Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 68


__ADS_3

Keesokan harinya, jam setengah 4 sore, Asri datang ke posko KKN tempat Dila tinggal, dirumah itu masih terlihat sepi. Karena itu Asri hendak kembali pulang, namun di jalan Asri berpapasan dengan Bima yang baru saja pulang dari kegiatan KKN nya.


" Kamu teman Dila yang semalam ya?", Asri menyapa Bima terlebih dahulu.


Bima mengamati Asri dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Asri merasa risih.


" Iya, kamu yang semalam di kafe sama dua cowok itu kan?".


Asri mengangguk, " Dila mana?, kalian nggak bareng?".


Bima mengangkat bahunya, " nggak tau, dia nggak tugas bareng aku hari ini, biasanya nemenin muter petugas sensus, makanya balik sampe sore. Mumpung ada kamu disini, mau ngobrol nggak sama aku?".


Asri menatap dua teman laki-laki Bima, yang berdiri dibelakang Bima.


" Kita cuma ngobrol berdua, mereka mau balik ke posko", gumam Bima sambil menyuruh kedua temannya untuk pergi.


Ekspresi cemberut dari kedua teman Bima nampak menghiasi wajah mereka.


" Kita ngobrol di teras rumah posko KKN ya", Bima berjalan dan duduk di teras rumah yang dijadikan posko nya.


Ternyata Bima penasaran dengan kehidupan pribadi Dila, dan ingin menanyakan pada Asri tentang Dila, namun justru saat mereka berdua ngobrol, Asri lah yang dibuat terkejut terlebih dahulu dengan pertanyaan Bima.


Pasalnya Bima menanyakan kenapa Dila mau menikah dengan pria yang umurnya jauh lebih dewasa dari usianya. Asri yang tidak tahu menahu soal pernikahan Dila justru balik bertanya, terjadilah interaksi yang serius antara Bima dan Asri, mereka berdua mencocokkan antara cerita yang Asri tahu dan yang Bima tahu.


Mereka berdua hanya menyimpulkan atas dasar asas cocokologi, karena Dila belum juga kembali sampai mereka selesai ngobrol. Tidak ada yang bisa mengklarifikasi kecurigaan mereka. Hingga tak lama kemudian Asri melihat Dila berjalan bersama seorang teman perempuan yang sedang KKN berjalan menuju rumah sebelah.


" Dil...!".


Dila menengok saat mendengar suara Asri, dan mengernyitkan keningnya karena Asri ternyata sedang bersama Bima.


" Teman kamu sudah nungguin kamu sejak tadi, makanya aku temenin biar nggak bosen duduk sendiri", terang Bima mencoba menjelaskan sebelum Dila bertanya.

__ADS_1


" Kami cuma ngobrol santai, karena kamu sudah balik aku masuk kedalam dulu, mau mandi", Bima nampak salah tingkah bertemu dengan Dila, karena semalam kata-katanya sudah sangat merendahkan Dila, sedangkan semua yang dituduhkan kepada Dila tak ada satupun yang benar.


Teman yang bersama Dila juga lebih dulu masuk rumah karena sudah merasa sangat lelah, sedangkan Dila ikut duduk di teras posko bersama Asri.


Nampak ekspresi wajah Asri yang berbeda, seolah ingin menanyakan begitu banyak hal pada Dila, Dila sudah menebak, pasti Bima sudah cerita tentang dirinya yang sudah menikah, dan tebakannya sangat tepat.


Asri tidak basa basi lagi, dia langsung menanyakan pada intinya.


Dila pun mengangguk, dan menjelaskan secara garis besar apa yang selama ini dialaminya, bahkan Dila terus bercerita sampai tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Cerita terpotong saat mendengar adzan maghrib berkumandang. Dila mengajak Asri ke kamarnya, untuk sholat maghrib bersama, setelah itu Dila dan Asri memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk melanjutkan obrolan mereka, sekalian makan malam bersama.


