dila saat kalian tinggal bersama", Kunto bicara sambil menempelkan es ke bagian tubuhnya yang lebam.


" Tapi aku penasaran banget sama kejadian adu jotos kamu sama Mas Indra, lagian kemarin waktu di kafe, aku sudah merasa aneh, kok mas Indra ngebiarin Dila punya temen deket cowok, padahal aku bisa lihat jelas kalau kamu cinta banget sama Dila, kalau benar kamu pernah ketemu sama Mas Indra sebelumnya, aku yakin Mas Indra bisa melihat mata kamu yang memancarkan cinta untuk Dila dan aku yakin Mas Indra nggak akan suka dengan hal itu".


" Makanya waktu kemarin Dila bilang kamu pernah ketemu Mas Indra dan semuanya baik-baik saja, itu seperti hal yang mustahil, karena setidaknya kamu harus berada di keadaan seperti sekarang ini, ini baru bener, kamu babak belur karena dihajar mas Indra, karena Mas Indra itu cemburuan".


Ucapan Lita yang begitu panjang seperti kereta api membuat Kunto bertanya-tanya sejauh apa Lita mengenal Indra.


" Kamu seperti sangat mengenal Indra?", Kunto sengaja menanyakan sesuatu yang singkat, karena masih sulit untuk ngomong.


Bukan Lita namanya kalau tidak cerewet dan banyak bicara, pertanyaan singkat pun bisa mendapat jawaban yang sangat panjang seperti rel kereta api.


" Tentu saja, bahkan aku mengenal Mas Indra jauh sebelum Dila mengenalnya, mungkin sejak aku masih kecil, waktu itu aku masih SD, atau SMP ya... kayaknya si masih SD, karena dulu aku sering nemenin kakakku jalan sama Mas Indra, bisanya kakakku menjadikan aku alibi agar dia bisa keluar rumah dan berkencan dengan Mas Indra". Lita nampak mengingat-ingat.


Kunto hendak bertanya, kenapa Indra berkencan dengan kakaknya. Namun belum sempat ngomong Lita sudah lebih dulu kembali berbicara.


" Kamu pasti penasaran kan kenapa kakakku kencan sama Mas Indra?", Lita seperti orang pintar yang bisa mengetahui isi hati orang lain.


" Mas Indra itu adalah mantan kakak ipar ku, aku adalah bibinya El, anak yang di asuh Dila dulu. Andai saja aku tahu itu sejak dulu...".

__ADS_1


" Apa kamu tahu Kun.... Dila itu nggak pernah cerita perihal urusan pribadinya kepada orang lain, termasuk aku sahabatnya. Yang Dila bicarakan itu urusan pekerjaan, kuliah dan juga resep mengolah makanan atau minuman, beda sama aku yang selalu curhat sama Dila tentang semua masalah pribadiku, tentang perasaanku dan kegalauanku".


Lita nampak kesal dengan dirinya sendiri.


" Aku tinggal di Jogja selama hampir 3 tahun menjadi sahabat Dila, selama itu juga aku tidak tahu kalau Dila sudah menikah, setahuku Dila itu masih singgle dan sengaja datang dari kampung ke Jogja untuk kuliah, ternyata Dila adalah istri barunya mantan kakak ipar ku, Dila ibu mudanya El", dari suaranya terdengar Lita seperti kecewa dan mulai merasa tidak nyaman.


" Seandainya kamu tahu Kun, waktu itu bukan cuma aku yang paling shock mengetahui kalau ternyata Dila sudah menikah, kamu tahu Mas Bram kan... dia juga sangat shock mengetahui jika Dila sudah menikah, karena selama ini Mas Bram menyukai Dila, baru kali ini aku melihat Mas Bram mencintai seorang gadis dengan sungguh-sungguh, sebelum-sebelumnya Mas Bram selalu mempermainkan hati gadis-gadis yang menyukainya, dia itu seperti terkena hukuman, karena sudah membuat banyak sekali perempuan patah hati dan sedih, saat dia benar-benar menyukai seorang wanita, ternyata wanita itu adalah istri dari teman sekaligus rekan bisnis Mas Bram sendiri, yaitu istri Mas Indra".


Kunto semakin tertarik dengan kelanjutan cerita Lita, karena semuanya sungguh mengejutkan, ternyata Bram yang menjadi rekan bisnisnya juga menyukai Dila. Sungguh seperti masuk kedalam lingkaran setan.


Lita terus menceritakan bagaimana dia bisa akhirnya dekat dengan Dila saat di Jogja, hingga tak terasa waktu berganti malam.


Kunto yang belum sempat makan siang, mulai merasakan lapar. Kunto pun terpaksa berpamitan untuk kembali ke apartemennya, namun Lita menawarkan untuk makan malam bersama, tentu saja makan malam yang praktis dan cocok dimakan Kunto yang sedang susah menggerakkan mulutnya.


