
Kunto pergi memeriksakan keadaannya ke klinik dokter gigi untuk berkonsultasi mengenai giginya yang lepas karena tonjokan Indra kemarin. Dokter spesialis gigi yang direkomendasikan oleh Lita kemarin.
Ya... Kunto mengobrol di apartemen Lita hingga larut malam, sebenarnya di katakan mengobrol kurang pas, lebih tepatnya mendengarkan Lita bercerita, karena Kunto lebih banyak mendengarkan.
Saat hendak keluar dari apartemen Lita, Kunto diberi alamat klinik tempat teman Lita praktek, lokasinya tidak terlalu jauh dari apartemennya, hanya 30 menit berkendara.
Ternyata dokter gigi itu masih sangat muda, mungkin sepantaran dengan dirinya yang baru berusia 25 tahun lebih sedikit.
Setelah mengikuti beberapa pemeriksaan, Ku to pun mengajukan beberapa pertanyaan.
" Apa bisa di pasang dengan gigi palsu secepatnya Dok?".
Sang dokter muda mengangguk, " tentu saja bisa, kalau saya boleh tahu, apa anda teman dekat Lita?, semalam Lita sampai menelepon saya tengah malam untuk memberi tahu jika temannya mau kesini hari ini".
Kunto menggelengkan kepalanya. " Saya baru mengenalnya dua hari yang lalu, Lita itu teman dari teman saya", jawab Kunto jujur.
Dokter itu hanya mengangguk entah apa yang dipikirkannya namun selesai pemeriksaan dan pemasangan gigi palsu, Kunto dititipi salam untuk disampaikan pada Lita dari dokter muda itu.
Saat Kunto keluar dari klinik, Kunto bertemu dengan seorang wanita paru baya yang tadi meneleponnya, tepatnya melakukan video call, beliau adalah Bu Fatma, mertuanya Dila.
Dia datang sendiri ke klinik karena tadi kembali mengirim pesan pada Kunto mengajaknya ketemu. Kunto mengiyakan dan mereka mengobrol di taman depan rumah sakit.
" Wah... wajah kamu ternyata lebih parah dari putraku, maafkan Indra ya Nak Kunto".
" Apa setelah dipasang gigi palsu jadi terasa lebih nyaman?", tanya Fatma berbasa-basi karena bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
Entah mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, atau memang hobi nya ikut campur urusan putranya. Fatma selalu saja menemui orang-orang yang bermasalah dengan Indra, terutama jika ada hubungannya dengan hal yang mempengaruhi hubungan antara Indra dan Dila. Fatma selalu saja ikut campur untuk membereskan.
" Nak Kunto di Jakarta tinggal dimana?, kata Dila kalian sama-sama dari daerah ya?".
Kunto menyebut alamat apartemen yang ditinggalinya. Dan mengiyakan jika dirinya berasal dari kampung.
Fatma pun mengangguk paham, " Kalau kampung halamannya dimana?".
Kunto kembali menyebut nama tempat kelahirannya.
__ADS_1
" Wah.... ayahnya Indra juga punya saudara jauh disana, tapi sudah sangat lama tidak saling bertemu, terakhir ketemu waktu Indra belum menikah dulu, wah sudah sangat lama ya....".
Kunto sebenarnya sangat malas dengan basa basi dari mertuanya Dila itu, ngomong nggak jelas nanya ini itu segala macam, sok baik hanya untuk meminta agar putranya tidak dilaporkan ke polisi, padahal Kunto juga sudah memutuskan untuk tidak melaporkan Indra, namun Fatma tetap saja bersikeras ingin bertemu dengan nya.
Kunto yang tubuhnya masih terasa pegal dan sakit sangat tidak nyaman mengobrol lama di tempat terbuka seperti sekarang ini, dirinya ingin segera pulang ke apartemen dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Karena itulah Kunto mencari cara, agar bisa segera mengakhiri pertemuan ini.
" Maaf Tante, kalau boleh tahu, kenapa Indra bisa bercerai dengan istri pertamanya?, seandainya Tante bersikap seperti saat ini sejak pernikahan Indra yang pertama, aku yakin pernikahan mereka akan langgeng sampai saat ini".
" Atau mungkin justru sikap tante yang suka ikut campur seperti saat ini justru yang menjadi pemicu perceraian mereka?".
Ucapan Kunto sangat mengena di hati Fatma, seorang pemuda yang sudah mencari gara-gara dengan memeluk mantu kesayangannya, kini kembali menambah kesal Fatma dengan mengatakan hal seperti itu.
Fatma yang merasa tidak terima langsung berdiri dan menatap Kunto dengan tatapan elang.
" Pantas saja putra saya mukulin kamu, punya mulut ngga bisa di jaga". Fatma yang kesal dan emosi memilih untuk pergi meninggalkan Kunto yang justru kini tersenyum lebar karena nenek-nenek cerewet itu sudah berhasil di usirnya secara halus.
Sepeninggal Fatma, Kunto pun langsung menuju ke mobilnya dan menuju ke apartemen. Badannya yang masih sakit ingin segera rebahan di kasur.
" Kenapa kelihatan bete begitu nek?".