Asri mengajak Dila ke rumah makan ayam bakar yang tempat makannya terbuat dari bilik-bilik bambu dan terpisah antara bilik satu dengan yang lainnya. Di sanalah Asri dan Dila kembali mengobrol berdua, sambil menunggu pesanan mereka datang.


Tak pernah Asri sangka, perjalanan hidup Dila begitu berkelok dan penuh warna, rasanya Asri tidak akan sanggup jika harus hidup seperti Dila.


" Kamu memang wanita yang sangat kuat Dil, aku salut sama kamu, pantas saja Bima merasa malu bertemu denganmu setelah mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu, ternyata begitu cerita aslinya. Kadang orang di luar membuat penilaian sendiri hanya dari apa yang mereka lihat, tanpa mencari tahu kebenarannya".


Asri kini sudah tahu status Dila yang sudah menjadi istri Indra, mantan majikannya dulu, bagaimana Dila terpaksa setuju menikah dengan Indra, meski jarak usia mereka terpaut cukup jauh hingga belasan tahun, dan bagaimana perlahan Dila mulai mencintai Indra yang kini sudah menjadi suaminya.


" Aku juga mau kasih tahu kamu Dil, sebenarnya aku dan Joko juga sudah beberapa bulan ini berpacaran, lebaran besok Joko mengatakan akan menemui orang tuaku untuk melamar ku, kamu tahu sendiri kan usiaku sudah 22 tahun beberapa bulan yang lalu, dan beberapa bulan lagi 23 tahun, aku ingin menikah dan punya anak sebelum usiaku 25 tahun".


" Kalau tidak ada halangan lebaran besok aku juga pulang kampung As, sudah 4 tahun sejak aku pergi merantau, satu kalipun aku tidak pernah pulang ke kampung. Bukan karena aku tak rindu pada bapak dan ibu, aku hanya ingin menghindarkan pertanyaan mereka yang pasti tidak akan bisa aku jawab".


" Tapi tahun ini lain ceritanya, ternyata Mas Indra tidak menceraikan aku, bahkan dia setuju mengadakan resepsi pernikahan kami di kampung. Jadi tidak masalah aku pulang bersama mas Indra dan El ke kampung lebaran tahun depan".


Dila memang ingin sekali pulang ke kampung, rasanya sudah sangat rindu pada keluarganya. Terutama pada adiknya Dita, sekarang Dita sudah SMA, Dita sering Videocall dengan Dila, dan sering curhat tentang apa yang terjadi padanya, sehingga meski jauh dan tak pernah bertemu secara langsung, hubungan kakak beradik itu masih sangat baik.


" Semoga saja aku bisa hadir di resepsi pernikahanmu di kampung, bagaimanapun kita pernah menjadi teman sekamar, meski hanya dalam hitungan minggu".


Dila mengangguk, " pasti akan aku kabari jika sudah ditentukan hari tanggalnya".


Asri dan Dila menjeda percakapan mereka karena makanan dan minuman pesanan mereka sudah tersaji.

__ADS_1


" Kita makan dulu, habis itu kita balik ke rumah".


Asri yang membawa motor tadi mengantar Dila ke posko KKN, sudah jam 9 malam dan Asri langsung pamit pulang.


Ternyata itu hari terakhir Dila bertemu dengan Asri saat dirinya KKN. Karena waktu KKN telah usai, dan Dila harus kembali ke Jakarta.


Hari terakhir Dila tinggal di Bekasi, Dila berterimakasih dan meminta maaf pada pemilik rumah karena sudah banyak merepotkan. Tak lupa Indra membawa bingkisan besar untuk diserahkan pada pemilik rumah sebagai ucapan terima kasih telah memberikan tumpangan dan menjaga Dila selama ini.