" Jeng...jeng....."


Lita menunjukkan dua bungkus mie instan rasa soto, " Kamu nggak papa kan makan mie instan?, sekali-kali nggak masalah kan makan makanan cepat saji, tapi kalau aku sering sih kalau lapar di malam hari, masak mie instan seperti ini", ujar Lita sambil mengiris sayur dan sosis sebagai pelengkap.


Sebenarnya Kunto sedang berpikir, sejak tadi mereka hanya berdua di dalam apartemen, tapi Lita merasa baik-baik saja dan tidak risih, apa Lita tipe gadis yang welcome pada semua laki-laki?, apalagi mereka baru saling mengenal kemarin.


" Apa nggak papa aku sejak sore disini, dan hanya berdua denganmu?, jangan sampai aku keluar dari apartemen kamu terus ada laki-laki yang tiba-tiba menyeret ku dan menghajar dan memukuliku lagi seperti Indra tadi, luka tadi saja belum sembuh, nanti malah ketambahan luka baru", gerutu Kunto.


Lita langsung terkekeh mendengar ucapan Kunto, " Hehehe, santai saja Kun, aku nggak punya cowok, dan nggak ada cowok yang naksir aku, semuanya hanya teman dan tidak ada yang spesial. Ibarat dikata aku ini seperti wanita kesepian", tatapan mata Lita langsung berubah sayu dan menyedihkan.


Kunto saja merasa aneh karena ada teman Dila, seorang gadis yang bersikap seperti Lita.


" Kamu jangan bicara seperti itu, tidak pantas seorang gadis mengatakan hal seperti itu". Kunto malah jadi tak nyaman berada di apartemen Lita.


" Bercanda.... aku cuma bercanda Kun, santai saja, aku itu sudah biasa berteman dengan laki-laki dengan tipe beraneka ragam, dulu waktu di Jogja, aku kuliah di fakultas teknik, dan sebagian besar temanku adalah laki-laki, jadi santai saja". Lita menyajikan mie instan yang sudah matang dengan tambahan telur, sosis dan sayuran.

__ADS_1


" Sekarang kita makan, setelah kenyang, kita bisa lanjut ngobrol, oke?", Lita langsung memakan mie dari mangkuknya tanpa jaim.


" Bukan pacar kamu yang aku maksud, tapi mungkin saudara atau ayah kamu yang tiba-tiba datang, kan aku bisa dikira...", belum selesai Kunto bicara, Lita langsung menyodorkan garpu berisi mie ke mulut Kunto, hingga Kunto tidak bisa melanjutkan ucapannya.


" Makan saja, ayah aku itu super sibuk, nggak bakalan datang kesini, jadi nggak usah khawatir".


" Alasan aku lebih milih tinggal di apartemen kecil dari pada di rumah besar tempat tinggal orang tuaku itu, karena disana seperti kuburan, rumahnya besar, tapi sepi, seperti tidak berpenghuni. Menyeramkan tinggal disana".


Kunto ingin tertawa mendengar ucapan Lita, namun untuk tertawa pipi dan rahangnya masih terlalu sakit, hingga Kunto hanya meringis.


" Kamu ini aneh Lit, masa rumah orang tua dibilang seperti kuburan, kamu bisa kualat kalau ngomong begitu". Kunto meletakkan mangkoknya yang isinya sudah bersih dimakan.


Lita menggeleng, " nggak bakalan kualat, kalau kamu merasakan jadi aku sebentar saja, pasti kamu juga bakalan ngomong hal yang sama".


Kini Kunto hanya menatap Lita merasa kasihan.


***


Di hotel milik Indra, Dila dan Indra baru saja selesai sholat Isa, tentu saja Indra sengaja memilih bacaan dengan suratan yang pendek karena untuk bicara dan berdiri lama perutnya masih sakit.


" Apa mau aku panggilkan dokter saja Mas?", Dila terus khawatir melihat Indra yang sebentar-sebentar mendesis.


" Nggak usah, aku baik-baik saja, gimana kalau kamu lanjut pijit kaya tadi siang, kalau bisa pijitnya di sekujur tubuhku, biar cepet sembuh".


Indra memberi kode keras pada Dila.


Dila tentu aja tidak masalah, tapi melihat tubuh Indra yang belum sembuh dan banyak luka, apa tidak masalah jika melakukan hubungan ranjang?.


" Apa kamu akan baik-baik saja kalau kita melakukannya?".

__ADS_1


Baru selesai Dila berucap Indra langsung melakukan pemanasan, seolah tubuhnya yang sejak tadi terasa nyeri menghilang begitu saja.


" Tentu saja aku akan baik-baik saja, karena kamulah dokternya yang akan menyembuhkan semua sakit yang aku rasakan saat ini", bisik Indra di telinga Dila, seketika tengkuk Dila langsung me-remang, dan rona merah muncul di kedua pipinya.


__ADS_2