Fatma langsung masuk ke kamar El karena Dila sedang menemani El makan siang di kamarnya. Panas El sudah turun, tapi oleh Dila belum diperbolehkan terlalu banyak beraktivitas, karena benar-benar baru sembuh.
Dila membawa nampan makan siang El ke kamar, dan saat El sedang memaksakan diri untuk makan bubur ayam buatan ibunya itu sang nenek tiba-tiba datang dengan wajah terlihat kesal.
" Nggak papa sayang, ayo kamu habiskan saja makanannya, nenek cuma belum makan siang dan merasa lapar jadi kelihatan kayak lagi marah. Nenek makan dulu ya, kamu juga habiskan makan siangnya".
Dila tahu sang ibu sedang berbohong, Dila yakin ada sesuatu yang terjadi dipertemuan ibu mertuanya dengan Kunto tadi.
" Sayang, habis makan siang, nanti El istirahat lagi ya, biar cepet pulih dan sehat lagi, nanti kalau sudah benar-benar merasa sehat dan. baikan baru boleh beraktifitas seperti biasanya, bisa berangkat sekolah dan bertemu dengan teman-teman lagi".
El mengangguk, menuruti perkataan Bu Dila, karena El tipe anak yang tidak suka berdiam diri dirumah, El ingin cepat sembuh dan kembali sekolah dan bermain dengan teman-temannya".
Saat El tengah berbaring Dila sengaja keluar kamar untuk menaruh nampan dan piring kotor ke dapur.
__ADS_1
Dila melihat ibu mertuanya sudah selesai makan siang, dan sedang duduk melamun masih di ruang makan.
" Ibu kenapa?", Dila sengaja mendekat ke Fatma untuk mengetahui apa yang terjadi.
Fatma menggelengkan kepalanya, " ibu hanya sedang berpikir, apa iya benar yang dikatakan nak Kunto tadi, ibu merasa sebagai ibu memang harus membantu tiap kali putranya sedang dalam masalah, namu kalimat Kunto tadi seolah menyalahkan ibu karena sikap ibu yang suka ikut campur".
Dila akhirnya paham apa yang membuat ibu mertuanya nampak murung.
" Ibu tidak usah terlalu memikirkan ucapan Kunto pada ibu tadi, Dila sangat yakin kalau ibu pasti lebih tau dan paham tentang baik buruknya dengan apa yang ibu lakukan".
Fatma mengangguk, Fatma tahu Dila tidak akan pernah menyalahkan dirinya, karena Dila adalah tipe orang dengan cara berpikir yang dewasa, Dila selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang bijaksana dan membesarkan hati lawan bicaranya.
" Ibu baik-baik saja sayang, setelah mendengar ucapan kamu, ibu kini merasa jadi lebih baik. Kamu kembali ke kamar El saja, temani dia, ibu mau pulang ke rumah".
" Untuk urusan El, ibu percayakan sama kamu, karena panasnya sudah reda, jadi kamu bisa handel El sendiri kan?, kamu yang paling jago mengurusnya, ibu tidak mau El terus mengira kalau neneknya sedang kesal dan marah. Ibu pulang dulu ya sayang".
Setelah melamun cukup lama di depan meja makan, akhirnya Fatma memutuskan untuk pulang ke rumahnya, mood nya sedang tidak baik, jadi tidak baik juga berada di sekitar El saat dirinya sedang kesal.
Dila kembali ke kamar El dan menemani El tiduran di kamarnya sambil menonton televisi, hingga tak terasa mereka berdua tertidur bersama.
Meski cuaca di luar sangat panas, tapi di dalam kamar El ada AC yang senantiasa mendinginkan ruangan itu, sehingga tidur siang pun tak terasa panas sama sekali.
Mungkin karena lelah dan semalam juga kurang tidur, Dila baru bangun tidur saat Indra pulang ke rumah, sekitar pukul 4 sore, berarti Dila tidur siang cukup lama, selama 2 jam.
El juga terbangun bersamaan dengan saat Dila bangun, El melihat wajah sang ayah yang masih ada sisa memar sedikit, dan langsung bertanya.
" Ayah kenapa itu?, apa ayah jatuh?", tanya El sambil menunjuk pelipis Indra yang masih agak biru.
" Owh iya, ayah kepentok meja waktu sedang mengambil pulpen ayah yang jatuh, apa anak ayah sudah baikan sekarang?, duh... seneng banget yang tidur siang sama Bu Dila".
El tersenyum sambil mengangguk, " Iya ayah, El sudah sembuh, kan El sudah minum obat dan istirahat juga, makanya El cepet sembuh".
" Ayah sini sini", El meraih tangan Indra dan diletakkannya di keningnya. " Kan ayah bisa merasakan, El sudah nggak panas lagi, karena El nurut sama Bu Dila".
Indra tersenyum dengan keceriaan El yang sudah kembali, entah mengapa sejak kehadiran Dila, Indra jadi merasa sangat beruntung karena El perlahan berubah menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Bahkan saat Dila minggat, tetap saja Dila yang menjadi motivasi El untuk sekolah, belajar membaca dan menulis.
__ADS_1
Hingga Dila kembali dan tinggal bersama lagi, menjadi sebuah anugrah tersendiri bagi Indra, yang tak bisa di utarakan dengan kata-kata.