KKN berakhir hari-hari selanjutnya Dila disibukkan untuk membuat laporan kegiatan KKN, setelah itu rencana mulai menyusun skripsi. Begitu banyak jadwal padat yang menanti. Membuat Dila melupakan permintaan ibunya yang meminta dirinya kembali ke kampung untuk mengadakan acara resepsi pernikahan.


Selain itu Indra yang juga disibukkan dengan pekerjaannya juga tidak mengingat permintaan sang ibu mertua.


Siang itu saat Dila ada jeda kuliah, Dila sengaja mampir ke kantor Indra.


" Tumben mau main kesini, apa sudah kangen banget sama Mas?", goda Indra sambil menutup berkas yang sudah selesai di tandatangani nya.


" Nanti masih ada jam kuliah lagi, tapi mau pulang kejauhan, makanya mending mampir kesini, El juga lagi dirumah neneknya. Mau makan siang bareng?, atau Mas masih banyak pekerjaan?", tanya Dila sambil menyandarkan bokongnya di meja kerja Indra.


" Mas masih ada meeting jam 2 nanti, tentu saja kita bisa makan siang bareng, sekarang baru jam 12, karyawan yang lain pasti juga sedang makan siang di kantin, mau ke kantin atau pesen makanan dibawa kesini saja?". Indra beranjak dari duduknya dan memeluk Dila dengan erat.


" Pesen saja Mas, tapi jangan peluk-peluk begini, nanti kalau ada karyawan kamu yang tiba-tiba masuk gimana?", Dila mencoba melepaskan diri dari pelukan Indra.


" Nggak ada yang berani masuk kesini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu", Indra melepas pelukannya dan mengunci pintu ruangannya, sambil menelepon sekertarisnya untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Dila, " suruh makanannya di letakkan di meja kamu, nanti aku ambil sendiri, dan kamu boleh istirahat", ucap Indra pada sang sekertaris.


Indra kembali memeluk Dila dan terus menatap bibir merah Dila yang terlihat begitu menawan, sudah sebulan lebih dirinya libur panjang tak menyentuh istrinya itu, karena mereka tak tinggal bersama. Dan siang ini adalah momen yang sangat tepat untuk menyalurkan dan meluapkan kerinduannya selama ini.


Indra merengkuh tubuh Dila dan merebahkannya di sofa panjang yang ada di ruang kerjanya. Indra mulai menyesap manisnya bibir istrinya yang sudah beberapa hari ini tak dirasakannya. Sangat manis...


Dila pun merasakan kerinduan yang sama, bagai gayung bersambut, terjadilah adegan panas di dalam ruang kerja Indra, Indra yang begitu mendamba Dila, dan Dila yang mulai pandai mengikuti permainan yang Indra inginkan, mereka berdua bahkan tidak sadar jika mereka berguling di lantai, berpindah Indra memepetkan Dila ke tembok, hingga Indra mengangkat tubuh Dila dan mendudukkannya di meja kerja, tanpa mereka sadari kertas-kertas berserakan karena adegan panas yang mereka lakukan.


Dila sampai merubah posisinya sedemikian rupa karena Indra yang menuntunnya melakukan hal itu. Dari awal Dila dibawah, pindah posisi menjadi diatas Indra dan saat Indra hampir mencapai *******, Indra mengangkat tubuh Dila dan kembali menindihnya di atas sofa panjang. Nafas mereka berdua saling memburu, hingga Indra mengerang dengan begitu kuat, menebarkan benih ke dalam perut Dila, yang sebenarnya benih itu tidak akan pernah tumbuh karena Dila yang sudah melakukan KB secara diam-diam.

__ADS_1


Indra menikmati pergulatan mereka siang ini, begitu juga dengan Dila yang tanpa sadar kini sudah merasakan kenikmatan setiap kali Indra menyentuhnya dan melakukan penyatuan.


Mereka berdua saling menatap sambil tersenyum puas setelah sama-sama menikmati santapan pembuka sebelum makan siang yang sebenarnya.


__ADS_2